
Author POV
Hari itu Yoshi begitu bahagia saat mendapati kabar bahwa Ana benar-benar sedang mengandung. Dia menjadi lebih over protective dari biasanya.
"Sayang, jangan menangis. Ayolah ini sudah dua jam berlalu, hentikan tangisanmu," kata Yoshi mencoba menenangkan istrinya.
"Mas, ini semua karenamu!"
"Shh.. Jangan seperti itu. Anak adalah titipan Tuhan, jika memang sudah kehendaknya, mau bagaimana lagi?" Yoshi membawa istrinya dalam pelukannya.
"Tapi, Shian bagaimana? Mas, aku masih ingin menyusui Shian!"
"Shian akan baik-baik saja sayang. Meskipun harus memutus ASI, kita akan mencari susu formula yang terbaik untuknya," Yoshi menepuk punggung Ana agar tangisannya berhenti.
"Aku masih belum siap Mas, biarkan aku sendiri dulu."
Ana masuk ke dalam mansion dan menuju kamarnya. Dalam pikirannya ia merasa begitu kacau dan mengkhawatirkan putranya. Ana ingin membesarkan anak itu hingga ia benar-benar bisa mengurus dirinya sendiri.
Baby, maafkan mama ya Nak, karena Mama kau harus kehilangan sebagian hakmu lebih cepat dari yang seharusnya. Tetapi, mama berjanji kasih sayang mama pada kalian berdua akan selalu seimbang.
"Sayang, sudahlah. Mau bagaimana lagi? Lagi pula aku sangat senang dengan kehadiran bayi ini. Bukankah kau juga ingin memiliki seorang putri?" tanya Yoshi pada Ana yang masih menutup dirinya dengan selimut.
"Mas, aku ingin pulang.."
"Pulang kemana? Ini rumahmu sayang," jawab Yoshi.
"Aku ingin tinggal di rumah Ibu sampai lahiran," ucap Ana sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sayang, kenapa harus di sana? Di sini kan ada Mama, ada Niluh, atau aku juga bisa mencarikan Nanny untuk membantu merawat Shian,"
"Katakan kau ingin berapa Nanny? lima? sepuluh? atau berapa?" Yoshi mencoba membujuk istrinya agar tidak minta pulang ke kampung halaman. Sebab, ia tidak akan sanggup jika berjauhan dengan Ana apalagi untuk waktu yang lama.
"Tidak Mas, aku tidak butuh pengasuh. Sudah kubilang aku hanya ingin menenangkan diri!" Ana mulai menaikkan intonasinya.
"Yang, jangan begitu. Kau tau aku tidak akan sanggup jika harus berjauhan darimu dan baby. Please, mintalah hal lain asal jangan pulang kampung."
"Baiklah, kalau begitu aku mau ke kapal lagi!"
"Aku ingin bertemu teman-temanku Mas," balas Ana dan membuat Yoshi harus memutar otak untuk membujuk istrinya.
Author POV End
***
Yoshi POV
Anugerah kedua di hidupku itu pun benar-benar nyata adanya. Tak kusangka mimpiku tentang pesan papa menjadi firasat baik akan hadirnya seorang anggota baru keluarga Luby.
Aku berusaha keras membujuk Ana agar ia mampu menerima semua ini. Dia terlalu menganggap kehamilan ini sebagai sesuatu yang berat karena Shian masih sangat bergantung padanya.
"Mas, aku ingin liburan!" ucapnya berlari ke arahku.
"Iya Sayang, berhati-hatilah jangan berlarian seperti itu,"
"Mas, ayoo liburan!!" Dia menarik-narik bajuku persis seperti seorang anak kecil yang merengek pada ibunya.
Sekilas terbayang di otakku, mungkinkah anak kami akan bertingkah seperti ini nantinya.
Sementara saat kehamilan pertama dulu, Ana sangat kuat dan mandiri meskipun terkadang merajuk tetapi dia tidak pernah manja padaku. Sesekali aku bisikkan pada perutnya.
"Gadis kecil, apa kau akan semanja ini pada Papa nantinya hm?" tanyaku. Ana hanya memutar mata malas melihatku, mungkin ia menganggapku gila karena terlalu sering berbicara pada perutnya.
"Mas, hentikan. Apa yang membuatmu yakin jika anak kita perempuan?"
"Yakin saja, bukankah Shian sudah mengatakan padamu jika adiknya perempuan?" tanyaku sambil mencubit pipi Ana yang semakin mengembang.
"Ha? kapan?"
"Kemarin dia mengatakan padaku jika bayi di perut Mama itu perempuan."
"Benarkah Shian bilang begitu?" Ana terkejut dan mulai mendekatiku.
"Benar sayang!"
"Ah kau bohong Mas!" ucap Ana berdecak.
"Haha, bagaimana mungkin Shian berkata demikian, bahkan anak itu belum bisa berbicara Sayang!" jawabku terbahak.
"Kau ini! Mas, aku ingin liburan!" rengek Ana lagi.
"Iya, sayang. Nanti ya ..."
"Aku ingin pergi ke tempat yang jauh dan unik!"
"Iya sayang, aku akan membawamu kemana pun yang kau mau, meski ke negeri dongeng sekalipun," Ana tersentak mendengar ucapanku.
"Aku ingin ke tempat yang tidak biasa, yang tidak semua orang bisa ke sana!" Ana mulai kesal karena aku hanya mengiyakan permintaannya.
Padahal aku tau dia sedang berusaha mencari celah agar aku mengijinkannya untuk pulang ke kampung.
"Kemana sayangku? Belahan Bumi mana yang tidak bisa dijangkau oleh Yoshi Luby?" Aku mengejeknya dan menaikkan alis, hal itu pun sukses membuatnya semakin kesal.
"Ke ujung dunia!" tiba-tiba perkataan itu keluar dari bibir seksinya.
"Ha??" dan sekarang akulah yang terkejut.
"Maksudnya ke kutub yang?" Jika memang ia ingin pergi ke kutub. Aku bisa mengajaknya ke Alaska. Bukan hal yang sulit.
Astaga, ia bahkan bisa menangkap apa yang ada di pikiranku. Jika Ana tidak ingin pergi ke kota-kota terkenal di Alaska itu, lalu apa yang sedang diinginkannya.
"Ke ujung dunia bagian Selatan!" jawabnya.
"What??!"
"Antarctica Mas, aku ingin ke sana, ke Kota yang disebut sebagai ujung dunia Selatan,"
"Sayang, jangan mengada-ada. Ujung dunia itu hanya fiksi."
Sungguh, entah Ana atau bayinya yang sedang mengerjaiku saat ini.
"Mas, kalau Kau tidak mau mengajakku ke Ushuaia, aku akan menelepon bapak untuk menjemputku," jawab Ana mulai mengancamku.
Ancaman paling menyeramkan di hidupku, bahkan aku tak akan mampu jika hanya sekedar menelepon atau mengirim pesan pada Ayah mertuaku itu.
Rasa bersalahku pada Pramuja tidak akan pernah hilang sampai kapanpun sekalipun ia telah membodohiku tetapi, karena egoku juga yang telah membuat anaknya menderita dulu, dan hal itu menciptakan rasa perih tersendiri.
"Ushuaia Argentina?"
"Ushuaia kota dengan julukan ujung dunia selatan itu? Tapi, itu sangat jauh Sayang!" Aku baru ingat tentang kota itu.
"Iya Mas, aku tidak mau tau, pokoknya kita harus ke Kota itu." Ana semakin merengek.
"Sayang, itu sangat jauh. Butuh 24 jam lebih. Bahkan hampir dua hari perjalanan. Tidak, aku tidak akan mengijinkan!" Astaga, kenapa Ana selalu keras kepala.
"Ya sudahlah Mas, mungkin kau memang tidak sesayang itu padaku dan little babymu ini," Ana pun pergi keluar kamar.
Aku mulai pusing memikirkan ngidamnya yang meresahkan itu.
Little baby, kenapa Kau harus membuat papamu susah? Bukannya meminta ke Disney World seperti prediksiku, tetapi kau malah ingin pergi ke ujung dunia? Untuk apa Sayang? Duniamu itu ada di rumah ini bukan di ujung sana.
Aku pun menelepon David untuk memeriksa adakah penerbangan yang aman untuk kami dengan kondisi Ana yang sedang hamil muda seperti ini.
"Apa tuan? nyonya hamil?" David terkejut saat aku memberinya kabar bahagia ini.
"Ya David, aku juga baru mengetahuinya sekarang."
"Tuan, cepat juga pergerakkan anda rupanya."
David mulai mengejekku.
"Diamlah Dav, bagaimana apa kau menemukan flight yang lebih bagus untuk ke Argentina?"
"Semua flight menunjukkan hal yang sama tuan, tetapi ada satu cara yang mungkin lebih aman," Kata David memberiku secerca harapan.
"Bagaimana caranya David?"
Aku menunggu jawaban asistenku itu. Namun tiba-tiba suara teriakkan Ana membuyarkan semuanya.
"Mass!!!"
"MAASSSSS!"
Aku pun langsung berlari menuju sumber suara. Kulihat Ana sedang menangis sementara Niluh dan mama panik bagaimana cara menenangkannya.
Aku pun ikut panik, mungkinkah terjadi sesuatu padanya, apakah ia terjatuh atau apa.
"Sayang ada apa? Mana yang sakit?" tanyaku panik.
"Hatiku mas, hatiku yang sakit," jawab Ana sesenggukan.
"Shian tidak mau lagi ikut denganku Mas!"
"Dia membenciku!!"
"Hikkss, semua ini karenamu! Kau terlalu cepat menghamiliku lagi!" Ana semakin menangis sejadi-jadinya.
"Sekarang Shian sedang cemburu pada adiknya, kau tega Mas!"
"Ma, bagaimana awalnya?" bisikku pada ibuku.
"Shian tidak mau menyusu Yosh, dan malah menangis saat Ana menyentuhnya," ucap ibuku sambil menggendong si gendut yang baru saja membuat masalah baru untuk papanya itu.
"Astagaa, lalu bagaimana caranya untuk tidak menghamilimu An?"
"Sedangkan kau juga memberiku kesempatan itu untukku," Aku tak tau harus mengatakan apa lagi pada Ana.
"Mas, bukankah saat itu kau bilang akan mengaturnya! lalu apa ini?"
"Sekarang aku harus bagaimana Mas? Anakku sedang marah padaku!"
"Sayang, aku minta maaf. Aku sedang khilaf saat itu, dan tidak berhasil mengaturnya."
Ini sungguh konyol, bagaimana mungkin seorang istri bisa memarahi suaminya karena telah membuatnya hamil.
Mama dan Niluh bukannya membantuku menjelaskan agar Ana mau mengerti tetapi mereka malah sedang asik berusaha keras menahan tawanya. Sial, kenapa hari ini semuanya terasa begitu rumit untukku.
***
Halo genk maaf ya baru sempat Up. Gimana ya? Apakah mereka akan benar-benar pergi berlibur ke ujung dunia?? 😂😂
Makasih untuk segala bentuk dukungan kalian sampai di Epsd 150 lebih ini 🤗🤗🤗