
Satu Tahun berlalu, aku memutuskan untuk kembali ke London. Tepatnya di Kota Greenwich, sebuah distrik di bagian tenggara Kota London. Untuk menemui mama dan opa.
Tentu saja kondisinya masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya.
Dan opa masih saja terbaring di Ruang ICU, dengan berbagai peralatan penunjang hidup terpasang di tubuhnya.
Hampir empat tahun berlalu, namun opa belum juga menunjukkan titik kesembuhannya, Aku sudah lelah dengan semua ini, seandainya saja waktu bisa diputar kembali, tak akan kuijinkan kecelakaan yang merenggut nyawa papa itu terjadi.
Satu orang meninggal, dua orang masih hidup tetapi dengan kondisi yang tak ada bedanya dengan kematian seperti ini.
Aku memasuki kamar mama, terlihat dia sedang melukis di balcony kamarnya yang terletak di lantai dua. Entah apa yang dilukisnya di mataku lukisan itu hanyalah coretan-coretan abstrak di atas kain kanvas .
Sangat melambangkan hidupnya, beliau hanya menggunakan cat minyak berwarna hitam pada lukisan tersebut, apakah setidak-berwarna-itukah hidup mama sekarang .
"Ma, bagaimana keadaan Mama? " tanyaku pada mama yang sedang menatap lukisan hasil coretan tangannya itu. Aku cukup tau bagaimana kondisi psikis mama sejak kepergian Papa empat tahun yang lalu.
"Yosh, kapan kau datang, Sayang? " tanya Mama berusaha menutupi raut wajah sedihnya.
"Baru aja Mah, tadi dari Airport langsung ke Apartmen ini," jawabku sambil memeluk tubuh mama dengan erat.
"Yosh, bagaimana pendidikanmu? Kau terlalu sibuk menuntut ilmu sekaligus mengurus bisnis keluarga kita selama empat tahun terakhir ini, maafkan mama yang sama sekali tidak bisa membantumu di Perusahaan.
"Hush, Mama jangan bicara seperti itu, sudah tanggung jawab Yoshi untuk menggantikan posisi Papa," jawabku sambil merangkup wajah sendu Mama.
"Papamu sangat menyayangimu Nak, apa Kau tau itu?" jawab Mama, seperti ingin mengatakan sesuatu yang beliau tahan selama beberapa tahun belakangan ini.
"Tentu saja Yoshi tau itu Ma, Yoshi tau Papa, Mama dan Opa sangat menyayangi anak tampan dan cerdas sepertiku diriku ini "," jawabku sambil mencubit hidung mancung mama.
"Sebenarnya Mama tidak tau pasti apa yang terjadi pada Papa sebelum Papa mengalami kecelakaan itu," kata mama sebelum akhirnya terlihat buliran bening yang hampir menetes dari sudut matanya.
Seandainya saja mama tau jika aku sedang berurusan dengan keluarga Anggota Badan Intelijen Negara yang telah menghancurkan hidup kami itu, mungkin keadaan mama akan semakin memburuk jika mengetahuinya.
Aku memutuskan untuk menyembunyikan urusanku dengan Ana dan juga keluarganya dari mama, aku tak ingin membuat mama semakin terpuruk.
Lagi pula, mama pasti tidak akan setuju dengan aksi balas dendam yang kulakukan pada Ana dan keluarganya. Mama adalah orang yang sangat lembut. Balas dendam adalah hal yang tak mungkin untuknya.
Di sisi lain aku ingin sekali bercerita tentang semua hal yang kulalui selama ini pada mama, bagaimanapun beliau adalah satu-satunya orang yang kumiliki selain opa yang masih terbaring koma.
"Yosh, apa Kau tidak ingin menikah? " tanya mama, entah ada angin apa yang membuatnya menanyakan pertanyaan keramat semacam itu padaku.
"A-apa Ma? Menikah? tanyaku, mencoba mengulangi pertanyaan mama yang sebenarnya cukup jelas terdengar tersebut
"Ya, Menikah. Mengikat janji sehidup semati dengan wanita yang Kau cintai " kata mama, lagi-lagi telingaku harus berpura-pura mencoba kehilangan fungsi pendengarannya .
"Yoshi harus mengikat janji dengan siapa Ma? jawabku. Tanpa jeda waktu yang lama, hal itu langsung membuat mama tertawa lebar.
Melihat tawa lepas mama membuatku bagaikan mendapat air di Padang pasir yang gersang. Sungguh sangat menyejukkan jiwa, tawa yang bertahun-tahun hilang itu kini terlihat kembali.
"*P*rincess rahasia apa maksud Mama?" tanyaku. Aku benar-benar tidak paham dengan perkataan Mama.
"Jangan pikir Opa tak pernah menceritakan pada Mama tentang Tuan puterimu di masa SMA mu dahulu," bisik mama di telingaku.
Astaga jadi dulu opa menceritaka tentang semua kegiatanku pada mama, ah dasar opa. Ternyata opa adalah musuh dalam selimutku.
Inginku memarahi pria tua itu sekarang juga tetapi apa daya pak tua kesayanganku itu belum juga terbangun dari komanya sejak empat tahun yang lalu.
"Ah Mama, Opa pasti salah bicara waktu itu," kataku pada mama, aku harap mama tidak berbicara lebih jauh lagi tentang ini.
"Benarkah? Haha jadi Putra Mahkota Kerajaan Luby ini sedang tersipu malu rupanya ha?" kata mama, aku tak tau apa yang sebenarnya dipikirkan olehnya, yang jelas jika memang membicarakan hal konyol ini bisa membuatnya tertawa bahagia, lalu mengapa tidak.
"Iya Ma, dia hanya masa lalu Yoshi, bukan hal yang penting untuk mengingat-ingat masa itu " kataku berbohong, padahal tentu saja aku sedang memikirkan Ana saat ini, Princess Rahasia masa remajaku siapa lagi jika bukan dirinya.
Pujaan hati sekaligus mesin pencacah yang telah mencacah halus hati dan perasaanku selama ini. Sungguh tak dapat kumengerti bagaiman dendam dan cinta bisa tumbuh secara bersamaan seperti ini.
Sejujurnya aku ingin mengusut lebih dalam tentang peristiwa empat tahun yang lalu itu, Aku ingin mengetahui siapa yang sebenarnya bersalah dalam kasus itu Ayahku Permana Luby atau Pramuja Aditama seorang anggota BIN yang juga ayah kandung Ana.
Sisi egoisku begitu mendominasi, rasanya aku tak ingin mengetahui kebenarannya, aku yakin pasti ayahku adalah pihak yang benar dalam kasus itu.
Meskipun keyakinan itu sudah tertanam cukup dalam di otakku, aku tetap meminta Orang kepercayaanku untuk mengusut jelas hingga ke akar-akarnnya perihal kasus yang sedang dalam masa pemberhentian penyelidikan itu.
Merasa mama sudah tidak terlalu memperpanjang topik pembicaraan kami, aku pun memutuskan untuk pergi keluar Apartment.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit, tibalah aku di sebuah Kafe sederhana milik salah satu rekan mama.
Kafe ini mendapat predikat nomor satu dalam kompetisi Asian Food Competition di Britania Raya . Selain Owner dari Kafe ini yang notabene adalah warga asli Indonesia , hidangan Asia yang disuguhkan pun tidak diragukan rasanya.
Singkatnya warga Indonesia yang tinggal di sini, selalu menyempatkan waktunya untuk sekedar melepas rindu pada masakan Indonesia yang jarang sekali mereka temukan di sini.
Aku memutuskan untuk memesan jasmine tea atau teh melati favoritku di kafe ini, sungguh musim dingin membuat sebagian wilayah di Kota Greenwich tertutup salju hampir seluruhnya.
Tak butuh waktu lama, seorang ramusaji datang mengantarkan pesananku.
"Good evening Mr.Luby welcome back to your second home here, here it is a cup of jasmines tea is ready to warmth your cold soul up,Enjoy !" Kata Pelayan tersebut.
Benar apa yang dikatakan olehnya, Kafe ini adalah Rumah kedua bagiku selama berada di London, yang tak wajar adalah bagaimana dia bisa tau tentang jiwaku yang sedang 'kedinginan' ini.
Tanpa pikir panjang segera kuseduh teh beraroma melati di hadapanku lengkap dengan creamer sebagai pelangkapnya.
Teh saja memiliki pendamping, bagaimana mungkin manusia normal sepertiku tidak membutuhkan pendamping untuk hidupku, yang benar saja.