
"Kau itu egois Yosh! sangat egois!" ucapku.
"An, bisakah kita bicara baik-baik?"
"Ya,baiklah. Tetapi aku tak suka tindakanmu pada Reza." Kataku, aku sangat kesal pada Yoshi yang selalu saja merasa cemburu pada Reza.
Aku pun duduk di sofa bersamanya. Aku mulai melihat urat kehijauan itu muncul kembali setelah lama menghilang.
"Yosh, kenapa kau memukul Reza? Apa salahnya?" tanyaku.
"Kau masih bertanya apa kesalahannya An? Dia menyukaimu bahkan mungkin mencintaimu sejak lama!"
"Sebagai seorang suami apa aku harus diam saja melihat istriku didekati orang lain?" ucap Yoshi, semakin menunjukkan amarahnya.
"Yosh, tetapi dia temanku. Aku yakin dia hanya menganggapku teman dan tidak mungkin berniat untuk merusak rumah tangga kita!"
"Aku bahkan sudah mengenalnya sejak pertama kali aku bekerja di kapal dulu, dia hanya menganggapku teman Yosh, Reza bukanlah tipe orang yang mudah jatuh cinta. Karena tingkat kenarsistikannya sangat tinggi!"
"Jadi kau membelanya sekarang An?"
"Hanya sesama lelaki yang tau mata lelaki lain berfungsi jika kau tau." Ucap Yoshi, membuatku tak mengerti.
"An, apa kau tau mengapa dulu aku mengejarmu hingga ke kapal itu? Hingga aku harus melamar pekerjaan di sana juga, sebagai IT Manager, padahal kau tau posisi apa yang kumiliki di sini."
"Apa kau tau An?"
Aku terdiam, mengingat masa itu. Memangnya kenapa Yoshi harus ikut bekarja di sana bersamaku saat itu.
"Bukankah karena uang? kau sangat mata duitan Yosh!" jawabku serampangan.
"Karena saat itu David melapor bahwa seorang staf dari kantor kru mencoba mendekatimu. Dan orang itu adalah Reza"
"Permainannya sangat halus, dengan berpura-pura menjadi temanmu, memberikan apa pun yang kau butuhkan dengan tingkah sok cueknya. Cih pengecut!" Yoshi masih saja menghina Reza.
"Cukup Yosh, kau sangat lebay!"
"Hentikan perdebatan ini, aku lelah aku hanya ingin istirahat. Dan jangan ganggu aku." Ucapku sambil memintanya untuk pergi.
"An, aku ingin kita selesaikan masalah ini sekarang juga. Tolong mengertilah."
"Aku tak ingin masalah ini berlarut-larut. Kita sedang dalam masa tidak baik-baik saja, para penjahat itu masih ada di sekitar kita. Tolong jangan menambah rumit keadaan, sayang." Ucap Yoshi kembali membahas hal yang membosankan itu lagi.
Sementara di luar kamar terdengar mama memanggil nama kami.
"Yoshi ! Ana !" terdengar suara mama di depan pintu. Dan Yoshi pun membukanya.
"Yosh, ada tamu mencarimu di bawah. Cepat keluar dulu, nanti lanjut lagi kegiatan panasnya." Kata mama, ya benar ucapan mama tentang kegiatan yang sangat panas ini, sepanas hatiku. Dan semua terjadi karena Yoshi.
"Ya ma, sebentar ini masih nanggung !" jawab Yoshi sambil menatapku.
"Dasar! jangan lama-lama Yoshi, kasian Ana itu sedang hamil. Satu ronde saja. Awas saja jika cucuku terganggu!" Astaga mama sedang salah paham rupanya.
"Cepatlah keluar Yosh, mungkin saja itu penjahat yang kau maksud yang datang." Ucapku.
"Sayang, nanti kita bicara lagi ya. Apa kau mau ikut melihat penjahat itu?" kata Yoshi, dia sedang ingin mencairkan suasana rupanya.
Yoshi pun turun ke bawah untuk menemui tamu tersebut dan aku berbaring lagi di tempat tidur, aku sungguh malas saat ini. Pikiranku sedang kacau mengingat Celine yang entah bagaimana bisa berada di mall bersama Yoshi kemarin.
Meskipun Yoshi menceritakan bahwa itu hanya kebetulan, tetapi hatiku masih tidak tenang rasanya hormon kehamilan ini begitu menyiksaku, kadang membuatku bahagia tanpa sebab, terkadang juga membuatku bersedih tanpa sebab.
Kemudian Niluh datang ke kamar dan menawarkan sarapan.
"Nyonya, apa anda mau sarapan sekarang?"
"Tidak Niluh, aku belum lapar," jawabku.
"Makanlah nyonya jika tidak, saya akan dimarahi tuan dan nyonya besar," Niluh memohon kepadaku, astaga gadis ini selalu saja jadi bulan-bulanan Yoshi jika bersangkutan denganku.
"Jika tidak, nyonya bisa makan cemilan dulu."
"Memangnya cemilan apa Niluh?" tanyaku, penasaran.
"Ada snack untuk bumil, nyonya."
"Ah, aku bosan, apakah ada yang lain?" tanyaku.
"Mmm sebenarnya saya punya pie susu Bali dari rumah, kemarin ibu saya mengirimkannya via pos. Apa nyonya mau mencobanya?"
"Sepertinya itu enak Niluh, aku pernah memakannya dulu saat Dian membawanya ke kapal. Boleh aku minta punyamu?" tanyaku, antusias.
"Tentu nyonya, akan saya ambilkan dulu."
Beberapa menit kemudian
"Nyonya, ini dia pie susunya," ucap Niluh, memberikan kue itu kepadaku, aroma mentega dan vanilla dari vla susu itu sangat menggodaku.
"Baby, kita akan pergi ke Bali sekarang juga melalui pie susu dari bibi Niluh ini," bisikku pada perutku sebelum akhirnya aku menggigit satu pie dari piring.
"Sehat selalu nyonya dan baby bos" ucapnya sambil tertawa.
"Niluh, ini sangat legit. Kau tau, base kue ini gurih dan kering dan isianya pun sangat lembut dan tidak terlalu manis, apa ibumu yang telah membuatnya?" tanyaku.
"Benar Nyonya, saya akan meminta ibu untuk membuatkan lebih banyak lagi jika nyonya menyukainya." Jawabnya sambil tersenyum.
"Kau sangat manis Niluh, aku akan meminta Yoshi untuk menaikkan gajimu. Haha,"
"Ah, tidak perlu nyonya,"
"Apa kau tau siapa tamu Yoshi yang baru datang itu?"
"Tidak tau nyonya, tetapi dia seorang wanita."
"Oh iya? siapa ya?" jawabku, sambil berfikir.
"Jika tidak salah tuan memanggilnya dengan miss Celine."
"APAA?!"
Seketika aku menghentikan acara makanku, kuremas pie susu yang berada dalam genggamanku itu.
"Celine, beraninya kau !" Ucapku lirih.
"Nyonya, ada apa?"
"Celine kau benar-benar mencari masalah denganku." Aku terus berbicara sendiri tanpa memperdulikan Niluh, segera kuraih sepiring pie susu itu dan membawanya keluar kamar.
"Nyonya, anda mau kemana? Jangan berlari!" Niluh mengikutiku dari belakang
Kuturuni anak tangga satu persatu dan ternyata benar di ruang tamu kulihat Yoshi dan Celine sedang duduk berhadapan. Aku pun terus berlari dan jarakku dengan mereka semakin dekat.
"Nyonya! jangan berlari seperti itu!" teriak Niluh, dan membuat Yoshi dan Celine seketika melihatku.
Prangg.
Kubanting piring berisi pie susu itu di hadapan Celine.
"Sayang, kau .. Bukankah kau bilang ingin beristirahat di kamar?" tanya Yoshi, dengan raut wajah gugup.
"Ah iya bagus Yosh, kau ingin aku istirahat di kamar sehingga dirimu bisa berduaan dengan wanitamu ini !!"
"Ny-nyonya Ana, saya kemari hanya untuk memberikan ini saja," ucap Celine sambil menunjukan sebuah kotak makan,
"Ini salad buah buatan saya nyonya," katanya pelan sambil menunjukkan kotak bening di atas meja.
"Oh jadi kau ingin memberikan hasil masakanmu ini untuk suamiku ha?" sungguh tersulut emosi melihat semua ini.
"Yosh, aku tau aku memang tidak pandai memasak.Tapi setidaknya katakan padaku jika kau ingin sesuatu buatanku, bukan malah meminta pada wanita ini!" aku sungguh kesal dan tidak bisa menahan air mataku.
Bisa-bisanya Yoshi tidak memberitahukanku jika Celine datang kemari. Jika saja Niluh tidak memberitahuku tentang ini, mungkin saja wanita ini akan lebih leluasa untuk menggoda Yoshi tanpa diriku.
"Nyonya, jangan salah paham. Tuan Yoshi sama sekali tidak bersalah bahkan kedatangan saya kemari hanya untuk meminta maaf saja kepada anda."
Entah kenapa tanganku ini sangat gatal ingin menghajarnya. Dia pikir aku tidak tau ilmu jerat jenis apa yang ia gunakan untuk menjerat suamiku. Aku memang tidak bisa bela diri seperti Luna tetapi adikku itu sudah mengajariku untuk melawan pelakor berdarah dingin sepertinya.
"Dasar ! Kau ini ingin cari mati atau apa ha?" berani-beraninya menjerat mangsamu di kediamannya sendiri, di hadapan istrinya sekaligus!"
"Beraninya kau Celine, lihatlah aku akan membuat kepalamu menjadi botak saat ini juga!!" ucapku sambil menjambak rambutnya.
"Akhh nyonya sakit!" teriaknya .
"Apa? kenapa ha? balas aku jika berani!" aku terus menjambak rambut panjang kecoklatan itu sekuat tenagaku. Dan sepertinya dia juga ingin membalasku.
"Astaga sayang! Ya ampun, bagaimana ini! Celine, pliss jangan membalas Ana!" Kata Yoshi sambil memegangiku berusaha meleraiku dan melepas cengkramanku pada rambut Celine.
"Apa Yosh! biarkan saja dia membalasku. Kau pikir aku lemah ?!" aku terus mencengkram rambut itu hingga dia tidak mampu melawanku.
"Niluh !! Niluh !! cepat bantu aku!" ucap Yoshi meneriakki Niluh yang sedang bengong melihat pertikaian ini.
"Niluh !! jangan diam saja !!" Yoshi pun semakin kacau.
"Ha iya tuan, maaf saya hanya sedang shock saja!" kata Niluh.
Kini Niluh berusaha melepaskan tanganku dari rambut Celine yang mungkin sudah berkurang lima puluh persen dari semula.
"Niluh, biarakan aku memberinya pelajaran!!"
Yoshi, terus memegangi tubuhku dan ketika Niluh berhasil membantu Celine untuk lepas dariku, Yoshi pun segera mengangkat tubuhku.
"Niluh, tolong bawa Celine keluar sekarang juga!" ucap Yoshi sambil menggendongku ke kamar.
"Yoshi, kenapa kau melerai kami ha?"
"Yoshii! turunkan aku, aku akan menghabisinya sekarang juga!"
Tanpa mendengarku, Yoshi tetap membawaku ke kamar dan meletakkan tubuhku di kasur.
"Sayang, ya ampun. Apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan raut wajah sangat khawatir dan terkejut.
"Katakan, kenapa kau melukai Celine?"
"Kenapa katamu? Kau tau Yosh, Celine itu ingin menggodamu terus-menerus."
"Aku sudah cukup sabar dari kemarin, bahkan Evelyn bilang jika Celine menggunakan fotomu dan dirinya di kapal kemarin pada akun medsosnya hingga saat ini!"
"Astaga kau salah paham sayang!"
"Lihatlah masalah kita bahkan belum selesai dan sekarang kau ingin menambahnya lagi?" ucapku.
"Kau mencurigai orang yang salah sayang." Ucap Yoshi sambil memelukku.
"Kau tak tau Yosh, hanya wanita yang bisa melihat bagaimana mata wanita lain berfungsi."
"Ya Tuhan An, apa maksudmu?"
"Jika kau terus saja membela Celine, maka aku juga akan menghajarmu sekarang!"
Hajar aja An !! mau Yoshi mau Celine pokonya hajar aja !! serang !!! wkwk.
Es dulu dong biar adem sambil nonton acara jambak-menjambak🤣🙏
Haloo kakak sekalian, maaf ya kemarin tidak sempat Up, terimakasih ya atas dukungannya sejauh ini. Oiya ada rekomendasi novel bagus nih untuk kakak semua.❤❤
Ketulusan cinta karya Kak NN sy
Dan satu lagi Dear Keenan karya Kak Esa Aurelia yang gak kalah keren. Muchas Gracias genkk. Selamat berhari senin!!!😘😘😘