My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Yoshi POV - Kebenaran Terungkap



Satu bulan berlalu dan saat ini kami sudah kembali ke mansion. Seperti biasa aku sibuk dengan urusan kantor sedangkan Ana tetap di rumah. Kesehatannya sedang menurun saat ini. Sepertinya dia terserang flu.


Hingga mama meneleponku dan meminta kami untuk ke pergi London.


"Yoshi, ada yang ingin mama sampaikan." Ucap mama, aku menangkap nada kekhawatiran dalam ucapan itu.


"Bisakah Mama menyampaikannya di telepon saja?" tanyaku.


"Tidak bisa, ini adalah hal penting. Dan kau harus datang Sayang." Ucap mama, aku mulai penasaran ada hal penting apa sebenarnya.


"Tapi Ana sedang sakit ma.. " Ucapku aku tak mungkin mengajaknya.


"Kau apakan menantu Mama?" Tanya mama dengan ketus.


"Ana sedang flu, bukan Yoshi penyebabnya Ma." Jawabku, yang benar saja memangnya apa yang sudah kulakukan pada Ana.


"Yosh, dengarkan mama. Opa sudah sadar. Dan sekarang beliau ingin bertemu denganmu juga Ana." Ucap mama dengan penekanan.


Sontak berita ini membuatku kaget bukan kepalang. Mama bilang bahwa opa sudah sadar? Benarkah demikian? Aku pun menanyakannya lagi.


"Opa sudah sadar ma? Benarkah? Mama tidak bohong?" tanyaku masih dengan jantung berdegup kencang sekencang genderang perang.


"Tentu saja. Untuk apa mama berbohong kepadamu. Cepat datang!"Kata Mama sambil menutup telepon.


****


"Sayang, aku pulang.. " Ucapku sambil memasukki kamar. Kulihat istriku itu sedang bebaring di tempat tidur tertutup selimut.


"Yoshi, kau sudah pulang?" tanyanya dengan suara serak. Sepertinya Ana benar-benar sedang sakit. Bahkan suhu badannya meningkat saat kusentuh dahinya.


"Ya sayang, kau demam. Mau pergi periksa?" tanyaku. Aku sangat khawatir melihatnya seperti ini.


"Tidak usah Yosh, aku hanya batuk pilek saja. Nanti pasti akan sembuh." Ucap Ana sambil meraih tisu untuk mengelap hidungnya.


"Padahal Mama meminta kita untuk ke London sekarang juga tetapi sayangku ini malah sedang sakit." Ucapku sambil membetulkan selimut Ana.


"Yosh, ada apa dengan mama?" tanya Ana sambil mengambil plaster penurun panas.


"Opa sudah sadar An. Dan ingin bertemu dengan kita secepatnya." Kataku.


"Benarkah? Ucap Ana terkejut.


"Sungguh sayang. Aku tak mungkin membawamu ke London dengan kondisimu seperti ini." Kataku sambil menatap wajah Ana yang menggemaskan dengan plaster di dahinya itu.



"Yoshi, aku ingin ikut menemui opa tetapi aku juga tak ingin membawa virus ke sana." Ucap Ana sambil menggigit bibir bawahnya dengan seksi. Jika saja dia tidak sedang sakit sungguh aku pasti sudah menerkamnya sejak tadi.


"Tidak sayang, kesehatanmu lebih penting. Untuk saat ini biarkan aku saja yang menemui opa." Ucapku sambil membelai wajahnya.


"Baiklah, maaf ya aku tak bisa menemanimu."Kata Ana dengan wajah yang mulai pucat.


"Jangan khawatir sayang. Jaga kesehatanmu, aku akan kembali secepatnya." Kataku, sebenarnya aku tak tega untuk meninggalkan Ana seperti ini. Tapi apa boleh berita tentang kesembuhan opa juga tidak kalah penting. Sudah lama aku menantikannya.


Aku pun berpamitan pada Ana. Entah mengapa rasanya berat sekali untuk meninggalkan dirinya.


"Sayang, telepon aku jika terjadi sesuatu. Jaga diri baik-baik. Aku tak akan memaafkanmu jika sampai hal buruk terjadi padamu. Ingat itu." Kataku berpesan kepada Ana.


"Iya Yoshi sayang. Jangan khawatir dan jaga dirimu juga ya." Kata Ana sambil mencium tanganku. Sungguh wajah manja itu membuatku malas untuk pergi kemana-mana sebenarnya.


***


Dua hari berlalu. Tibalah aku di London, segera kutemui Mama di apartmen.


"Mama... " Ucapku, sambil mencari dimana keberadaan ibuku itu.


"Yoshi. Kau sudah datang? Dimana Ana?" tanya mama sambil melihat ke sekitarku.


"Ana sedang sakit ma. Dia tak akan kuat bila Yoshi harus mengajaknya kemari." Kataku.


"Padahal Mama sangat merindukannya. Apa Ana sudah hamil?" tanya mama dengan wajah penuh harap.


"Belum ma, semoga sebentar lagi." Kataku, aku tau mama pasti akan menanyakan ini.


"Ya sayang, tak apa. Teruslah berusaha. Yosh, ayo kita ke rumah sakit sekarang. Opa sudah menunggu." Ucap mama, menunjukkan ekspresi kekhawatiran.


***


"Prince..." Ucap opa lirih, saat melihat diriku memasukki ruangan.


"Opa... Ya Tuhan, benarkah ini opa?" kataku sambil berlari memeluknya, aku tak percaya opa benar-benar sudah sadar.


"Prince, dimana cucu menantuku itu?" Tanya opa membalas pelukanku.


"Ana sedang sakit opa. Astaga Ricko sangat merindukan opa selama ini." Kataku aku masih sibuk memperhatikan bahwa pria tua kesayanganku ini benar-benar sudah sadar dari tidur panjangnya.


"Prince, akhirnya kau bisa menikahi princess idamanmu itu. Opa bangga padamu." Kata opa, ternyata saat itu opa mendengar perkataanku.


"Jadi opa bisa mendengar selama ini?" tanyaku heran.


"Kau pikir opamu ini tuli? Dasar cucu tengik!" Jawab opa, ia mulai terlihat seperti biasanya.


"Maaf opa. Ricko pikir opa tak bisa mendengar apa-apa selama koma." Kataku.


"Prince, mengapa kau bisa bertindak bodoh?" Tanyanya dengan wajah keriputnya yang keheranan.


"Bertindak bodoh bagaimana maksud opa?" tanyaku tak mengerti.


"Ricko.. Taukah kau bahwa selama ini Pramuja tidak bersalah." Kata opa sambil menatap mataku.


"A-apa maksud opa?" tanyaku. Aku berharap aku salah dengar.


"Ya, Pramuja Aditama, ayah mertuamu itu tidak bersalah. Mengapa kau membuatnya menderita selama ini?" kata opa dengan yakin.


"Bagaimana opa bisa tau jika Pram tidak bersalah? Bukankah dia yang telah memberikan tuduhan palsu pada papa saat itu?" Tanyaku mencoba memastikan.


"Tidak prince . Tidak seperti itu. Lihatlah kau bahkan telah membuat Ana juga mengalami banyak kesulitan karena ulahmu." Ucap opa, aku semakin bingung dibuatnya.


"Bagaimana opa bisa tahu?" Tanyaku lagi.


"Ibumu yang sudah banyak bercerita selama ini. Hingga membuat opa geram padamu. Seketika opa terpacu untuk segera tersadar dari tidur panjang ini. Kau ini tampan tetapi bodoh!" Kata opa sambil menatapku dengan kesal.


"Opaa.. Ricko sangat bingung saat itu. Hingga melakukan hal-hal bodoh kepada Ana dan keluarganya. Opa, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada papa." Kataku, aku semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi saat itu.


"Setelah kau mengetahui semuanya, berjanjilah untuk segera meminta maaf kepada Ana dan ayahnya. Atau kau akan kehilangan Ana setelah ini." Kata opa sambil menghela nafas panjang.


"Opa cepatlah katakan. Jangan membuat Ricko takut seperti ini." Kataku, memohon kepada opa.


"Saat itu, di hari ayahmu meninggal opa memeriksa laptop di ruang kerja papamu. Opa memeriksa satu filei, di file itu tertulis jika seseorang sedang menggunakan data diri papa untuk membobol data penting negara.


Polisi cyber dan BIN tau tentang ini. Hingga meminta papamu untuk melapor dan memberikan keterangan di kantor polisi.


Jadi intinya ada hacker lain yang berada di balik kasus ini. Pramuja seorang agen rahasia itu sedang mencoba menyelidikinya dengan meminta keterangan dari papamu bukan menjadikan papamu sebagai tersangka melainkan sebagai saksi mata untuk sementara." Jawab opa dengan detail.


Deggg....


Aku tak dapat berkata apa-apa saat mendengar semua itu. Rasanya ribuan batu sedang menjatuhi kepalaku memberikanku hukuman atas perbuatanku selama ini.


"Tapi opa, jika memang demikian mengapa dengan mudahnya polisi menerima laporan pencemaran nama baik yang Ricko ajukan untuk Pram saat itu?" tanyaku dengan heran.


"Apa kau yakin polisi menerima laporanmu? Atau jangan-jangan polisi memang tidak memprosesnya mengingat laporanmu itu tidak memiliki dasar dan landasan yang kuat." Jawab opa. Astaga kenapa aku tidak berfikir hingga ke sana.


"Benar opa, tapi gara-gara laporan itu, Pram harus mengalami serangan jantung." Kataku masih dengan kebingungan.


"Sudahlah Ricko, saran opa cepat minta maaf kepada Ana dan keluarganya sekarang juga. Akui kesalahanmu selama ini. Sebelum semuanya terlambat." Ucap opa.


Hari itu juga aku langsung terbang ke Indonesia. Aku harus segera pulang menemui Ana. Setelah itu baru bertemu dengan Pramuja. Yang terpenting sekarang adalah aku harus meminta maaf kepada Ana.


Di sisi lain ada rasa takut di hatiku menebak-nebak bagaimana nanti reaksi Ana saat mengetahui semuanya. Apa pun yang akan terjadi yang jelas aku harus jujur pada Ana, mengatakan semuanya sehingga tak ada lagi yang rahasia di antara kami berdua.


****


Jakarta, pukul 4 sore


Aku tiba di mansion.


"Sayangg... " teriakku ambil menaikki anak tangga. Kumasukki kamar dan Ana tidak ada, di kamar mandi pun ia juga tak ada. Aku mulai panik.


"Niluh, dimana Nyonya?" tanyaku mulai panik.


"Nyonya pergi tuan... " Jawab Niluh dengan ketakutan.