
Hari itu aku kembali ke Rumah melewati pintu rahasia di halaman belakang , sesuai dengan perintah kakekku.
Aku masuk ke rumah utama dengan mengendap-endap, khawatir para penjaga mengetahui aksiku itu dan melaporkannya pada ayahku.
"Hai Prince, kau sudah pulang?" kata Opa yang sedang bermain games di handphonenya.
"Iya Opa" kataku sambil mengambil air minum.
"Ceritakan pada Opa bagaimana harimu di luar tadi?" kata opa masih sibuk dengan *ga*mesnya.
"Menyenangkan Opa." Jawabku sambil mengingat ingat kejadian tadi.
"Apa Kau bertemu dengan seorang Princess?" tanya Opa. Tak kusangka bagaimana opa bisa mengetahuinya.
"Bagaimana Opa bisa tahu?" jawabku spontan.
"Tentu saja, Opa ini cukup berpengalaman di bidangnya. Mudah saja bagi Opa untuk mengetahui jika seorang anak muda sedang jatuh cinta." Kata Opa sambil mengedipkan matanya menggodaku.
Aku yang merasa belum siap untuk bercerita kepada opa memutuskan untuk naik ke kamarku di lantai atas sebelum opa mengintrogasiku lebih jauh.
"*B*ye Opa, Ricko ke kamar dulu ya." Kataku sambil berlari menaikki anak tangga.
"Hey Prince, Kau belum mengatakan siapa Tuan Putri itu kepada Opa." Kata Opa meneriakiku dari bawah.
****
Keesokan paginya. Aku berangkat ke sekolah tanpa sepengetahuan opa. Setibanya di sekolah aku langsung menuju ke kelas Ana. Ternyata gadis lucuku itu belum ada di kelasnya.
Kulihat jam tangan ini sudah pukul 07.00 , apakah dia terlambat ataukah tidak masuk. Sepertinya luka di pelipisnya kemarin sangat menyiksanya dan aku sangat mengkhawatirkannya saat ini.
Aku pergi ke gerbang sekolah lagi, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Akhirnya aku menemui Pak Satpam.
"Pagi Pak, apakah ada surat izin tidak masuk dari siswa/siswi hari ini?" Kataku kepada satpam sekolah, sebab biasanya surat izin tidak masuk siswa akan dititipkan kepadanya untuk diberikan ke Ruang BK.
"Pagi, Mas Ricko. Untuk hari ini tidak ada surat sama sekali Mas, apa ada masalah? " jawab pak satpam tersebut sambil memeriksa mejanya dan tidak ditemukan apapun.
"Begini pak, teman saya yang bernama Lanthana sedang sakit, dan mungkin akan terlambat datang ke sekolah hari ini." Kataku menjelaskan. Aku yakin Ana pasti masuk hari ini dan dia pasti akan terlambat.
"Oh begitu ya Mas Ricko. Baiklah Bapak catat ya namanya." Kata pak satpam sambil menulis nama Ana.
"Terima kasih Pak. " Kataku sambil berjalan ke kelasku.
Tak lupa kujelaskan kepadanya untuk tidak menjelaskan apapun tentang aku yang telah membantu Ana hari ini dan pak satpam pun menyetujuinya.
Jujur aku sangat memikirkannya sekarang dan berharap dia baik baik saja.
Jam menunjukkan pukul 07.30 tetapi guru belum datang juga.
***
Tak lama kemudian Ketua kelas memberitahukan bahwa ada rapat dadakan antar guru, ini artinya sekarang jam kosong.
Aku pun bergegas keluar kelas dan menuju kelas Ana, tak sabar untuk segera melihat bagaimana keadaannya.
Di perjalanan aku bertemu dengan Dion.
"*H*ey, Bro mau keman lu?" tanya Dion menghampiriku.
"Mau ikut?" tanyaku sengaja mengajaknya agar aku tidak sendiri.
"Boleh, kemana emang? " tanyanya.
"Udah ikut aja," kataku dan kami pun berjalan hingga sampai di seberang kelas Ana.
"Bro, kok kita ke sini sih?" tanya Dion, namun aku tak menjawabnya. Mataku sibuk memperhatikan di mana Ana.
Aku lega Ana baik-baik saja dan plaster spiderman dariku itu masih menempel sempurna di dahinya.
Ternyata aksi mengkhayalku tersebut disadari oleh Dion.
"Wah, Tuan muda ini sedang jatuh cinta nampaknya ,Everybody?" Kata Dion sambil menyenggol pundakku.
Aku pun dengan sedikit ragu menjelaskan bagaimana awalnya. Dan sejak kapan perasaan ini ada untuk Ana.
Dion dengan seksama mendengarkan cerita dariku dan sesekali kami tertawa.
Setelah puas bercerita kepada Dion, aku pun mengajaknya untuk kembali ke kelas tanpa lupa menatap Ana yang sedang mengobrol dengan teman sebangkunya.
***
Sepulang sekolah kuliihat Ana berjalan ke arah warnet tetapi aku heran apa yang dia lakukan di sana, melihat para penjagaku belum datang untuk menjemput, akhirnya aku putuskan untuk mengikuti Ana.
***
Sesampainya di warnet aku melihat Ana sedang berjaga di meja admin.
Aku tak tahu apakah dia melihatku atau tidak yang jelas aku hanya ingin bersamanya walau tanpa diketahui olehnya.
Aku pun memilih cubical nomor satu yang letaknya persis di sebelah meja Ana, hanya ada dinding kayu tipis yang memisahkankan kami.
Seandainya dinding ini roboh maka tidak akan ada lagi jarak di antara kita berdua. Apa perlu kurobohkan saja triplek kayu ini, tapi bukankah itu terlalu barbar.
***
Lama aku berkutat di cubical itu, tanpa melakukan apapun selain berpura-pura mengetik, sesekali aku berdeham hanya untuk memecah kesunyian.
Biarlah seperti ini saja batinku sambil kusandarkan kepalaku di dinding kayu itu. Inginku mengajak Ana mengobrol tetapi dia sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja karena kulihat mobil jemputanku sudah datang dan akan menjadi masalah jika aku tak kunjung masuk ke mobil.
"Emm Ana, cubical nomor satu berapa ya tagihannya?" tanyaku kepada Ana. Ini pertama kalinya aku memanggil namanya secara langsung.
Namun Ana tampak lama sekali menjawabnya. Kulihat rona pipinya mulai bersemu merah dan itu sangat manis sekali seperti tomat.
"iy-iya, nomor satu ya Mas, no.. nomor satu tagihannya sepuluh ribu mas," akhirnya dia menjawabku juga dengan suara terbata-bata yang membuatku cukup gemas melihatnya.
Entah Ana tahu namaku atau tidak tetapi mendengar Dia memanggilku dengan sebutan Mas saja sudah membuatku membayangkan hal yang tidak-tidak dengannya.
***
Beberapa hari kemudian diselenggarakan acara pensi di Sekolah.
Berbagai macam events diadakan untuk mengisi acara ini.
Aku dan teman-temanku memutuskan untuk berfoto bersama mengingat setelah ini liburan akan tiba.
Dua gadis adik kelas berjalan ke arahku. Dan mengajakku untuk berfoto.Ya, mereka adalah gadis lucuku Ana dan temannya Devi.
Aku menghampiri mereka, dan Devi nampak biasa saja sedangkan Ana terlihat malu-malu tentu saja dengan pipi merahnyanya yang menggemaskan itu.
Karena jumlah kami hanya bertiga. Akhirnya Devi memutuskan untuk menjadi fotografer. Kuberikan kameraku pada Devi untuk mengambil fotoku dengan Ana
Aku berjalan menghampiri Ana, posisi kami saat ini sangat dekat sekali bahkan lenganku dan lengannya hampir bersentuhan bahkan Jantungku mulai sedikit bergejolak karena kebingungan mengatur ritmenya sendiri.
Jika aku tak dapat mengotrol diriku saat ini pasti sudah kupeluk erat Ana di dadaku.
Sayangnya otakku lebih bisa berfikir logis daripada hatiku, lagi pula mana mungkin aku bisa memeluk Ana . Untuk menatap wajahku saja dia tidak mau, apalagi untuk memiliki perasaan denganku. Sungguh itu tidak mungkin.
Pengambilan foto pun berakhir dan Aku menjauh dari Ana dan mengambil kameraku.
Aku tak sabar untuk segera melihat hasil foto kami berdua. Kulihat Ana dan Devi berjalan menjauh sambil sesekali bercanda.
Aku masih tidak percaya, hari ini Ana benar-benar datang kepadaku. Sungguh tak dapat dipercaya. Bukankah ini terlalu dini untuk mengatakan jika dia juga menyukaiku.