My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Healing Kita Healing !!



"Mas, kau ini menyebalkan sekali sih!" ucapku kesal pada Yoshi setelah Luna pergi meninggalkan kamar kami.


"Habisnya mau bagaimana lagi sayang?" jawabnya sambil terkekeh.


"Ini minum dulu susunya, baby di dalem juga pasti kelelahan," tambah Yoshi.


"Dasar mesum kamu mas!"


Selesai meminum susu aku pun pergi mandi dan keramas, kuperhatikan tubuhku saat sedang mandi. Selalu saja Yoshi mencetak banyak tanda di beberapa area. Jika semua anggota keluarga menyaksikan ini. Tamatlah riwayatku.


"Sayang, bukannya tadi sudah mandi kok mandi lagi?" tanya mama yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Oh iya ma, panas banget hawanya. Jadi Ana mandi lagi," jawabku.


"Hawanya memang benar-benar panas hari ini ma," sahut Yoshi yang berdiri di belakangku.


"Dasar, kau ini!" bisikku pada Yoshi dan dia pun tertawa.


"Ma, tadi gimana pikniknya? pasti seru ya?" tanyaku.


"Seru sekali sayang, sayangnya kalian tidak ikut!"


Oh iya gimana kondisimu Yosh?" tanya mama kepada Yoshi.


"Sudah jauh lebih baik ma karena ada Ana yang merawat Yoshi."


Mendengar perkataan Yoshi, membuatku memutar mata malas, apa katanya? merawatnya? Dasar modus. Aku pun duduk bersama mama yang sedang memakan buah stroberi.


"Sayang, makan ini. Ini bagus buat bumil, kapan-kapan kita ke sana lagi ya kalau cucu mama sudah lahir," ucap mama sambil memberikan stroberi segar itu kepadaku.


"Tentu ma, Ana juga sudah lama tidak ke sana."


"Sayang, mau kesana sekarang?Aku akan mengantarmu," tanya Yoshi.


"Mau Yosh!"


"Sungguh?" tanya Yoshi dan aku pun mengangguk.


"Baiklah, aku akan memesan kamar dulu," ucap Yoshi sambil mengambil ponselnya.


"Eh, pesan kamar untuk apa?" tanyaku heran.


"Ya tentu saja untuk beristirahat di sana dong sayang," jawabnya tersenyum jahil.


"Benar Ana, banyak penginapan di sekitar perkebunan. Jadi nanti kalian bisa istirahat dan menginap di sana, bagus kok tempatnya." Kata mama seakan menambah ide gila Yoshi.


"Oh iya ma, mungkin lain kali saja. Ana pikir hanya sebentar ke tempat itu tidak perlu menginap," ucapku.


"Eh, ya menginaplah sayang. Sayang sekali sudah jauh-jauh pergi ke sana kalau hanya untuk satu hari saja," jawab Yoshi, padahal aku tau apa rencananya. Dia hanya ingin bertingkah sesuka hatinya karena di rumah ini pergerakannya sangat terbatas.


"Tidak usah sayang." Kataku.


"Aduh bagaimana ya, aku sudah terlanjur melakukan reservasi," ucap Yoshi berpura-pura panik.


"Wah Yosh, ya sudah berangkat saja. Sayang kalu sudah pesan hotel begitu!" sahut mama.


"Tuh kan An, mama saja mengijinkan. Yuk kita pergi bersenang-senang!" ucapnya tertawa puas. Sungguh aku ingin melempar keranjang stroberi ini pada wajahnya, dia pikir aku tak tau tujuan ia melakukan ini.


"Mbak ! Luna pergi dulu ya," tiba-tiba Luna keluar dari kamar dengan membawa koper di tangannya


"Loh mau kemana Luna?" tanya Yoshi.


"Aku mau ke Jakarta kak, ketemu temanku Ganis." Kata Luna.


"Wah udah ijin bapak ibu belum Lun?" tanyaku.


"Udah mbak! yaudah ya, Luna pergi dulu." Kata Luna sambil menyalami kami semua.


"Sayang, bahaimana denganmu? mau berangkat sekarang? Biar aku yang siapkan semuanya," ucap Yoshi menggodaku.


***


Author POV


Di kediaman keluarga Vandenbergh. Reza sedang sibuk mepersiapkan keberangkatannya ke Belanda untuk melanjutkan pendidikannya.


"Reza, apa semua sudah siap?" tanya Rosita, ibu Reza.


"Sudah ma, do'akan semuanya lancar ya ma," ucap Reza sambil meraih kopernya.


Dia pun berpamitan pada ibunya, lalu berangkat ke bandara bersama Rengganis, adik kandung Reza.


"Kak, yakin mau sekolah lagi?" tanya Ganis.


"Yakin Nis, kakak udah memikirkan semua ini baik-baik," balas Reza.


"Kak, delapan tahun itu lama loh!"


"Mau bagaimana lagi Nis, kakak harus mulai menata hidup mulai dari sekarang." Kata Reza.


"Aku akan sangat merindukanmu Kak," Ganis mulai meneteskan matanya.


"Iya sudah jangan nangis! jelek tau!" canda Reza.


"Apa? temen kamu masih bocil juga? Ogah ah, kakak gak suka bocil ileran kayak kamu!" ucap Reza terkekeh padahal ia sedang berusaha menutupi kesedihannya karena harus meninggalkan adik kesayanganannya itu untuk sementara waktu.


Tiba di bandara Soetta.


"Kak, aku ke toilet bentar yah," ucap Ganis lalu berlari menuju tempat bertuliskan restroom.


Reza pun bersiap untuk check in dengan membawa kopernya tak lupa ia mengenakan masker. Pikirannya begitu kalut, jauh di lubuk hatinya ia masih sangat memikirkan Ana.


Hingga tak sadar tubuhnya menabrak seorang gadis remaja.


Bughhh


"Aduh !" pekik gadis itu, dia adalah Luna yang baru saja tiba di bandara untuk menemui Ganis.


"Eh sorry ya! gue lagi buru-buru Dek!" ucap Reza sambil menatap wajah gadis yang juga mengenakan masker itu.


"Pake mata dong bang kalo jalan!" ucap Luna kesal sambil menahan rasa sakit karena bertabrakan dengan tubuh besar Reza.


"Lagian bocil ngapain sih jalan-jalan di mari sendirian, emak lu mana?" tanya Reza tertawa


"Enak aja panggil gue bocil, dasar om-om!" ucap Luna yang juga mengejek Reza.


"Dih, sembarangan manggil gue om-om. Klepek-klepek ntar kalo lu udah liat muka gue!" ucap Reza, kembali menciptakan kegaduhan.


"iyuhh! ogah gue sama om-om kayak lu! minggir ah, gue lagi buru-buru!" ucap Luna sambil melenggang pergi meninggalkan Reza yang masih tetap menatapnya.


"Ogah! ogah! awas aja ntar kalo ketemu lagi!" ucap Reza dari kejauhan.


Rengganis berlari ke arah Reza dan memeluk kakaknya itu.


"Kak, udah waktunya berangkat tuh! aduh aku jadi sedih banget kak." Kata gadis bermata biru itu.


"Iya Nis. Jangan sedih dong, kakak berangkat ya. Kamu jaga diri dan nurut sama mama !"


"Siap kak, kabarin kami terus ya Kak!" teriak Ganis sambil menatap kakaknya yang mulai menjauh hingga tak terlihat lagi.


***


"Woy Nis, dicariin dari tadi gak taunya di sini?" ucap Luna menghampiri Ganis.


"Lun, lu udah sampe sini ternyata?"


"Udah dari tadi Nis, tapi gue lagi kesel." Kata Ganis.


"Kesel kenapa?"


"Tadi ada cowok bule nyebelin banget, manggil gue bocil tau!"


"Wah, terus gimana?" tanya Ganis tertarik akan cerita Luna.


"Ya gue bales aja panggil dia om-om,"


"Wah ganteng gak orangnya?" tanya Ganis.


"Nggak tau Nis, orang do'i pake masker dan gue juga pake masker."


"Oh haha, awas aja ntar jodoh Lun!" ledek Ganis yang tidak tau jika laki-laki yang dimaksud Luna itu adalah kakaknya sendiri.


"Ah, gak mungkin. Yuk makan Nis, gue laper."


"Eh, gimana kakak lu udah berangkat?" tanya Luna.


"Udah Lun, sebelum lu nyamperin gue tadi, padahal gue mau ngenalin lu ke dia loh!"


"Kayaknya gue belum berjodoh sama kakak lu Nis, kapan-kapan kasih liat fotonya ke gue ya," ucap Luna dan mereka pun pergi keluar area bandara.


***


Sementara itu di kediaman keluarga Aditama. Yoshi sedang sibuk menata barang bawaan untuk pergi piknik bersama istrinya.


"Mas, serius kita akan pergi ke perkebunan?" tanya Ana yang masih ragu.


"Serius dong sayang," ucap Yoshi masih sibuk dengan kegiatannya.


"Aku kira mas bercanda,"


"Serius sayang, aku sudah booking hotel di area itu untuk seminggu." Kata Yoshi tersenyum mesum.


"Dih, kenapa lama sekali Yosh, dua hari saja cukup," ucap Ana.


"Sudah, jangan banyak tanya sayang. Kita pergi sekarang," jawab Yoshi sambil membawa tas besarnya dan memasukkannya ke bagasi.


Mereka pun berangkat saat itu juga dan disaksikan oleh Pramuja, Larissa dan Annelis dari kejauhan.


"Ah dasar pasangan muda, maunya nempel terus!" ucap Pram.


"Bapak sih, besok kita buatkan kamar yang lebih luas untuk mereka pak!" Larissa berkomentar.


"Setuju Bu, jangan lupa pasang peredam suara juga di kamar itu ya!" sahut Annelis dan mereka pun tertawa bersama.