My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Jauh-jauhan lagi



Tak terasa ini hari kelima liburan kami, semua berjalan sesuai keinginan Yoshi karena dialah yang selalu menjadi sosok paling mendominasi dalam hubungan ini. Namun terlepas dari semua itu harus kuakui bahwa Yoshi adalah seorang suami yang sangat siaga.


"Sayang, sebentar lagi liburan usai," ucapnya dengan wajah sedih yang dibuat-buat.


"Lalu?"


"Lalu, kita akan pulang?" tanyanya.


"Iya, tentu. Memangnya kenapa mas?" aku berpura-pura tidak tau, Padahal aku tau jika ia sangat tidak betah berada di rumah orang tuaku.


"Tak apa, bagaimana jika kita kembali ke Jakarta saja?"


"Apa?" aku pun terkejut mendengar ucapannya.


"Iya, kita pulang ke mansions sayang. Ke rumah kita!" ucapnya sumringah.


"Yang, aku masih ingin di sini, lagi pula kita baru dua minggu berada di sini bukan?"


"Iya, tetapi aku harus memeriksa keadaan kantor sayang," ucap Yoshi.


"Tapi kan aku masih belum puas berada di kampung halaman," ucapku. Masih banyak sekali hal-hal yang belum kulakukan di sini.


"Uh, jangan bersedih sayang, kita akan kembali ke sini setelah kelahiran baby, oke?" tanyanya merayuku.


"Tapi kan masih lama mas,"


"Tidak lama, bukankah bulan depan anakku ini sudah terlahir ke dunia hm?" kata Yoshi sambil mencium perutku yang kian membesar itu.


"Iya mas, ya sudahlah. Kita pulang ke mansions saja."


"Kau sangat penurut sekarang An, aku menyukainya," ucapnya sambil mencium pipiku.


"Dan kau sangat pemaksa sejak dulu Yosh!"


"Dan kau menyukainya ?" tanya Yoshi, semakin mendekatkan wajahnya padaku.


"Ya, mau bagaimana lagi. Bukankah seorang istri harus menuruti apa kata suaminya Yosh?"


"Harus dong, tetapi kenapa kau dulu sangat tidak bisa diatur An?" tanyanya.


"Astaga mas, kau masih bisa bertanya seperti itu kepadaku?" bisa-bisanya dia melupakan bahwa dirinya itu sudah sangat menyusahkanku sejak dulu.


"Memangnya kenapa sayang?"


"Haruskah aku mengambilkan kaca untukmu ha?"


"Untuk apa?" tanyanya dengan wajah polos.


"Dasar rentenir tidak tau diri !" ucapku kembali mengingatkan siapa dirinya di masa lalu.


"Haha iya, aku sangat rindu dengan panggilan itu!" dia pun tertawa.


Hari pun semakin siang dan kami memutuskan untuk kembali berjalan-jalan lagi.


"Sayang, mau berfoto?" tanyanya sambil mempersiapkan kamera.


"Boleh Yosh," ucapku.


"Eh yang, kita foto berdua ya. Minta tolong bapak itu," ucapnya menunjuk seoarang laki-laki yang sedang memetik stroberi.


"Ah iya, boleh," tuturku. Lalu bapak itu pun memgambilkan foto kami.



"Bukankah ini seperti maternity shot Yosh?"


"Iya benar, bagus sekali."


"Aku akan memasang foto ini di ruang kerjaku," tambahnya.


Tak berapa lama ponsel Yoshi bergetar dan dia pun mengangkatnya. Sepertinya itu telepon dari David.


"Mas, apa yang dikatakan David?" tanyaku sambil meraih keranjang berisi stroberi.


"Besok ada meeting, sayang."


"Tapi ini terlalu tiba-tiba,"ucapku.


"Iya mau bagaimana lagi. Terkadang klien memang seperti ini. Sementara David tidak bisa mendapatkan tiket untuk pulang hari ini. Kita pulang sekarang ya sayang?" tanyanya dan aku pun mengangguk.


***


"Maaf ya, aku mengacaukan liburan kita," ucapnya sambil mengemasi barang-barang.


"Tidak apa Yosh, selanjutnya kita bisa pergi berasama baby," ucapku sambil membantunya berberes.


"Sayang, jangan banyak bergerak. Biar aku saja yang mengurus semua ini. Kau duduklah," perintah Yoshi.


Kami pun selesai mengemasi barang, lalu keluar dari hotel dan pulang ke rumahku untuk berpamitan. Sepanjang perjalanan Yoshi terus tersenyum.


"Yosh, kau bahagia karena sebentar lagi kita akan meninggalkan rumahku bukan?" tanyaku.


"Ya, sayang. Hehe,"


"Aku tau apa yang ada di pikiranmu Yoshi," imbuhku.


"Hanya dirimu yang ada dipikiranku sayang," ucapnya dengan santai.


"Bukan aku tapi kemesumanmu!" jawabku, dan dia pun tertawa.


***


Setelah perjalanan panjang kami pun tiba di rumah. Bapak, ibu dan mama tengah duduk di halaman menikmati hari yang mulai sore. Dan mereka pun menyapa kami.


"Lhoh, sudah selesai acara pacarannya?" tanya mama kepada kami.


"Tidak ma, bu. Ada kepentingan mendadak sehingga acara bulan madunya terhentikan," tungkas Yoshi tersenyum.


"Kau ini Yosh!" balasku, memukul lengannya.


"Memangnya ada keperluan apa Nak Yoshi?" tanya bapak sambil menyeruput wedang uwuhnya.


"Kami harus secepatnya kembali ke Jakarta Pak, besok ada meeting yang harus saya hadiri di kantor," jawab Yoshi.


"Lah, Ana mau dibawa pulang juga?" tanya mama.


"Iyalah ma, memangnya kenapa?"


"Yosh, kasihan Ana jika harus bolak-balik ke Jakarta seperti itu, apa lagi HPL-nya sudah semakin dekat," kata mama.


"Mau bagaimana lagi Ma, Yoshi tidak mungkin meninggalkan Ana di sini."


"Begini Nak Yoshi, kalau menurut bapak. Biarkan Ana di sini dulu, mengingat tanggal melahirkan sudah semakin dekat, bapak takut nanti terjadi apa-apa di perjalanan," ucap bapakku dan Yoshi pun nampak berfikir.


"Hmm ya sudah Pak, Bu, Ma. Biar kami bicara dulu di kamar," ucapku sambil mengajak Yoshi ke kamar.


***


"Sayang, yang benar saja. Mana mungkin aku meninggalkanmu di sini sendiri?" tanyanya dengan raur khawatir.


"Mas, aku tidak sendiri. Ada bapak dan ibu. Jangan khawatir ya," balasku.


"Tapi kan..."


"Tapi apa?" tanyaku.


"Aku tidak terbiasa jauh darimu dan baby sayang," ucapku.


"Alah, kau ini modus mas," balasku mencubit hidung mancungnya.


"Sungguh sayang, ikut pulang bersamaku ya."


"Jika saja David sudah berada di kantor saat ini, tentu saja aku tak perlu repot untuk pulang dan berpisah darimu," tambahnya.


"Mas, jangan seperti itu. Kau harus profesional, sayang," ucapku sambil melingkarkan tanganku pada lehernya.


"Kami akan merindukanmu papa Yoshi," ucapku.


"Sangat-sangat merindukanmu," bisikku pada telinganya. Entah mengapa aku suka sekali menggodanya di saat-saat seperti ini.


"An, jangan menggodaku," ucapnya.


"Mas, aku tidak menggodamu. Hanya sedang ingin bersamamu saja, mengingat sebentar lagi kita akan berpisah," balasku sambil menciumi pipinya dengan lembut.


"An, kau menggodaku."


"Ah, tidak. Aku hanya ingin bermanja-manja saja," ucapku kemudian mengecup bibirnya.


"Lihatlah, kau benar-benar mengujiku, kau tau kita akan berpisah."


Yoshi pun membalas ciumanku, memperdalamnya hingga beberapa menit kami saling berpagutan. Aku hampir saja lupa jika waktu sudah mununjukkan pukul tiga sore, sementara Yoshi harus segera berangkat ke bandara.


"Yosh, kau harus bersiap sekarang," ucapku sambil melepaskan ciuman kami.


"Ah, kau ini. Kenapa sisi agresifmu selalu muncul di saat yang tidak tepat An," dengusnya kesal sambil meremas lenganku.


"Cepatlah kembali ke sini Yosh," ucapku kembali memeluknya.


"Baru kali ini kau merindukanku bahkan sebelum kita berpisah sayang," ia pun membalas pelukanku dengan erat.


"Baby, papa pergi dulu. Minggu depan papa akan kembali untuk menemanimu lahir ke dunia," bisiknya pada perutku. Dan tanpa sadar, sebuah tendangan dari dalam terasa.


"Lihatlah Yosh, baby menanggapimu."


"Ha iya, aku bisa melihatnya," ucap Yoshi menatap bagian perutku yang menyembul itu.


"Dia selalu merespon jika aku sedang menceritakan tentangmu kepadanya,"


"Benarkah?" tanya Yoshi.


"Benar mas, ya sudah aku akan mengantarmu ke depan," ucapku.


"An, ponselmu harus aktif 24 jam. Ingat itu!" perintahnya.


"Iya-iya bawel!"


"Aku pergi dulu ya sayang, jaga diri. Ingat jangan lompat-lompat, jangan berlarian dan selalu balas pesanku!" ucapnya sambil berpamitan kepada bapak, ibu dan mama.


"Yosh, hati-hati ya, mama akan di sini untuk menemani Ana," ucap ibu mertuaku sambil mengantar Yoshi masul ke mobilnya.


"Ma, ponsel mama harus aktif 24 jam ya!" pesan Yoshi.


"Iya bawel!" jawab mama.


"Ponsel bapak juga aktif 24 kok, Nak Yoshi. Haha," ucap bapakku sambil tertawa.


Yoshi pun berlalu..



LDR dulu genk, gara-gara Author tengik ! 😭😭😭


**Halo semuanya, terima kasih ya atas dukungannya buat Abang Yosh encum. Aku mau rekomen Novel keren karya temanku. Mampir yuk dan kasih dukungan juga πŸ€—πŸ€—


Cinta kecilnya Maz karya Kak Yanktie inoβ€πŸ™**



http://h5.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1602546&\_language\=id&\_app\_id\=2