
Ana POV
Flashback
Aku tak tau lagi harus bagaimana untuk menghadapi suamiku yang sedang kasmaran itu. Aku berusaha setenang mungkin, sebab Shian sangat peka terhadap apa yang sedang ibunya rasakan.
Ketika perasaanku sangat kacau dia menjadi lebih rewel dari biasanya, begitupun sebaliknya. Anakku tumbuh dengan sehat, wajahnya pun semakin terlihat mirip dengan ayahnya. Aku sangat menyayangi Mas Ikau kecil ini.
Aku bertekad untuk menyelidiki Yoshi dan wanita penggodanya itu. Bagaikan seorang mata-mata yang sedang mengintai targetnya. Aku terus mengikuti kemana suamiku pergi.
Beberapa kali mereka terlihat berjalan bersama, mungkin tidak ada yang istimewa, tetapi aku bisa merasakan jika mata wanita itu sedang menggoda Yoshi. Dia memberikan tatapan mesumnya pada suamiku.
Lihat saja, setelah ini aku akan menghabisimu! gumamku sambil terus mengawasi mereka berdua, kukira Yoshi tidak akan membalas perlakuan wanita itu, tetapi aku salah, Yoshi membalasnya bahkan saat wanita bernama Sarah itu menyandarkan kepalanya di lengannya, Yoshi sama sekali tidak menghindar.
Awalnya aku sudah mengambil ancang-ancang untuk menyerang wanita sampah itu tetapi saat mata ini melihat bahwa suamiku juga menginginkan dirinya, aku pun merasa lemas seakan tabungan kekuatan yang beberapa hari ini kusimpan menghilang begitu saja.
Aku termenung, merasakan sayatan perih di hatiku. Ketika wanita lain dengan manjanya bersandar di lengan suamiku sedangkan aku sebagai istri sahnya malah menyandarkan kepalaku pada dinding tempat persembunyian untuk mengawasi mereka.
"Mas, kau benar-benar telah mempermainkanku. Jadi, hanya sebatas inikah kesetiaanmu kepadaku? Jadi, hanya sebatas ini rasa cinta yang sudah kita bangun sejak remaja? Dengan segala kerumitan yang ada?"
"Yoshi, kau telah salah menilaiku. Aku tidak selemah itu! air mata ini begitu berharga jika hanya untuk menangisi perbuatanmu dengan wanita murahan itu!"
"Kau egois! Jadi tipe wanita seperti itukah yang menjadi seleramu sekarang? Sial, mengapa sainganku harus seseksi itu, bukannya aku tidak mampu berpakaian sepertinya, aku hanya merasa itu bukan gayaku!"
"Lihat saja Mas, jika kau sampai berbuat lebih dari ini, bukan hanya rambut di kepalamu yang akan aku habisi!"
Aku tak tahan lagi, akhirnya kutinggalkan tempat itu bersama dengan serpihan hatiku yang mulai berguguran jatuh, kubawa luka ini kembali ke mansion dengan air mata yang terus mengalir dan kupeluk si gendut yang akhir-akhir ini lebih sering kutitipkan pada omanya. Mama bertanya padaku tentang apa yang terjadi.
Jangankan untuk menjawabnya, untuk mengeluarkan suara saja rasanya sangat berat. Aku tak ingin mama tau tentang ini, kesehatannya sedang menurun jadi akan sangat berbahaya jika beliau tau tentang apa yang sedang terjadi antara diriku dan Yoshi.
Hari berganti hubunganku dan Yoshi terasa semakin jauh. Dia begitu menciptakan jarak di antara kami. Aku mulai rapuh ingin berpisah tetapi aku masih memikirkan Shianku.
"Mas, aku ingin bekerja!" ucapku saat ia sedang sibuk dengan ponselnya.
Dengan raut wajah heran, Yoshi menanyakan apa maksudku, kukira ucapan sindiranku untuknya akan membuatnya tersadar, ternyata aku salah ia sama sekali tidak menghiraukanku bahkan setelah mendengar jawabanku.
Harapanku ia akan memberikan klarifikasi atas hubungan terlarangnya dengan Sarah, tapi seperti biasa dia sama sekali tidak menjelaskan apa yang sedang terjadi dengan pergi meninggalkanku seorang diri.
Baiklah Mas, mulai saat ini aku akan membiasakan diri tidak menerima nafkah darimu. Aku akan bekerja! Berikan saja uangmu itu untuk gunndikmu itu!
"Ma, apa mama keberatan jika Ana meminta tolong untuk menjaga Shian dari pagi hingga sore?" tanyaku pada mertuaku.
"Tentu tidak keberatan sayang. Memangnya ada apa?" tanya mama.
"Ana ingin bekerja Ma, Ana.... " Aku memejamkan mata berusaha menahan tangisku mengingat suamiku memiliki kekasih lain.
"Kenapa sayang? Kenapa matamu berair?" tanya mama mencoba membaca raut wajahku.
"Ma, Ana bosan berada di rumah, Ana ingin mencari pengalaman baru," jelasku, asal.
"Ah, apa kau sangat merindukan dunia kerjamu?"
"Ya, benar Ma. Ana hanya ingin bernostalgia saja," jawabku, padahal aku sedang ingin mengalihkan rasa sakit ini. Sekaligus mencari penghasilan jika nanti Yoshi benar-benar menikahi gadis itu dan menjadikanku istri tua yang terlantar.
(kupungut deh nanti An 🤣🤣🤣)
Seakan mengerti perasaan menantunya, mama pun merestui permintaanku untuk mencari pekerjaan. Tanpa sepengetahuan Yoshi aku mengirimkan beberapa CV ke hotel dan restoran di kota ini, dengan bermodalkan pengalaman kerja di dunia pesiar.
Tak butuh waktu lama, dua hari kemudian sebuah panggilan interview di sebuah restoran Asia datang, aku pun bersorak dalam hati. Mereka menempatkanku sebagai maitre d'hotel Restoran tersebut.
Sebuah posisi yang bagus. Benar-benar sesuai dengan posisiku sebelumnya di kapal, meskipun di sini tanggung jawabku lebuh berat. Lebih seperti seorang manajer yang membawahi area ini.
Masa kerjaku pun tiba, aku tidak meminta izin kepada Yoshi, karena aku yakin dia tidak akan perduli padaku lagi.
Lihat saja Mas, aku lebih kuat dari yang kau bayangkan selama ini!
Aku pun berangkat ke restoran itu dengan menggunakan taksi. Bahkan sudah beberapa hari ini kami sama sekali tidak berkirim pesan, dia sama sekali tak ingat padaku. Dia terlalu sibuk dengan dunia barunya.
Hari pertama kerjaku berjalan lancar, tak banyak yang kukerjakan. Aku hanya mengawasi para waiter dan waitress bawahanku. Dan memastikan kepuasan pengunjung.
Seorang waitress memanggilku untuk menemui pengunjung yang sedang komplain.
"Bu Lanthana, mohon maaf sebelumnya, ibu diminta untuk menemui tamu di meja nomor sepuluh," ucap gadis itu.
"Oh, iya. Ada komplain ya?"
"Iya Bu, tadi saya tidak sengaja menumpahkan air pada pakaiannya. Saya minta maaf Bu," kata gadis ini gugup.
"Tidak apa, itu hal biasa. Aku sering menemui tamu seperti itu dulu. Tenanglah, kita berikan saja menu complimentary untuknya."
Aku pun berjalan ke arah meja itu, sepasang suami istri sedang menikmati makan siangnya.
"Mas..." Aku berkata lirih sambil meremas ujung blazerku.
Kau bersama gunndikmu di sini Mas? Menikmati makan siang kalian? Sedangkan aku bekerja demi melanjutkan hidupku bersama anak kita?
Haruskah aku menyalakan lilin di meja kalian agar makan siangmu lebih romantis?
Haruskah? Kau bahkan membalas sentuhan tangan wanita obralan itu?
Kau bahkan memanggilnya dengan kata sayang?
Baiklah sayangku, aku datang. Aku akan menyalakan lilin di mejamu, sekaligus untuk membakar kalian berdua!
Biarkan saja restoran ini terbakar bersama dosa kalian. Biarkan!!!
Setelah puas bermonolog aku pun berjalan ke arah mereka dengan wajah seangin mungkin.
"Selamat siang bapak dan ibu, saya Lanthana. Manager restoran ini. Ada yang bisa saya bantu?" ucapku senormal mungkin.
Mereka berdua tampak terkejut saat melihatku, terutama Yoshi. Dia bahkan beberapa kali menelan ludahnya kasar.
"An-Ana.." Sarah memanggil namaku.
"Ya, apa anda mengenal saya?" tanyaku.
"Kita teman sekelas bukan?" ucapnya sambil memperhatikan wajahku.
"Teman?"
"Ya, aku Sarah. Kita dulu satu kelas saat SMA."
Aku mencoba mengingatnya.
"Ah ya, kau Sarah. Aku mengingatmu!"
"Apa yang terjadi pada hidupmu hm? Sehingga kau harus menjadi pelacuur seperti ini?!" ucapku mulai tidak dapat mengontrol diri, bagaimana bisa temanku dulu tega menjadi simpanan suamiku.
"Apa maksudmu An? Suamimu sendiri yang juga tergoda olehku!"
"Sungguh? Jika itu benar. Ambil saja jika kau mau!!"
"Dasar pencinta barang bekas!!!"
Aku pun pergi dari tempat itu. Sementara Yoshi berlari mengejarku.
"Sayang.. "
"Yang... Tunggu!"
"Apa lagi Mas?" tanyaku.
"Apa lagi, sudahlah. Silahkan lanjutkan hassratmu itu! Aku benci padamu!"
"Jadi ini yang kau maksud misi penting?" aku tak kuasa menahan rasa sakit ini. Air matapun terus mengalir dengan deras.
Tiba-tiba saja Sarah datang dan menarik tangan Yoshi.
"Sudahlah Mas, tinggalkan saja dia. Bukankah dia sudah merelakanmu untukku. Bukankah kau juga telah menyukaiku sejak SMA dulu?"ucap gunndik itu dan membuat telingaku panas.
"Apa yang kau katakan Sarah?" tanya Yoshi.
"Mas Ricko bukankah kau juga memberikan gelang yang sama padaku saat itu?"
"Apa? Jaga bicaramu Sarah, aku tak mengerti."
"Kau benar-benar sampah Sarah!" kini tanganku yang sejak tadi gatal mulai beraksi. Aku menjabak rambutnya dan menendang perutnya sesuai yang Luna ajarkan padaku semalam.
"An sakit! aku akan membalasmu!"
"Balas saja!" tanpa menunggu pembalasanya aku kembali menjambak rambut itu hingga membuatnya terjatuh.
Yoshi sangat panik dan berusaha menahanku.
"Apa Mas? kau ingin membelanya?"
"Sayang, kau salah paham!"
"Cukup!! kau terlalu banyak menyimpan rahasia! aku sudah tidak percaya padamu lagi! "
"Hatiku sakit Mas!!"
"Sakit!"
Plak..
Pak..
Yoshi memekik menahan rasa sakit di pipinya karena tamparanku.
Saat itu entah bagaimana polisi datang bersama David, dan menangkap Sarah yang masih terkapar karena ulahku. Tanpa tau duduk persoalannya aku hanya menyaksikan saja.
"Pak, baguslah kalian datang, tangkap juga laki-laki tukang selingkuh ini!" ucapku spontan.
(🤣🤣🤣)
"An! sayang, dengarkan aku. Ini semua hanya sandiwara saja."
"Apa? sandiwara katamu? Ya kau memang tukang bersandiwara sejak dulu!"
"Dasar penipu hati!"
Yoshi mengacak rambutnya kasar dan memeluk tubuhku. Ah, lagi-lagi air mata ini kembali mengalir tanpa aba-aba.
"David, antar aku pulang. Dadaku sesak berada di dekat penjahat cinta ini!"
"Sayang! please!" ucap Yoshi menahanku.
"Diam kau! lintah darat!"
"Aku merindukan panggilan itu!" ucapnya tersenyum.
"Dasar buaya darat! menjauh dariku!"
Bertambah satu lagi panggilan untuknya.
Aku pun masuk ke dalam mobil David setelah berhasil menendang benda pusaka suamiku itu.
"Rasakan! bisa apa buaya darat tanpa benda itu!"
(Good job Ana 😂😂😂)