My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Ketakutan Yoshi



Hari ini aku, mama dan Yoshi berencana untuk pergi berbelanja perlengkapan bayi. Aku memakai baju yang sedikit longgar karena tidak ingin mendengar omelan Yoshi.


"Yosh, kenapa murung? dan belum bersiap?"


"Kau tidak peka An, aku kesal!" Jawabnya kesal.


"Ah sedang merajuk rupanya, haha." Ucapku sambil mendekatinya namun dia tetap diam saja di tepi tempat tidur.


"Yoshi Masku sayang, ayolah kita berangkat. Mumpung belum terlalu siang." aku pun bergelayut manja di lengannya.


"Kau ini, kenapa manjanya selalu di waktu yang tidak tepat," Ucapnya sambil mencubit pipiku.


"Cepatlah ganti baju, aku akan menunggumu di bawah." Kataku sambil mengecup pipinya sebelum berlari ke luar kamar.


"Awas kau An!" aku masih bisa mendengar dengus kesalnya dari balik pintu.


***


Kini kami sedang dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan. Namun mataku tertuju pada sebuah mobil dari arah belakang. Mobil itu memiliki plat nomor tidak seperti mobil yang biasa mengikuti yang tanpa plat.


"Yosh, lihatlah mobil di belakang kita itu." ucapku pada Yoshi yang sedang mengemudi.


"Ya sayang, aku tau mobil itu memang sejak tadi mengikuti kita."


"Dan sepertinya sang penolong sedang tidak berada di sekitar kita saat ini." Imbuhnya sambil terus menatap kaca spion.


"Yoshi, aku takut."


"Apa yang sedang terjadi sebenarnya?" tanya mama sambil memelukku.


"Mereka penjahat ma, tapi tidak usah takut, ada Yoshi." Ucap Yoshi mencoba menenangkan kami.


"Astaga, penjahat bagaimana maksudmu Yosh?" mama terlihat sangat ketakutan sekarang.


"Ya, entah apa yang sedang mereka incar dari Yoshi, tetapi untuk saat ini mama dan Ana tetaplah tenang. Yosh akan mencari jalan alternatif."


Sejenak kemudian, Yoshi menelepon David


"Halo David, apa kau sudah membaca laporan GPS yang kukirimkan padamu baru saja?" tanya Yoshi


"Sudah tuan, itu mobil penjahat dan hanya ada mobil-mobil penjahat di sekitar anda!"


"Aku tau David," Ucap Yoshi. Mereka terus saja berbicara di telepon.


"Tenang tuan, saya sedang menuju ke tempat anda!" samar-samar terdengar suara David dari seberang sana.


Mobil terus melaju dengan kencang, membuatku dan mama semaikin ketakutan dan saling berpegangan.


"Mama, sayang, tenang ya. Aku tak akan membiarkan penjahat itu melukai kalian." Kata Yoshi sambil terus menambah kecepatan.


"Yosh, hati-hati !" kata mama masih dalam ketakutan.


Sejurus kemudian mobil kami berbelok dan berhasil mengelabuhi mobil-mobil itu. Sehingga kami bisa terlepas dari kejaran mereka hingga tiba di pusat berbelanjaan.


"Ah, akhirnya kita terbebas juga." Ucap mama.


"Aku takut Yoshi, bagaimana jika mereka terus membuntuti kita."


"Tidak sayang, tenanglah David sudah mengurus mereka dengan para penjaga mansion." Ucap Yoshi sedikit membuatku tenang.


Sesaat kemudian, ponsel Yoshi berdering. Dan dia pun mengangkatnya.


"Ya David? bagaimana?" tanya Yoshi.


Merekapun saling berbicara dan sesekali wajah Yoshi terlihat sangat serius. Setelah telepon tertutup Yoshi pun menceritakan bahwa David berhasil mengalihkan mobil-mobil itu berhenti mengejar kami.


"David bilang, para penjaga kwalahan dalam menghadapi penjahat-penjahat itu."


"Lalu?" tanyaku terkejut


"Apa David baik-baik saja?"


"Baik-baik saja sayang, seperti biasa para penyelamat selalu datang di saat yang tepat." Jawabnya.


"Sudah Yosh, katanya mau melihat perlengkapan untuk baby?" kini mama mengajakku berjalan memasukki area konter khusus perabotan bayi.


Kami melihat-lihat berbagai pakaian bayi mulai dari segala ukuran.


"Sayang, kita beli yang unisex dulu ya. Kan belum tau cucu oma ini perempuan atau laki-laki." Ucap mama.


"Baik ma."


Aku dan mama terus memilih tetapi tidak dengan Yoshi, dia memang mengikuti kemana kaki kami melangkah tetapi aku tau pikirannya seperti tidak bersama kami dan sedang berkelana entah kemana.


Kami pun membawa barang belanjaan itu ke kasir, rasanya sangat tidak lega melihat suamiku itu terus diam seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku akan menanyakannya setelah sampai di rumah nanti.


Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata, tak ada lagi penjahat yang mengikuti atau mobil misterius lainnya. Namun entah mengapa Yoshi masih saja terlihat begitu tidak tenang.


Sesampainya di mansions, Niluh membawakan barang belanjaan sementara mama pergi ke kamarnya begitu juga dengan aku dan Yoshi.


Di kamar.


"Kenapa bagaimana sayang?" dia mencoba menutupi wajah khawatir itu.


"Yosh, kau sedang menutupi sesuatu dariku bukan?"


"Tidak sayang," dia masih saja menyangkal.


"Yoshi, aku istrimu dan aku sedang mengandung anakmu. Aku tau kau sedang menyembunyikan sesuatu. Aku bisa merasakannya."


Yoshi tampak berfikir dan kemudian mulai ingin mengatakan sesuatu padaku.


"An, aku takut"


"Takut apa? bukankah David sudah berhasil menghalangi mobil-mobil penjahat tadi?" tanyaku


"Bukan itu An, David mengatakan sesuatu yang menakutkan untukku." Jawabnya


"Apa? katakan sesuatu itu Yosh?" aku sangat penasaran dibuatnya. Yoshi tak pernah terlihat setakut ini sebelumnya.


"Sayang, kau tau tadi beberapa mobil penyelamat misterius itu datang dan membantu David juga para penjaga mansion."


"Lalu?" tanyaku


"Dan David melihat bapak bersama para penyelamat itu." Ucap Yoshi terlihat semakin ketakutan.


"Bapak? bapakku maksudmu?"


"Ya, Pramuja. Bapakmu An, ayah mertuaku" jawab Yoshi semakin menunjukkan ekspresi kekhawatiran.


"Tidak mungkin Yosh, bapak masih sakit dan sekarang masih berada di ruang ICU, bahkan Luna juga mengatakan hal yang sama padaku."


"An, aku mulai takut. Jika sebenarnya bapak sudah sembuh dan mungkin tidak pernah sakit."


"Apa maksudmu Yoshi?" kini aku yang terkejut mendengar perkataan suamiku.


"Sungguh An, aku tak mengerti dengan semua ini. Aku takut jika ayahmu itu akan memisahkan kita."


"Bahkan tadi David bilang jika bapak terlihat sangat segar dan dengan mudahnya bisa mengalahkan penjahat-penjahat itu dengan satu tangannya."


"Yosh, berhentilah berhalusinasi."


"An, kau tak tau apa yang kurasa. Menurutmu apa bapak akan memafkanku setelah apa yang sudah kulakukan padamu dan keluargamu selama ini?"


"Apa seorang ayah akan dengan mudahnya membiarkan putrinya hidup bersama lelaki bodoh dan jahat seperti diriku?"


"Shh Yosh, berhentilah berkata seperti itu!"


"Dengar, jika memang bapak sudah sembuh dari sakitnya atau mungkin tidak pernah sakit, tentu saja beliau akan segera menemuimu dan menghajarmu!" ucapku ingin mengerjainya


"Sayang, jangan menakutiku. Aku mungkin akan melawan ayahmu tetapi jika seperti ini apa yang bisa kulakukan?" Yoshi bertambah kalut, bukankah sulit untuk melawan seorang agen rahasia negara yang ternyata tidak pernah sakit seperti dugaannya.


"Tenanglah Yosh, jika memang bapak ingin memisahkan kita atau mungkin ingin membalasmu tentu saja sudah ia lakukan sejak dulu."


"Bukan malah menolongmu seperti yang terjadi akhkir-akhir ini." Ucapku, berusaha membuatnya tenang.


"Itu yang tidak kumengerti An,"


"Apapun yang terjadi, jangan pernah keluar mansion tanpa seijinku An," ucap Yoshi sambil memelukku. Pelukan yang begitu tulus tanpa nafsu tidak seperti biasanya.


"Sayang, apa kau sangat takut pada penjahat itu?" tanyaku pada Yoshi.


"Tidak An, aku tidak takut pada para penjahat itu. Aku lebih takut pada ayahmu. Aku takut dia akan mengambilmu dariku."


***


Author POV


Di tempat lain para agen rahasia sedang berdiskusi di markas rahasia mereka.


"Agen Pram, apa pendapatmu tentang hari ini?" ucap Agen Hamdan sambil menatap laporan di tangannya.


"Apa? Hampir saja .. Hampir saja anak dan menantuku dalam bahaya jika kita terlambat sedetik saja." Balas Agen Pram.


"Apa rencana kita selanjutnya?" tanya pria bertubuh atletis lainnya.


"Kita kendorkan perlindungan agar si belut licin itu mau menampakkan diri." Ucap agen Hamdan.


"Apa kau gila?? kau ingin membahayakan anak dan menantuku lagi?" ucap Agen Pram menyanggah.


"Tidak, aku hanya ingin masalah menahun ini segera usai!" ucap Hamdan tegas.


"Terserah padamu!" balas Pramuja sambil melangkah pergi meninggalkan sekelompok pria-pria atletis di ruangan itu.


"Cih suka merajuk seperti wanita saja!!" celetuk salah seorang Agen.


"Hahahah!"


"Sangat sensitif sekali calon kakek itu!"


Tawa semakin menggema di ruangan yang berisi anggota badan intelijen negara yang berpakaian serba hitam tersebut.