My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Cemburu menguras hati



Rasaya senang sekali akhirnya aku bisa terbebas dari rumah mertua, bukannya aku tidak suka. Hanya saja di rumah itu rasanya begitu kaku dan tidak bebas. Terutama saat sedang ingin menggoda Ana.


Hari ini kami pergi ke agrowisata di daerah pegunungan, awalnya Ana menolaknya tetapi setelah dipaksa ia pun setuju, sepanjang perjalanan ia cukup rileks dengan kaki berselonjor di atas pahaku.


"Mas, aku duduk di jok belakang saja ya," ucapnya.


"Kenapa? apa tidak nyaman duduk di depan?" tanyaku.


"Bukan mas, biar aku bisa meluruskan kaki,"


"Di sini juga bisa kan? seperti ini."


"Aku gak mau ganggu kamu menyetir mas,"


"Gak ganggu sayang, sudah tiduran saja." Kataku sambil mengelus kakinya yang sedikit membengkak sejak memasukki kehamilan delapan bulan.


"Mas, ngapain sih ngelus-ngelus kaki aku. Jangan modus ya!" ucap Ana dan aku pun hanya tertawa.


"Kakimu bengkak sayang, aku hanya memijitnya. Modus dari mana?" tanyaku, padahal benar aku memang sedang mengerjainya. Entah kenapa semakin lama lekuk tubuh Ana semakin menggiurkan padahal ia sedang hamil tua.


"Eh mas, kantor gimana?Coba telepon David gih," tanya Ana, mengkhawatirkan keadaan kantor saat CEO-nya tidak ditempat selama beberapa hari ini.


"Iya sayang, tapi David juga sedang berlibur saat ini."


"Kemana Mas?" tanya Ana.


"Ke Bali, jangan khawatir David bisa memantau keadaan kantor melalui ponselnya, sama denganku. Tapi, aku akan mencoba menghubunginya sekarang."


Aku pun mendial nomor David dan tersambung.


"Selamat pagi tuan," sapa David dari sana.


"Pagi, David. Bagaimana keadaan kantor?" tanyaku mengujinya padahal aku hanya berbasa-basi agar Ana tidak rewel saja.


"Terpantau aman tuan," ucapnya.


"Hey, aku seperti mendengar suara wanita di dekatmu David," tanyaku.


"Oh iya tuan, saya sedang bersama teman."


Ana pun tampak terkejut saat mendengar obrolanku dengan David dan meminta untuk beralih ke panggilan video. Aku pun menurutinya.


"Hai David, bagaimana liburanmu?" sapa Ana pada David, kini ponsel berada pada tangannya dan aku melanjutkan menyetir.


"Baik nyonya, apa kabar?"


"Baik David, kami juga sedang berlibur." Kata Ana, namun tiba-tiba terdengar suara wanita menyapa Ana melalui video callku dengan David tersebut.


"Anaaaa!!!" teriak wanita itu. Dan seperti dugaanku itu adalah Dian. Benar, David sedang di Bali untuk menemui Dianna.


"Ahh Dian?? Kau dan David?" ucap Ana terkejut mengetahui jika sahabatnya itu sedang bersama asistenku.


"Ya An, aku berteman dengan David,"


"Ah pantas saja, saat itu David menyapamu saat melihatmu di mansions, ternyata benar jika kalian saling mengenal ya?" ucap istriku itu.


Dan aku masih saja sibuk menyetir, jalanan area dataran tinggi ini cukup berkelok dan dikelilingi oleh jurang yang curam.


Meskipun sedikit berbahaya tetapi pemandangan yang disuguhkan sangatlah indah.


"Mas, ponselnya aku taruh sini ya," ucap Ana.


"Sudah selesai teleponannya sama Dian?" tanyaku.


"Sudah mas. Hmm ternyata David dan Dian itu saling mengenal sejak lama ya,"


"Benar sayang, sangat lama sekali!" ucapku.


"Kau tau itu mas?"


"David menceritakannya padaku. Dan kau tau kapan pertama kali mereka bertemu?"


"Dian bilang saat David ke Bali untuk mencari gelang," ucap Ana sambil berfikir.


"Ya, dan gelang itu adalah gelang yang kuberikan padamu saat SMA dulu," jawabku.


"Ah, ternyata benar. Kau meminta David untuk mencarikannya saat itu ya?"


"Benar, dan aku memarahinya karena kotak tempat gelangnya jelek, tidak indah sama sekali."


"Oh jadi kardus kosong bertuliskan From Bali with Love itu adalah tempat asli gelang itu ya mas,"


"Benar sayang." Tak kusangka Ana benar-benar telah menggeledah ruang kerjaku selama ini. Untung saja semua rahasia sudah terungkap karena jika tidak entah akan kabur kemana lagi istriku ini.


***


Tiba di tempat tujuan


Aku memarkirkan mobil di area hotel yang sudah kubooking sebelumnya. Para staf menyambut kami. Jika bukan karena tamu VVIP tentu saja mereka tidak akan menyambut seperti ini.


"Selamat pagi Tuan dan Nyonya Luby," sapa seorang karyawan hotel.


"Pagi," ucapku dan Ana bersamaan.


Seorang bellboy membawakan barang bawaan kami dan mengantar kami ke kamar yang telah disiapkan.


Kamar yang nyaman dan luas, setidaknya aku bebas bertindak sesuka hatiku di sini.


"Sekarang? tidak capek memangnya sayang?" tanyaku mengingat kami baru saja tiba setelah menempuh perjalanan jauh.


"Tidak mas, ayolah. Istirahatnya nanti sore saja,"


Aku pun menurutinya, udara di pegunungan ini cukup dingin dan aku memintanya untuk memakai pakaian yang tebal.


"Sayang, pakai ini ya. Sama kaos kaki juga."


"Ih kamu manis sekali mas," ucapnya saat melihatku memakaikan kaos kaki dan sepatu untuknya. Aku tau akan sulit bagi bumil untuk memakai semua ini karena perut buncitnya akan sangat mengganggu.


"Sudah siap tuan putri?" tanyaku dan Ana hanya tersenyum lalu aku meraih tangannya untuk keluar kamar.


Kami berjalan menyusuri jalan setapak di antara buah stroberi yang mulai berwarna merah. Ana memetik buah yang sudah mulai matang dan ingin memakannya begitu saja.


"Sayang, apa yang kau lakukan?Jangan langsung dimakan ah!" ucapku meraih buah tersebut.


"Ih mas, aku ingin memakannya langsung dari pohonnya," ucapnya kesal karena aku menghalanginya.


"Tapi ini kotor, belum dicuci sayang, ingat kamu sedang hamil. Jangan sembarangan makan," ucapku.


"Iya sudah mas, aku taruh di keranjang dulu deh!" ucapnya sambil memetik beberapa buah stroberi lagi.


"Bagus, anak pintar." Kataku sambil membelai rambutnya.


Kami terus berjalan sambil menikmati udara dan atmosfer di tempat ini. Hingga tiba-tiba segerombol gadis datang dan menghampiri kami.


"Eh, ada Kak Yoshi," ucap salah seorang gadis.


"Wah, iya ya. Kakak kan yang ada di majalah nowdays b**ussiness minggu ini kan?" tanya gadis lain kepadaku.


"Ih iya bener, Kak Yoshi kan CEO Lubyware Group itu kan? Gak nyangka bisa ketemu di sini?"


"Oh iya, saya Yoshi. Kalian siapa?" tanyaku pada mereka.


"Kami pecinta majalah NB Kak, makanya kami langsung mengenalimu, kakak kan yang jadi narasumber di majalah NB minggu ini kan?" tanya mereka.


"Benar, memang minggu ini saya diminta menjadi salah satu narasumber di majalah itu," ucapku.


"Keren sekali kak! boleh minta foto sebentar?" tanya mereka. Dan aku pun mengijinkannya.


Tanpa sadar, aku telah mengacuhkan istriku hingga wajahnya terlihat kesal. Ana pun pergi dari tempat itu dan meninggalkanku dengan para gadis ini.


Aku segera mengejarnya tetapi Ana berjalan begitu cepat.


"Sayang, pelan-pelan jalannya," ucapku sambil tetap mengejarnya.


"Sayaangg!" aku terus mengejarnya dan meraih tangannya tetapi Ana tetap mengacuhkanku hingga kini kami tiba di kamar.


***


"Sayang apa kau marah?" tanyaku.


"Tidak, sudah sana urus saja para fansmu itu!" jawabnya sambil memanyunkan bibirnya. Sungguh membuatku gemas.


"Fans apa?"


"Apa lagi kalau bukan gadis-gadismu itu!"


"Sudah sana ah!" ucapnya lagi sambil mendorongku yang berniat untuk memeluknya.


"Sayaang, apa kau cemburu?" tanyaku menggodanya.


"Tidak mas! aku mau istirahat," ucapnya sambil menutupi tubunya dengan selimut.


Aku pun ikut masuk ke dalam selimut itu dan memeluknya dari belakang.


"Mas, aku mau istirahat!" ucapnya sambil menepis dekapanku.


"Aku juga mau istirahat," jawabku.


"Jangan peluk-peluk ah!"


"Peluk saja para fansmu itu." Dia masih saja kesal padaku.


"Astaga kau benar-benar cemburu pada mereka sayang?" tanyaku.


"Oh Kak Yoshi, kakak yang ada di majalah itu kan? Ah kakak keren sekali," ucap Ana dengan suara dibuat-buat menirukan gaya para gadis tadi. Sangat lucu sekali membuatku tertawa saja.


"Sayang, mengapa kau begitu menggemaskan ha?" ucapku sambil menciumi pundaknya.


"Ah sudah ah, aku mau mandi saja!" ucap Ana dan beranjak dari tempat tidur.


Dia pun berjalan ke arah shower. Sebenarnya aku ingin membiarkannya sendiri dulu mengingat bahwa ia sedang sangat kesal padaku.


Namun bayangan tubuhnya saat menanggalkan pakaiannya terlihat begitu jelas karena pintu shower itu buram tetapi transparan. Aku pun tak tahan melihatnya dan menyusulnya masuk ke dalam.


"Sayang..." Aku memanggilnya dengan suara manja, terlihat ia sedang bermain busa di bath tub. Sudah lama aku tidak melihat istriku sedang mandi seperti ini.


"Dih main masuk-masuk aja! dasar tidak sopan!" ucapnya kesal.


"Bukan salahku sayang, salahmu tidak mengunci pintunya..."