
Pukul 9 malam setelah off duty. Aku, Evelyn, Jenny dan Dian berjalan di koridor lantai A. Menuju ke kabin Reza. Sesuai rencana, kami akan menonton film di sana.
Tiba di depan kabin Reza.
...🎵🎵"Kowe mbelok ngiwo nengen tanpo nguwasne mburi...
...Tak tabrak kowe loro iki salahe sopo...
...Yen kowe wes ra tresno ngomong ojo trus lungo...
...Awas nemoni apes lemah teles gusti sing bakal mbales "🎵🎵...
Terdengar lantunan lagu yang sepertinya tak asing di telingaku.
"Dih si Reza hobi tiktod juga ternyata" kata Evelyn sambil menepuk dahinya.
"Badan gede gitu joget-joget tiktod. Astaga ngakak gue" sahut Dian sambil melirik ke arah kami.
"Coba ketok dong pintunya Jen" kataku yang sudah jenuh berdiri di depan pintu.
Tok..
Tok..
Tok..
"Ezaa zeyengg, aku datang sayang!" kata Jenny sambil terus menggedor pintu itu.
Karena suara musik yang cukup kencang menyebabkan Reza tak mendengar suara Jenny.
"Reza, nih ada Ana nih! bukain pintunya Za!" sahut Evelyn sambil mendekatkan mulutnya ke pintu agar terdengar oleh Reza.
Aku agak bingung sebenarnya mengapa akhir-akhir ini Evelyn sering sekali menyebut-nyebut namaku di depan Reza.
Ceklek
Pintu pun terbuka. Seorang laki-laki dengan rambut Mohawk bersemu pirang dan berwajah rupawan membuka pintu.
"Wah ada apa nih ibu-ibu rame begini mau kondangan kemana emang?" katanya sambil tersenyum.
"Uh dasar, tiktod-an aja terosss" kata Evelyn kesal.
"Joget-joget gitu gak malu emangnya sama badan gedong lu Za " kata Dian menertawakan Reza.
"Siapa sih yang main tiktod? Kabin sebelah kali " jawab Reza mengelak.
"Alah bokis lu . Ngaku aja kali ntar duet sama Jenny noh" jawab Dian masih saja mempermasalahkan hal itu.
"Jadi ibu-ibu PKK ini ada perlu apa ya berbondong-bondong datang ke kabin saya malam-malam begini.
Apa tidak malu ngapelin perjaka ting-ting keroyokan kek gini?" tanya Reza sambil memasang wajah malas berpura-pura terganggu oleh kedatangan kami.
"Emang Jenny gak bilang kalo kita mau nongki di sini Za?" tanya Dian heran.
"Bilang sih, cuma gue pura-pura gak tau aja. hehe" jawab Reza sambil membukakan pintu dan mengganjalnya dengan door stoper.
"Ih Baby mah sukanya gitu. Pura-pura aja teruss "kata Jenny sambil mencubit pipi Reza.
Yang dibalas dengan elakkan tangan oleh Reza.
"Tau tuh pura-pura aja terus lu Za, jujur napa" kata Evelyn sambil mengedipkan matanya ke arah Reza. Entah mengapa rasanya Evelyn dan Reza seperti mempunyai maksud tertentu.
"Eh masuk yuk, kasian Ana udah bete gitu kelamaan berdiri" kata Reza sambil tersenyum ke arahku.
"Tumben kamu nggak se-songong biasanya Za" kataku membalas senyumannya. Akhir-akhir ini memang Reza tidak begitu jahil terhadapku.
Sangat berbeda dengan saat awal kami bertemu dulu. Bahkan terkadang dia juga memberiku sesuatu seperti cokelat dan snacks khas Indonesia yang sangat jarang kutemui di kapal ini.
Menurutnya cemilan tidak baik untuk tubuhnya yang rutin mengukuti exercise di Gym itu sehingga membuatnya membuang semua makanan ringan yang dimiliknya .
Lalu mengapa dia membeli semua itu jika memang itu tidak diperlukan, tentu saja aku merasa sangat diuntungkan karena menerima cemilan-cemilan yang terbilang langka itu darinya.
"Memangnya sejak kapan Reza yang baik hati ini songong An?" kata Reza membalas perkataanku.
Aku merasa tak perlu menanggapi perkataannya itu.
"Alah ngoceh terus ayuk masuk ah. Pengen cepet-cepet nonton Laser Candy nih" sahut Dian menyerobot masuk ke kabin Reza.
Sebuah jabatan yang mengatur keperluan kru dan sama sekali tidak pernah berurusan dengan Guest atau tamu seperti kami hingga membuatnya mendapat fasilitas kabin tunggal seperti ini.
"Za, lu nggak kesepian di kabin sendirian kayak gini?" tanya Dian sambil memperhatikan sekeliling.
"Kalo ksepian kan tinggal telepon eyke Cyiin. Ya kan Baby?" sahut Jenny sambil memberi kode pada Reza.
"Ieuwwhh" kata Reza bergidik ngeri menanggapi Jenny.
Kami pun mulai menonton film itu dengan menggunakan proyektor untuk memperbesar layarnya.
Acara yang kami sebut dengan nongki itu berlangsung dengan menyenangkan dengan sesekali melihat Jenny yang terus saja menggoda Reza.
Sesekali Reza melihat ke arahku. Aku bisa merasakan itu meskipun cahaya lampu redup. Cukup risih sebenarnya diperhatikan oleh Reza seperti itu tapi aku berusaha tetap biasa-biasa saja. Mungkin ada yang aneh dengan diriku hingga membuatnya seperti itu.
______________________________________________
Sementara itu di belahan bumi lain. Seorang asisten sedang berbicara dengan atasannya di Mansion mewah milik pria itu.
Yoshi POV
Aku masih bersikap tenang meski kini kutahu keberadaan Ana. Sejak beberapa bulan yang lalu dia bergabung di sebuah kapal pesiar milik perusahaan Belanda.
Awalnya kupikir akan sulit untuk menemukannya mengingat sejak kepergiannya tak ada satupun orang kepercayaanku yang dapat menemukan Ana.
Entah takdir apa yang dituliskan Tuhan untukku. Perusahaan yang mengajakku untuk bekerja sama adalah perusahaan yang sama dimana Ana bekerja.
Sungguh ini kebetulan yang sangat menguntungkanku. Aku tak perlu repot-repot untuk mencari Ana, karena dia sendirilah yang datang menyerahkan diri kepadaku.
Sungguh lucu, dia berniat untuk kabur dariku tetapi kenyataannya malah dia semakin mendekat kepadaku.
Aku harus merayakan semua ini. Ingin kukatakan pada mama bahwa calon menantunya sudah siap untuk menjadi menantunya.
Namun setelah kupikir lagi, sepertinya ini terlalu cepat untuk bahagia, aku tak ingin bertindak gegabah untuk ini.
Kuputuskan untuk melonggarkan cengkramanku pada Ana.
Aku tak ingin terlalu membuatnya terancam. Aku tidak akan menemuinya dahulu dan mengandalkan beberapa informan kepercayaanku yang berada di sekeliling Ana sebagai pengganti mata elangku.
"Apa tidak sebaiknya kita ke sana sekarang juga Tuan?" kata David mencoba memberiku saran.
"Tidak. Biarkan dia bernafas dulu" Kataku. Aku memang sengaja membiarkannya bebas untuk sebentar saja.
"Tetapi menurut informan kita, seseorang dari Staff Crew Office sedang berusaha mendekati Nona" kata David lagi, jujur saja itu membuatku sedikit terkejut.
"Siapa? Apakah Agus yang kau maksud? " tanyaku pada David, mencoba menebak siapa pria itu.
"Bukan Tuan, Agus terlalu tua untuk Nona" jawab David. Aku mulai penasaran siapa pria yang dimaksud olehnya itu.
"Lalu siapa staf crew office selain Agus?" terpaksa aku menanyakannya, jujur saja ini sedikit membuatku frustasi tapi aku tak menampakkannya.
"Asisten Agus Tuan, bernama Reza, masih muda dan cukup tampan" jawab David dengan detail, entah dia sedang memanasi-manasi aku atau apa tapi aku berusaha menahan emosiku.
Perkataan David membuatku berfikir keras, ingin kutanyakan tentang bagimana reaksi Ana terhadap pria itu tetapi aku terlalu gengsi pada David.
Akhirnya aku tak dapat mengontrol diri, pikiranku melayang entah kemana hingga membuatku mengambil keputusan yang terlalu tiba-tiba.
"Baik, siapkan penerbangan ke Amsterdam sekarang juga" perintahku kepada David.
"Sekarang Tuan?" tanya David dengan ketekejutannya.
"Kau pikir kapan memangnya ha?" kataku dengan mulai emosi. Tadinya David yang mengajakku untuk segera berangkat lalu sekarang malah dia yang terkejut melihatku menerima ajakannya.
"Tapi ada masalah Tuan, penerbangan ke AMS saat ini sedang fully booked" Jawab David yang membuatku benar-benar frustasi sekarang.
Bagaiman mungkin itu bisa terjadi mengingat ini bukan musim liburan bisa-bisanya semua tiket ke Amsterdam full booking.
"Kalau begitu siapkan jet pribadi. Aku tak mau tau malam ini juga kita harus tiba di Amsterdam" jawabku mendominasi yang membuat David seketika mematuhi perintahku.
"Baik Tuan, saya juga akan mengabari First President yang akan melakukan survey lapangan bersama kita besok", jawab David.
"Ya, cepat lakukan jangan membuatku menunggu lama." Kataku sambil menatap foto Ana.
"Lanthana, aku menemukanmu" gumamku lirih.
Yoshi POV end.