
Ana POV
Hari ini Yoshi pulang lebih awal dari biasanya. Dan dengan panik ia menghampiriku.
"Mas, tumben sudah pulang?" tanyaku sambil mengaduk mie instan yang baru saja kubuat.
"Sayang, kau sedang apa?" tanyanya melihat ke arah piringku.
"Ah apa kau makan mie??" teriaknya dan aku pun terkejut.
"Iya Mas, kenapa?" tanyaku.
"Noo, no Ana! jangan makan mie instan!" tiba-tiba saja dia menarik piring tersebut dan membuang isinya.
"Mas! kenapa dibuang??" ucapku tak rela, padahal tinggal beberapa centi mie itu masuk ke mulutku dan mengisi perutku yang sedang lapar.
"Tidak, mulai saat ini jangan makan apa pun yang bersifat instan, entah itu makanan atau minuman. Aku tidak mau melihatmu mengkonsumsi mereka!" kata Yoshi tegas.
"Mas, ada apa denganmu? Astaga, aku tidak setiap hari makan mie instan."
"An, dengarkan aku baik-baik. Aku hanya ingin kau menjaga kesehatanmu. Hanya itu! jadi tolong, jangan membantah."
Aku masih belum mengerti dengan maksud Yoshi, bukankah sejak kemarin dirinyalah yang sedang sakit. Bukan aku, tetapi kini seolah dia yang menganggapku tidak bisa menjaga kesehatan.
Ah, mumpung Yoshi naik ke atas, sepertinya aman untuk makan mie lagi. Biasanya dia langsung mandi lalu memeriksa pekerjaannya. Kurasa puluh menit cukup untuk membuat mie instan sekaligus menyantapnya sampai dia selesai dengan kegiatannya.
Aku harus bergerak cepat!
Segera kunyalakan kompor dan dalam hitungan menit mie-ku yang dibuang oleh Yoshi tadi telah kembali.
Maaf ya Mas, aku harus membohongimu. Bukannya aku tidak ingin menjaga kesehatan tetapi lidahku terus berliur karena ingin makan benda kenyal keriting ini.
Satu suapan berhasil masuk ke mulutku, kemudian suapan kedua, ah tinggal sedikit lagi pasti habis. Tiba pada suapan ketiga. Aku menghentikan kunyahanku. Sebab, sebuah tangan kekar bersandar pada meja, hingga saat aku melihat pemiliknya, dia hanya menatapku dengan tatapan menuntut jawaban.
"Kau mau melanjutkan makan mie ini atau aku yang akan melanjutkan memakanmu?"
"Mas... "
"Mas, bukankah kau sedang mandi?" tanyaku gugup.
"Katakan, sudah berapa suapan?"
"Hanya dua Mas, ini suapan yang ketiga," jawabku tergagap. Lagi-lagi dia meraih piringku dan membuang isinya.
"Cukup, tidak ada lagi mie instan. Aku tidak mau tau An! Kau selalu saja melawanku."
"Chef!"
"Chef!!" Yoshi berteriak memanggil Chef mansion.
"Ya tuan, ada yang bisa saya lakukan?"
"Kosongkan semua stok mie instan dan segala macam makanan atau minuman yang bersifat instan di tempat ini," ucap Yoshi tegas.
"Chef, sisakan satu saja please!" bisikku saat juru masak itu mulai mengemas tumpukan mie instan pada nakas dapur.
Saat itu pula mata Yoshi membulat, membuatku malas karena tingkahnya sangat lebay hari ini. Apa salahnya sesekali makan mie instan. Benar-benar aneh, suamiku sedang tidak baik-baik saja sepertinya.
"An, kita harus bicara," ucap Yoshi.
"Bicara saja Mas, kenapa minta ijin?" jawabku kesal.
"An, bisakah kau serius sedikit saja?" kata Yoshi sambil menatap tajam ke arahku.
"Iya-iya! ayo kita bicara," jawabku sambil berjalan mendahuluinya.
Aku pun merebahkan tubuhku pada kasur. Tengkurap sambil memainkan ponselku. Ah, perutku lapar sekali tapi Yoshi malah membuang makananku.
"Sayang, jangan tengkurap seperti itu!" ucapnya sambil membaliikkan badanku.
"Ah, Mas kau sangat cerewet hari ini, tau tidak?"
"Kau yang tidak mau mendengar perkataan suamimu!"
"Jangan bermain ponsel saat seseorang sedang bicara padamu An!" bentaknya sambil meraih benda pipih itu dari tangannya.
"Mas! Kau ini kenapa, ha?" Aku pun mulai kehilangan kesabaran.
"An, dengarlah mulai saat ini kau harus benar-benar menjaga pola makan dan kesehatan tubuhmu,"
"Mama dan Niluh yang akan menjaga Shian!"
Aku pun terduduk dari rebahanku. Sepertinya Yoshi benar-benar sedang sakit. Hingga ia mulai berbicara mengelantur. Apa benar gerd dapat mempengaruhi sistem kerja otak?
"Mas, memangnya kenapa? Apa kau pikir selama ini aku tidak bisa menjaga kesehatanku?"
"Dan baby, ada apa dengannya? Apa kau pikir aku tidak bisa menjaganya?" tanyaku mulai malas dengan sikap Yoshi yang tidak jelas.
"Sayang, dengarlah. Kau sedang hamil!" ucapnya penuh penekanan.
"Apa? Jangan ngarang kamu Mas!"
"Hamil bagaimana maksudnya?"
"Iya Sayang, coba ingat-ingat kapan terakhir tamu bulananmu datang?" tanya Yoshi.
"Bulan ini memang belum datang Mas, dan biasanya memang tidak teratur setiap bulannya. Belum tentu aku hamil Mas," ucapku dengan yakin.
"Dokter mengatakan jika mungkin saja aku sedang mengalami kehamilan simpatik."
"Benarkah? Apa kau masih merasa mual Mas?" tanyaku.
"Kau hamil An! aku sangat yakin!"
"Mas, apa kau gila? Shian masih berumur enam bulan dan bisa-bisanya kau mengatakan jika aku hamil!"
"Ini tidak mungkin Mas!" Aku membantah perkataan Yoshi dan meninggalkannya di kamar.
"Yang.. "
"Yang... Kita pergi periksa ya hari ini, aku bahkan sudah menyiapkan sebuah nama untuk adiknya Shian!"
Yoshi terus saja berbicara semaunya. Sungguh sangat disayangkan suami setampan itu tetapi hobinya berhalusinasi. Dia yang harus diperiksakan bukan aku.
Aku pun pergi ke ruang makan, di sana sudah tersusun rapi berbagai makanan padat gizi.
"Wah Chef, tidak biasanya menu makan siang kita selengkap ini. Apa akan ada tamu datang?" tanyaku.
"Tuan bilang akan ada anggota baru di keliuarga Luby, nyonya."
"Apa? Yoshi Benar-benar tidak bisa dibiarkan!"
"Saya tidak mengerti apa maksud tuan, apa nyonya tau siapa anggota baru itu?" tanya Chef dengan polosnya.
"Ah, lupakan saja Chef. Dia hanya bercanda."
Aku pun mulai makan, tanpa memikirkan perkataan Yoshi lagi, yang benar saja. Aku belum siap untuk hamil lagi, Shian masih sangat kecil untuk itu.
"Sayang, makan yang banyak biar Little baby sehat," ucap Yoshi dan mengambil tempat duduk.
"Little baby apa?"
"Bukankah kita memanggil Shian dengan nama baby, lalu panggilan untuk adiknya apa? jika bukan little baby?"
"Ah Mas, sudahlah. Aku tidak hamil, masa suburku belum kembali. Lagipula aku masih menyusui Shian," kataku dengan gemas.
"Lebih baik kita cek saja langsung!" Yoshi mengajakku ke obgyn.
"Mas, tidak usah. Aku punya tespack."
"Ah ternyata kau sudah mempersapkannya sayang? Jadi, kau juga sudah merasakannya?" tanya Yoshi penuh makna.
"Bukan begitu Mas, bukankah setiap istri selalu memiliki tespek hanya untuk berjaga-jaga," jawabku sambil berjalan menuju kamar dan mengambil sebuah kemasan berisi setrip.
"Bagus, cepat lakukan yang!" ucapnya antusias.
"Besok pagi saja Mas, itu jauh lebih akurat." Sungguh konyol, aku harus menuruti permintaan suamiku untuk hal-hal seperti ini.
"Aku sudah tidak sabar. Aku yakin little baby akan segera hadir menemani kakaknya."
"Mas, kau terlalu bahagia untuk hal yang tak pasti. Bagaimana jika harapanmu tidak terpenuhi, akhirnya hanya kekecewaanlah yang tertinggal," balasku.
"Oh tentu tidak sayang, perhitunganku tidak akan meleset."
Ana POV End
***
Yoshi POV
Keeseokan harinya.
Aku sedang menunggu istriku keluar dari kamar mandi. Hatiku berdebar ingin segera membuktikan bahwa dugaanku benar, awalnya aku ragu tetapi, saat sosok Papa tiba-tiba hadir di mimpiku, aku menjadi yakin.
"Pa, benarkah ini Papa? Wajah Papa sangat bercahaya," ucapku terkagum melihat ayahku yang terlihat jauh lebih muda.
"Ricko, jaga mama dan keluarga kita ya," kata Papa sambil membelai kepalaku. Aku ingin sekali memeluknya tetapi rasanya ada beban berat di tanganku.
"Pa, tentu saja. Ricko pasti akan menjaga kelurga kita. Bukankah Papa bisa melihat kebahagiaan kami?"
"Bersiaplah untuk kebahagiaan selanjutnya Nak!"
"Apa maksud Papa?"
Papa pun membelai kepalaku lagi, dan seketika terlihat gadis kecil berlari ke arahku kemudian memelukku dengan erat.
Papa, I love you
Bisiknya pada telingaku. Aku pun memeluknya. Inikah yang dimaksud Papa, inikah kebahagian itu. Apakah dia yang akan melengkapi keluarga kami sebagai anak keduaku.
Papa, berikan aku nama yang cantik ya.
Ucapnya lagi dan membuatku tersenyum, saat aku ingin menatap wajahnya. Tiba-tiba dunia nyata telah kembali.
"Mas, ini hasilnya!" ucap Ana sambil menyerahkan pendeteksi kehamilan itu.
Aku pun meraih benda pipih tersebut.
"Satu garis sayang? Hanya satu?" ucapku terbata. Ternyata dugaanku salah.
"Iya Mas, sabar ya. Mungkin memang belum waktunya," ucap Ana menenangkanku.
Aku masih bertanya-tanya bagaimana mungkin perhitunganku salah. Mungkin benar kata istriku, jika berharap pada sesuatu yang belum pasti itu tidak baik.
Aku pun melangkah keluar kamar dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Namun, saat mobilku mulai melaju, tiba-tiba saja Ana berteriak memanggilku.
"Mas!!" ucapnya menghentikan mobil. Aku pun segera keluar, kulihat matanya memerah seperti ingin menangis.
"Sayang, ada apa? Kenapa menangis?" tanyaku.
"Aku hamil.. "