
"Sudah dong peluknya, aku mau berangkat kerja sayang." Ucap Yoshi, melepaskan pelukanku.
"Jangan pergi Yoshi, " kataku, aku masih ingin berlama-lama memeluknya, entah mengapa akhir-akhir ini aku ingin sekali terus bersamanya.
"Sayang, hari ini ada meeting penting, aku harus menghadirinya."
"Aku ikut !" ucapku, tak ingin melepas pelukanku.
"An, aku akan pulang setelah ini. Aku janji!" ucap Yoshi.
"Yosh, aku takut biarkan aku ikut bersamamu." Ada semacam firasat buruk. Aku benar-benar takut akan berpisah dengannya.
"Takut apa sayang?" tanyanya dan membelai pipiku, mencoba menengangkan diriku.
"Aku sering bermimpi seseorang sedang mengincarmu. Mengincar sesuatu darimu Yosh, " aku sungguh tak dapat menahan air mata ini.
"Sayang, itu hanya mimpi. Jangan terlalu stres ya, ingat baby. Kau masih harus beristirahat penuh." Dia memelukku tetapi lagi-lagi aku masih tidak merasakan ketenangan.
"Yoshi, please. Dengarkan aku kali ini saja."
"Apa kau sedang menginginkanku sayang?" tanya Yoshi sambil mengecup bibirku.
"Yoshi, tolong jangan pergi. Aku mohon." Kataku saat ini perasaanku semakin tidak enak saja.
"Sayang, kita belum bisa melakukan itu. Bukankah dokter masih memintamu untuk bed rest?"
"Bukaann! aku bukan memikirkan hal itu, aku hanya mengkhawatirkan dirimu." Jawabku, kenapa Yoshi masih saja tidak mengerti.
"Sayang, sabar ya setelah ini kita akan ke dokter lagi untuk berkonsultasi tentang hal itu, mengingat minggu depan adalah jadwal kontrolmu." Ucap Yoshi, lagi-lagi dia masih mengira bahwa diriku sedang mesum.
"Aku benar-benar serius. Kenapa kau terus saja membahas hal itu. Aku hanya ingin memintamu untuk jangan pergi, Yosh." Kataku lirih, sekarang aku mulai menangis lagi.
"Hey, kenapa menangis cantik? Jangan menangis, baby akan tertekan setiap kali kau bersedih sayang." Ucap Yoshi, kembali memelukku.
"Tidak usah ke kantor hari ini, aku tidak ingin kau meninggalkan rumah hari ini Yosh." Ucapku
"Ya, iya. Baiklah, aku akan menurutimu sayang." Akhirnya Yoshi mengabulkan permintaanku.
Dia pun melepon David.
"Halo David, hari ini aku tidak bisa ke kantor." Ucap Yoshi ditelepon.
"Ada apa tuan? Hari ini akan ada meeting dengan First president dari PT. Costa cruise."
"Nyonya sangat rewel hari ini, tidak ingin berpisah denganku sedetikpun." Ucap Yoshi sambil tersenyum ke arahku, dia sangat mempermalukanku di hadapan David.
"Ah begitu rupanya, baik tuan biar saya yang mengatur meeting hari ini. Atau jika memungkinkan biar kita undur dulu rapatnya." Ucap David dari seberang sana.
"Terimakasih David, kau sangat bisa diandalkan." Kata Yoshi sebelum menutup teleponnya.
"Yosh, kenapa kau mengatakan itu pada David? membuatku malu saja!" Ucapku sambil memukul dadanya.
"Apa lagi yang bisa kukatakan sayang? Bukankah itu benar jika kau memang sedang menginginkanku, hmm?" tanyanya menggodaku. Memberikan sentuhan pada setiap Inci tubuhku.
"Yoshi, jangan memancingku."
"Kau yang memancingku lebih dulu sayang, bukankah memang ini yang kau inginkan sejak pagi ini?" sungguh tatapan liar itu begitu menunjukkan kerinduan akan kehangatan sejak lama.
"Ingat baby, papa.." Ucapku lirih, berusaha menyadarkannya.
"Tentu saja papa mengingatmu baby, Papa hanya ingin memberikan pelajaran berharga saja untuk mama." Kata Yoshi, mulai menciumiku. Aku pun berlari aku takut dia lepas kendali.
"Ingin bermain rupanya?" ucapnya sambil terus menunjukkan tatapan liar itu.
"Yoshi, hentikan! berhenti mengejarku."
"Aku menangkapmu sayang, sudah jangan berlari-lari seperti itu." kata Yoshi sambil meraih pinggangku.
"Hey lihatlah, bumilku ini semakin seksi saja. wkwk "
"Apa kau bilang? Apa aku gendut sekarang?" tanyaku sambil memperhatikan pantulan diriku di kaca.
"Tidak sayang, hanya sedikit berisi saja." Ucap Yoshi sambil memperhatikan tubuhku.
"Tidak, kau pasti ingin mengatakan jika aku gendut kan?" dengusku kesal.
"Sedikit! Hehe!" Dia pun mengakuinya.
"Yosh, aku tidak ingin gendut." Ucapku masih dengan menatap cermin fancy di hadapan kami itu.
"Apa masalahnya sayang? Wajar jika ibu hamil mengalami kenaikan berat badan. Apa masalahnya?" kali ini aku duduk di pangkuannya.
"Aku tidak akan terlihat menarik lagi di hadapanmu, Yosh."
"Sshh kata siapa? Aku bahkan sangat menyukai bagian-bagian darimu yang mulai terlihat montok ini," katanya, aku pun memukulnya dengan bantal.
"Yosh kau ini!"
"Aku sangat merindukanmu An, tetapi apa boleh buat. Baby lebih penting. Jika tidak ingat dengan keselamatannya jangan harap kau masih sesegar ini hari ini" Ucapnya sambil menciumi perutku yang mulai tampak membuncit itu.
"Apa menurutmu baby sehat ?" tanyaku.
"Iya tentu saja, aku sangat menyukai masakanmu sayang." Ucapku sambil menciumnya.
"An, apa kau tidak ingin menemui ibu?" tanyanya. Entah mengapa tiba-tiba dia menanyakan tentang itu.
"Aku sangat merindukan ibu dan Luna sebenarnya tetapi terkadang hatiku masih sakit saat mengingat rahasia yang telah mereka sembunyikan selama itu." Ucapku rasanya aku ingin menangis lagi.
"Bahkan beberapa kali ibu meneleponku untuk berbicara denganmu dia sangat merindukanmu sayang. Apa kau tega?"
"Kau benar Yoshi, setelah ini aku akan meneleponnya dan memberitahunya tentang kehamilanku ini."
"Telat sayang, aku bahkan sudah memberitahukan hal ini sebelumnya." Kata Yoshi, ah ini bukan kejutan lagi rupanya.
"Yosh, apa kau sudah memberitahu mama juga?"
"Umm belum, biar saja mama menunggu-nunggu kabar dariku." Ucapnya dengan santai.
"Jangan seperti itu Yosh, bahkan mama lah orang yang paling menunggu tentang kabar baik ini. Cepat telepon mama!" Ucapku.
"Iya baiklah, aku akan menelepon ibu mertuamu itu sayang."
Tut
Tut
Tut
Tersambung..
Mama pun mengangakatnya.
"Halo Yoshi, apa Ana sudah ketemu?" terdengar suaranya sangat panik, mungkin beliau mengira bahwa diriku masih pergi dari rumah.
"Sudah ma, santai dong jangan panik gitu!" ucap Yoshi.
"Dasar bodoh! kau ini! mana menantu Mama?" kata Mama, aku bisa merasakan kekhawatiran di wajahnya.
"Mama akan menyesal telah mengatakan diriku ini bodoh setelah mengetahui prestasi apa yang sudah Yoshi raih." Kata Yoshi sambil tertawa melirikku.
"Prestasi apa? Mana Ana ha?"
"Duh, nenek-nenek ini kenapa sangat tidak sabaran." Yoshi masih saja ingin mengerjai ibunya.
"Dimana Ana? Kau ini sangat menyebalkan Yoshi!" kulihat raut kesal di wajah mama, namun beliau tidak sadar jika aku berada di samping Yoshi.
"Ma, apa mama sungguh tidak ingin tau tentang prestasi itu?"
"Ya, katakan apa prestasimu?" Mama semakin bertambah kesal dengan teka-teki Yoshi.
"Ini dia prestasi Yoshi ma. Di dalam sini seorang malaikat kecil sedang tumbuh, yang akan memanggilmu dengan sebutan oma." Ucap Yoshi sambil mengarahkan kameranya pada perutku.
"Oh sungguh?? apa benar Ana tengah hamil?" sesuai dugaanku, mama sangat terkejut mengetahuinya.
"Dasar si bodoh! kenapa baru sekarang memberitahu mama Yoshi!"
"Benar Ma, mama akan menjadi seorang nenek, ucapku kali ini aku yang memegang ponselnya.
"Oh sayang, akhirnya impian ini terwujud juga. Sungguh prestasi Yoshi ini sangat membanggakan." kulihat mata itu berkaca-kaca setelah mengetahui kabar ini.
Tok
Tok
Tok
Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar. Dan Yoshi pun membukanya.
"Tuan.. Ada kabar buruk!" Ucap Niluh dengan gugup.
"Ada apa Niluh?" tanya Yoshi.
"Tuan David kecelakaan dan sekarang sedang berada di ruang IGD."
"Apa? bagaimana bisa? Aku baru saja meneleponnya beberapa menit yang lalu." Ucap Yoshi, aku pun ikut terkejut mendengarnya.
"Sebuah mobil mengikuti mobil tuan David saat sedang dalam perjalanan ke kantor."
"Sepertinya mereka ingin mencelakai David, tuan. Beruntung sekelompok orang berbadan atletis menolong David dan membawanya ke rumah sakit." Kata Niluh menjelaskan kronologi kejadiannya.
"Sayang, aku harus ke rumah sakit sekarang juga!" Ucap Yoshi tanpa menunggu jawabanku dan aku pun mengangguk.
"Niluh, jaga nyonya ya. Telepon aku jika terjadi sesuatu. Ingat jangan keluar dari mansions apapun yang terjadi."
Semoga Yoshi selalu dalam lindungan Tuhan, meskipun saat ini perasaanku sungguh membuatku resah.
Halo teman-teman terimakasih ya, masih mengikuti cerita ini. Terimakasih untuk dukungannya. 😍😍
Oiya mampir juga di karya temanku ya. Pilihan Hati Kiara 😍😍