
"Tuan hanya mengalami sakit maag saja. Karena terlalu banyak mengkonsumsi teh melati." Ucap dokter wanita itu. Seorang dokter pribadi keluarga Luby.
Sesuai dugaanku Yoshi hanya mengalami kenaikan asam lambung saja, sama seperti yang aku alami kemarin, dokter itu pun memberikan beberapa obat untuk meredakan rasa mual itu.
"Apa Dok? asam lambungku naik karena minum teh?" tanya Yoshi terkejut.
"Benar tuan, teh mengandung senyawa acid hingga menyebabkan naiknya asam lambung jika mengkonsumsinya berlebih bahkan lebih buruk dari pada kopi." Ucap dokter itu menjelaskan.
"Dok, saya pikir saat ini saya sedang mengalami kehamilan simpatik." Tanya Yoshi dengan wajah polos. Aku tak percaya jika dia benar-benar menanyakan hal tersebut pada dokter.
"Apakah istri tuan Yoshi sedang mengandung saat ini?" tanya dokter dengan raut wajah heran.
"Belum tau Dok, tetapi bisakah anda memeriksanya juga?" Kata Yoshi, astagaa si bodoh ini kembali berulah.
"Ti-tidak perlu Dok, saya tidak sedang hamil." Ucapku, aku sungguh merasa tidak enak pada dokter itu.
"Sayang, ayolah... " Ucap Yoshi memohon. Sungguh jika tidak ada dokter di sini aku pasti akan melemparkan bantal ke arahnya.
"Nyonya, tidak ada salahnya memeriksakan diri terlalu awal. Mungkin saja benar ada kabar baik untuk keluarga Luby." Ucap dokter itu menyetujui perkataan Yoshi.
"Tapi dok, rasanya itu tidak mungkin." Kataku pada dokter, aku sungguh tidak ingin diperiksa.
"Saya hanya akan memeriksa denyut nadi anda saja Nyonya, hanya itu. Tidak ada yang lain." Kata dokter itu sambil menghampiriku.
"Baik dok," akhirnya aku pun setuju.
Dokter itu memegang pergelangan tanganku, sedikit memberikan tekanan pada titik nadiku. Sejenak dia terdiam seperti sedang berfikir sambil sesekali menatap ke arah jam tangan yang ia kenakan.
Sepertinya dokter itu sedang menghitung denyut nadiku.
"Nyonya, sepertinya benar apa yang anda katakan." Katanya masih tetap memegangi pergelangan tanganku.
"Bagaimana dok? Apakah benar istri saya sedang mengandung?" tanya Yoshi mendahuluiku.
"Maaf Tuan, sepertinya anda harus berusaha lebih keras lagi. Hehe." Ucap dokter sambil tertawa. Bisa dipastikan bahwa aku tidak hamil.
Yoshi pun terdiam setelah mendengar penuturan dokter itu.
"Dok, bagaimana caranya mengetahui kehamilan hanya dengan memeriksa denyut nadi saja?" tanyaku heran. Bagaimana bisa seperti itu.
"Nyonya, jumlah denyut nadi bumil biasanya sekitar 80-90 denyut per menitnya. Hal ini berbeda dengan jumlah denyut nadi wanita normal yang tidak hamil yang jumlahnya sekitar 60-80 denyut per menitnya. Dengan kata lain, ketika hamil denyut nadi wanita akan meningkat sekitar 10-20 denyut per menitnya." Jelas dokter itu dengan gamblang.
"Jadi denyut nadi saya jumlahnya sekitar 60-80 per menitnya dok?" tanyaku.
"Benar Nyonya, jumlah enyut nadi nyonya kurang lebih 70 per menit, maka bisa dipastikan Nyonya tidak sedang hamil. Atau mungkin bisa dicek dengan menggunakan tespek dua minggu setelah ini untuk benar-benar memastikannya." Jawab dokter itu.
"Baik, terima kasih dok." Ucapku sambil mengantar dokter itu keluar dari kamar.
***
"Lihatlah kau sukses membuatku malu Yoshi!" kataku pada Yoshi yang masih berbaring di tempat tidur.
"Apa salahku An? Aku hanya terlalu antusias untuk segera dipanggil 'papa'. Dimana salahnya?" kata Yoshi sambil membetulkan bantalnya.
"Awas saja jika kau sampai minum teh melatimu itu lagi!" kataku, aku ingat teh itulah yang menyebabkan Yoshi mual dan muntah akibat Gerd.
"An, kesini.. "ucapnya dengan suara parau.
"Apa?" jawabku.
"Mari kita coba lagi." Kata Yoshi sambil menarik tanganku.
"Coba apa?" tanyaku. Aku sungguh belum mengerti.
"Tentu saja untuk membuat kabar gembira untuk keluarga Luby. Bukankah tadi dokter itu bilang jika kita harus lebih berusaha lagi. Mari lakukan An! " katanya dengan suara yang lebih parau lagi menandakan bahwa Yoshi benar-benar menginginkannya.
"Dasar modus!" kataku sambil melepaskan diri dari kungkungannya.
"Ayolah An, jangan mengacuhkan suamimu seperti ini." Kata Yoshi.
"Yosh, aku tidak mengacuhkanmu. Ini terlalu pagi untuk melanjutkan itu. Lagi pula bukankah kita akan mengunjungi Opa hari ini?" tanyaku mengingatkannya.
"Kau benar An, karena terlalu larut dalam pesonamu aku sampai lupa dengan Opa." Ucapnya sambil bangkit dari tempat tidur.
"Omong kosong! Ayo bersiap Yosh. Apa mualmu sudah hilang?" tanyaku, sejujurnya aku masih mengkhawatirkan kondisinya.
"Sudah lebih baik sayang." Jawabnya.
****
Setelah selesai bersiap kami pun berpamitan pada mama untuk pergi ke rumah sakit di wilayah Heathrow tersebut, tempat opa Yoshi dirawat selama bertahun-tahun ini.
Terlihat mama sedang berbincang dengan Yoshi saat aku sedang menunggu di dalam mobil. Obrolan itu terlihat sangat serius dan sesekali mereka melihat ke arahku. Aku cukup dibuat penasaran sebenarnya tetapi sudahlah, bagaimanapun terkadang ibu dan anak memang membutuhkan privasi.
Tak butuh waktu lama akhirnya kami tiba di rumah sakit terbaik di kota London itu. Setelah melewati mesin scan dan menunjukkan identitas diri, kami pun masuk ke ruang ICU.
Kulihat sebuah ruang dengan kaca yang besar di mana seorang kakek terbaring lemah dengan berbagai alat bantu di sekujur tubuhnya. Sejenak aku teringat bapak, beberapa bulan lalu bapak juga sempat dirawat seperti ini.
Namun keadaan opa jauh lebih buruk. Sungguh aku tau betapa Yoshi sangat memikirkan kakeknya selama ini. Yoshi memasukki ruangan ICU itu sedangkan aku masih menunggu di luar ruangan sebab hanya satu orang saja yang diperbolehkan masuk. Maka dari itu kami memutuskan untuk bergantian.
Kulihat dari balik kaca kedap suara ini, Yoshi sedang mencoba berbicara kepada opa, sesekali dia tertawa dan kemudian wajahnya terlihat murung sekali. Entah apa yang sedang dia bicarakan dengan opa hingga membuatnya menitikkan air mata juga.
Meskipun aku tak bisa mendengar suaranya tetapi aku bisa merasakan duka yang tersirat di wajah itu. Tak berapa lama kemudian Yoshi pun keluar dari ruangan itu.
"An, mau bertemu dengan Opa?"tanyanya. Aku masih bisa melihat sisa-sisa air mata yang telah dihapusnya.
"Tentu Yoshi." Jawabku, setelah memakai pakaian steril, aku pun memasukki ruangan itu.
"Opa, bagaimana kabar opa?" kataku. Aku mencoba untuk menyapanya meskipun ini mungkin terdengar konyol.
"Opa, mungkin Yoshi belum menceritakan tentang diriku kepada opa. Aku Lanthana istri Yoshi cucu opa yang tampan itu. Opa bisa memanggilku dengan nama Ana." ucapku aku terus saja mencoba berkomunikasi meskipun tanpa respon darinya.
"Opa, apakah opa tau bagaimana awal pertemuan kami? Bahkan Ana tidak menyangka akan memiliki perasaan pada Yoshi setelah semua yang dilakukannya selama ini."
"Ada satu keraguan di hati Ana, apakah opa tau jika selama ini Yoshi masih sering memikirkan cinta pertamanya di masa SMA dulu. Ana sudah mencoba menanyakan padanya siapa sebenarnya gadis itu. Tetapi Yoshi malah mengatakan jika gadis itu adalah Ana sendiri. Sungguh, Ana tak dapat mempercayainya." kataku, aku masih terus berbicara padanya.
Namun, tiba-tiba alat berbentuk monitor raksasa itu berbunyi. Bunyinya semakin kencang dan durasinya semakin cepat.
Aku sangat panik, lalu kupanggil Yoshi untuk masuk.
"Yosh, lihat apa yang terjadi.. " kataku panik.
"Hey, detak jantung opa semakin meningkat An, lihatlah! " ucap Yoshi tak kalah panik.
"Yosh, tangan opa bergerak..! " ucapku, aku tak percaya dengan ini.
"Ya sayang. Kau benar! Aku akan memanggil dokter." Yoshi berlari keluar sementara monitor semakin berbunyi dengan ritme tak beraturan.
Dokter pun datang. Lalu meminta kami berdua keluar ruangan. Dari balik kaca terlihat para tenaga medis itu sangat sibuk memeriksa keadaan opa. Dan Yoshi sangat kacau, aku pun memeluknya untuk menenangkannya.
"Yosh, tenanglah. Berfikir positif semoga ini pertanda baik." Ucapku.
"An, aku sangat terkejut melihat opa menunjukkan tanda-tanda akan segera tersadar dari komanya. Memangnya apa yang kau katakan pada opa?" tanya Yoshi.
"Aku hanya memperkenalkan diriku. Itu saja." Jawabku.
"Benarkah?" tanya Yoshi, yang kubalas hanya dengan anggukan.
Dokter keluar dari ruang ICU dan menjelaskan jika sesuatu yang luar biasa telah terjadi, detak jantung opa semakin normal, dan syaraf motoriknya mulai aktif lagi. Jika terus seperti ini opa akan segera tersadar dari tidur panjangnya itu.
Yoshi sangat bahagia mendengar itu dan terus memelukku mengatakan jika akulah yang telah merangsang kesadaran opa. Aku yang merasa tidak berbuat apa-apa hanya bisa tersenyum melihatnya sebahagia itu.
***
Di perjalanan pulang.
"Yosh, aku ingin jalan kaki saja." Kataku sambil melihat suasana sekitar yang berselimut salju.
"Apa tidak capek?" tanya Yoshi heran.
"Tidak. Bukankah jarak rumah sakit dari apartemen cukup dekat? Aku ingin berjalan saja Yosh, menikmati butiran salju ini." Kataku sambil menengadahkan tanganku.
"Baik sayang, aku akan minta David untuk membawa mobilnya." Ucap Yoshi sambil menggandeng tanganku.
Kami pun berjalan menyusuri kota ditemani rintikan salju.
"Yosh, lihatlah jika saja aku membawa sirup marj*n mungkin kita bisa membuat es teler dengan mudah di sini." Kataku, bercanda.
"Maksudnya?" tanya Yoshi. Kulihat masih ada kekhawatiran di wajah itu.
"Tentu saja, salju Ini jika disiram sirup akan seperti es serut pada es teler." Kataku dan akhirnya dia tertawa. Setidaknya ketegangan mulai mencair.
Kami pun duduk di sebuah bangku taman. Dan kuberanikan diri untuk memulai percakapan tentang opa.
"Yosh, bagaimana awalnya hingga opa bisa mengalami koma seperti itu?" tanyaku.
"Kecelakaan. Delapan tahun yang lalu opa mengalami kecalakaan tunggal. Saat hendak menjemput jenazah papa di rumah sakit." Ucap Yoshi.
"Apa? Bagaimana bisa terjadi?" tanyaku. Jadi saat papa Yoshi meninggal lalu kemudian disusul opa yang juga akhirnya koma. Sungguh ini pasti sangat berat untuknya saat itu.
"Ya sayang, papa meninggal karena kecelakaan tunggal sepulang dari kantor polisi." Jawab Yoshi lirih.
"Bagaimana bisa seperti itu Yosh?" tanyaku. Aku sungguh penasaran.
"Seorang Badan Intelijen Negara memberikan tuduhan palsu kepada papa, dan menyatakan jika papa terlibat dalam pembobolan informasi penting milik negara, papa adalah seorang hacker yang hebat. Tapi aku tak percaya jika papa benar terlibat dalam kasus itu." Ucap Yoshi dengan tubuh gemetar.
"Yosh, tenangkan dirimu. Apa kau tak mencoba menyelidiki kasus itu? mungkin saja benar jika papa tidak bersalah." Kataku sambil meraih tangannya.
"Sudah An. Tak ada satupun petunjuk. Aku sangat lelah. Aku sangat membenci agen rahasia itu. Karenanya kondisi opa dan mama memburuk selama beberapa tahun ini." Ucap Yoshi, aku bisa merasakan duka itu.
Jadi ini luka yang menyiksanya selama ini. Selain kehilangan ayah, dia juga secara tidak langsung juga kehilangan opa dalam waktu yang bersamaan ditambah lagi mama yang saat itu juga sudah kehilangan semangat hidup.
"Yosh, aku punya cerita untukmu. Taukah kau beberapa tahun yang lalu Bapak juga pernah bercerita kepadaku jika dirinya sebenarnya adalah agen rahasia yang sedang bertugas menangkap seorang hacker di kota kami. Dan itu sungguh konyol untukku." Jawabku, aku mengingat perkataan bapak saat itu.
"Dan kau percaya?" tanya Yoshi sambil mengepalkan tangannya. Dan urat kehijauan itu mulai menyembul lagi.
"Tentu saja tidak!! Bapakku hanya seorang petani. Meskipun postur tubuhnya sangat atletis seperti agen CIA di film-film." Ucapku sambil tertawa.
Sementara Yoshi masih saja tak bergeming, dia masih mengepalkan tangannya seperti menahan amarah. Ini sungguh tak baik akhirnya aku pun membawanya pulang aku tak ingin Hulk ini mengacaukan kota.
Yang lagi minum es teler, es serutnya gratis langsung nyomot di tumpukan salju langsung tuangin sirup marj*n di atasnya. wkwk
Poor Yoshi 😥
Yoshi remaja dan Opa sesaat sebelum kecelakaan itu terjadi