
Kelas Bahasa adalah kelas yang istimewa di Sekolah ini. Jumlahnya hanya ada satu kelas saja berbeda dengan kelas IPA dan IPS, masing-masing terdiri dari tiga dan empat kelas karena memang peminatnya lebih banyak daripada kelas Bahasa.
Aku sangat menikmati hari-hariku selama di Kelas ini, hingga tanpa terasa sudah hampir ujian kenaikan kelas sekarang, yang berarti Mas Ikau pun juga akan segera lulus dari sekolah ini.
Sejenak membayangkan hari-hariku tanpa melihat sosoknya lagi di sekolah ini sedikit membuat nyeri di hatiku.
Entah sejak kapan perasaan ini ada, padahal jika dipikir pikir memangnya apa hubunganku dengannya, disebut teman, tetapi seperti ini. Disebut bukan apa apa tetapi aku mengenalnya. Fix, hubungan kami hanyalah sebatas fans dan idola.
Tentu saja aku sangat menyukainya. Bahkan untuk memiliki rasa seperti ini aku tak perlu menyatakannya padanya. Sejak awal melihatnya aku sudah menyatakan diri sebagai pengagum rahasianya.
Hanya sebatas itu, aku tak pernah berharap lebih dari semua ini. Apalagi berfikir untuk memilikinya sungguh itu adalah hal terbodoh yang pernah ada.
***
Ujian kenaikan kelaspun terlewati dan hari ini adalah hari terakhir masuk sekolah sebelum liburan tiba.
Devi mengirim pesan di whatsappku dan mengajakku untuk pulang bersama. Aku pun menunggunya di depan kelas, namun Devi tak kunjung datang juga.
Lelah kumenunggu. Namun bukan Devi yang datang melaikan Mas Ikau yang menghampiriku di depan kelas.
Aku melihatnya berjalan ke arahku. Momen ini sungguh menegangkan. Langkah kakinya semakin mendekat . Lihatlah pangeran ini, cara berjalannya saja sudah sangat menarik hati.
Dilihat dari sisi manapun dia tetaplah tampan, seandainya aku bisa meminta fotoku dengannya kemarin. Namun sayangnya aku terlalu malu untuk mengatakannya.
Dia berada tepat di hadapanku sekarang, berdiri di depanku tetapi seperti biasa aku tak pernah berani menatap wajahnya meskipun aku sangat ingin.
"Ana, bisakah kita bicara sebentar?" Tanyanya sambil menatap wajahku.
"Iya-iya Mas. Mau ngomong apa ya?" Jawabku yang tumben otakku merespon dengan cepat perkataanya.
"Begini, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu." Kata Mas Ikau namun kali ini sepertiya dia yang agak gugup.
"Iya Mas, sesuatu apa?" Jawabku dengan menatap matanya. Oh mata itu benar-benar seperti obat bius. Seketika tubuhku terasa lemas tak berdaya.
"An, a-aku ... a-ku.... " kata Mas Ikau dengan suara terbata yang membuatku bingung kenapa jadi dia yang lidahnya kelu sekarang.
Namun belum selesai dia mengatakan apa yang ingin dia katakan , tiba-tiba Devi datang dan menghampiri kami berdua. Bukankah Devi ini sungguh mengganggu saja.
***
"Ana !!" teriaknya dari kejauhan. Seketika suara speaker Devi itu mememecah keheningan di antara kami berdua.
Mas Ikau yang sedang ingin mengatakan sesuatu kepadaku jadi terdiam dan tidak meneruskan perkataanya tadi.
Sekilas terlihat ekspresi kecewa di wajahnya. tetapi hanya berlangsung sebentar. Dia juga melihat ke arah Devi sebelum benar-benar pergi.
"Ana, bisakah kita bertemu besok? Temui aku di Jembatan Biru Jam 9 pagi." Katanya sambil menepuk pundakku dan berlari pergi sebelum Devi sampai di tempat kami.
Aku masih tidak bisa berfikir jernih sekarang. Aku tidak percaya seorang Ikau yang begitu bersinar itu mengajakku ketemuan besok.
Dan di Jembatan, Tetapi mengapa harus di jembatan. Tidak adakah tempat lain.
Ah terserah, buat apa aku memusingkan latar tempatnya, yang penting adalah besok aku akan bertemu dengannya mengingat sebentar lagi dua akan lulus dan entah kapan lagi bisa bertemu dengannya lagi.
Sempat terlintas benakku apakah dia akan menyatakan rasa kepadaku. Tetapi aku berusaha menepisnya. Berharap seorang pangeran sepertinya memiliki perasaan kepadaku sungguh hal yang tidak mungkin.
Aku terus memikirkan berbagai hal yang akan terjadi besok sebelum Devi datang dan membuyarkan lamunanku.
"An.. Ana.. Woy. ANAA?!" kata Devi pelan dan akhirnya berteriak.
"Iy-iya Dev, kamu ngagetin aja ih " kataku kesal.
"Cieee. Lu nggak pengen cerita sesuatu ke gue? "Kata Devi. Sudah pasti dia sedang memancingku karena melihatku sedang bersama dengan Mas Ikau tadi.
Aku pun bercerita kepada Devi dan dia nampak sangat kaget.
"Serius lu An? Dia ngajak ketemuan besok?" katanya tidak percaya seolah aku sedang berbohong kepadanya.
"Serius lah, tadi mau ngomong di sini tapi lu keburu dateng." Jawabku dengan muka malas.
"Oh my Gosh. Demi apa lu? jadi gue tadi ganggu kalian ya?"Jawabnya dengan menutup mulutnya yang menganga itu.
"Eh, jadi besok lu mau ketemuan di mana? " tanya Devi sambil menuntun motor antiknya
"Di jembatan Biru Dev," jawabku mantap.
"Jembatan Biru bukannya ditutup An? kan lagi direnovasi," kata Devi mencoba menjelaskan.
"Aduh, gak tau Dev, pokoknya tadi aku dengernya jembatan biru" jawabku sambil mengingat-ingat perkataan Mas Ikau tadi.
"Yang bener lu An, coba inget-inget jembatan biru atau jembatan baru. "Kuping lu kan eror biasanya", kata Devi semakin membuatku bingung.
"Aduh udah deh Dev, besok kalo salah kan bisa ganti tempat, orang jembatan biru sama jembatan baru kan deket." Kataku tidak mau mengambil pusing karena memang kedua jembatan tersebut letaknya tidak terlalu jauh satu sama lain .
"Terserah deh yang penting gue udah ngingetin lu ya," jawab Devi sambil melajukan motornya dan mengantarku pulang .
***
Keesokan harinya begitu bangun tidur aku segera mandi dan bersiap, bahkan aku sangat bingung akan mengenakan pakaian yang mana.
Akhirnya aku putuskan untuk memakai dress putih berkancing depan dengan lengan panjang bercorak bunga berwarna merah.
Kugerai rambut panjangku, mungkin ini terlalu narsis jika diungkapkan tetapi jujur saja aku merasa cantik hari ini.
***
Jam menunjukkan pukul 08.30. aku segera berangkat naik Angkot menuju jembatan Biru yang jaraknya sepuluh menit dari rumahku. Aku yakin tidak akan terlambat
***
Sepuluh menit berlalu, aku pun sampai di tempat tujuan. Entah mengapa jantung ini kembali menunjukkan ketidakefektifannya. Ritme nya semakin tak teratur padahal bertemu Mas Ikau saja belum.
Aku berjalan kearah jembatan. Dan benar kata Devi jembatan ini sedang dalam perbaikan rupanya, aku sedikit ragu benarkah Mas Ikau mengajakku bertemu di sini.
Akhirnya kuputuskan untuk menunggu di bawah pohon saja, dekat dengan warung dan penjual berbagai makanan.
Sepuluh menit berlalu ...
****
Lima belas menit berlalu...
****
Tetapi belum ada tanda-tanda Mas Ikau datang. apakah dia terkena macet atau bagaimana, apakah dia hanya mengerjaiku saja .
Jam sudah menunjukkan jam sembilan kurang lima menit.
Aku teringat kata-kata Devi, jangan-jangan benar bahwa yang dimaksud adalah Jembatan Baru. Seingatku memang di jembatan baru itu tempatnya cukup nyaman, ada tempat untuk bersantai di sana, karena memang baru dibangun.
Astaga bodohnya aku kenapa aku baru menyadarinya sekarang, kenapa dengan telingaku ini sebenarnya.
Tanpa pikir panjang aku segera berlari ke jalan raya untuk mencari angkot.
Sialnya sepuluh menit berlalu angkot masih belum datang juga. Akhirnya kuputuskan untuk berjalan kaki saja.
Aku berlari sekencang yang kubisa. Persetan dengan rambutku yang tadinya terurai cantik sekarang sudah seperti rambut singa karena tertiup angin dan debu.
Astaga perjalanan ini terasa sangat jauh sekali. Padahal jika menggunakan angkot jaraknya tidak sejauh ini, yang benar saja otak bodohku kembali aktif lagi.
***
Sampai di tempat.
Akhirnya aku sampai di jembatan baru. Nafas terengah-engah, jantung berdegub kencang.
Jam menunjukkan pukul 09.30.
Dan Mas Ikau tidak Ada di sana. Aku terus mencari di sekeliling jembatan dan taman. Aku bahkan sangat lelah sekarang, namun Mas Ikau tetap tidak kutemukan, ini memang salahku.