
Sesampainya di kantor aku langsung memeriksa laporan David.
"David, menurutmu siapa yang sudah membobol file usang ini? Bukankah kau telah menguncinya dengan sistem dariku?" tanyaku.
"Benar tuan, entah bagaimana itu bisa terjadi." Jawabnya.
Aku terus mengotak-atik folder tua ini. Entah bagaimana cara membukanya. Sejak dulu papa selalu memakai kode rahasia untuk mengunci isi dari file ini.
Aku pun menambahkan password baru pada folder bernama 'secret' buatan papa ini, sungguh bagaimana mungkin sesorang bisa mengcopy data ini, aku memang tak cukup pintar dalam membuat pengaman data seperti papa.
"Tuan, mungkin mereka bisa merusak sistem pengaman dari anda, tetapi untuk membuka isi file itu sangatlah sulit, bahkan beberapa hacker kita tidak dapat membukannya bukan?"
"Aku penasaran apa isi file ini, dan mengapa papa begitu melindunginya. Bahkan seseorang mampu mengopynya dan membukanya melalu jailbreak tetapi tidak dengan membukanya secara jelas."
"Tuan, ada file dengan nama sama di laptop anda di rumah, mungkin saja kita bisa menemukan petunjuk untuk itu." Kata David.
Aku pun pulang ke rumah, kulihat Ana dan genk nya itu tengah makan siang, sekilas kulihat Reza biasa saja, tidak ada gerak-gerik untuk mendekati Ana.
Aku pun naik ke atas menuju ruang kerjaku untuk mengambil beberapa item yang dibutuhkan. Lalu Ana menghampiriku dan mengatakan jika dia ingin pergi berbelanja nanti sore.
Aku melarangnya untuk pergi sendiri sebab aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Sebenarnya tidak tega melihat Ana merengek seperti itu tetapi, bukankah mencegah hal buruk terjadi itu lebih baik.
***
Di kantor.
"David, semua file usang yang berjenis sama dengan yang ada di sini sama saja." Ucapku sambil terus mengotak-atik laptop.
"Sama bagaimana tuan?" tanya David.
"Tidak satupun yang bisa kubuka, bagaimana papa membuat system pelindung data ini begitu bagus."
"Bukan hal yang mustahil tuan, Ayah anda adalah seorang hacker yang hebat, jika beliau mampu untuk membobol suatu data penting dengan mudah maka untuk melindungi data dengan sangat ketat pun pasti mudah juga untuknya." Ucap David.
"Kau benar David, entah siapa yang sedang mengincar data-data ini dariku." Aku terus berfikir namun tiba-tiba mama menelepon dari rumah.
"Halo Yoshi, mama mau pergi arisan dulu ya." Ucap mama dari seberang.
"Iya ma, tumben pamit. Biasanya ngapa-ngapain gak pernah ijin sama Yoshi, masuk kamar Yosh aja gak pake ngetok pintu kok." Ucapku kesal.
"OH jadi masih dendam ya kamu sama Mama!" teriak mama, membuatku ingin tertawa saja.
"Ma, Ana masih sama teman-temannya ya?" tanyaku.
"Iya, eh tapi tadi ijin pergi keluar sebentar sama genknya itu Yosh,"
"Apa? kemana? kok Mama main ngijinin gitu aja sih?" ucapku kaget. Sungguh aku tak habis pikir mengapa Ana begitu keras kepala.
"Yosh, jangan terlalu mengekang Ana. Kasihan dia juga butuh kebebasan. Sudah ya, mama mau arisan dulu." Ucap mama dengan santainya tetapi aku sangat kesal bagaimana jika nanti di jalan para penjahat itu mengicarnya.
"Ma, tunggu! Ana pergi sama siapa saja?" tanyaku.
"Sama teman-teman perempuannya dan satu teman pria bule ganteng."
Aku meredam amarahku sejenak, jadi Ana benar-benar pergi bersama Reza juga. Ini tidak bisa dibiarkan, si cacing itu bisa memanfaatkan ini.
"David, aku pergi dulu ya, tolong lanjutkan penyelidikan kita." Ucapku berpesan pada David.
"Baik tuan." Ucapnya patuh.
Aku sibuk melacak di mana keberadaan Ana melalui ponselku dan akhirnya aku tau dimana posisi bumil itu sekarang.
Segera kutancap gas untuk meluncur ke pusat perbelanjaan itu. Aku terus mengikuti pergerakan GPS menuju Ana berada.
Di sebuah toko perlengkapan bayi, sesuai dugaanku. Ana dan genknya sedang berada di sana. Tentu saja dengan si cacing Reza itu juga. Namun, saat kakiku mulai melangkah, tiba-tiba seseorang memanggilku.
"Tuan Yoshi, sedang apa di sini?" sapa seorang wanita yang ternyata adalah Celine.
"Oh Miss Celine, saya sedang menjemput istri saya." Ucapku, entah kenapa wanita ini selalu muncul di saat yang tidak tepat.
"Oh nyonya Ana di sini juga rupanya,"
"Iya, bersama teman-temannya," Jawabku.
"Bagaimana kabar kalian?"
"Kami baik, Ana sedang mengandung saat ini." Jelasku,
"Wahh selamat ya tuan dan nyonya Yoshi."
"Terima kasih Miss, dan bagaimana kabar anda?" sungguh aku ingin segera pergi dari Celine tetapi dia masih saja mengajakku mengobrol.
"Baik tuan, saya sedang mencari beberapa barang untuk anak-anak di rumah."
"Oh seperti itu, kalau begitu saya pamit mau menemui Ana dulu Miss Celine." Ucapku melangkah pergi. Aku tak ingin Ana semakin menjauh.
"Bolehkah saya ikut? saya ingin mengucapkan selamat pada nyonya Ana." Ucapnya dan aku pun mengijinkannya.
Kami berjalan bersama menuju counter perlengkapan bayi itu, aku tak perduli dengan anggapan Ana saat nanti melihatku bersama Celine, saat ini dia harus menerima konsekuensinya karena telah mengabaikan pesanku.
Sesampainya di tempat, kuraih lengan istriku itu dengan kasar.
"Bukankah sudah kubilang jangan keluar rumah sendiri!" ucapku pada Ana.
Dia sangat terkejut saat mendapati diriku dan Celine juga berada di sini. Aku membentaknya di hadapan orang-orang. Dan memaksanya untuk pulang ke rumah.
Reza tidak terima melihat perlakuanku itu hingga dia berani menyentuh tangan Ana di hadapanku, sungguh pria ini sangat kurang ajar, bahkan dengan santainya dia mengajak istriku untuk pulang bersamanya.
Tanpa pikir panjang tangan ini bergerak dengan sendirinya.
Bughh
Satu pukulan dariku melayang ke wajah Reza, membuatnya tersungkur. Bahkan dia juga masih bisa menyebutku tak pantas untuk Ana setelahnya.
Sekali lagi, kulayangkan pukulan di wajahnya, seakan tanganku ini ingin terus menghajarnya jika saja Ana tidak menghalangiku. Ana semakin histeris melihat pertarungan ini.
"Kau sangat menyedihkan Reza!" ucapku.
"Apa kau bilang? Diriku ini menyedihkan?" Ucapnya masih dengan tubuh segar meskipun wajahnya berdarah. Sungguh dia sama sekali tidak ingin membalas pukulanku.
"Tentu saja kau menyedihkan, lihatlah Ana lebih memilihku dari pada dirimu, Reza?!" ucapku sarkas.
"Lihat dirimu Yosh, kau bahkan lebih menyedihkan dariku, kau tidak pernah tau apa yang istrimu inginkan!" kata Reza.
"Apa maksudmu?"
"Apa kau tau? Ana lebih memilihmu karena dia tidak pernah tau perasaanku padanya!" Kau beruntung Yoshi! Kau hanya sedang beruntung saja saat itu!" Jawabnya dengan tenang tetapi terasa menyakitkan untukku.
"Jika saja saat itu aku berani mengungkapkan perasaanku padanya, mungkin saat ini akulah yang menjadi suami Ana, bukan kau!"
Mendengar itu membuatku semakin tersulut untuk menghajarnya, namun Ana memelukku dengan sangat kuat dari belakang. Sementara, di seberang sana Eve, Dian dan Jenny sedang heboh menahan Reza.
"Yoshi, kau bahkan masih saja meragukan istrimu, bahkan setelah kalian bersama seperti ini!"
"Jaga bicaramu Reza! Kau sama sekali tidak tau tentangku!" Ucapku, rasanya tangan ini begitu gatal untuk segera memukulnya lagi.
"Kau masih saja cemburu padaku? padahal Ana sudah menjadi milikmu sepenuhnya. Kau bodoh Yosh!"
"Bans*t ! Kau sama sekali tidak tau siapa diriku Reza! Jangan menguji kesabaranku!" sungguh pria itu memang layak untuk dihabisi.
"Sadarlah Yosh, jika memang kau selalu tidak bisa menjaga amarahmu seperti ini, aku bersumpah untuk merebut Ana darimu!" ucapnya pelan tetapi cukup menggores hatiku. Benarkah selama ini aku selalu mengekang Ana dan bertindak sesuka hatiku padanya.
"Tunggu Reza! dasar pengecut!"
"Reza! Urusan kita belum selesai!" teriakku lagi tetapi Reza telah pergi bersama teman-temannya.
Seketika itu Ana langsung melepaskan pelukannya pada tubuhku setelah Reza pergi dan meninggalkan diriku sendiri bersama Celine.
"Tuan, tolong sampaikan maaf saya pada nyonya Ana. Dia tampak sangat kecewa saat melihat kita berdua juga berada di tempat ini." Ucap Celine.
Tanpa menggubrisnya aku berlari mengejar Ana.
"An, kita harus bicara!" ucapku tetapi Ana malah berlari dan masuk ke dalam taksi.
"An, tunggu! jangan naik taksi. Kita akan pulang bersama." Ucapku tetapi Ana tetap saja mengabaikanku.
"Pak, hentikan mobilnya!!" ucapku para sopir taksi itu. Sopir itu pun berhenti setelah aku memberinya uang.
Aku masuk ke dalam taksi dan mengangkat tubuh istriku itu menuju mobilku.
"Yosh, hentikan! Kau jahat!" ucap Ana, memberontak. Tetapi aku tidak memperdulikannya.
"Sayang kau bisa marah-marah lagi tapi setelah tiba di rumah. Untuk sekarang tenanglah." Ucapku sambil mulai mengemudi.
"Aku kesal padamu!"
"Iya, iya. Aku tau aku salah. Tapi, untuk keluar rumah dan pulang sendiri seperti tadi itu sangat berbahaya untukmu. Ana, kita sedang diincar oleh penjahat jika kau lupa." Ucapku mencoba membuatnya mengerti.
"Ya, kaulah penjahat itu! Kau melarangku pergi bersama teman-temanku, tetapi lihatlah dirimu sendiri. Kau malah pergi bersama Celine tanpa ijin dariku. Aku muak padamu Yosh!"
"Astaga, bukan seperti itu ceritanya sayang."
Aku terus mengemudi, sambil mengawasi jika penjahat itu ada di sekitar kami atau tidak. Seperti biasa mobil penyelamat misterius selalu saja mendampingi kemanapun aku pergi.
Tiba di mansions.
"An, sayang!" ucapku tetapi dia tidak mau mendengar, malah semakin mempercepat langkahnya.
"Ana, jangan berlari!" teriakku saat melihatnya menaikki tangga dengan berlari dengan menghentakkan kakinya.
"Sayang! ingat kau sedang hamil. Pelankan langkahmu."
Ya ampun, drama apa lagi ini. Kenapa hari ini nasib sangat tidak berpihak kepadaku. Aku mengikutinya ke kamar dan mengunci pintunya khawatir mama akan mengganggu lagi.
"Keluar Yoshi!!" kata Ana sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Sayang, jangan seperti itu."
"Kau jahat, kau berbohong padaku, katamu dirimu sedang sibuk di kantor hingga menolak ajakkanku untuk pergi membeli baju buat baby. Tapi, apa? kau malah pergi berbelanja dengan Celine hari ini."
"Aku tau aku salah karena memutuskan untuk terap pergi. Meskipun kau melarangku tetapi setidaknya aku sudah meminta ijin terlebih dulu."
"Tidak sepertimu Yosh, kau mengatakan jika dirimu sibuk di kantor tetapi nyatanya kau malah pergi ke mall bersama wanita itu!"
Ana terus saja berbicara dan tidak memberiku kesempatan sedikitpun.
"Yoshi, aku tau diriku tidak secantik dan seseksi Celine, tetapi bukan berarti dia lebih baik dariku!"
"Ya ampun sayang, kenapa jadi begini?" aku sungguh bingung ingin berkata apa. Ana tau aku sangat tergila-gila padanya tetapi masih saja cemburu pada Celine, padahal sudah jelas dia lebih muda dan lebih cantik dr Celine.
"Aku tau sejak hamil tubuhku semakin melebar. Itu sebabnya kau masih berhubungan dengan Celine."
"An, tolong jangan membawa nama Celine dalam hubungan kita." Ucapku.
"Kenapa? kau saja terus membawa nama Reza dalam hubungan kita. Mengapa aku tak boleh membawa Celine juga.
"Yosh, satu lagi. Aku tak suka jika kau menyakiti Reza! Dia temanku, dia tidak pernah bersalah!"
"An!! jangan sebut nama itu lagi!"
Es krim dulu deh biar adem dikit pikiran dan perasaan 🤧🤧🤗
Haloo terima kasih ya masih tetap mengikuti kisah ini. Dan terima kasih juga atas dukungannya genk!! 💖😍