
Janeth melanjutkan tugasnya sebagai perawat Shian, ia kembali ke rumah sakit tempat remaja manja itu dirawat, setibanya di kamar VIP itu, sang sahabat sudah menunggu dengan wajah masamnya.
“Jangan melipat wajahmu seperti itu! Jelek tau!” ucap Janeth sambil meletakkan kotak makanan yang ia bawa dari mansion.
“Janeth, kenapa kau ini lelet sekali!” dengus Shian kesal sambil melipat tangannya.
“Kau yang terlalu manja Shian!” bentak Janeth.
“Hah, mengapa aku harus berurusan dengan gadis kasar sepertimu. Mengapa Tuhan? Mengapa kau kirimkan dia sebagai asistenku?” ucap Shian sambil menatap klurus ke depan.
“Harusnya aku yang bilang begitu Shia! Akulah yang sangat dirugikan di sini,” ucap Janeth.
“Kau sangat kasar! Seperti tukang pukul jika kau tau!”
“Apa kau bilang?”
“Ya, itulah sebabnya kau masih saja tidak memiliki kekasih! Tidak ada pemuda yang mau pada gadis anarkis sepertimu Janeth!” ucap Shian sambil tertawa.
“Apa kau bilang! Coba ulangi lagi!” Janeth mengacak rambut Shian hingga membuatnya berantakan dan tak berbentuk lagi.
“Hentikan Janeth! Kau ini keterlaluan! Selalu saja mengincar kepalaku!”
“Kau bahkan belum mencuci tanganmu! Kau baru saja masuk ke kamar ini, dan langsung menyentuh beberapa item tanpa mencuci tangan!” Shian meraih disinfectant di atas meja lalu menyemprotkannya ke seluruh ruangan.
“Uhuk!”
“Uhuk!”
“Dasar gila! Kau bisa membunuhku Shian!” Janeth terbatuk-batuk saat cairan itu terhirup olehnya. Shian tertawa terbahak.
“Shian aku akan segera kembali!” ucap gadis itu, meninggalkan ruangan yang membuatnya dadanya terasa sesak.
Janeth keluar menuju taman rumah sakit di mana udara segar berada, ia menghirup oksigen dalam-dalam. Untuk menghentikan batuknya.
Shian POV
Aku Yoshiano Luby, orang biasa memanggilku dengan nama Shian, atau bahkan yang lebih menyebalkan lagi mereka juga memanggilku dengan nama baby, sungguh panggilan yang aneh! Semua ini terjadi karena orang tuaku, aku memiliki satu adik perempuan yang bernama Gweneth, kami hanya berselisih dua tahun atau bahkann kurang, dia sangat manja! Dia hampir selalu menangis setiap hari karena sesuatu yang sebenarnya tidak harus membuatnya menangis seheboh itu.
Rambut hitam lurus, pipi chubby dengan poni yang menghiasi dahinya, itulah yang membuat Gwen terlihat menggemaskan, dia adalah adik kesayanganku meskipun sangat susah diatur dan selalu membangkang, ayahku selalu saja menuruti apapun permintaan si bulat itu.
Berbeda dengan ibuku yang selalu saja mengomelinya.
Entah karena gadis itu tidak mau mandi, tidak mau makan atau hanya sekedar menghilangkan tutup Tupperware, mama selalu saja memarahi Gweneth, dan berakhir dengan tangisan yang memkikkan telinga semua penghuni mansion.
Malam harinya pahwalan kami datang, Gweneth baru akan berhenti menangis saat papa dengan segala pesonanya memasukki mansions, lalu merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan.
“Ma, jangan terus memarahi Gwen, please! dia ini berkat!” begitulah kata-kata yang selalu keluar dari mulut papa.
“Terus saja papa membelanya! Terus saja!” jawaban dari mulut mama pun selalu sama, menganggap papa terlalu memanjakan adikku.
Setiap kali aku mendengar ucapan papa jika Gwen adalah berkat dari Tuhan, hal itu selalu kembali membuat dadaku sakit, aku teringat perkataan opa buyut yang selalu mengatakan hal yang sama, saat beliau masih hidup dulu.
Aku dan Opa sangatlah dekat, dia adalah partner terbaik di hidupku, meskipun usianya tak lagi muda, tetapi ia mampu mengimbangiku.
Bahkan, ayahku saja tak akan mampu untuk bersikap seperti opa, entah bagaimana truk sampah itu menabrak mobil kami, saat kami sedang dalam perjalanan ke dunia bermain, saat itu opalah yang mengemudi, dua kali truk itu menabrakkan dirinya pada badan mobil kami.
Seperti sebuah kesengajaan. Saat itu mobil yang kami tumpangi tiba-tiba saja bisa mengalahkan truk tersebut, berkat opa.
Tetapi, justru setelah berhasil kabur, justru opalah yang tak sadarkan diri.
Aku membawa opa keluar dari mobil sebab oksigen di dalam mobil sangat terbatas, opa masih bisa membuka matanya dan menggenggam tanganku, sambil berbisik.
Aku bisa merasakan kakinya menjadi dingin. Aku yang saat itu masih berusia 13 tahun, benar-benar kebingunan dengan apa yang harus kulakukan.
“Opa! Sdarlah Opa!!” aku terus meneriakki tubuh renta itu. Dia memegangi dadanya seperti sedang mengalami sesak nafas.
“Opa! Tolong! Tolong!” aku meminta bantuan tetapi kondisi jalanan saat itu sedang sepi, hanya serpihan-serpihan sampah yang berterbangan sisa dari ledakan truk sampah yang telah mencelakai kami itu seakan menjadi saksi bisu adegan memilukan ini.
“Prince, jaga keluarga kita ya..” Opa semakin melemah, aku tau sesuatu sedang terjadi padanya.
“Opa, jangan tinggalkan Shian! Opa.. please!”
“Nak, kau akan memiliki teman kecil setelah ini, sebagai pengganti opa!” Opa masih saja bisa menjawab pertanyaanku.
“Apa maksud opa?”
“Papa dan mama akan memberimu teman, tenang saja good boy!” itu adalah kalimat terakhir yang terucap dari bibir opa.
Sebelum akhirnya warga sekitar datang dan membawa kami ke rumah sakit. Aku menggenggam erat botol kecil yang kudapati pada genggaman tangan opa.
Hingga saat ini aku lupa dimana terakhir kali botol kecil itu kuletakkan yang jelas, saat itu truk sampah melempar sesuatu ke dalam mobil kami, dan salah satunya adalah botol itu.
Aku benci sekali pada sampah! Dan segala sesuatu yang related dengan sampah!
Sejak saat itu aku merasa sangat over dalam menjaga kebersihan diri, bahkan tubuhku bisa melemas begitu saja saat melihat sesuatu yang menurutku tidak hygine.
“Shian, kau itu lebay sekali!” kata itulah yang sering diucapkan Janeth padaku. Dia adalah sahabat sekaligus asistenku.
Janetha Anjani, adalah gadis seusia Gwen, gadis yang secara penampilan sangat tidak menarik, kaca mata tebal, rambut hitam ikal, untung saja dia tidak mengenakan behel, jika iya maka dia akan persis seperti Betty La Vea.
Sebenarnya Janeth sangatlah menarik, jika ia merubah penampilannya, sayangnya gadis itu selalu mengamuk saat aku memintanya untuk merubah penampilan, dan berujung dengan dia yang jadi mengancamku.
Janeth hanya tinggal dengan ayahnya, yang sedang dirawat di rumah sakit.
Demi apapun, jika saja ada bertanya padaku tentang siapa gadis terkuat yang ada di muka bumi ini, jawabannya adalah Ibuku dan yang kedua adalah Janetha Anjani.
Aku sering sekali membuatnya kesal dan lelah, lalu mengomeliku dengan seenaknya, tetapi saat itu pula dia mengabulkan permintaanku meskipun dengan rasa kesal sekalipun.
Oke, baiklah cukup sekian kita membicarakan diriku dan Janeth, mari kita kembali ke rumah sakit.
Seseorang mengetuk pintu kamarku, dan aku memintanya untuk masuk dengan posisi masih di atas tempat tidur.
“Baby….” Ucap seorang gadis memasukki ruanganku, namanya Prilla, Prilla adalah kekasihku, entah bagaimana aku bisa memacarinya, yang jelas saat itu aku sedang ingin saja memiliki kekasih yang merupakan bunga kampus.
Prilla adalah gadis yang cukup cantik, penampilannya pun menarik sangat tidak memalukan jika kau membawanya ke tempat umum.
Gadis itu pun memelukku tanpa aba-aba, membuatku terkejut dan kelabakan, masalahnya mesin sanitizerku sedang tidak bersamaku saat ini, ya Janeth adalah seseorang selalu menjadi tameng perlindungan dari kuman, untukku di saat aku sedang bertemu dengan pacar-pacarku.
Bersambung...
...🤗🤗🤗...
Haloo genk, makasih masih mengikuti kisah Yoshi Ana dan Shian, gimana kabarnya nih??
Oiya author mau misahin Novel Shian ini dari My Husband is My Secret Lover.
Ditunggu yaa, masih cari judul dan cover yang awesome
Love you all😍🤗😘