My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Baby Boy



Author POV


Suasana di ruang bersalin itu masih dipenuhi dengan tangis haru bahagia keluarga Aditama dan Luby. Ayah Ana pun masih terpaku dan tak menyangka bahwa putrinya benar-benar mampu melewati masa sulit demi untuk melahirkan penerus keluarga mereka.


"Permana, apa kau bisa melihat kebahagiaan ini dari atas sana? Sungguh, aku selalu berharap dapat melewati masa tua bersamamu dengan cucu-cucu yang menggemaskan. Seperti yang selalu kita bicarakan dahulu. Sayangnya Tuhan lebih menyayangimu, sampai jumpa di kehidupan selanjutnya, hacker tengik!" batin Pramuja kembali mengenang sahabatnya.


"Uuuh lucunya, panggil aku aunty El ya baby boy!" ucap Luna sambil menatap gemas pada bayi lucu yang masih berada di pelukan kakaknya itu.


"Eh kok El?" tanya Yoshi.


"El untuk Luna cantik dong Kak!" ucap Luna menunjukkan abjad pertama pada namanya.


"Eh Kak, ponsel Mbak bunyi tuh!" ucap Luna sambil menunjuk ke arah meja di ujung ruangan.


"Tolong dong Lun, angkat aja teleponnya. Palingan dari temenku," kata Ana yang masih saja sibuk belajar memberikan asi untuk bayinya.


Luna pun pergi untuk mengambil ponsel kakaknya tersebut. Diraihnya ponsel itu dan ternyata sebuah panggilan video datang dari kontak bernama Reza dan Luna pun mengangkatnya.


"Halo siapa nih?" ucap Luna sambil menatap wajah pria tampan blasteran itu.


"Eh, siapa nih?" balas Reza balik bertanya, yang juga memperhatikan wajah imut Luna.


"Dih, elu yang siapa Bang. Ditanya malah balik nanya," ucap Luna.


"Lah bukannya ini nomor Ana? Kenapa elu yang angkat?" tanya Reza menunjukkan raut wajah kebingungan.


"Mana Ana?" Luna tak menjawab karena sibuk memandangi wajah Reza.


"Eh, gue tanya di mana Ana malah bengong?" tanya Reza lagi dengan kesongongannya.


"Iya-iya bentar, judes banget lu Bang!" ucap Luna kesal dan langsung memberikan ponsel itu kepada Yoshi.


Sejenak Luna berfikir mengapa wajah itu dan suara itu begitu tidak asing di telinganya. Namun, ia tidak ingat bahwa pria itu lah yang menabraknya di bandara lalu sekaligus pria yang telah ia tabrak juga dengan vespa ayahnya dulu.


Begitupun dengan Reza, ia seperti pernah melihat gadis remaja itu tetapi entah kapan dan di mana, ia juga tidak ingat.


Siapa ya gadis ini, apa dia saudara Ana? kenapa sepertinya tidak asing, jutek banget lagi, tetapi manis juga sih kalau dilihat-lihat, sayangnya masih bocil. Gumam Reza sambil menunggu panggilannya disambungkan pada Ana.


"Kak, ini teman Mbak Ana nelpon!" ucap Luna sambil menyerahkan benda pipih itu kepada Yoshi.


"Siapa Lun?" tanya Yoshi.


"Gak tau, judes banget dia! Rijal apa siapa gitu namanya," jawab Luna sambil melenggang pergi meninggalkan ruangan itu.


Yoshi pun mengangkat panggilan video itu.


"Halo Yosh," sapa Reza dari seberang.


"Woy Za, gimana kabarnya?" tanya Yoshi, sejak kejadian itu, mereka telah memutuskan untuk menjadi teman, meskipun tak dapat dipungkiri terkadang masih saja ada rasa cemburu di hati Yoshi.


"Baik gue, eh Ana bener udah lahiran?"


"Iya nih baru aja, lu tau dari siapa?" tanya Yoshi, sebab ia sama sekali belum mengabari teman-teman Ana tentang kelahiran putra mereka.


"Oh, si Jenny tadi chat. Katanya Ana seharusnya udah lahiran minggu ini, jadi gue telepon lu buat memastikan,"


Yoshi pun mengarahkan kameranya pada Ana dan bayinya. Mereka bertiga saling bertatapan secara virtual. Yoshi berada di samping Ana dengan Ana yang sedang menggendong bayi mereka. Wajah keduanya begitu cerah dan sumringah, melihat itu Reza pun hanya bisa tersenyum kecut menyaksikan pasangan yang sedang diselimuti kebahagiaan tersebut dan membatin


"Harusnya aku yang di sana, bukan dia. Tetapi, aku senang An, akhirnya kebahagiaanmu telah lengkap. Kini, aku punya alasan untuk benar-benar melupakanmu."


Yoshi dan Ana masih menatap Reza dari layar ponsel.


"Reza! apa kabar?" tanya Ana.


"Ba-baik An, wah selamat ya buat kalian. Ikut seneng gue," balas Reza sedikit terbata menahan rasa sesak di dada.


"Baby boy or girl itu? coba sini gue pengen lihat mukanya kek siapa?" ucap Reza tersenyum mencoba mengalihkan rasa tak nyaman itu.


"Jagoan dong, Bro!" ucap Yoshi sambil mengarahkan wajah baby ke kamera.


"Wah iya, ganteng banget kek gue!" Reza menatap intens bayi mungil itu.


"Haloo baby boy panggil aku Daddy ya!" seru Reza bercanda.


"Enak aja Daddy, Daddy... Bikin sendiri dong Za!" balas Yoshi.


"Haha iya-iya! entar kalo gak sabtu, minggu gue bikin deh!"


"Bikin apa?" tanya Yoshi.


"Bikin adonan kue! Haha." Mereka pun tertawa bersama.


"Za, sekarang lagi di mana?" tanya Ana.


"Sekarang lagi di Belanda, udah dua bulan gue di sini," balas Reza.


"Wah ngapain di situ? cari jodoh?" tanya Yoshi.


"Liburan dong! Healing gue,haha."


"Serius Za? Apa mau menetap di sana?" tanya Ana.


"Nggak An, gue lagi sekolah di sini,"


"Nikah Za! jangan sekolah mulu keburu tua lu ntar!" celetuk Yoshi.


"Iyee gampang ntar dah kalo lagi libur. Gue nikah. Sombong banget lu Yosh, mentang-mentang udah punya anak!" balas Reza.


"Woiya dong! Haha!" balas Yoshi bangga.


"Ya udah, gue tutup dulu telponnya ya An, Yosh!"


"Iya Reza, makasih ya udah nelpon," kata Ana sambil melambaikan tangannya.


"Bye, kesayangan Daddy!" ucap Reza sambil menatap bayi dalam dekapan Ana itu.


"Sekali lagi lu bilang daddy-daddy sama anak gue. Gue hajar lu Za!" ucap Yoshi kesal.


"Hahaha, biarin! wleee!" balas Reza mengejek Yoshi dan mengakhiri obrolan mereka.


"Jangan lupa, sempilin nama gue ya di tengah-tengah nama baby entar! wkwk!"


"Daaahh cintanya Daddy Reza, nanti Daddy telpon lagi y sayang!" ucap Reza semakin ingin menggoda Yoshi.


"Awas aja ntar kalo ketemu!" bentak Yoshi semakin kesal.


Tanpa mendengarkan ucapan Yoshi, Reza pun menutup telepon itu sambil tertawa terbahak-bahak.


"Apaan sih Mas, kayak gak tau Reza aja ah! bercanda dia itu!" ucap Ana.


"Apaan coba? masa dia mau baby manggil dia Daddy. Ini kan ankku sayang," kata Yoshi.


"Sungguh kekanak-kanakan kamu, Mas!"


"Biarin ah! cuma aku yang boleh dipanggil papa sama baby!" kata Yoshi sambil memanyunkan bibirnya.


(Ih sok imut banget kamu Yosh! kujambak bibirmu. Mau??🤧🤧🤧🤧)


"Orang Reza cuma becanda, Mas," kata Ana menghela nafas panjang.


"Mau becanda, mau nggak. Pokoknya aku gak suka sama bahan candaannya itu. Dia bilang wajah baby mirip dengannya? Enak saja!"


"Aku yang membuat adonannya. Tentu saja wajah baby mirip denganku. Iya kan sayang?" ucap Yoshi semakin mengerucutkan bibir sensualnya berpura-pura merajuk.


(Beneran minta dijambak bibirmu itu Yosh!! aku gemasss tau!🤧🤧🤧)


"Iya-iya, Mas. Sudahlah, kau membuatku gemas saja!"


Dokter pun masuk ke ruangan itu dan meminta ijin untuk membawa bayi mereka ke ruangan lain untuk pemeriksaan dan pemberian imunisasi.


"Saya bawa dulu ya Pak, Bu, bayinya untuk pemeriksaan dan imunisasi pertama," ucap Dokter itu.


"Mau dibawa kemana anak saya Dok?" tanya Yoshi.


"Ke ruangan sebelah, Pak. Bapak bisa ikut jika berkenan," tawar dokter itu.


"Awas ya dok. Jangan sampai tertukar ya baby saya sama bayi yang lain."


"Haha, itu tidak mungkin terjadi Pak," balas dokter itu tertawa.


"Biar saya saja yang ikut Dok," ucap Annelis.


"Nah, iya Ma. Bagus, temani cucumu itu agar tidak tertukar di sana!" ucap Yoshi kepada ibunya.


"Iya-iya Papa muda tengik!" balas Annelis sambil mengikuti dokter dari belakang.


Hari semakin siang, bapak, ibu dan Luna meminta ijin untuk pulang dahulu, meninggalkan sepasang orang tua baru itu sendiri. Sepeninggalan mereka, Yoshi pun menggenggam jari-jemari istrinya lalu menciumnya dengan lembut.


"Sayang, terimakasih ya. Sudah berjuang untuk melahirkan baby," ucap pria itu.


"Terimakasih juga untukmu sayang," balas Ana.


"Aku tidak melakukan apa-apa, jangan berterimakasih."


"Kau sudah berjuang juga, Mas. Jika saja tidak ada dirimu di sampingku hari ini, tentu aku tidak akan mampu melewatinya," ucap Ana sambil mencium tangan Yoshi yang juga masih menggenggam tangannya.


Yoshi pun tersenyum dan memeluk istrinya yang masih lemas itu.


"Selamat menjadi seorang ibu ya sayang," ucap Yoshi.


"Selamat menjadi ayah juga sayang, mulai hari ini kita akan memulai peran baru kita sebagai orang tua," kata Ana.


"Jadi manggilnya papa mama sekarang? atau kita cari panggilan unik lainnya? pepo memo atau yayah bunbun misalnya?" tanya Yoshi terkekeh.


(Astagaa, dapet aja si encum ini bahan yang membuatku ngakak!😂)


"Terserah padamu Mas," balas Ana.


Beberapa menit kemudian, dokter membawa kembali bayi mereka bersama Annelis.


"Uh, cucu oma yang ganteng sebentar lagi kita pulang ke rumah ya sayang," ucap Annelis sambil menggendong cucunya.


"Ma, apa baby menangis?" tanya Ana.


"Iya sayang, tapi cuma sebentar. Sepertinya dia cukup nyaman berada di pelukan neneknya," ucap Annelis bangga.


"Selamat menjadi oma, mama sayang!" ucap Yoshi kepada mamanya.


"Uh, manisnya papa mama baru ini," balas Annelis.


"Eh, apa kalian sudah menyiapkan nama untuk baby gemas ini?" tanya Annelis.


"Yoshiano, namanya Ma," ucap Yoshi dengan santai. Annelis pun melongo dibuatnya.


"Mas, apa kau serius? Kapan kau menyiapkan nama itu?" ucap Ana terkejut.


"Aku sudah menyiapkannya sejak awal, sayang."


"Tapi, Yoshiano? benar Yoshiano? apa tidak ada nama lain?"


"Itu nama terbaik yang pernah ada. Gabungan Yoshi Ana," ucap Yoshi.


"Tapi, hanya itu? kau bahkan tidak meminta pendapatku dulu Mas!" balas Ana.


"Pokoknya itu nama baby sayang. Aku tidak mau nama yang lain!" ucap Yoshi mendominasi.


"Lalu apa kepanjangannya? Aku juga ingin memberi nama anak kita, Mas."


"Baiklah sayang, kalau begitu kau yang memikirkan nama tengahnya. Yang jelas nama depan baby harus Yoshiano dan nama belakangnya harus Luby."


"Mas, kau curang! Kau selalu mendahuluiku dalam hal apapun!" dengus Ana kesal.


"Aku tidak mau tau An, yang jelas itu nama anak kita! jangan membantahnya,"


"Kau egois Mas!"


Kedua orang tua baru itu terus saja berdebat dan saling berargumen. Sementara Annelis hanya menggelengkan kepalanya sambil menimang cucu kesayangan yang selama ini sangat ia idam-idamkan.


"Lihatlah baby, orang tuamu terus saja meributkan siapa namamu, tetapi oma tidak perduli apa pun namamu yang jelas, oma akan mengenalkanmu pada teman-teman arisan oma besok ya bayi tampan!" bisik Annelis pada bayi yang sangat menggemaskan itu.


**Halo genkk makasih ya masih mengikuti ceritaku yang isinya hanya uwu-uwuan Yoshana iniihhh!!


Makasih dukungannya 😘😘**