
Ana POV
Kami semua sedang berada di ruang makan. Dan membicarakan lagi tentang nama baby. Sungguh, aku sangat bosan dengan Yoshi, sejak kemarin dia terus saja ingin membahasnya sendiri tanpa mau mendengarkan orang lain.
"Apa Kak? Yoshiano?" tanya Luna sambil mengunyah sarapannya.
"Iya, bagus kan Lun?" tanya Yoshi sambil mencium baby yang saat ini berada dalam dekapan mama.
"Apa tidak ada nama lain?" tanya mama.
"Kenapa tidak mengambil nama dari nama pahlawan saja? bukankah nama adalah sebuah do'a? " kali ini bapak ikut berbicara. Sepertinya dia sepaham denganku.
"Ah iya, ibu baru sadar ternyata itu gabungan dari Yoshi dan Ana? Haha," celetuk ibuku tertawa.
"Siapa yang memberikan nama itu Kak? aneh banget," tanya Luna.
Yoshi pun pura-pura tidak tau, dan memalingkan wajahnya dari tatapan Luna.
"Kak Yosh, siapa yang kasih nama asal itu buat baby?" tanya Luna lagi. Yoshi tampak berfikir dan mungkin sedang merasa malu.
"Mbak Ana tuh yang maksa mau kasih nama itu Lun!" ucap Yoshi sambil melirik ke arahku. Astaga, kenapa jadi aku yang dituduh.
"Ah, apa kau bilang Mas? Kau yang memberikan nama itu, bukan?" tanyaku, bisa-bisanya Yoshi melempar batu sembunyi tangan.
"Kau yang memaksaku sejak kemarin sayang, bahkan aku ingin memberikan nama lain untuk baby," sanggah Yoshi lagi. Sangat menyebalkan.
"Ma, mama tau kan jika kemarin Yoshilah yang bersikeras ingin memanggil anak kami Yoshiano? Mama ingat kan?" tanyaku pada mama, berharap pembelaan darinya.
"Ya, mama ingat. Kaulah yang sejak kemarin ingin memberikan nama itu pada baby, Yosh!"
"Mengapa kau menuduh istrimu?" hardik mama menjewer telinga Yoshi.
"Akhh sakit Ma!" pekik Yoshi.
"Sudah kuduga pasti kakak ipar yang telah menciptakan nama aneh itu untuk baby!" ucap Luna terkekeh.
"Lun, memangnya kenapa? Dimana anehnya ha?" tanya Yoshi lagi.
"Tidak aneh sih kak, tapi bagaimana jika kita sedikit merubah penulisannya," usul Luna sambil mengambil secarik kertas.
"Yoshiano, ini terlalu biasa!" ucap Luna sambil berfikir.
"Lalu ?" Yoshi pun ikut memperhatikan tulisan Luna tersebut.
"Bagaimana jika seperti ini kak?"
...Yoshcianno...
"Hah, apa ini? Tidak bisa, ini seperti nama kopi!" ucap Yoshi, langsung membuang kertas itu.
"Yah kak, kok dibuang! itu keren tau!" ucap Luna.
"Tidak, ini tidak sesuai EYD kamus bahasa Indonesia Lun, ini tidak bisa dibaca!"
"Yaelah, Kak. Gitu doang! biar agak-agak Spanish-Italy gitu nama baby!" dengus Luna kesal.
"Spanish-Italy apanya? Mana ada Spanish-Italy digabung seperti itu?" sanggah Yoshi.
"Lun, sudah biarkan saja kakak iparmu berfikir sendiri, aku juga sudah malas!" ucapku.
Sementara itu, bapak, ibu dan mama masih mematung menatap kami bertiga. Mau ikut berbicara pun tidak akan berguna.
"Sudahlah, berikan nama apa saja, yang penting maknanya bagus. Urusan penulisan atau apa pun itu tidak penting," ucap bapak ikut berbicara.
"Yang, bukankah kemarin kau ingin menambahkan nama tengah untuk baby?" tanya Yoshi kepadaku. Akhirnya ia mengingatnya juga.
"Iya Mas, aku ingin menambahkan satu kata sebelum nama keluarga," ucapku sambil meraih kertas.
Aku pun menuliskan nama itu, agar keributan ini segera selesai dan anakku segera memiliki nama yang jelas. Sambil menatap wajahnya yang sedang tertidur pulas, aku pun mulai menulis.
...Yoshiano Athana Luby...
...P**angeran berparas rupawan bak Dewa Yunani, putera Yoshi dan Ana yang terlahir sebagai penyelamat keluarga Luby...
"Wah bagus banget maknanya Kak!" ucap Luna menatap tulisanku.
"Iya, bagus. Setidaknya lebih kreatif dari pada ciptaan Yoshi!" kata mama mengejek anaknya.
"Bapak seperti tidak asing dengan kata Athana, An," ucap bapakku.
"Dari mitologi Yunani, Pak!" jawabku dengan semangat.
"Oh iya, bapak ingat. Bapak pernah membacanya juga. Athana adalah bentuk maskulin dari Dewi Athena. Dewi peperangan yang tangguh," kata bapakku.
"Bukankah Dewa perang Yunani itu Dewa Ares, Pak?" tanya Luna mencela.
"Iya tetapi Athena lebih kuat, coba bacalah buku ini."
Bapak pun mengambil sebuah buku dan menunjukkannya pada Luna.
"Wah iya bener, aku suka nama itu! keren juga nih bacaan si James Bond! kirain bacaannya cuma berita-berita hoax!" ucap Luna, lagi-lagi mengejek bapaknya.
"Dasar kamu ya! mandi dulu sana biar hygine!" balas bapak.
"Mama sangat menyukai nama baby, dan benar dia telah menyelamatkan keluarga kami," ucap mama terharu.
"Coba kalau tidak ada baby, mungkin anakku ini sudah menjadi duda mengenaskan, bukan?" tambahnya lagi sambil menatap Yoshi.
"Ma, jangan mengungkitnya please!" balas Yoshi.
"Dan jika Ana dan Yoshi tidak bersama apa mungkin Nathan Lee bisa tertangkap?" ucap mama lagi.
"Sudahlah Bu, tidak perlu membahas semua ini di momen sebahagia ini," kata ibuku.
"Sudah saatnya kita melupakan semua kenangan buruk itu, Bu Annelis," balas bapak.
"Saya hanya sedih Pak, seandainya saja papa Yoshi bisa melihat kebahagiaan ini juga."
"Ma, sudah jangan sedih. Papa pasti sudah tenang sekarang. Semua masalah sudah terselesaikian bukan?" ucap Yoshi menenangkan ibunya.
"Kau benar Yosh," balas mama.
"Saya yakin, Permana mendapatkan tempat yang layak di sisi Tuhan, kita doa'akan saja setiap hari ya Bu," kata bapak mengakhiri perbincangan ini.
***
Sungguh sangat menggemaskan, bukankah aku tidak gemuk, dan Yoshi pun tidak terlalu gemuk, tetapi bagaimana baby bisa semontok ini. Aku sangat menyayanginya.
"Halo baby Shian," sapa Luna mengikutiku dari belakang.
"Kau memanggilnya dengan Shian, Lun?" tanyaku, kurasa itu lucu juga.
"Iya Kak, lucu kan? Yoshiano dan panggilannya adalah baby Shian, ah sangat cocok dengan pipi gembulnya ini!"
"Iya, itu panggilan yang manis Luna," balasku.
"Ehmm, apa itu Shian-Shian?" terdengar suara deheman dari arah pintu.
"Ah Kak Yosh, biarkan aku memanggilnya dengan Shian ya!!" ucap Luna saat melihat Yoshi.
"Yoshiano, Luna!" balas Yoshi.
"Kak, itu terlalu panjang!" sergah Luna.
"Mas, sudahlah. Biarkan kami memanggil baby dengan nama itu!" kataku.
"Ya, baiklah. Aku juga akan memanggilnya dengan nama itu. Hehe," balas Yoshi, akhirnya kadar keegoisaanya berkurang juga.
"Yey! bagus sekali. Akhirnya ideku diterima juga sama kak Yosh!" ucap Luna bahagia.
"Lun, mau kemana?" tanyaku saat melihat Luna berjalan ke gerbang.
"Mau beli pecel, Mbak mau?" tanya adikku.
"Jangan Lun!" potong Yoshi, menanggapi tawaran Luna untukku.
"Itu tidak hygne, lebih baik membuatnya sendiri saja," ucap Yoshi.
"Ah Kak, justru yang semi non hygine itu lebih enak tau!" jawab Luna dan Yoshi hanya menghela nafas panjang mendengarnya.
"Terserah padamu Luna, tapi jangan belikan kakakmu ya."
"Beress kak!" jawab Luna.
"Eh, Lun. Kemarin ada yang nyariin kamu loh!" ucap Yoshi.
"Siapa kak?"
"Itu yang nelpon kakakmu kemarin, dan kamu yang mengakatnya," jelas Yoshi.
"Ah ya, cowok judes itu kak? Dih males!" ucap Luna dan berlalu meninggalkan kami.
"Siapa sih mas ?" tanyaku.
"Reza kemarin chat, nanyain Luna," Jawab Yoshi.
"Oh iya? bagaimana bisa?"
"Iya, dia bilang siapa gadis yang mengangkat video call darinya waktu itu."
"Lalu, apa yang kau katakan padanya Mas?"
"Aku hanya bilang padanya untuk datang saja kemari jika ingin berkenalan, dan aku juga bilang padanya jika Luna yang masih abg itu tidak suka om-om," ucap Yoshi tertawa.
"Jahat kamu, Mas!" ucapku. Tetapi aku lega setidaknya Reza dan Yoshi sudah menjadi teman sekarang.
Udara pagi yang berembun ini membuat daun-daun di halaman rumah menjadi basah sehingga menambah kesejukan pada angin yang berhembus menerpa kulit, dan berada di kampung halaman rasanya seperti kembali ke masa itu lagi, saat setiap pagi aku menunggu Devi untuk berangkat ke sekolah bersama.
"Mas, dulu setiap pagi seperti ini aku selalu menunggu Devi untuk berangkat ke sekolah bersama," ucapku pada Yoshi yang sedang mendekap erat baby Shian.
"Dan sesampainya di kelas, aku selalu menunggumu melewati depan kelasku, itu sebabnya aku selalu duduk di dekat jendela,"
"Sungguh?" tanya Yoshi sambil memandangku, aku sangat menyukai mata dan alis itu. Entah sudah berapa kali aku harus jatuh cinta pada suamiku sendiri seperti ini.
"Iya Mas, aku sering melihatmu melewati kelasku, meskipun kau tak pernah melihatku saat itu. Bagiku, memandangmu walau hanya sekilas saja itu sudah cukup."
"Benarkah?" tanya Yoshi terkejut.
"Uh sayang, mengapa kau baru mengatakannya sekarang. Jika saja kau tau. Dulu aku memang sengaja melewati kelasmu hanya untuk melihatmu."
"Aku yang lebih dulu jatuh hati padamu An, saat aku melihat bapak mengantarmu ke sekolah. Sejak saat itu aku sering mengikutimu,"
"Bahkan secara diam-diam aku juga sering mengikutimu dan bapak saat sedang berboncengan motor!"
Rasanya air mata ini ingin sekali terjatuh mendengar pengakuan Yoshi dan mengenang masa itu. Masa dimana aku sangat mengagumi Mas Ikauku. Masa di mana aku tak pernah tau jika dia juga memiliki rasa padaku. Sungguh cinta monyet itu benar-benar luar biasa. Sungguh keajaiban, sekarang aku bahkan telah melahirkan anak untuk mas ikauku itu.
"Dan apa kau ingat? saat dirimu sedang berjaga di warnet?"
"Ya, Mas. Aku ingat! saat itu kau tiba-tiba saja datang kesana bukan?"
"Iya An, saat itu aku juga sengaja mengikutimu. Dan aku sangat gugup hingga beberapa kali berdeham untuk mengurangi kegugupan. Ingin rasanya kurobohkan saja dinding triplek cubical warnet itu agar bisa duduk bersamamu," ucapnya sambil tersenyum.
"Astaga Mas, aku terharu mendengarnya. Bisakah kita kembali ke masa itu dan memperjelas semuanya? aku ingin mengulanginya lagi mas!" entah mengapa perkataan Yoshi begitu membuat hatiku berbunga.
"Haha iya sayang, kapan-kapan kita napak tilas ya, kita perbaiki catatan asmara yang tak lengkap itu dan membuatnya menjadi sebuah kisah cinta yang sempurna," balas Yoshi sambil mengecup keningku.
(lebay kaliii🤧🤧 tapi aku sambil nangess nulisnya ðŸ˜)
Sesekali baby mengeliat dan menunjukkan ekspresi wajah imutnya.
"Dia sangat mirip denganmu sayang," ucap Yoshi memandangi wajah anak kami.
"Tetapi bibir merahnya mirip denganmu Mas," ucapku sambil membelai pipi yang menyembul itu.
"Benarkah? tetapi pipi, hidung dan matanya mirip denganmu, maka dari itu aku sempat mengira jika baby adalah bayi perempuan, dia sangat cantik An, sama sepertimu."
"Kau konyol mas. Dia itu baby boy. Tetapi seandainya baby adalah bayi perempuan. Apa nama yang akan kau berikan?" tanyaku.
"Yoshana, tentu saja!"
(sudah kuduga🤣🤣🤣)
**Makasih ya genk atas supportnya, aku senang sekali akhirnya 3 bab pembahasan tentang nama baby selesai juga🤣. Dari kemarin muter-muter terus tapi ujungny nama itu juga yang dipakai 🤣🤣🤣
Promo deh, melipir ya ke karya temanku**.
https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1672736&\_language\=id&\_app\_id\=2&\_share\_channel\=whatsapp