My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Yoshi POV - Tak Menemuiku



Ini adalah hari terakhirku di Sekolah. Sudah kumantapkan tekatku untuk menyatakan perasaanku pada Ana hari ini. Sudah beberapa kali kucoba untuk berlatih semalaman tetapi tetap saja perasaan gugup ini masih menghinggapiku.


Sepulang sekolah aku berjalan ke kelas Ana. Kulihat dia sedang berdiri di depan kelasnya, ini bagus. Bagaikan pertanda baik melihat Ana sedang sendirian di sana tanpa ada siapapun yang menemani termasuk Devi.


Kupercepat langkahku, hingga kini aku berada tepat di hadapannya. Seperti biasa Ana tak pernah menatapku. Dia selalu saja tertunduk entah kenapa, apakah memang dia tidak tertarik sedikitpun kepadaku.


"Ana, bisakah kita bicara sebentar?" Tanyaku sambil menatap wajahnya. Kulihat matanya terus melihat bawah entah ada apa sebenarnya di sana.Tapi satu yang pasti bulu matanya itu begitu lentik dan lucu.


"Iy-iya Mas. Mau ngomong apa ya? " jawabnya, dengan masih tidak menatapku.


Akhirnya kumulai saja acara yang menegangkan ini.


"Begini, sebenarnya Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, " kataku dengan gugup, seperti ada sebongkah biji durian tersangkut di tenggorokanku dan membuatku sulit berbicara.


"Iya Mas, sesuatu apa?" Jawabnya dengan menatap mataku. Baru kali ini Ana menatapku dan dengan jarak sedekat ini


Aku pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Mencoba mengungkapkan sesuatu itu.


"An, a-aku______ a-ku _____ " kataku dengan suara terbata yang membuatku bingung kenapa jadi lidahku yang kelu sekarang.


Tiba-tiba Devi yang berada jauh dari kami berteriak memanggil nama Ana.


Seketika suara Devi itu menggagalkan usahaku. Sungguh aku sangat kesal. Susah payah aku berusaha untuk hari ini tetapi dengan mudahnya teman Ana itu mengacaukan mood ku.


Konsentrasi yang sudah kubentuk tiba-tiba buyar begitu saja. Aku benar-benar kesal pada Devi, tetapi sebisa mungkin aku menutupi kekesalanku itu agar Ana tetap tenang.


Secepat kilat otakku berfikir untuk mencari cara lain. Aku benar-benar harus mengungkapkannya sebab besok Ibuku akan menjemputku ke Bandara untuk berangkat ke London.


***


"Ana, bisakah kita bertemu besok? Temui aku di jembatan Baru Jam 9 pagi." Kataku secara spontan sambil menepuk pundaknya, tanganku ini benar-benar lancang, entah keberanian apa yang kumiliki saat itu .


Dan mengapa aku harus memilih jembatan Baru. Ah bodohnya aku, teringat akan ucapan Dion bahwa kemarin dia mengajak pacarnya berkencan di Jembatan baru, dan menurutnya tempatnya sangat bagus.


Aku pun berjalan menjauhi Ana, sebelum Devi sampai di tempat kami.


***


Dalam perjalanan pulang aku terus berfikir akankah Ana datang besok. Entah mengapa aku sangat takut jika dia tak datang. Mengingat besok adalah hari terakhirku di negara ini.


Aku sengaja untuk mengajaknya bertemu pukul 09.00 karena besok jam boarding ku pukul 15.00 ,bukankah masih tersisa banyak waktu. Aku masih saja khawatir bila dia tidak datang besok dan aku berusaha untuk menenangkan diriku.


"*H*i Prince, Apa kau sudah siap untuk besok?" Kata kakekku menanyakan persiapanku untuk terbang besok.


"Tentu Opa, tetapi Ricko masih harus menemui seseorang dulu besok jam sembilan." Kataku sambil menata pakaianku ke koper.


"Oh jadi kau akan menemui Tuan Putri itu besok?" kata opa, sudah pasti opa mengetahui hal ini.


"Iya Opa," jawabku sedikit malu.


"Bagus Prince. Nyatakan cintamu. Jangan kau pendam, sebelum Pangeran lain akan merebut Princess mu itu." Kata opa memberi semangat untukku.


***


Pagi ini aku sangat gugup hingga aku bingung memilih pakaian mana yang akan kukenakan.


Akhirnya aku memilih kemeja putih dan celana jeans.


Aku sangat berharap pertemuan kami ini akan menjadi jalan untuk hubungan kami ke depan meskipun setelah ini aku akan meninggalkannya demi masa depan yang lebih baik, bahkan aku sudah merencanakan untuk menjalani long distance relationship dengannya setelah ini.


***


Jam menunjukkan pukul 08.30 aku segera bersiap untuk berangkat. Kali ini para penjagaku yang mengantarku, karena setelah ini aku akan langsung ke Bandara.


****


Lima belas menit berlalu dan aku sampai di Jembatan baru. Ini tempat yang cukup indah dengan taman di sekitarnya, benar seperti kata Dion, tempat ini cocok untuk berkencan.


Jam menunjukkan pukul 09.00 tetapi Ana belum juga datang. Haruskah aku menjemputnya di rumah. Tetapi aku ragu, mana mungkin aku berani bertemu dengan orang tuanya.


Aku memutuskan untuk tetap menunggu, berbagai spekulasi di kepalaku, apakah Ana sengaja tidak datang atau memang dia terlambat untuk datang.


Lima belas menit berlalu, Ana tetap saja belum datang. Hatiku mulai resah, apakah Ana benar-benar tidak ingin bertemu denganku. Sepertinya di antara kami hanya aku yang memiliki rasa.


Aku sempat berfikir apakah mungkin Ana tersesat atau mungkin salah tempat. Apakah mungkin kemarin saat aku mengucapkan tempat kami akan bertemu kurang jelas untuknya hingga dia belum datang juga sampai sekarang, mengingat kedatangan Devi yang sangat mengganggu kemarin.


Aku sungguh frustrasi saat ini. Namun aku tak berputus tapi asa, akhirnya aku memutuskan untuk mencari Ana. Entah di jembatan-jembatan lain atau di tempat lain, yang mungkin akan Ana datangi.


***


Sepanjang perjalanan aku sangat gundah dan terus berbicara sensitive " Ayolah An, temui aku. Entah kapan kita bisa bertemu lagi setelah ini." Kata-kata itu terus kuucapkan berharap Ana dapat mendengarku.


Tiba-tiba saja,


Ponselku berdering....


Aku mengangkatnya dan terdengar suara Mama dari seberang sana.


Ibuku menangis di telepon memberikan kabar bahwa ayahku mengalami kecelakaan di London.


"Yoshi, Papamu Nak, Papa... huuu hikss hikss, " terdengar suaranya menangis tetapi belum menjelaskan tentang apa yang terjadi.


Sontak, aku meminta sopir untuk menghentikan laju mobilnya agar aku dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Ibuku.


"Ma, ada apa? Kenapa Mama menangis?" tanyaku kepada Ibuku.


"Papa kecelakaan Yosh, sekarang kondisinya kritis .. huuuuu." Kata Ibuku masih terus menangis. Aku yang saat itu masih memikirkan Ana langsung panik dan meminta sopir untuk segera pulang ke rumah.


"Ma, Mama tenang dulu ya, habis ini Yoshi langsung ke Airport bersama Opa." Kataku mencoba menenangkan Ibuku.


"Cepatlah Yosh, Mama sudah tidak kuat, Mama takut kemungkinan buruk akan terjadi pada Papa." Kata Ibuku, jujur mendengar berita ini membuat kepalaku sangat pusing.


Mungkin hubunganku dengan ayahku memanglah tidak begitu harmonis tetapi meski bagaimanapun dia tetaplah ayahku. Seseorang yang sangat kusayangi dan kurindukan.


Terlepas dari hubungan kami yang berjarak itu aku sangat ingin bertemu dengan ayahku. Aku ingin mengatakan bahwa aku telah dewasa sekarang. Aku bisa membuatnya bangga.


Namun mendengar keadaan papa yang sedang kritis saat ini membuatku sedikit khawatir bagaimana bila papa meninggalkanku, mama dan opa. Aku sungguh ketakutan.


Sepanjang perjalanan ke rumah, aku tak dapat menenangkan diri. Suara tangisan mama masih terdengar di telingaku, begitu membuat hatiku sakit, aku ingin segera menemui mama dan menguatkannya, meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Entah mengapa perjalanan ke rumah sangat panjang sekali rasanya, ini membuatku bertambah frustasi. Seketika aku tak lagi memikirkan Ana karena yang ada di dalam otakku sekarang hanyalah kedua orang tuaku dan opa.