
Tiba di Bandara Sorkarno Hatta. Waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
"Mbak Ana.. "
"Mbuakk..!" teriak gadis remaja manis berlesung pipi dari kejauhan.
Dia Luna, adik semata wayangku. Dalam sekejap tubuh hangatnya berhambur ke tubuhku. Lima bulan tidak bertemu ternyata dia masih saja sama, periang dan pecicilan seperti biasanya.
Aku yang sejak kemarin kehilangan semangat hidup seperti mendapat secerca harapan karena melihat senyuman adikku ini.
Dia juga tersenyum ke arah Yoshi yang sejak tadi berdiri di sampingku sambil menggandeng tanganku. Sebenarnya aku sangat risih dengan ini, aku hanya terlalu malas untuk terus berdebat dengannya.
"Yaelah gandengan terus kayak mau nyebrang aja." Ucap Luna sambil mengedipkan sebelah matanya pada Yoshi. Sejak kapan mereka seakrab ini, kataku dalam hati.
"Kan memang mau menyebrangi bahtera rumah tangga, Lun." Kata Yoshi sambil mengecup punggung tanganku.
Cupp..
Sebuah kecupan mendarat, meskipun hanya di tangan tetapi itu cukup membuat bulu kuduku meremang seketika. Getaran ini pernah ada saat dulu Mas Ikau menepuk pundakku. Entah kenapa rasanya begitu sama persis seperti ini.
Dan kemudian Yoshi melirik ke arahku dengan tersenyum lebar. Jujur saja senyuman itu terlihat sangat tulus dari hati, tetapi aku tidak boleh terlalu cepat untuk larut dalam pesonanya.
"Dasar tidak punya malu." Ucapku padanya sambil melepaskan genggaman tangannya.
"Wkwk. Sudah jangan marah-marah terus, ayo kita ke hotel." Katanya sambil meraih tanganku lagi.
"Ke Hotel?" tanyaku padanya.
"Ya Mbak, ibuk udah nunggu di hotel tempat pernikahan Mbak sama Mas Yoshi besok." Kata Luna menjawab pertanyaanku.
Ya ampun pernyataan itu membuatku semakin kehilangan haluan hidup saja. Sejak semalam aku terus memimpikan Mas Ikau. Bahkan bermimpi jika dia lah yang akan menikah denganku nanti, dan bukan Yoshi.
Entah mengapa dia terasa sangat dekat padahal jelas-jelas aku tak tau di mana keberadaannya sekarang.
"Bukan besok Lun, tapi nanti. Nanti jam 9 pagi." Ucap Yoshi mengingatkan bahwa kurang dari sepuluh jam lagi, statusku akan berubah menjadi seorang istri.
"Oh iya Kak. Luna lupa. Hehe." Ucap Luna sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Kami berjalan menuju pintu exit sementara David mengikuti dari belakang.
Sepanjang hallway menuju pintu keluar, semua mata terus tertuju pada kami, lebih tepatnya tertuju pada Yoshi. Setampan itukah dirinya yang hanya mengenakan kemeja putih dan celana bahan, rambut rapi dan kacamata hitam.
Hingga membuat banyak kaum hawa yang begitu memperhatikannya seperti saat ini. Aku mulai ragu, pantaskah aku bersanding dengannya yang nyaris sempurna ini.
"Suamimu ini memang se-famous ini An. Jangan bilang kau terkejut melihat ini." Ucapnya sambil tetap berjalan menyusuri hallway.
"Cih, sangat sombong." Dengusku kesal.
"Jangan cemburu seperti itu. Sebentar lagi aku akan menjadi milikmu seutuhnya." Katanya lagi, dengan bamgga. Ya ampun, dia mulai narsis seperti Reza.
"Kau mulai terlihat seperti Reza, sangat narsistik." Ucapku lirih yang ternyata didengar olehnya.
"Jangan sebut nama itu lagi !" Katanya padaku sambil mengeratkan genggaman tangannya hingga membuatku memekik kesakitan.
"Sakit ah." Ucapku kesal, dan aku pun melepas genggamannya lalu masuk ke mobil yang kemudian disusul olehnya.
Sepanjang perjalanan, ada rasa khawatir di hati tetapi juga ada perasaan tenang. Entah mengapa ini sangat membingungkan. Sebenarnya aku tak tau apa yang benar-benar sedang kurasakan.
****
Seorang Bellboy mengantar kami ke kamar dan membawakan koper yang sedari tadi dibawa oleh David.
Yoshi membukakan pintu untukku, aku pun masuk. Di dalam kamar, kulihat Ibuku sedang terduduk. Seperti sedang menyiapkan sesuatu.
"Ibuk.. " Ucapku sambil berlari dan memeluknya. Melihat ini Yoshi pun pergi, meninggalkan kami berdua.
"An, ibu kangen. Maafkan Ibu ya." Jawab Ibuk dan membalas pelukanku.
"Buk, apa ibu yakin ingin Ana menikah dengan Yoshi?" Tanyaku, jujur aku ingin sekali tahu mengapa Ibuku sangat yakin bahwa Yoshi adalah pria yang baik.
"An, kondisi Bapak sedang tidak baik-baik saja saat ini, ibuk takut jika sampai terjadi sesuatu pada Bapak dan kamu belum juga menemukan pendamping, lalu siapa yang akan memimpin hidupmu.
Lagipula usiamu juga sudah matang untuk menikah. Apa yang kurang dari Yoshi? Adakah pria yang lebih baik dari Yoshi? Dia sudah sangat mengenal keluarga kita. Apa lagi yang harus diragukan?" Kata ibuku dan aku mulai mengkhawatirkan kondisi bapak saat ini.
"Tapi Buk, bagaimana kondisi Bapak sekarang? apa Bapak tau tentang pernikahan ini?" Tanyaku pada ibuku, aku tak peduli dengan pendapatnya tentang Yoshi lagi. Sudah jelas Ibuku sangat-sangat menyukai Yoshi jadi percuma saja jika aku mengingat ucapannya.
"Bapak tau. Dan menyerahkan semuanya padamu dan Yoshi. Bahkan kemarin mereka berdua sempat melakukan video call. Sebenarnya Yoshi ingin menemui bapak secara langsung tapi apa boleh buat, kondisi kesehatan bapak tidak memungkinkan untuk bisa ditemui." Ucap ibuku sangat detail. Setidaknya aku lega jika memang bapak tau tentang pernikahanku ini.
"Buk, Ana pengen ketemu bapak... " kataku pada ibuk yang masih saja sibuk dengan segala perlengkapan pengantin.
"An, bapak sedang berada di ruang ICU, tidak mungkin bisa ditemui untuk saat ini. Biarkan bapakmu sehat dulu ya." Ucap Ibu, akhirnya aku menurut saja.
Dikarenakan bapak tidak bisa hadir dalam acara ini, akhirnya saudara dari pihak Bapakku lah yang akan menjadi waliku nantinya.
Aku merasa semua ini terlalu mendadak. Bahkan tak ada MUA yang meriasku. Hanya Ibu dan Luna lah yang membantuku berdandan dan bersiap.
Satu Jam kemudian aku siap. Kebaya putih sudah melekat indah di tubuhku dengan make up yang simpel dan natural seperti biasanya. Aku merasa seperti biasa saja. Ini seperti mimpi. Semua ini terlalu cepat.
Menuju halaman Hotel, semuanya terlihat sangat rapi, dengan bunga baby breath putih menghiasi sekeliling tempat ini, senada dengan kebaya yang tengah kukenakan.
Kulihat tamu-tamu mulai berdatangan. Aku pun berjalan menuju kursi akad nikah. Yoshi yang sedang duduk di sana tak henti-hentinya menatapku dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
Tak dapat kupungkiri, dia terlihat tampan seperti biasanya dengan setelan jas putih dan hiasan bunga di sakunya. Aku mulai merasakan debaran di jantungku saat mata kami saling bertemu.
Aku pun duduk di sampingnya. Dan tak lama kemudian ijab kabul terlaksana. Suaranya terdengar sangat merdu saat mengucapkan nama lengkapku di hadapan sang penghulu.
Kemudian semua orang mengatakan "sah" secara bersamaan. Mulai detik ini aku dan Yoshi resmi menjadi suami istri. Aku mencium punggung tangannya yang dibalas dengan ciumannya di keningku.
Debaran itu lagi-lagi menghantam jantungku saat bibirnya mendarat di dahiku tanpa penghalang apa pun di antara kulit kami. Kulihat ibu dan Luna menangis terharu menyaksikan semua ini.
Sebenarnya aku sangat penasaran mengapa sama sekali tak terlihat orang tua atau keluarga Yoshi di acara ini. Mungkinkah dia merahasiakan pernikahan ini dari keluarganya. Ya Tuhan, permainan apa lagi yang akan dimainkan oleh Yoshi setelah ini.
Aku sangat pusing dengan semua ini. Akhirnya kuputuskan untuk tetap diam saja. Sementara Yoshi sedang sibuk menemui tamu-tamunya. Aku pun pergi menjauh dari keramaian. Persetan jika para tamu mencari kemana perginya pengantin perempuan. Aku sama sekali tidak perduli.
Aku butuh ketenangan saat ini. Aku butuh tersadar dari mimpi buruk. Kulihat ke arah laut lepas dengan berpegangan pada rails kayu di sekeliling halaman hotel.
"Istriku, kenapa berada di sini?" terdengar suara Yoshi yang sedang berjalan ke arahku.
Dia memanggilku dengan kata 'istriku', ya memang benar. Dia berhak atas diriku mulai saat ini.
"Yoshi, bisakah aku berada di sini untuk sebentar saja. Aku akan kembali ke sana lagi setelah ini." Kataku dengan halus. Aku tak ingin memancing keributan dengannya untuk saat ini.
"Aku akan menemanimu, sayang." Ucapnya dengan lembut sambil meraih pinggangku. Menarikku ke dalam pelukannya.