
Seminggu berlalu namun tetap saja tidak ada kabar dari Yoshi, aku mulai panik. Jika terjadi sesuatu padanya apa yang bisa kulakukan sementara satu-satunya orang yang bisa kuandalkan hanyalah David.
Sejak pertemuan terakhirku dengan David di ruang kerja Yoshi pada hari itu. Aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan David lagi. Atau mungkin dia datang ke mansion tanpa sepengetahuanku.
Kutatap layar ponsel. Dan munculah sebuah notif, aku berfikir itu dari Yoshi tetapi ternyata bukan. Segera kubuka pesan pada grup whatsapp itu.
Sebuah grup whatsapp dengan nama The Rumpiest
Princess Evelyn : Hey Ana.. Apa kabar woy.. 😘😘 ?
Jenny Cans : Cyinnn.. Gimenong acara nikahan yey? specta khann? 🤩
Ida Ayu Dianna : An, gimana malam pertama sama si hot itu? Bagi cerita na'e.. 🤭🔥
Lanthana Aditama : Hai kalian, aku kangenn banget tau!! 😥
Princess Evelyn : Kita juga kangen An, everything's OK kan?
Jenny Cans : Yey lagi ngapain Cyin? Di sono pagi kan sekarang?
Lanthana Aditama : Iya di sini pagi. Semuanya baik-baik aja kok.
Ida Ayu Dianna : An, ditanyain gimana malem pertama kok ngga dijawab sih😪
Lanthana Aditama : Eh iya Di, maaf. Ya begitulah pokoknya. Hehe
Jenny Cans : Hiiih Dian nih, itu mulu yang ditanyain, basa-basi dulu kek.. kayak eyke. Iya khann Eve? 🤩
Princess Evelyn : Tau nih Dian, kita juga niatnya mau nanyain itu tapi kan gak to the point juga kalee.. 😪
Ida Ayu Dianna : Heleh.. Sok sok an pada. Yok An cerita An.. 🤤
Lanthana Aditama : Dih kalian apaan sih? Aku mau mandi dulu deh. Ntar lanjut lagi ya. Byee ❤
Segera kuletakkan ponselku dan aku bergegas ke kamar mandi, sambil menunggu air pada shower menghangat aku pun menggunakan lulur pada sekujur tubuhku.
Sebuah lulur tradisional hadiah dari Luna, aroma mawar segar bercampur susu sangat menenangkan jiwa. Setelah selesai membalurkannya dan aku pun segera masuk ke ruang shower, namun langkahku terhenti saat kudengar suara telepon dari ponselku.
Awalnya aku mengabaikannya, namun karena itu cukup mengganggu akhirnya aku pun mengangkatnya. Kuraih handuk dan kulilitkan pada tubuhku yang masih berlumuran lulur.
Seketika mataku terbelalak saat melihat sebuah panggilan video dengan nama 'penagih hutang'. Aku bersorak dalam hati, Yoshi akhirnya menghubungiku. Tanpa menunggu lama segera kuangkat video call darinya tersebut.
"Hai sayang," ucapnya dari seberang sana. Kulihat wajah itu seperti sangat kelelahan.
"Yo-Yoshi,... " Ucapku lirih, aku bingung harus berkata apa. Aku hanya terlalu bahagia mengetahui bahwa suamiku itu baik-baik saja.
"Sayang, tunjukkan wajahmu!" katanya sambil terus menatap layar ponsel. Aku sengaja tidak mengarahkan kamera pada diriku, karena aku masih kesal padanya yang tanpa kabar sama sekali.
"Sayang.. Hey.. " Ucapnya lagi, tetapi aku tetap tidak menjawabnya. Ingin kutanyakan dari mana saja dirinya selama seminggu ini.
"An, Ana.. Apa kau masih di sana?" Tanyanya lagi. Akhirnya aku pun menjawabnya.
"Ya, kenapa tiba-tiba menghilang? tanpa berpamitan, tanpa mengirim pesan, mengapa baru sekarang meneleponku? Kenapa Yoshi? " tanyaku. Tanpa sadar kata-kata itu terucap dengan sendirinya dari mulutku.
"Jadi istriku mulai merindukanku ya? Coba perlihatkan wajahmu sayang, aku sangat rindu padamu." Katanya dengan tertawa.
"Tidak, aku hanya ingin tau keberandaanmu saja, itu saja. Tak ada yang lain." Ucapku dengan jelas.
"Mengaku saja An, jangan membohongi hatimu. Aku akan segera pulang jika kau benar rindu padaku." Katanya dengan suara parau.
"Terserah padamu Yoshi. Kau mau pulang atau tidak. Terserah padamu!" Ucapku. Aku sangat kesal dan menutup panggilan video darinya.
Bisa-bisanya dia membuatku khawatir seperti ini. Dia pikir siapa dirinya, aku terus mengumpatinya.
Sebelum akhirnya seseorang membuka pintu kamar dengan tiba-tiba hingga membuatku panik karena aku belum berpakaian dengan benar.
"Sayaaangg!!" ucap pria itu sambil berhambur memelukku tanpa memperdulikan tubuhku yang hanya berbalut handuk, tentu saja masih dengan lulur di sekujur tubuh.
"Yo-Yoshi.. Kau sudah pulang?" tanyaku terbata karena menahan pelukannya yang begitu erat.
"Aku akan membersihkan diri dulu." Kataku sambil berjalan menuju shower.
"Aku akan membantumu." Ucapnya dengan antusias.
"Tidak perlu!" jawabku sambil meninggalkannya.
Aku pun memasukki ruangan shower itu, tanpa diduga ternyata Yoshi sudah berada di dalam ruangan kecil ini juga.
"Tetapi aku perlu!" ucapnya sambil mengunci slot pada pintu itu.
"Yosh, please aku sedang tidak ingin berdebat denganmu." Kataku kesal.
"Aku tidak sedang mengajakmu berdebat sayang." Ucapnya sambil menarik tanganku dan mendudukanku pada bathtub.
"Mau apa?" tanyaku ragu.
"Mau bermesraan. wkwk." Katanya sambil tersenyum. Dan Yoshi pun ikut masuk ke dalam bathtub, kini posisiku berada di depannya. Besandar pada dada bidangnya tentu saja tanpa sehelai kain yang menempel pada tubuhku.
Untung saja busa yang berlimpah memenuhi bathtub sehingga aku tidak terlalu malu padanya.
"Yoshi, bajumu basah jika seperti ini." Ucapku sebab dia masih berpakaian lengkap.
"Haruskah aku melepasnya? apa tidak akan membuatmu takut dan menangis lagi seperti waktu itu?" tanyanya sambil membelai punggung dan lenganku.
"Terserah padamu. Humm, dari mana saja kau selama seminggu ini" tanyaku.
"Aku mengunjungi Mama, sayang." Ucapnya masih dengan tangannya yang berkelana di sepanjang tubuh polosku.
"Tapi, kenapa tidak memberitahuku. Apa kau sengaja menyembunyikannya dariku?" tanyaku. Aku terpaksa menanyakannya.
"No sayang, aku hanya terburu-buru waktu itu." Jawab Yoshi, aku bisa merasakan nafas tak beraturan mulai berhembus mengenai telingaku.
"Lalu mengapa ponselmu tidak aktif?" tanyaku.
"Jadi kau sempat menghubungi ponselku beberapa hari ini?" ucapnya terkejut.
"I-iya. Kenapa?" tanyaku heran.
"Apa aku bermimpi? Seorang Lanthana dengan suka rela menghubungi Yoshi? ini sangat menggemparkan dunia." Ucapnya dengan nada mengejek.
"Dasar!. Memangnya kenapa?" tanyaku berpura-pura. Padahal aku tau mungkin itu cukup aneh untuknya.
"Sekarang aku yakin, kau mulai jatuh hati padaku An." Katanya sambil membelai pahaku dan menciumi pundakku dengan lembut.
"Jangan mengada-ada. Kau harus menjelaskan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi." Kataku, jujur saja aku sangat ingin tau.
"Ceritanya panjang sayang. Sudah ya, ayo kita lanjutkan saja kegiatan ini pada tahap berikutnya."Bisik Yoshi pada telingaku dan itu cukup membuatku gugup.
"Kenapa kau seakan tidak ingin mengenalkanku pada keluargamu Yosh, apa aku sangat tidak pantas untuk itu? Apa selama ini kau hanya menganggapku sebagai mainanmu atau hanya sebagai penebus hutang?" Kataku dengan jelas, aku mulai tak dapat menahan emosiku.
Aku pun bangkit dari bathtub, kuraih handuk dan meninggalkannya sendiri di sana. Aku tak ingin Yoshi melihatku menangis lagi.
"An, bukankah kita sedang bermesraan saat ini? Kenapa kau pergi?" kata Yoshi, aku masih bisa mendengarnya dari luar.
Aku pergi ke ruang ganti lalu mengambil baju dan segera memakainya. Kulihat Yoshi masih dengan lilitan handuk dan menyusulku ke ruang ganti.
"An, ada apa?" tanya Yoshi dengan raut wajah bingung. Sekilas kulihat tubuh itu sangat menggoda dengan teresan air mengalir dari rambut hitamnya menyusuri kulit putih Yoshi.
"Masih bertanya ada apa?" kataku dengan menaikkan intonasi.
"Katakan kenapa kau marah? Apa karena aku belum juga mengenakanmu pada Mama?" tanyanya dengan polos.
"Sudah tau, masih saja bertanya ha?" Ucapku kesal. Sungguh aku tak mengerti mengapa Yoshi sama sekali tidak peka.
"Ya, iya.. Baiklah aku akan membawamu menemui Mama sekarang juga.. " Kata Yoshi sambil memegang tanganku, mencoba menenangkan situasi.