
Sepulang dari hotel itu aku pun kembali ke Jakarta. Di mana tempat bisnis pengembangan Softwareku berpusat.
Bahkan aku membangun sebuah mansion bergaya Eropa di Kota ini. Semua demi opa dan mama. Sejak kepergian papa hidupku sangat hampa karena secara tidak langsung aku juga telah kehilangan sosok ibu dan kakekku.
Aku yakin suatu saat nanti mama dan opa akan pulih seperti semula, merelakan kepergian papa dengan ikhlas dan dapat kembali ke Indonesia dan berkumpul lagi bersamaku.
Ketukan pintu membuyarkan lamunanku.
Tok
Tok
"Tuan, ada laporan bahwa Pramuja Aditama sudah dinyatakan sembuh dan saat ini sedang berada di kediamannya." Kata David asisten pribadiku.
Sebuah informasi yang sangat merusak moodku. Di sini aku harus merasa kesepian tanpa keluargaku karena ulahnya bertahun-tahun yang lalu dan di sana Agen rahasia itu bisa kembali bercengkrama hangat dengan keluarganya.
"Sejak kapan Pramuja pulang?" tanyaku pada David.
"Sejak seminggu yang lalu Tuan, dan sampai saat ini pihak berwajib masih menyelidiki tentang kasus almarhum ayah anda dengan Pramuja." Kata David dengan rinci.
"Bagaimana bisa seperti itu, bukankah kita sudah mengajukan tuntutan? Seharusnya dia sudah dicopot dari jabatannya oleh Negara." Kataku kesal, aku merasa sebagai pihak yang sangat dirugikan di sini.
"Tidak mudah bagi polisi untuk menjatuhkan seorang Anggota BIN Tuan, apa lagi status Pramuja belum terbukti benar bersalah." Kata David semakin membuatku geram.
"Sudah, jangan bahas ini dulu." Kataku kesal. Aku sudah sangat muak dengan semua ini.
Muncul pertanyaan di otakku, di manakah Ana sekarang, terakhir aku menemuinya ketika Ia sedang menjalani OJT di hotel milikku.
Apakah dia masih di Jogjakarta atau sudah berada di rumahnya di Jawa Timur.
Bila di hitung dari terakhir kami bertemu seharusnya Ana sudah diwisuda dari Universitas Pariwisata itu.
Tanpa pikir panjang aku pun bertanya pada David, sebab dia adalah satu-satunya orang kepercayaanku yang kuperintahkan untuk mengintai Ana secara diam-diam.
"David, di mana Ana sekarang?" tanyaku.
"Dari GPS yang tertangkap oleh sistem sadap kita saat ini Nona sedang berada di Jawa Timur Tuan," kata David sambil memperlihatan layar di ponselnya.
Beberapa waktu terakhir aku sempat kehilangan jejak Ana, untuk itu aku meminta David untuk memasang software pengintai yang disambungkan ke ponsel Ana.
Tentu saja, itu bukan hal yang sulit untukku. Mengingat dulu Papa sering mengajarkanku tentang trik-trik seperti itu.
Tak dapat kupungkiri ayahku memang seorang Hacker yang hebat. Sangat disayangkan jika bukan karena kelakuan ayah Ana pasti saat ini papa masih hidup, dan tentu saja mama tidak akan kehilangan semangat hidupnya dan juga opa tidak akan koma hingga membuatnya menjadi mayat hidup seperti ini.
Jadi benar dugaanku, saat ini Ana sedang berkumpul dengan keluarganya. Tentu saja untuk menyambut ayahnya yang baru pulang dari Rumah Sakit itu.
"Apakah Ana sedang berada di Rumahnya saat ini?" tanyaku pada David yang sejak tadi berada di depan meja kerjaku.
"Di Surabaya Tuan sejak dua hari yang lalu." Jawab David tegas.
"Di Surabaya? apa yang dilakukannya di sana?" tanyaku lagi. Sebab tempat tinggal Ana bukan di Kota itu melainkan Kota lain sama dengan Kota tempat tinggalku sewaktu SMA dulu .
"Untuk itu saya perlu menyelidikinya secara langsung Tuan." Jawab David.
Aku berfikir sejenak, sangat penasaran dengan apa yang dilakukannya sekarang. Saat itu juga aku mulai memeriksa aplikasi penyadap yang kubuat khusus untuk mengetahui segala aktifitas pada ponsel Ana.
Selama ponsel tersebut menyala akan mudah untukku mengetahui apa saja aktifitas yang dilakukannya. Sebaliknya jika telepon seluler tersebut dalam kondisi mati tak akan ada lagi yang bisa kudapatkan darinya.
Nasib baik masih berpihak kepadaku. Hingga aku menemukan sebuah e-mail masuk pada m**ailbox akun Ana.
Di sana tertulis bahwa Ana telah diterima kerja di sebuah Perusahaan Maskapai Lokal. Sepertinya penilaian HRD PT itu terhadap performa Ana sangat tinggi.
Namun, pikiran jahat mulai menyelimutiku lagi, bukankah ini akan membuatku semakin sulit untuk menjangkaunya, bukankah ini akan membuatnya semakin cepat keluar dari cengkramanku.
Tidak, tidak akan kubiarkan ini terjadi, Ana adalah satu-satunya senjata untukku membalaskan dendam keluargaku pada Ayahnya.
Meskipun harus kuakui, sebenarnya rasa itu masih ada, yaitu rasa yang telah lama kupendam untuknya sejak masa SMA dulu. Meskipun aku sempat yakin bahwa Ana juga menyukaiku.
Tetapi Tuhan berkehendak lain rasa cinta yang dulu belum sempat kuutarakan kini telah berubah menjadi dendam. Dan itu semua karena ayahnya. Ayah Ana bahkan secara tidak langsung telah membuatku kehilangan Ana juga.
Mari Kita lihat Pramuja, jika menghabisimu tak bisa kulakukan, maka kau akan melihat putri kesayanganmu itu harus menikah dengan putra dari musuh bebuyutanmu di masa lalu. Tidakkah itu menyakitkan untukmu?
Tentu saja Ana akan terikat sehidup semati denganku. Lalu apa yang bisa kau lakukan setelah itu jika bukan meratapi nasib menyedihkan putrimu.
"David, kita akan pergi ke Surabaya sekarang juga." Kataku pada David.
"Sekarang juga Tuan?" tanya David dengan polosnya.
"Haruskah Aku menjawabnya tahun depan atau tahun depannya lagi?" Jawabku dengan malas.
"Baik Tuan, maaf saya hanya sedikit shock ini terlalu tiba-tiba." Jawab David lagi.
"Ana akan mendatangi perekrutannya besok pagi di Kantor cabang Lion Air Surabaya, aku harus menggagalkannya." Jawabku pelan tetapi penuh penekanan.
"Ta-tapi Tuan, saya rasa Nona sudah bersusah payah untuk mendapatkan pekerjaan itu, bukankah akan terlalu kejam jika Tuan menggagalkan usahanya itu lagi pula Nona bekerja juga untuk mengembalikan uang Tuan yang selama ini keluarganya pinjam," kata David cukup jelas tetapi sangat membuat telingaku panas mendengarnya.
"Sejak kapan Kau ikut campur dalam urusanku ha? Apa gajimu kurang? " Kataku membentak David. Dia sangat menyebalkan sekali, membuatku merasa bersalah saja.
"Saran Saya Tuan, sebaiknya kita biarkan saja Nona bekerja di sana jika Tuan mau kita bisa menaikkan lagi bunga pinjaman Nona seperti biasanya." Kata David, masih berupaya merayuku. Astaga apa aku sekejam itu pada Ana hingga membuat asisten pribadiku melawanku.
"Bosnya itu Saya apa Kamu? " Kataku lagi. Lihatlah aku benar-benar merasa seperti pria yang jahat dan tak punya hati dalam kisah ini.
"Ma-maaf Tuan, saya sudah lancang." Jawab David dengan menundukkan kepalanya, aku tau David mungkin merasa kasihan melihat tingkahku pada Ana seperti ini, tidak bisa dipungkiri selama ini David adalah pengintai Ana selama bertahun-tahun lamanya sehingga Dia tau bagaimana perjuangan Ana karena ulahku.
Pagi itu juga aku berangkat ke Surabaya menggunakan pesawat. Tentu saja tak butuh lama untuk sampai.
Setibanya di Surabaya aku meminta David untuk menelepon Larissa, Istri Pramuja yang juga Ibu Ana untuk menemuiku.
Sebenarnya aku bisa saja datang ke rumahnya tetapi aku tak ingin bertemu dengan Pramuja. Aku yakin dia tidak akan mengenaliku tetapi yang aku takutkan adalah diriku lah yang tak dapat menahan diri.
Jika itu sampai terjadi rencana yang bertahun-tahun kususun akan hancur begitu saja.
Siang itu aku menunggu Larissa di sebuah Kafe dekat dengan rumahnya. Keadaan Kafe yang cukup ramai membuatku tak nyaman. Apa lagi dengan tatapan gadis-gadis itu kepadaku. Seperti kumpulan singa betina yang sedang melihat mangsa empuk untuk diterkam.
Benar-benar menjijikan, sangat berbeda dengan Ana, Dia terlihat sama sekali tidak tertarik padaku. Kadang aku penasaran pria seperti apakah yang menjadi tipenya selama ini.
Tak lama kemudian Larissa datang dengan senyuman ramah di bibirnya, Sepertinya dia sungguh menganggapku sebagai Malaikat penyelamatnya selama ini padahal kenyataanya adalah sebaliknya. Aku lah dalang di balik penderitaannya dan Ana selama ini jika dia tahu.
Kami pun banyak mengobrol, sesekali Dia menatapku dengan intens, ini membuatku tak nyaman. Akhirnya kumulai saja perbincangan ini. Aku mengatakan bahwa aku ingin menikahi Ana.
Sebagai pengganti jaminan pelunasan hutang sebab Toko yang sebelumnya menjadi jaminan telah terbakar. Dan jangan tanyakan siapa yang telah membakarnya, tentu saja orang suruhanku yang telah melakukannya.
Maka dari itu aku memutuskan untuk menikahi Ana sebagai penggantinya, kupikir Larissa akan marah mendengar ini tetapi malah sebaliknya dia sangat menerimaku . Benar-benar Ibu yang tega.
Tak ingin berfikir negatif terhadap calon ibu mertuaku ini, mungkin saja dia sudah tidak tega melihat Ana sebagai tulang punggung keluarga, yang tentu saja sebentar lagi akan berubah menjadi tulang rusukku.
Perbincangan pun berakhir. Dia menandatangani perjanjian baru tersebut dan sebagai calon menantu yang baik aku telah memberikan uang cuma-cuma untuk keperluan kuliah Laluna, calon adik iparku .
Bagaimana menurut kalian bukankah ini kerja yang bagus?