
Yoshi POV
Satu bulan berlalu, kami masih berada di kampung halaman. Ini merupakan waktu yang cukup lama untuk meninggalkan kantor dan menyerahkan semua urusan pada David. Aku pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta, bagaimana pun juga meskipun David dapat dipercaya tetapi aku tau saat ini dirinya sedang sangat sibuk untuk mempersiapkan penikahannya dengan Dianna.
"Sayang, sepertinya aku harus memeriksa keadaan kantor, apa kau mau ikut?" tanyaku pada Ana yang sedang menyusui baby.
"Apa ada kepentingan mendadak Mas?" tanya Ana.
"Tidak, tetapi David juga sedang sibuk saat ini untuk mempersiapkan pernikahannya. Jadi, sebaiknya aku memberikan cuti untuknya."
"Ah, iya. Aku hampir lupa, kalau David dan Dian akan segera menikah. Ya sudah, Mas pulang ke Jakarta saja," ucap Ana dengan santainya.
"Apa maksudmu? Jadi kau dan baby tidak akan ikut bersamaku?"
"Bukankah tadi kau memberiku pilihan untuk ikut atau tidak?" tanya Ana, kebingungan.
"Iya, tetapi aku hanya sedang mengujimu saja, An, dasar tidak peka!" dengusku kesal
(Kayak yey peka aja cyinn!! dasar gak ngaca, kata Jenny🤧🤧)
"Jadi, aku harus ikut pulang juga Mas?" tanya Ana lagi dengan polosnya.
"Ya-iya dong sayang, kau kan istriku. Lagipula, sudah waktunya kita kembali ke rumah kita sendiri." Bisa-biasanya Ana bertanya seperti itu, dia pikir apa aku kuat untuk berjauhan dengannya dan baby.
"Tapi mas, apa Shian sudah cukup umur untuk naik pesawat?" ucap Ana, dan aku pun berfikir sejenak, bukankah ada aturan tertentu untuk penumpang bayi.
"Apa kita konsultasi ke dokter dulu ya?"
"Iya, itu lebih baik Mas."
Sore itu juga akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke dokter sekaligus memeriksakan kesehatan baby dan Ana. Kami pun berpamitan pada semua orang di rumah.
"Yah, Shianku mau pergi ya?" tanya Luna yang sedang mencuci motor vespa bapak.
"Mau check up, Aunty El mau ikut?" tawar Ana pada adiknya.
"Mau dong!" teriak Luna bersemangat. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba bapak menegurnya dari arah teras.
"Mau kemana itu tante-tante?" tanya bapak sambil membetulkan kacamatnya.
"Mau ikut Shian, Pak!"
"Enak saja, itu beresin dulu nyuci motornya Luna, kebiasaan!"
"Tuh kan! si James nyebelin banget deh!" ucap Luna sambil menghentakkan kakinya.
"Lun, udah sore nih. Takut kemaleman, kamu jadi ikut gak?" tanyaku sambil melihat jam.
"Ya udah deh Kak, gak jadi aja deh. James berisik banget tuh!" ucapnya kesal sambil menunjuk bapak.
Aku tau di balik koran yang sedang ia baca itu, bapak sedang terkekeh melihat kekesalan Laluna.
***
Di perjalanan.
Ana terlihat sangat sibuk membetulkan posisi baby di dalam mobil. Hingga sesekali ia menggendongnya, lalu menaruh anak kami kembali. Lalu menggendongnya lagi, aku bingung sebetulnya apa yang sedang ia kerjakan ini.
"Sayang, kau ini sangat sibuk sekali. Sudah duduknya di belakang! tidak bisa diam lagi, membuatku seperti seorang supir saja!"
"Mas, aku takut baby tidak nyaman," ucap Ana.
"Tidak nyaman bagaimana? bukankah sejak tadi dia tidak menangis? Bahkan setiap malam pun, Shian tidak pernah menangis kan?"
"Tidak menangis bagaimana? bukan Shian yang tidak pernah menangis tapi dirimulah yang tidak pernah terbangun di malam hari!" dengus Ana kesal.
"Ah benarkah? Jadi selama ini Shian selalu menangis di setiap malam, sayang?"
"Benar Mas! kau bahkan tidak mendengar tangisannya?"
"Tidak, sayang. Lalu kenapa kau tidak membangunkan aku?" tanyaku heran.
"Aku sengaja mengujimu Mas, dasar tidak peka!" ucap Ana kesal.
"Hahaha, kau membalasku An. Setelah ini aku akan menemanimu begadang, sayang."
"Ya, kau bahkan selalu begadang sebelum ada Shian kan, Mas?"
"Kan itu beda begadangnya," ucapku menatap istriku dengan gemas.
"Dasar mesum kamu, Mas!" balas Ana, entah mengapa dia selalu terlihat sangat seksi ketika sedang marah-marah.
"Tapi, kau menyukainya kan sayang?" tanpa membalasku ia justru memalingkan wajahnya ke jendela.
Kami pun tiba di tempat praktik dokter. Dan aku menggantikan Ana untuk menggendong baby. Aku tau Ana kelelahan karena sejak tadi terus menggendong si gendut ini.
"Selamat sore, Pak Yoshi dan Bu Ana," sapanya saat kami memasukki ruangan.
"Sore Dok, kami ingin memeriksakan kesehatan bayi kami sekaligus berkonsultasi," ucap Ana.
"Baik, silahkan duduk Pak, Bu," balas dokter itu.
"Rencananya dalam waktu dekat ini kami akan membawa anak kami ke luar kota dengan menggunakan pesawat Dok, apakah itu aman?" tanyaku.
"Sebenarnya, jika kondisi bayi itu sehat, saya rasa tidak akan ada masalah, Pak. Biar saya periksa dulu bayinya ya," ucap dokter sambil meneriksa baby yang berada dalam gendonganku.
"Dan untuk istri saya, apa dokter bisa memeriksanya juga? Apakah jahitannya bermasalah atau tidak."
(Alahh modus kamu Yosh! dasar encum!🤧🤧🤧)
"Emm untuk bayinya cukup sehat ya Pak, sangat aktif dan berat badannya pun bagus, saya rasa aman jika harus membawanya naik pesawat," ucap dokter itu.
"Dan untuk ibu Ana, silahkan berbaring dulu untuk saya lihat hasil jahitannya."
Dokter pun memeriksa Ana, sesekali ia menundukkan kepalanya karena menahan rasa malu.
"Bagaimana Dok, hasil jahitannya?" tanyaku tidak sabar.
(Aduh pliss sabar Yosh!😂😂😂)
"Cukup bagus dan rapi, Pak. Seperti tidak pernah terjadi robekan atau sayatan," ucap dokter itu. Jujur saja aku senang mendengarnya.
(kan kan kann 🤧🤧)
"Dok, berapa lama masa nifas untuk ibu hamil?" tanyaku lagi, sementara Ana sedang sibuk dengan baby.
"Saya rasa ibu Ana sudah mendekati akhir masa nifas, benar begitu Bu?" tanya Dokter menatap Ana.
"Umm, saya kurang tau Dok, tetapi volume darah yang keluar mulai berkurang," ucap istriku, mengapa dia tidak mengatakannya padaku sejak kemarin.
"Itu bagus Bu, apa ada rasa nyeri di area jahitan ?"
"Tidak ada Dok, semuanya baik-baik saja."
"Bagus Bu, tetap lanjutkan pemberian ASI eksusif untuk bayinya ya,"
"Baik Dok," jawab Ana.
"Sabar ya Pak, dua minggu lagi buka puasanya," ucap dokter itu menggodaku.
"Itu masih lama Dok," balasku.
"Apa tidak bisa dipercepat?"
(masih aja ditawar sama diaa dong, tolongg...🤣)
"Dasar tidak tau malu kamu Mas!" bisik Ana di sampingku. Matanya dan mata baby sama-sama sedang menatapku, sungguh aku merasa seperti sedang dihakimi oleh anak dan istriku.
"Emm, apa ibu Ana ingin ber-KB mulai dari sekarang? Saya rasa ini waktu yang tepat. Benar begitu, Pak Yoshi?" tanya dokter itu pada kami. Sungguh dia sangat pengertian.
"Dok, tapi saya masih takut untuk mengikuti program KB," jawab Ana.
"Tidak ada yang perlu ditakutkan Bu, tetapi jika memang ibu belum siap, tidak masalah. Bisa dibicarakan dulu dengan suami."
"Baik, Dok. Terima kasih sebelumnya," ucap Ana dan kami keluar dari ruangan itu dengan membawa surat laporan kesehatan baby sebagai syarat pemesanan tiket pesawat besok.
Setibanya di rumah, Yoshi langsung mengatakan pada bapak dan ibu jika kami akan segera kembali ke Jakarta. Tentu saja mereka sangat sedih mendengarnya, tetapi kami mengatakan akan sering-sering membawa baby ke sini lagi jika ada kesempatan.
"Jaga diri ya Nak, jaga cucu bapak. Nurut sama suamimu," pesan bapak dan ibu kepadaku.
"Iya Pak, Buk. Jangan khawatir, pasti Ana akan menurut pada Yoshi," jawab Ana sambil menatapku dengan malas.
"Baik-baik ya, cucu nenek yang ganteng. Nenek akan sangat merindukanmu," ucap ibuku sambil meraih baby dan menggendongnya.
"Aah kenapa pulang sih Mbak sama Kak Yosh, baru saja aku merasakan masa-masa indah menjadi seorang tante muda dan cantik! eh, sekarang malah kalian membawa baby Shianku pergi!" ucap Luna kesal.
"Alah, lebay kamu. Bentar lagi juga kamu ke Jakarta kan? sekolah di sana," ucap bapak.
"Emang Luna jadi sekolah di kedinasan?" tanyaku.
"Jadi Mbak, bapak berisik terus dari kemaren,"
Malam itu merupakan malam terakhir kami berada di kampung halaman, dan keesokan harinya aku langsung memesan tiket untuk pulang ke Jakarta.
***
Di pesawat beberapa kali baby menangis karena tekanan udara di ketinggian tertentu yang membuat telinganya sakit. Sesekali aku, Ana dan mama menggendongnya secara bergantian saat kami tidak memakai seatbelt.
"Tenang sayang, anak papa. Sebentar lagi kita akan segera sampai di rumahmu, Nak," ucapku sambil menepuk punggungnya.
Untung saja perjalannya hanya memakan waktu sebentar. Sesampainya di bandara, David telah menunggu di pintu exit.
"Welcome back, tuan dan nyonya juga bos kecil," sapanya sambil tersenyum ke arah kami.
"Puas kamu? sudah mengerjaku dengan boneka shinbi itu!" ucapku pada David.
"Maaf tuan, itu ide Dianna sebenarnya," balas David.
"Dasar lempar batu sembunyi tangan!" ucapku dan David hanya terkekeh.
Tiba di mansions.
Niluh dan para penjaga menyambut kami. Dan menyiapkan segala keperluan baby. Aku pun membawa baby dan Ana ke kamar. Mereka terlihat sangat lelah.
"Akhirnya pulang juga! Huh," ucapku menghela nafas panjang.
"Seneng kan Mas? bisa pulang lagi."
"Seneng dong, bukankah di rumah sendiri, kita jadi bisa lebih bebas?" ucapku pada Ana.
"Dasar kamu Mas, aku mandi dulu ya. Tolong jaga baby!"
"Iya, haruskah kutitipkan baby pada Niluh agar kita bisa mandi bersama?" tanyaku menggoda Ana.
"Ih jangan ah, kamu kan papanya Mas!"
"Awas ya, jangan sampai Shianku menangis!" ancam Ana.
"Iya sayang, tenang saja," ucapku sambil membawa si gendut ke balkon.
Aku membawanya melihat sekeliling mansions. sesekali mata bulat itu mengerjap karena silau akan sinar mentari.
"Baby Shian, katakan apa kau ingin memiliki adik?" bisikku pada telinganya.
(astagaaaa, yg kemaren aja jahitan baru kering Yosh🤧🤧🤧🤧)
"Baby, katakan pada papa, Nak!"
Tetapi, bukannya menjawab jagoanku ini malah menangis, semakin aku menenangkannya semakin kencang pula tangisannya.
"Cup sayang, jangan menangis papa hanya bercanda!"
"Astaga, diamlah. Sebelum mama mendengar tangisanmu, Nak."
**Bentar lagi diamuk sama istrimu Yosh. wkwk 🤣🤣🤣
Maaf ya banyak typo ngetiknya sambil ngantuk. 😭😭
Rekomendasi novel hari ini, mampir yuk kak**.
**Hani di tekan oleh keluarganya untuk menikah sedangkan Hani telah jatuh cinta pada seorang pria. Tapi sayang pria itu telah beristri. Di tengah kegalauannya Hani bertemu teman lama Rere, dan dikenalkan pada abangya Rere. Abang nya Rere mengajak untuk ta' aruf. Hani dan keluarganya menerima ta'aruf itu. Tanpa mengetahui ada udang di balik batu. Mereka sampai ke tahap pernikahan. Setelah menikah Hani menemui banyak rahasia dan misteri di keluarga suaminya. Ternyata mereka hanya memanfaatkan Hani untuk mendapatkan harta. Suami Hani juga sudah memiliki kekasih. Mereka bahkan ingin mencelakai Hani dan keluarganya. Hani tidak tinggal diam. Ia bukan wanita lemah. Ia akan membalas setiap sakit yang mereka berikan. Hani akan membalikkan keadaan lihat saja siapa yang akan menjadi pemenangnya. Who's the last standing ?
https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1717748&\_language\=id&\_app\_id\=2**