My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Next



Yoshi POV


Flashback


Aku mengirimkan record pengakuan Sarah kepada David, sangat puas rasanya akhirnya ular betina ini masuk ke perangkapku. Hanya dengan merayu dan sedikit membelainya ia langsung menurut padaku.


(Padahal bahaya sedang mengintamu Yosh wkwk)


Ah sungguh penggoda yang payah. Harusnya kau memoroti hartaku dulu jika memang dirimu adalah seorang jalaang pro.


Ucapan demi ucapan terus terlontar dari mulutnya, hingga semua fakta tentang Alberto Lee terungkap. Dia sama seperti ayahnya. Menjalankan bisnis haram dengan berkedok perusahaan pengembangan software.


Padahal, kebenarannya ialah dia sedang menjual dan memanipulasi dokumen milik negara untuk dijual ke negara lain, sungguh benar apa kata pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya.


Benar-benar like father like son. Kupastikan kau akan reuni bersama ayahmu di penjara pecundaang!


Aku pun mengirimkan record itu kepada David, lalu David menyerahkannya langsung ke pihak berwajib. Ini hanya bukti awal, tetapi setelah ini polisi akan menyelidiki perusahaan itu beserta aset yang ada di dalamnya.


Good job Yoshi! kau cerdas, setelah ini Ana sayangmu akan bangga padamu! Gumamku dalam hati.


Tak berapa lama, Ana datang ke meja kami, tak kusangka istriku itu benar-benar bekerja, dan ini adalah tempat kerjanya yang baru. Sungguh, dia terlihat begitu cantik dengan seragam managernya itu.


Ana, maafkan aku. Kini semua telah usai, aku akan menjelaskan semuanya padamu sayang.


Aku tertegun sambil memperhatikan istriku itu. Awalnya ia sangat santai saat berbicara dengan Sarah, hingga tiba-tiba ketegangan mulai terjadi saat Sarah mengatakan jika aku dan dirinya memiliki hubungan.


Ular ini begitu meresahkan. Ah, sial Ana pasti akan mengamuk setelah ini.


Di luar dugaanku, istriku itu bahkan berkata untuk menyerahkan diriku pada Sarah, ia ikhlas dengan hubungan kami. Serasa dihujani paku pinus. Hatiku sakit mendengar ucapan istri tercintaku.


Jadi, semudah itukah dia melepaskan diriku. Laki-laki yang ia cintai sejak remaja. Mengapa Ana tidak ingin mempertahankan hubungan kami. Apakah kesalahanku selama beberapa hari terakhir ini begitu membuatnya terluka.


Ana pun pergi begitu saja. Meninggalkan diriku bersama wanita murahan ini. Tak ingin membuatnya semakin berburuk sangka dengan sigap aku mengejarnya.


Aku terus meyakinkannya bahwa semua ini hanyalah sandiwara, tetapi Sarah berusaha memperkeruh suasana dengan mengatakan hal yang tidak-tidak kepada Ana.


Hal yang kuharapkan pun terjadi, akhirnya Ana mengeluarkan jurus saktinya. Jari-jemari lentik itu menarik rambut Sarah dengan kuat. Tak hanya itu ia bahkan memukul bagian perut Sarah.


Akhirnya istriku masih peduli padaku, Dia masih mencintai diriku.


(ngarep banget wjwk)


Aku pun berusaha melerai dua wanita itu. Bagaimana pun aku tak may istriku terluka meskipun nyatanya dialah yang sejak tadi memimpin pertandingan jambak-jambakan itu.


Sarah pun tumbang, terkapar bersamaan dengan polisi yang juga datang bersama David, akhirnya drama ini selesai juga. Sarah ditangkap atas tuduhan pencurian data penting milik perusahaanku begitu juga dengan Albert yang lebih dulu ditangkap. Aku tak sabar ingin bertemu dengannya dan memberikan ucapan selamat.


Aku mencoba menenangkan Ana tetapi aku gagal dia malah semakin marah kepadaku, kukira setelah kedatangan polisi, semua akan beres.


Ana bahkan mengatakan jika aku adalah seorang buaya darat, sudah terlalu banyak panggilan untukku selama ini. Dari lintah darat, rentenir mesum, drakula, suami mata duitan, monster, penipu ulung, penipu hati, penghianat cinta, tukang selingkuh, Ah sudahlah, aku tidak perduli dengan semua itu, aku pun mengejarnya saat ia hendak memasukki mobil David.


"Sayang.. please dengarkan aku!" ucapku sambil memeluknya dengan erat. Hingga ia tak dapat bergerak. Namun, itu tak bertahan lama saat kakinya menendang 'sesuatu penting'ku.


Buugh


"Akkhh sayang! sakit!" ucapku tersungkur menahan ngilu di area sensitifku. Aku bisa menerima tamparannya di pipiku tetapi untuk yang satu ini, bukankah ia juga membutuhkannya?


Bisa apa dia tanpa benda ini. Sungguh keterlaluan.


(Elu yang bisa apa tanpa benda itu Yoshi! 😂🤣)


"Rasakan Mas!" ucapnya sambil menutup pintu. Aku berusaha bangkit dan segera masuk ke mobil itu juga.


"Sayang... "


"Apa? kenapa ikut masuk? Masih berani kamu Mas? Mau lagi?" ucap Ana, geram.


"Akh sayang, kau tega sekali!"


"Rasakan! itu belum seberapa dengan sakit yang kurasa dasar laki-laki murahan!"


Bertambah satu lagi, julukan untukku darinya.


"Sayang, ayolah kita bicarakan ini baik-baik, Jangan kekanak-kanakan seperti itu!" ucapku sambil memeluknya.


"Lepaskan! aku muak padamu Mas!"


"An, kau cantik sekali dengan pakaian seperti ini, membuatku tegang saja,"


"Apa Mas? Mana yang tegang? Biar kuberi pelajaran lagi!"


David terkekeh melihatku terintimidasi.


"David, apa yang lucu ha?"


"Tidak tuan, saya ingin memperingatkan tuan saja," ucapnya menahan tawa.


"Memperingatkan apa?"


"Sabaiknya tuan diamlah dulu, jangan terus menantang Nyonya, atau benda itu akan semakin terancam haha," ucap David dengan tawanya yang meledak.


"Lihatlah David bahkan lebih pintar darimu Mas, " ucap Ana.


"Sayang, jangan seperti itu!" aku pun meraih pinggangnya.


"Jangan sentuh aku atau aku akan membuatnya hingga tidak berbentuk lagi!" ucap Ana sarkas.


***


Tiba di mansion.


"Lepaskan aku!" ucap Ana sambil berlari memasukki kamar. Dan menutup pintu dengan kencang.


"Sayang, aku minta maaf. Aku tau aku sudah tidak jujur padamu!"


"Aku tau, beberapa hari ini aku sangat mengacuhkanmu! Buka pintunya Sayang."


Astaga, sepertinya akan memakan waktu lama untuk mengambil kembali hati singa cantikku ini," ucapku lirih.


"Apa katamu Mas?"


"Aku bisa mendengarnya!!" sahut Ana dari dalam.


"Bu-bukan apa-apa sayang, ayolah buka pintunya!"


Ceklek


Pintu pun terbuka, dan Ana akhirnya keluar juga.


"Sayang, kau sudah memaafkanku?" tanyaku.


"Tidak, aku hanya ingin mengambil air minum saja!" ucapnya sambil menuruni anak tangga. Sungguh, ingin kurengkuh tubuh itu dari belakang, lalu mencuumbunya dengan ganas , dan lihat apakah dia masih bisa menghindariku atau tidak.


(Yosh, plisss pikirikan bendamu yang sudah tidak berbentuk itu!! dasar tukang selingkuh 🤧)


Ana masih saja marah padaku. Hingga Mama pun tak dapat membujuknya.


"Rasakan! apa Mama bilang! dasar laki-laki tidak peka kamu Yosh!" bentak ibuku, bukannya membantuku.


"Ma, mama kan tau kalau Yoshi hanya berdrama selingkuh kemarin, bukan sungguhan,"


"Kau ini, kalau tidak sungguhan bagaimana bisa kamu dan gunndikmu itu berpegangan tangan, bersayang-sayangan? Kau menikmatinya kan Yosh?"


"Ma, please itu hanya acting. Mama kan tau tipe Yoshi seperti apa?" Kesal sekali, ibuku benar-benar tidak bisa diandalkan untuk membujuk Ana.


"Jadi, jika pelakor itu mirip dengan Ana. Kau akan benar-benar selingkuh?!"


"Dasar suami tidak tau diri!" bentak ibuku lagi.


"Ma, bukan seperti itu!" kataku, memohon.


"Sudahlah! Mama lelah urus saja urusanmu sendiri!"


Baiklah, apa yang biasa kulakukan. Malam ini aku tidur di kamar tamu. Berselimut tebal tetapi tetap merasa dingin, sesekali aku menelepon dan mengirim chat ke whatsapp Ana namun ia tetap tidak memperdulikanku, jadi seperti ini rasanya punya istri tetapi seperti tidak punya.


***


Keesokan harinya saat aku hendak berangkat ke kantor, kulihat pintu kamar kami masih tertutup. Ah sudahlah, mungkin Ana sedang butuh waktu untuk benar-benar memaafkanku.


Hari semakin siang, aku masih melanjutkan pekerjaanku sebab sebentar lagi akan ada presentasi di ruang meeting.


"Pak, nyonya datang kemari," ucap David memasukki ruanganku.


"Nyonya?"


"Ya, nyonya Ana tuan," ucap David.


"Benarkah?" tidakkah Ana masih marah padaku. Tetapi mengapa ia datang kemari.


"Sungguh tuan,"


Sesaat kemudian Ana benar-benar datang ke kantorku. Dan menyapaku seperti tidak terjadi apa-apa di antara kami sebelumnya. Ah, akhirnya ia memaafkanku juga.


"Sayang, kau di sini?" tanyaku masih tak percaya. Tetapi Ana hanya diam, ia mengenakan cardigan panjang semata kaki. Sungguh aneh padahal hari sedang sangat sepanas ini.


"Mas, apa aku mengganggumu?" tanyanya sambil duduk di sofa sudut ruangan.


"Tidak sayang, tentu saja aku sangat bahagia melihatmu di sini."


"Kau memaafkanku?" tanyaku.


Ana beranjak dari tempat duduknya dan membuka cardigannya itu. Saat itu pula mataku tertegun melihat pemandangan ini. Dia mengenakan kemeja dengan kancing terbuka, rok di atas lutut dengan belahan hingga ke paha. Kulit mulus itu pun, kini terpampang nyata.


Jantungku berdegup kencang saat ia mulai mendekat dan mendekat ke arahku. Dia pun membuka maskernya, menunjukkan bibir seksi itu. Bibir berlipstik merah menyala, sungguh ini bukan gayanya.


Setahuku dia hanya menyukai warna-warna soft, aku mulai curiga ada yang tidak beres pada istriku. Namun, belum habis rasa penasaranku, Ana melepaskan ikatan pada rambutnya.


Kini rambut ikal panjang itu terurai menghiasi wajah dan tubuhnya indahnya.


"Mas, apa aku cantik?" tanyanya sambil duduk di atas mejaku. Astaga, jangankan untuk menjawabnya, untuk mengatur sesuatu di bawah sana yang sedang mengeras tak terkendali itu saja aku kelabakan.


"Mas!!"


"Jawab aku!"


Ana mulai mendekat dan menunjukkan belahan pada pahanya.


"I-iya sayang.. Iya.. Kau sangat cantik," ucapku terbata. Dia pun tersenyum sambil menggigiiit bibir bawahnya.


Astaga, apa kemarin Sarah meninggal? Dan arwahnya sedang merasukki istriku saat ini. Aku harus menelepon polisi untuk memastikannya .