
Ini adalah bulan keempatku bekerja di Kapal ini. Tak banyak yang berubah, sejauh ini semuanya masih aman terkendali. Aku masih ditugaskan untuk in charge di Buffet area milik Restoran Lido.
Kak Anggie, Evelyn, Dian, Jenny dan Reza adalah teman-teman terdekatku. Tak dapat dipungkiri bertemu dengan orang-orang yang berkewarganegaraan sama denganku di perantauan adalah satu hal yang patut kusyukuri.
Meskipun kami berasal dari suku, ras, budaya dan agama yang berbeda tetapi persahabatan ini seperti tak berjarak bahkan kami sudah seperti keluarga.
Suasana Briefing hari ini berbeda dari hari-hari sebelumnya Alister supervisor kami terlihat lebih tegang dari biasanya. Tapi tetap saja Girls Squad kepunyaan Lido Restaurant ini terlihat santai seperti tanpa beban.
"Jadi gimana nih entar malem mau nongki jam kude Nok?" tanya Dian kepada Evelyn dengan aksen Balinya yang kental menanyakan acara nongkrong setelah off duty.
"Jam 9 lah di kabin Ana, ada Thailand movie keren." Jawab Evelyn.
"Mihh jangan nae di kabin Ana, roommate Ana galak bookk !" Ini suara Jenny menirukan logat Dian dengan mengibaskan kepala botaknya.
"Terus di mana? di kabin elu? " tanya Evelyn sambil melihat ke arah Jenny.
"Dih jangan cyinn. Kabin eyke sempit." Jawab Jenny dengan memanyunkan bibirnya.
"Sing jelas ne. Di kabin siapa pastinya? Jeg riweh heran tiyang." Jawab Dian sedikit ngegas menyatakan kekesalannya karena tak kunjung menemukan tempat yang cocok.
"Alah bilang aja kabin lu kotor Jen, pake alesan sempit-sempit segala. Semua juga sama ukuran kabinnya. " Jawab Evelyn sambil melempar kertas ke arah Jenny.
"Gimana kalo di kabin Reza aja say? Kan dia nggak ada Roommate tuh." Tanya Jenny sambil menatap ke arah kami semua.
"Alah modus lu dasar banci !" Jawab Dian sambil melempar pulpen ke kepala botak Jenny.
"Tapi boleh juga sih. Kan kabin Reza luas tuh." Jawab Evelyn sambil mengingat Reza adalah seorang officer yang tinggal di single kabin.
"An, gimana An? Diem bae?" Tanya Dian kepadaku yang sedang fokus pada materi briefing dari Alister.
"Woy Ana !" Ini suara Jenny sambil melempar kertas dan pulpen dari Dian dan Evelyn ke arahku.
"Ha iya iya. Boleh." Jawabku gelagapan karena kaget.
"Boleh apa coba?" Tanya Dian kepadaku.
"Nonton film kan?" Jawabku serampangan. Sejujurnya hingga saat ini aku masih memikirkan tentang mimpiku semalam.
Tiba-tiba suara Alister membuyarkan perbincangan kami.
"Guys, are you still following the briefing or not? " Tanya Alister menanyakan apakah kami masih mengikuti briefing ini atau tidak dengan raut wajahnya yang kesal padahal biasanya Supervisor berkebangsaan India itu sama sekali tidak pernah marah. Sepertinya materi briefing kali ini sangat penting.
"Yes Chief !" Jawab kami berempat bersamaan. Semua mata tertuju pada kami, sangat malu rasanya diperhatikan oleh seluruh anggota tim F&B yang memenuhi ruangan ini.
"Jumantoro, come and tell me what did you get from this briefing? " tanya Alister pada Jenny menanyakan tentang materi apa yang disampaikan olehnya dari awal briefing.
Lihat saja pasti Jenny tidak dapat menjawabnya sebab dari tadi mereka bertiga hanya sibuk berbicara sendiri.
"*Y*es Chief, emmm about ____ " Jawab Jenny dengan gugup sambil melirik ke arahku berharap aku memberinya pencerahan.
"Mampus Lu Jen! " Bisik Dian yang berada di samping Jenny.
"Emang tadi si Ali ngomong apaan sih?" tanya Evelyn yang berada di samping Dian.
"An, bantuin Jenong kesian tuh!" Ini suara Dian yang berada di seberangku.
"Iya muka bencongnya udah mulai meleleh tuh gegara gugup," kata Evelyn yang sejak tadi memperhatikan wajah Jenny.
"Jen, minggu depan mau ada coorperate dateng." Bisikku pada Jenny dengan pura-pura tak menatap wajahnya.
"Apaan cinn? Related dateng?" tanya Jenny sambil melihat ke arahku, astaga apa maksud Jenny dengan related.
"Bukan related tetapi Coorperate. Co-or-pe-rate " aku mencoba mengejanya agar Jenny bisa memahami perkataanku.
"*R*e-la-ted?" tanya Jenny dengan masih saja tetap tidak bisa menangkap apa yang kumaksud.
"Jenny, what did you say?" kata Alister kembali memberikan pertanyaan pada Jenny yang sepertinya juga mulai curiga dengan aksiku yang membantu Jenny.
"*R*elated Chief (terkait)." kata Jenny dengan ragu. Ya ampun aku sudah lepas tangan dengan ini. Entah apa yang akan terjadi padanya setelahnya. Bagaiman kata cooperate bisa berubah menjadi related. Benar-benar telinga Jenny.
"We are related Chief " Jawab Jenny mengatakan bahwa dia dan Alisterlah yang terkait.
"What do you mean?" tanya Alister lagi sambil mendongakkan dagunya menuntut penjelasan dari Jenny.
Sementara seisi ruangan sudah mulai tidak dapat menahan tawa.
"We are related Chief, I mean You and me are related each other, " kata Jenny. Masih saja menjelaskan bahwa dia dan Alister lah yang saling terkait satu sama lain.
"Mati lu Jen, ah si bego ini. Dasar!" Umpat Evelyn dari tempat duduknya yang tentu saja tidak didengar oleh Jenny.
"Aiihh banci, aduh si banci. Engken ngidang ngomong kitu!" Ini suara Dian menyatakan bisa-bisanya Jenny bicara ngawur seperti itu.
Jangan tanyakan bagaimana reaksi kru lain saat ini . Sudah pasti gelak tawa mereka menggema memenuhi ruangan berukuran ballroom ini.
Alister masih saja mematung tak percaya dengan apa yang Ia dengar baru saja. Jika di hari biasa dia akan tertawa mendengar candan Jenny seperti ini.
Namun karena sedari pagi Alister sudah sangat memasang wajah muram tentu saja perkataan Pria yang bernama asli Jumantoro itu akan dianggap serius olehnya.
"*Je*nny, please come to my Office after this briefing," kata Alister kepada Jenny sambil menatap tajam ke arah kami semua dan meminta Jenny untuk ke kantornya setelah briefing.
Raut wajahnya menandakan bahwa keadaan memang tidak sedang baik-baik saja.
Briefing pun berakhir dan kami menuju ke area kerja masing-masing.
Entah mengapa situasi kerja hari ini sangat menegangkan bahkan beberapa kali Kapten dan Staff Kapten melewati area kerja kami seperti sedang melakukan inspeksi atau pemeriksaan fasilitas dan keamaan di area ini.
Tak ada canda gurau seperti biasanya. Untung saja waktu Coffee Break alias jam ngopi tiba.
Kami pun turun ke kru mess untuk mencairkan suasana yang sedari tadi tegang dan mencekam.
"Cong, Jenny lama banget sih?" kata Evelyn sambil menghentak-hentakan bagian bawah cangkir kopinya pada permukaan meja .
"Iya nih jadi worry gue. Diapain ya dia sama si Ali?" sahut Dian memikirkan Jenny yang sedang berada di kantor supervisor kami itu.
Aku hanya terdiam mendengarkan kedua gadis unik ini saling memikirkan Jenny, sebenarnya aku juga mengkhawatirkannya tetapi apa boleh buat ini bukan pertama kalinya Jenny seperti ini.
Beberapa menit kemudian Jenny datang.
"Cyiinn, yey yey musti tau ini," ucap Jenny yang baru saja datang dan langsung duduk di sebelahku bagaikan seekor induk burung yang membawa makanan untuk anak-anaknya yang sedari tadi menunggu .
"Apaan? elu diapain sama si Ali?" tanya Evelyn dengan mendekatkan kepalanya ke wajah Jenny. Tak sabar menunggu berita itu.
"Jadi eyke tadi nggak diapose-aposein sama si tambi tamvan itu." Jawab Jenny dengan gaya gemulainya.
"Ngomong yang jelas jangan dibanci-banciin gitu gue udah tau lu emang banci ! " sahut Dian sambil meneguk secangkir kopi di tangannya.
"Iya Jen, yang jelas dong." Kataku. Sebenarnya aku juga sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
"Tau nggak, kalo minggu depan bakalan ada Coorperate IT datang ke kapal ini." Jawab Jenny dengan wajah serius.
"Alah kalo itu mah persis kayak yang dibilang Ana tadi. Kagak kaget gue. " Jawab Evelyn memutar mata malas.
"Iya, lagian Coorperate IT kan gak ada sangkut pautnya sama departemen kita. Ngapain selebay ini sih orang-orang pada," kata Dian yang membuatku juga berfikir kearah sana.
Setahuku Coorperate adalah seseorang dari kantor pusat yang ditugaskan untuk memantau kondisi kapal dalam beberapa hari. Dan Coorperate untuk departemenku tentu saja Coorperate Hotel atau F&B bukan IT.
Seharusnya anak-anak dari departemen IT lah yang sedang pusing saat ini bukan kami.
"Dih yey nggak tau sih. Do'i entar datengnya nggak sendiri tapi sama First President kesininya," kata Jenny sambil membetulkan kerah seragamnya .
"APAA ?!?" Jawab kami bertiga secara serentak.
Aku belum pernah bertemu dengan presiden utama perusahaan ini. Tetapi yang sangat mengkhawatirkan adalah area kerjaku masih sangat berantakan, lalu bagaimana nanti bila Beliau memberikan pertanyaan-pertanyaan penting seputar kapal ini mengingat masih banyak hal yang belum kuketahui tentang tempat kerjaku ini.
Aku masih cukup sadar dalam menerima berita ini tetapi tidak dengan dua gadis unik di sebelahku. Mereka masih saja mematung tak bergerak sedikit pun seperti peserta Squid Games yang takut tertembak mati .