
Kubanting pintu mobil *s*port itu, meskipun kutahu, itu adalah pintu otomatis. Sepanjang perjalanan pulang aku terus saja menggerutu. Kutenteng sepatu heelsku. Merasa malas sekali memakainya sekarang.
Aku duduk disebuah kursi kayu di taman, segera kubuka ponselku. Ada sepuluh panggilan tak terjawab atas nama Lion Air Group.
Sudah pasti mereka menungguku sejak tadi. Ya ampun bodohnya aku. Ini semua gara-gara lintah darat tak tau diri itu. Awas saja jika aku sampai kehilangan kesempatan ini. Aku pasti akan membalasnya.
Perasaanku campur aduk antara marah dan takut. Takut jika aku akan kehilangan pekerjaan dan marah karena mengapa aku tidak hati-hati dalam bertindak.
Tentu saja Yoshi tau tentang ini. Dia pasti mengetahui semua tentangku. Bukan hal yang sulit untuknya.
Bisa saja dia meminta asistennya untuk mengawasiku atau bahkan yang yang lebih bar-bar lagi mungkin saja dia sudah menghack software dalam ponselku ini. Bukankah dia sangat ahli di bidang IT.
Aku terus mengomel sementara air mata ini masih saja mengalir dengan derasnya. Hingga satu panggilan dari perusahaan impianku itu datang kembali.
"Halo selamat pagi, kami dari staf Personalia PT. Lion Air. Apakah benar ini dengan saudari Lanthana? " sapa seorang perempuan di seberang sana.
Aku pun buru-buru mengatur nafas dan menghapus air mataku.
"Ya, selamat pagi benar, saya Lanthana sebelumnya saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada Ibu, masalah internal telah menyebabkan saya terlambat datang memenuhui panggilan anda hari ini" kataku senormal mungkin padahal tetap saja butiran bening masih menetes di mataku.
"Kami memberitahukan bahwa posisi FA yang sebelumnya tercatat atas nama anda telah dibatalkan perekrutannya . Untuk itu kami mohon maaf" kata Staf itu, bagaikan tersambar petir di siang bolong hal yang kutakutan akhirnya terjadi juga.
"Tapi Bu, tolong berikan satu kesempatan lagi untuk saya, saya mohon Bu." Ucapku memelas, air mata yang tadinya mengering sekarang telah keluar lagi membasahi pipiku.
"Kami mohon maaf yang sebesa-besarnya. Dengan berat hati kami menyatakan semoga di lain waktu saudari Lanthana dapat bergabung lagi di perusahaan kami. Terimakasih ." Kata terakhir Staf itu dan sambungan pun terputus.
"Tapi Bu, tunggu____________" jawabku menggantung karena sambungan telepon telah terputus.
Ini semua tidak akan terjadi jika drakula itu tidak mengacaukan acaraku. Aku benar-benar tidak habis pikir.
Bagaimana bisa dia melakukan ini, bukankah dia ingin agar uang ratusan juta itu segera kembali, lalu apa sekarang? Dia ingin agar aku mau menikah dengannya.
Sangat sulit dimengerti, sebenarnya apa motifnya dibalik semua ini. Jika hanya untuk mendapatkan seorang gadis untuk dinikahi bukankah itu hal yang sangat mudah untuknya.
Mengingat status sosial dan fisik yang dimilikinya tentu saja banyak gadis di luaran sana yang mengantri untuk menjadi istrinya.
Entahlah, aku benar-benar tidak mengerti, yang jelas Aku tidak terima dengan semua ini. Baru saja kemarin bapak dan ibu sangat antusias mendengar tentang pekerjaan baruku.
Dan sekarang aku harus mengatakan jika pekerjaan yang bahkan belum kumulai itu telah hilang. Bayangan raut wajah sedih kedua orang tuaku begitu memenuhi kepala dan membuat sesak di dadaku.
Segera kucari kontak atas nama Penagih Hutang di ponselku dan kutekan tombol hijau untuk menelepon si brengsek itu.
Tut
Tut
Tut
Tersambung
Dia mengangkat panggilan dariku. Tetapi tidak mengeluarkan suara apa pun.
"Apa Kau puas sekarang ha? !" Kataku memulai percakapan.
"Apa maksudmu? dan kenapa meneleponku baru sebentar saja berpisah sudah rindu ck ck.. " Jawabnya dengan santai sangat berbanding terbalik dengan nada suaraku.
"Cih, jangan berlagak bodoh. Aku sudah dipecat jika kau pura-pura tidak tau!" kataku masih dengan nada tinggi. Hingga membuat kerongkonganku kering.
"Pelankan suaramu, itu tak baik untuk kesehatan tenggorakanmu." Jawabnya, dia masih saja mengalihkan pembicaraan ini.
"Aku akan membalasmu Yoshi! Lihat saja." Kataku aku benar-benar tidak bisa mengontrol amarah ini.
"Tenangkan dirimu Ana, jika memang masih rindu, baiklah aku akan menemui sekarang juga" jawabnya. Astaga dia masih saja seperti itu. Ini sangat menambah kekesalanku padanya.
"Berhenti berputar-putar, lihat saja aku pastikan hutangku akan lunas sebelum waktu yang lau tentukan!" Jawabku dengan nada lebih tinggi lagi.
"Jaga kesehatanmu jangan terlalu bekerja keras, aku tak ingin kau sakit di acara pernikahan kita yang semakin dekat ini" katanya. Itu benar-benar membuatku muak.
Tanpa menunggu lama segera kututup berbincangan tak berguna itu, sungguh sangat sia-sia, aku sangat menyesal telah meneleponnya baru saja.
Tapi tak apa setidaknya aku sudah puas meluapkan amarahku padanya.
Aku pun kembali ke kos an untuk merapikan barang-barangku. Setelah merasa semuanya beres dan berganti baju, aku bersiap-siap untuk pergi ke terminal bis.
Jarak kota ini dari tempat tinggalku lumayan jauh memerlukan waktu sekitar dua Jam lebih untuk sampai di rumahku.
***
Setelah menempuh perjalanan panjang aku sampai di terminal bis di kotaku.
Segera kupesan ojek online untuk mengantarku pulang. Tak lama ojol pesananku pun datang.
"Mbak Lanthana ya? " kata pria paruh baya Driver Ojol tersebut.
"Iya Pak, betul," jawabku sambil bersiap naik ke boncengan motornya.
"Mbak masih ingat sama saya tidak? " tanya Bapak Ojol itu sambil menyodorkan helm berwarna hijau kepadaku.
"Maaf Pak, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyaku sambil menerima helm darinya.
"Wah sudah lupa ya Mbak, saya dulu tukang becak yang pernah mengantar mbak pulang ke rumah." Katanya mencoba mengingatkanku
"Tetapi saya terakhir naik becak waktu masih SMA dulu Pak," jawabku.
"Nah iya betul itu mbak, waktu itu hujan deras. Lalu teman mbak meminta saya untuk menjemput Mbak di sekolah." Katanya sambil mulai mengemudi motornya.
"Oh jadi Bapak tukang becak yang memberi tumpangan untuk saya dulu ya, ya ampun saya baru ingat Pak, bahkan dulu saya belum bayar ongkos becaknya loh." Kataku dengan antusias mengetahui ternyata bapak ini pernah menolongku dulu.
"Eh Mbak , tidak usah. Dulu teman Mbak yang tampan itu sudah membayar ongkos becaknya." Katanya. Itu sedikit membuatku terkaget sejak kapan aku memiliki teman yang tampan, bahkan aku hanya mempunyai satu teman selama ini yaitu Devi.
"Teman saya itu laki-laki atau perempuan ya Pak?," tanyaku lagi.
"Laki-laki lah Mbak, masak anak perempuan tampan. Ada-ada saja Mbaknya ini. Bahkan Mas itu memberi ongkos yang cukup besar untuk saya, sekitar 500 ribu rupiah, " jawabnya.
"Wah saya tidak tau itu siapa Pak, yang pasti terimakasih ya Bapak dulu sudah repot-repot mengantar saya, " jawabku. Entah siapa yang dimaksud oleh bapak itu yang jelas aku sangat berterima kasih padanya.
Jujur aku sangat penasaran tetapi sudahlah mood ku sedang tidak cukup baik hari ini akibat gagal dalam mendapatkan pekerjaan.
Kami pun sampai tepat di depan rumahku. Aku turun dari motornya dan berterimakasih padanya, rasanya ini seperti dejavu.
Adegan ini juga persis seperti ini ketika aku turun dari becak bapak itu di tengah derasnya hujan dahulu.
Aku pun mengetuk pintu rumah.
Tok..
Tok..
Tok..
Seorang Anak remaja membukakan pintu dan langsung berhambur memelukku.
"Mbak Anaaa!" katanya dengan ekspresi kaget luar biasa.
"Halo Laluna Adik kesayanganku," jawabku sambil membalas pelukannya.
"Ih Mbak kok gak bilang-bilang sih kalau mau pulang," katanya dengan mengerucutkan bibir kecilnya.
"Luna, siapa yang datang? " terdengar suara wanita dari arah dalam rumah.
Tidak salah lagi pasti itu suara Ibu. Segera aku masuk ke dalam bersama Luna untuk menghampirinya.
"Ibuukk," kataku memanggil nama Ibuku yang sedang mengolah sayuran.
"Ya ampun Ana, kenapa pulang tidak bilang-bilang?" kata Ibu yang terkejut melihat kedatanganku.
"Ana kangen Ibuk, " tanpa menjawab pertanyaannya aku segera mendekap tubuh hangat yang selama ini sangat kurindu itu.
Kami pun banyak mengobrol membicarakan tentang kesehatan bapak juga tentang Luna yang sudah mulai masuk kuliah.
Ibu bilang rentenir itu juga lah yang telah membantu biaya kuliah Luna, bahkan dia memberikannya secara cuma-cuma . Ini sangat aneh, dasar lintah darat bermuka dua, kataku dalam hati.