
Yoshi POV
Sejak semalam tak satupun pesanku yang dibalas oleh Ana, aku terus menghubungi bapak, ibu dan Luna, meskipun mereka semua berkata jika Ana baik-baik saja tetapi aku tetap merasa tak tenang.
Bagaimana pun seharusnya Ana dapat memberiku kabar akan dirinya sendiri, bukan malah mengacuhkanku. Aku tau mungkin diriku terlalu posesif, aku hanya tidak terbiasa untuk berjauhan dr Ana dengan kondisinya yang sedang hamil tua seperti ini.
Mengingat setiap kali kami berjauhan keadaanya selalu tidak baik-baik saja.
Akhirnya sebuah notif pesan masuk pun muncul.
My Sunshine : Mas, maaf ya aku baru bisa membalas pesanmu sekarang. π
My Sunshine : Aku ketiduran di kamar Luna Mas.
Aku : Bagus, sekalian saja kau buang ponselmu itu.
My Sunshine : Mas, jangan marah π°
...Satu menit berlalu......
My Sunshine : πππ
...Satu jam berlalu......
My Sunshine : Mas, jadi kau benar-benar marah ya?π
...Dua jam berlalu...
My Sunshine : Mas, balas pesanku pliss! π
Aku sengaja tidak membalas chatnya. Biarkan dia belajar untuk tidak mengabaikan pesanku. Sudah kukatakan untuk selalu mengaktifkan ponselnya, bukannya malah kabur semalaman tanpa mengatakan apapun kepadaku. Setidaknya ia bisa mengatakan jika dirinya akan tidur atau sedang bersama Luna, maka aku tidak akan khawatir seperti kemarin.
Ana terus saja mengirimku pesan, namun tak satupun yang kubalas, sekarang ia tau rasanya diacuhkan. Aku yang begitu mengkhawatirkannya dan dia yang begitu tidak perduli padaku sama halnya ia tidak mengharagaiku sebagai seorang suami. Entah sudah berapa kali dia melakukan ini, menganggap semua pesan dan perkataanku sebagai sesuatu yang tidak penting.
My Sunshine : Mas, sampai kapan kau akan merajuk?" π
My Sunshine : Bahkan kau juga tak mau mengangkat teleponku. πͺ
My Sunshine : Massss!
My Sunshine : Ah sudahlah π€
My Sunshine : Dasar egois !π€§
Lihatlah, dia masih saja tidak mau mengakui kesalahannya dan mengatakan jika aku egois? Yang benar saja, dialah yang egois selama ini. Bahkan dulu saat aku berpesan padanya untuk tidak keluar rumah. Dia pun melanggar pesanku dan tetap keluar ke mall bersama teman-temannya.
Dulu ketika aku memintanya untuk tetap berada di mansions dia pun melanggarnya lagi dan tetap keluar untuk membeli rujak bersama Jenny, hingga anak buah Nathan Lee hampir saja membawanya pergi, dia begitu ceroboh membahayakan dirinya hanya untuk hal yang tidak penting.
My Sunshine : Mas, hentikan acara ngambekmu ini!
My Sunshine : Angkat teleponku sekarang juga!!
My Sunshine : Aku lelah Mas!" πͺ
Sungguh aku bisa membayangkan betapa wajah cantik itu sedang kesal karena aku tak membalas pesannya. Jujur aku ingin sekali tetap mengacuhkannya seperti ini, aku suka melihat Ana mengejar-ngejar diriku karena Ini sungguh langka dan jarang terjadi.
My Sunshine : Baiklah, jika itu maumu. Aku tidak akan menelepon atau menghubungimu lagi. π€
My Sunshine : Silahkan saja lanjutkan aksi ngambekmu itu.
My Sunshine : Jika baby menanyakan dimana papanya, aku tidak akan menjawabnya.π
Dia terus saja mengomel dalam bentuk tulisan, meskipun itu hanya chat tetapi aku bisa merasakan kekesalan Ana padaku. Dan apa katanya? Dia bilang baby menanyakan dimana diriku, bukankah baby baru bisa menendang. Aku benar-benar gemas melihat isi pesan Ana itu.
Akhirnya aku pun melakukan panggilan video. Dan dia langsung mengakatnya.
"Sayang," ucapku sambil melihat wajahnya.
"Akhirnya menelepon juga?" tanyanya dengan nada datar.
"Hey, wajahmu hanya terlihat setengah. Arahkan kameranya dengan benar!"
"Mas, kau sangat menyebalkan!" ucapnya masih dengan wajah cemberut.
"Bukankah aku yang seharusnya marah?" tanyaku.
"An, arahkan kameranya dengan benar, aku ingin melihat wajahmu dengan jelas."
"Tidak mau, kau saja tidak membalas pesanku. Mengangakat teleponku saja tidak !" dan aku pun berbalik menyerangnya.
"Sekarang tau kan rasanya diacuhkan?" ucapku.
"Tau rasanya jika segala perkataanmu tidak kuanggap?!"
"Sekarang kau juga tau rasanya diabaikan dan segala pesan darimu tidak satupun kubalas!" aku sungguh lepas kendali, memarahi istriku yang sedang hamil itu.
Hening...
Tak ada jawaban dari Ana.
"An.."
"Ana..."
"Halo.."
Ana tidak meresponku, namun aku bisa mendengar suara isak tangis.
"Sayang.. "
"Sayang, apa kau menangis?" tanyaku.
"Sayang, bicaralah."
"Mas, jadi kau ingin membalasku?" ucapnya masih tidak mau menunjukkan wajahnya.
"Bukan begitu sayang,"
"Ya, benar kau ingin membalasku. Hikss," ucapnya sambil menangis.
"Sayang, dengarkan aku. Aku hanya ingin memberimu pelajaran saja. Bukan untuk membalasmu atau apa,"
"Ayolah, mengapa jadi aku yang bersalah di sini?"
"Sayang..."
"Baiklah, baiklah aku yang salah. Aku minta maaf ya, Bumil," ucapku akhirnya aku yang mengalah.
"Begitu saja lama sekali kamu Mas!" ucapnya, kini ia mulai memperlihatkan wajahnya. Mata cantik itu membekak dan hidungnya memerah, sungguh aku ingin tertawa melihatnya.
"Sayang, wajahmu sangat menggemaskan, kenapa sekarang kau begitu cengeng ha?" tanyaku.
"Jadi kau juga ingin mengejekku sekarang, Mas?"
"Astaga, aku jadi bingung harus berkata apa padamu An. Aku selalu salah di matamu,"
"Ayolah, kita baikan ya?"
"Tidak mau!"
"Iya-iya! maafkan aku Mas, aku akan membalas pesanmu setelah ini,"
"Iya, sudah ya. Jangan menangis lagi."
"Hapus air matamu,"
"Apa baby menanyakanku hari ini?" tanyaku menggodanya.
"Iya, setiap saat ia selalu menanyakan dirimu Mas," ucap Ana masih dengan sisa-sisa air mata di wajahnya.
"Benarkah?"
"Benar, dia selalu menendang saat aku menyebut namamu."
"Ah sayang, semoga hari cepat berlalu agar aku bisa segera kembali kepada kalian,"
"Iya Mas, aku merindukanmu. Jaga diri ya,"
"Tentu sayang, aku meeting dulu ya. Ingat pesanku tadi!"
"Iya bawel," balasnya dan aku pun menutup panggilan video itu.
***
Meeting berakhir, cukup melelahkan ternyata. Terlebih lagi tanpa ada David di kantor. Aku pun bersiap untuk pulang ke mansions. Namun, tiba-tiba David datang ke ruang kerjaku.
"Selamat sore tuan," sapanya memasukki ruanganku.
"Selamat sore David, kau sudah kembali?"
"Sudah tuan," jawabnya lemas. Seperti tanpa semangat.
"David, kau terlihat sangat lemah. Sebaiknya kau pulang saja."
"Tidak tuan, saya hanya merasa sedang risau saja,"
"Risau?"
"Ya, tuan. Saya bingung harus melalukan apa," jawabnya sambil menatap ke jendela.
"Apa kau butuh bantuan keuangan Dav?"
"Bu-bukan tuan. Bahkan gaji yang anda berikan saja itu terlalu besar nominalnya untuk saya."
"Lalu apa masalahnya?" tanyaku sambil meminum kopiku.
"Sa-saya sudah menghamili seorang gadis, tuan."
"Apa?!" hampir saja aku menyemburkan kopiku ke wajahnya.
"Co-coba ulangi lagi David?"
"Benar tuan, saya telah menghamili Dianna,"
"Dianna teman Ana? Dianna gadis Bali itu?" tanyaku, memperjelas.
"Ya tuan, Dian teman nyonya."
"Tapi, bagaimana mungkin?"
"Maksudku, benarkah kau melakukan itu padanya?"
David pun menatapku, membuatku jadi tidak enak saja karena telah meragukannya, pasalnya sejak belia David sudah bekerja dengan papa, dan aku tau karakternya. Sebab usia kami tidak begitu jauh.
Dan mendengarnya berbuat hal itu kepada seorang wanita. Sungguh tak dapat kupercaya. Aku saja selama ini bisa menahan sekuat tenaga hasratku pada Ana sebelum pernikahan bahkan setelah pernikahan pun aku menahan diri hingga Ana benar-benar siap. Sungguh David lebih berani dari pada diriku. Asistenku ini telah mengalahkanku. Haha.
"Iya tuan, dan saya ingin bertanggung jawab atas perbuatan saya."
"Lalu apa yang kau ragukan? Menikahlah dengan Dian, tunggu apa lagi Dav?" tanyaku.
"Masalahnya Dian tidak mau menikah dengan saya tuan,"
"Apa kau bercanda? biasanya jika terjadi kasus seperti ini, sang gadislah yang menuntut tanggung jawab pria. Mengapa kali ini malah sebaliknya?"
"Saya juga tidak tau tuan, sepertinya Dian sangat marah kepada saya. Sebab setelah kejadian di malam itu, saya langsung pergi dan tidak pernah menghubunginya lagi."
"Apa? David kau sangat tidak bertanggung jawab!" ucapku hampir saja kopi ini tersembur kambali.
"Bukan seperti itu tuan, saat itu saya sedang mabuk dan begitu juga dengan Dian."
"Saya benar-benar tidak bermaksud untuk tidak mencarinya."
"Ya sudah, jika begitu kembalilah ke Bali dan katakan pada Dianna jika kau sungguh serius ingin menikahinya," saranku pada David.
David pun nampak berfikir, kemudian aku meninggalkannya. Mungkin dia sedang butuh waktu untuk sendiri dulu. Baiklah, mungkin akan butuh waktu lebih dari seminggu untukku berada di kantor, karena ketidakhadiran David dalam meeting penting beberapa hari ke depan.
Terpaksa, aku belum bisa kembali menemui istri dan calon anakku. Semoga saja David segera menyelesaikan masalahnya.
Aku pun kembali menelepon Ana.
"Sayang, sepertinya akan butuh waktu lebih lama lagi untukku berada di sini"
"Kenapa Mas?" jawabnya di seberang sana.
"Kau ingin membalasku lagi ha?" membentakku.
"Jahat kamu Mas!"
"Hikss!"
Astaga, padahal baru saja beberapa yang menit lalu kami berbaikan. Sekarang sudah seperti ini lagi. Ana sangat sensitif sekarang dan mudah sekali tersinggung, semoga saja setelah kelahiran baby, istriku itu akan kembali seperti semula. Meskipun aku juga bahagia mendapati sisi manjanya seperti ini.
"Sayang, David sedang tidak bisa berada di kantor untuk sementara waktu,"
"Kau bohong mas!" ucapnya, masih saja kesal.
"Sungguh sayang,"
"Baiklah, aku akan menelepon David untuk memastikannya!" balasnya.
Aku pun kembali masuk ke kantor dan naik ke ruanganku untuk menemui David agar apa yang kukatakan pada Ana tadi sesuai dengan jawaban David nantinya.
Halo genk, maaf ya episode akhir-akhir ini isinya hanya uwu-uwuan. Aku lagi males bikin konflik genk. Jadi biarkan saja Yoshana seperti sedang kembali ke masa remaja. Ngambek-ngambekan gak jelas. Maklum saja kan dulu pas masih SMA belum sempat main pacar-pacaran karena author yang terus menggagalkannya.π€£π€£
**Makasih ya atas dukungannya untukku, untuk Yoshan, sehat selalu kalian genkβ€
Mau promo lagi ya, karya temanku yang keren ini.
Judul Segenggam Luka karya Kak Teh Ijo, semoga sukaππ**
**21+ [ HARAP BIJAK DALAM MEMBACA ] Pita, begitulah biasa ia di sapa. Wanita bernama lengkap Pitaloka Siregar keturunan suku batak yang menemukan jodohnya di Yogyakarta.Sudah hampir setahun Pita menikahi lelaki yang sangat ia cintai. Bahkan demi membuktikan cintanya pada sang suami, Pita yang terlahir dari keluarga Non Muslim rela meninggalkan agamanya demi bisa bersatu dengan orang yang dia cintai. Danar Prasetyo, sosok laki laki yang berhasil meluluhkan hati Pita dan mencintai Pita karena keramahan dan kelembutannya. Setelah menikah keduanya hidup bahagia jauh dari perdebatan dan pertengkaran. Danar begitu tulus mencintai Pita. Bahkan setelah menjadi istri Danar, Pitaloka tidak di izinkan lagi untuk bekerja karena sudah sepantasnya seorang istri hanya mengurus rumah dan suami saja. Namun setelah kedatangan Jihan sahabat Pita, hubungan rumah tangga Danar dan Pita sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Apakah Pita bisa menerima atas perlakuan Danar? Ikuti kisahnya ya β€
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, SEGENGGAM LUKA, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1775651&\_language\=id&\_app\_id\=2**