My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Lebay



Setelah kepergian Yoshi, aku pun kembali ke kamar, kemudian sebuah notif masuk ke whatsappku.


Suamiku sayang ❤: Sayang, sedang apa?


Aku : Mas, sudah sampai di bandara?


Suamiku sayang ❤ : Belum, masih di taksi. Aku merindukanmu.


Aku : Astaga, baru 15 menit yang lalu kau meninggalkan rumahku.😂


Suamiku sayang ❤ : Iya, dan aku sudah rindu.


Aku : Mas, kabarin ya kalau sudah sampai mansions.


Suamiku sayang ❤ : Ya, tentu. I love you 😘


Aku pun meletakkan ponselku di nakas dan meninggalkannya di kamar. Di ruang keluarga kulihat mama sedang menata baju-baju kecil kemudian aku menghampirinya.


"Mama sedang apa?" tanyaku.


"Eh, ini baju-baju bayi yang kemarin mama beli bersama ibumu, sayang," jawab mama masih dengan kesibukannya.


"Wah, banyak sekali ma," ucapku.


"Iya sayang, mama juga membawa beberapa baju bayi milik Yoshi dulu."


"Baju bayi laki-laki ma?" tanyaku.


"Ya, benar," jawab mama sambil memikirkan sesuatu.


"Entah mengapa mama terus bermimpi jika cucu mama ini laki-laki An,"


"Wah, benarkah ma?"


"Benar, sayang. Mungkinkah ini firasat jika bayi ini benar laki-laki ataukah sebaliknya dia adalah anak perempun,"ucap mama.


"Saya malah bermimpi kalau cucu kita ini perempuan bu," sahut ibuku yang berjalan ke arah kami.


"Wah, jadi mimpi kita berkebalikan ya bu," balas mama.


"Laki-laki atau perempuan sama saja bu. Yang penting nanti ibu dan bayinya sehat," kata ibuku.


"Benar bu,"


Dan kedua wanita pun ini melanjutkan aktifitasnya. Sesekali mereka bercanda membicarakan masa kecilku dan Yoshi. Tak kusangka, banyak sekali kenangan manis antara aku dan Yoshi dahulu, sayangnya aku tidak ingat.


Beberapa menit kemudian.


Seseorang mengetuk pintu dan aku pun membukanya.


"Haloo mbak," ucap gadis remaja itu.


"Eh, baru pulang Lun?" tanyaku.


"Iya nih mbak, aku habis liburan sama temen aku," kata Luna kemudian masuk ke rumah sambil menyalami bapak, ibu dan mama.


"Habis jalan-jalan sama siapa Lun?" tanya bapak.


"Sama temen pak, Ganis namanya."


"Cewek apa cowok itu si Ganis?"


"Cewek lah pak!" ucap Luna.


"Kirain kamu habis jalan sama cowok bule itu Lun!" kata bapakku sambil tertawa.


"Dih bapak, bule yang mana?"


"Bule yang itu ...."


"Ih ngeselin banget deh! bule yang mana sih pak?" Luna pun bertambah kesal.


"Yang nabrak kamu kemarin,"


"Loh bapak tau?" Luna pun kaget begitupun dengan diriku.


"Taulah, mata bapak kan ada dimana-mana," ucap bapak. Tak ingin bapak lebih membahasnya dan membuatnya malu di hadapan semua orang, akhirnya Luna pun masuk ke kamar.


Di kamar.


"Bapak ah, bikin malu aja," ucap Luna sebelum sadar akan kehadiranku di kamar itu.


"Lun, memangnya ada apa?" tanyaku.


"Eh mbak di sini? ngagetin aja,"


"Siapa cowok itu Lun?"


"Oh itu, anu mbak..." Luna nampak ragu untuk menjawabnya.


"Beberapa hari yang lalu, Luna memang gak sengaja ketemu sama cowok bule di bandara,"


"Lalu?"


"Ya udah, gitu aja mbak. Dia nabrak aku dan kita sempat ribut sebentar," ucap Luna seakan malas untuk bercerita.


"Tapi mbak, anehnya kok bapak bisa tau ya?"


"Ya bisa dong Lun, kan bapak matanya banyak!" balasku menggodanya.


"Ih mbak, sama aja kayak bapak."


"Ya udah sana istirahat kalo gitu," ucapku.


"Eh mbak, kita nonton film yuk!" ajak Luna.


"Wah boleh juga tuh Lun!" balasku. Kami pun menonton film di kamar Luna hingga sore hari.


Hingga mataku pun terpejam karena tak dapat menahan rasa kantuk.


***


Author POV


"Akhirnya aku menemukanmu," ucap David sambil berdiri di depan sebuah rumah bergaya klasik.


Tok


Tok


Tok


David mengetuk pintu itu, kemudian sesorang wanita paruh baya dengan pakaian khas Bali keluar dan menyapa David.


"Selamat pagi, Bu."


"Selamat pagi Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu dengan ramah.


"Apa benar ini rumah Dianna?" tanya David.


"Benar pak, saya ibunya. Bapak siapa ya?"


"Saya David Bu, teman Dian. Apa saya bisa bertemu dengan putri ibu?"


"Ah temannya Dayu ya, silahkan duduk Pak David," ucap wanita itu.


"Suksma Bu, panggil saya David saja," ucap David berterima kasih.


***


"Dayu .. Ada temanmu, baru datang!" seru ibu itu memanggil Dianna.


"Ehm Nak David, ibu panggil Dian dulu ya. Sepertinya masih tidur."


"Mau minum apa Nak?"


"Bu, tidak usah repot-repot, saya hanya ada perlu dengan Dian sebentar kok," ucap David dan ibu itu pun pergi ke dalam untuk memanggil putrinya.


Sambil menunggu Dian keluar, David terus melihat sekeliling rumah itu, banyak ornamen dan ukiran khas Bali terpajang.


"Sepertinya Dianna bukan orang biasa, kurasa kastanya cukup tinggi terlihat dari namanya dan ibunya pun memanggilnya dengan Dayu, singkatan dari Ida Ayu. Mungkinkah ini akan menjadi penghalang untuk kami ke depannya?"


Batin David.


Tak berapa lama gadis seksi itu pun keluar dari kamarnya.


"Ngapain kesini robot?" tanya Dian.


"Di, jelaskan padaku tentang tespek itu!" ucap David.


"Kau benar-benar masih mempertanyakan itu ha?" Dian pun terlihat mulai emosi.


"Di, apa benar itu anakku?"


"Apa benar kah sedang mengandung benihku?" David pun semakin penasaran. Dalam hatinya berkata, jika memang Dian hamil karena hasil perbuatannya.


"Jangan keras-keras, atau ibuku akan mendengarnya!" Dian pun menarik tangan David dengan kasar dan membawanya ke halaman depan.


"Di, cepat jelaskan padaku. Jika memang benar, aku akan berranggung jawab!"


"Kau sangat egois David!"


"Apa maksudmu?"


"Dua bulan yang lalu setelah kejadian itu, kau bahkan pergi meninggalkanku tanpa kabar sedikit pun!"


"Dan sekarang tiba-tiba kau datang dan memperanyakan semuanya!"


"Tidak David, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi, aku dan anak ini tidak membutuhkanmu. Lagi pula sudah jelas bahwa kita berbeda, orang tuaku tidak mungkin menyetujui hubungan ini."


"Di, jadi benar itu anakku?" ucap David terbata. Dia tidak menyangka bahwa kejadian tak sengaja di malam itu benar-benar membuahkan hasil.


Saat itu mereka berdua sedang berada di club, entah bagaimana sejak pertemuannya dengan Dianna di kapal dulu, setelah itu David semakin ingin mengenal gadis Bali itu.


Hingga beberapa kali bertemu tanpa kesengajaan dan yang terakhir kali adalah pertemuannya dengab Dian saat gadis itu tengah berada di Jakarta, di rumah bosnya bersama teman-temannya.


Malam harinya David kembali betemu dengan Dian di club malam, saat itu gadis itu tampak sedang stres dan beberapa kali meneguk minuman hingga membuatnya mabuk dan tak sadarkan diri.


David pun membawanya ke apartemen miliknya hingga dia tidak dapat menahan segala hasrat yang ada, begitupun dengan Dian, saat itu dia pun juga tergoda dengan tubuh maskulin David.


"Sebaiknya kau pergi David," pinta Dian membuyarkan lamunan David.


"Tidak Di, aku akan bicara dengan orang tuamu!" David kembali masuk ke rumah itu untuk mencari ibu Dianna.


"David, jangan gila!" ucap Dian dan mengejar David.


Author POV End


Pagi pun datang, aku baru sadar jika semalam aku tertidur di kamar Luna.


"Mbak! Mbak!" ucap Luna agak panik. Aku pun yang baru terbangun dari tidurku masih belum begitu sadar.


"Iya Lun?" jawabku.


"Mbak dicariin Kak Yoshi, sejak semalam dia terus nelponin Luna!"


"Ha iya, aku lupa belum melihat ponselku sejak kemarin Lun!" ucapku sambil keluar kamar Luna menuju kamarku.


"Ana, Yoshi mencarimu. Cepat periksa ponselmu!" ucap bapak saat melihatku keluar dari kamar Luna.


"An, Yoshi juga terus mengirim pesan pada ibu menanyakan mengapa kau tak membalas pesannya!" ucap Ibuku.


"Sayang, sepertinya si posesif itu akan sedikit mengamuk, hati-hati ya," kata mama.


Seperti dugaanku Yoshi pasti sibuk menghubungi semua orang di rumah saat aku tak membalas pesannya sejak kemarin.


**Halo semuanya selamat pagi. Ada rekomendasi novel lagi nih. Karya temanku


Judul Budakku Mr. Mafia karya kak Kisss. Mampir yuk!❤**



https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1721898&\_language\=id&\_app\_id\=2&\_share\_channel\=whatsapp