My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Kesal part 2



Semakin hari hubunganku dengan Ana semakin sesuai dengan ekspektasiku. Dia bahkan mengurusku dengan sangat baik dari makanan, pakaian dan keperluanku yang lain. Aku bahagia tetapi juga ketakutan, takut bila fakta terungkap dan semua keindahan ini pun berakhir. Berulang kali aku ingin mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi selama ini. Namun sisi egoisku terlalu tinggi aku tak ingin kehilangan dirinya.


Hingga pada suatu hari muncul notifikasi dari aplikasi sadap yang telah kubuat untuk mengetahui aktifitas di ponsel Ana. Aku tersenyum mendapati bahwa istriku itu berhasil meraih penghargaan dari kapal.


Tentu saja dia akan memohon kepadaku untuk menghadiri acara itu. Aku sangat mengenal Ana, dia cukup antusias untuk hal semacam ini. Sesuai dugaanku sesampainya di rumah dia benar-benar memaksa untuk pergi ke acara itu, jika saja aku sedang tidak sibuk pasti aku akan menemaninya.


Aku sudah menduga, Ana pasti akan marah, kesal dan merajuk. Akhirnya aku pun mengijinkannya pergi. Ada satu rasa khawatir di hati bagaimana jika si cacing bernama Reza itu kembali mendekatinya. Akhirnya aku meminta David untuk menemani Ana, aku berpesan kepada David untuk terus memantau keadaan Ana.


Hari kedua setelah kepergian Ana ke Amsterdam, aku sangat khawatir tidak ada kabar darinya sama sekali. Apakah dia sudah tiba di sana atau belum, apakah kapal sedang dalam keadaan baik-baik saja atau tidak, mengingat bulan ini banyak terjangan badai di wilayah itu.


Aku mencoba menghubungi David tetapi ponselnya juga tidak aktif, begitupun dengan nomor Ana. Panggilan dariku masuk tetapi tidak diangkat. Aku terus memeriksa ponselnya dari aplikasiku. Dan tak ada yang mencurigakan.


Aku cukup penasaran dengan mesin pencari di ponselnya. Akhirnya aku membuka history pencariaanya pada browser tersebut. Aku tertawa melihat ini. Sungguh Ana masih saja sepolos itu, tak pernah berubah sejak dulu.



Aku yakin semua pencarian ini adalah untukku. Tetapi saat kulihat history teratasnya. Aku mulai berfikir. Siapa yang ingin Ana lupakan. Apakah selama ini dia masih mencintai seseorang dan ingin melupakannya karena telah menikah denganku.


Astaga hal kecil ini sangat mengganggu. Apalagi saat aku tahu dia masih menamai kontakku dengan nama 'penagih hutang'. Kenapa tidak menggantinya dengan nama lain. Kukira Ana sudah mulai mencintaiku.


Aku mulai kacau memikirkan semua ini, sedang apa dia di sana, apakah cinta yang dimaksud olehnya itu adalah Reza. Apakah mereka sedang bersama saat ini. Arrghh.. Aku tak ingin frustasi, akhirnya kuputuskan untuk menyusulmya saja. Kulihat semua penerbangan penuh hingga hanya ada satu tiket direct ke Amsterdam.


Akhirnya aku pun memesan tiket itu.


Setibanya di Belanda, aku langsung melapor ke head office perusahaan itu untuk masuk ke kapal. Awalnya, itu sulit mengingat ini terlalu tiba-tiba, tetapi akhirnya mereka menyetujuinya meskipun aku harus masuk sebagai tamu bukan sebagai kru.


Masih sama seperti dulu, aku mendapat kamar VVIP lagi. Aku mencari David namun tidak juga kutemukan, akhirnya sebuah panggilan videocall dari Ana muncul. Dengan sigap aku mengangkatnya bisa-bisanya dia baru meneleponku saat aku sudah berada di sini.


Aku menahan amarahku saat berbicara dengannya dan tidak mengatakan jika aku sudah berada di kapal itu juga. Hatiku bahagia mendengar bahwa dia menyayangiku meskipun itu bukan kata cinta seperti yang kumau.


Akhirnya aku menyusulnya ke acara pemberian award itu. Dengan pakaian formal sesuai dress code yang ditentukan. Mataku terus mencari dimana keberadaan istriku itu. Hingga akhirnya seseorang menyapaku.


"Halo Mr.Yoshi," ucap wanita itu, aku melihat nama dadanya kemudian aku ingat jika dia adalah staf dari resepsionis.


"Halo Miss Celine," jawabku tentu saja aku tau namanya karena membaca nama dadanya lagi.


"Pak Yoshi, sedang sendiri?" tanyanya.


"Ya, saya sedang mencari istri saya." Ucapku menjawabnya. Kukira dia akan langsung pergi namun aku salah, wanita itu malah mengajakku untuk berfoto.


"Mr.Yoshi, ini hari terakhir saya berada di kapal ini. Bisakah kita berfoto? Saya ingin menjadikannya sebagai kenang-kenangan." Kata wanita bernama Celine ini. Akhirnya aku pun menerima tawaran itu, hanya berfoto. Kurasa tak akan menjadi masalah.


"Baik.." Ucapku, akhirnya kami pun berfoto. Mataku terus saja berkeliling mencari keberadaan calon ibu dari anak-anakku itu.


Aku sempat melihat Reza berjalan dengan membawa sebuah kotak biru di tangannya. Mataku terus mengikuti kemana langkah laki-laki itu pergi.


Seorang gadis cantik dengan gaun berwarna putih berdiri di hadapan Reza si cacing itu. Aku mengenali wajah itu, aku tau mata indah itu. Aku yakin itu Ana, dia di sana dan sedang mengobrol dengan Reza. Entah apa yang mereka bicarakan tetapi kemudian Reza memberikan kotak biru itu untuk istriku.


Dengan menahan amarah yang sejak tadi berhasil kuredam, saat aku ingin melangkahkan kaki menuju ke tempat istriku dan pria penggoda itu, tiba-tiba Celine mencoba menahanku. Aku tak tau mengapa wanita ini sungguh mengganggu.


"Mr. Yosh, bolehkah saya memposting foto kita di medsos?" tanyanya. Namun aku tak begitu mendengarkan apa yang dikatakan olehnya. Aku sangat sibuk memperhatikan Ana dan Reza dari kejauhan.


"Ya, boleh Miss, maaf saya sedang ada keperluan." Ucapku tanpa sadar padanya. Aku hanya ingin capat-cepat menjauhkan istriku dari cacing pita itu.


Sial, setelah sekian menit mencari tak juga kutemukan. Dimana Ana dan Reza. Bukankah tadi mereka ada di sini.


"Tuan ada di sini?" ucap seorang pria dari arah belakang.


"David, dari mana saja kau ha?" jawabku dengan kesal. Sungguh dia tak bisa diandalkan.


"Maaf tuan! Saya bersalah. Ponsel saya mati sejak kemarin." Jawabnya sambil menundukkan kepala.


"Bukankah aku memintamu untuk selalu mengawasi nyonya? Lalu apa yang kau lakukan sekarang?" tanyaku menuntut penjelasan.


"Tadi Nyonya sedang berada bersama teman-temannya. Jadi saya putuskan untuk pergi sebentar, tuan." Jawab David.


"Sudah kuperintahkan padamu. Jangan lengah David. Jangan lengah!" kataku, aku sangat kesal padanya.


"Maafkan saya tuan. Tetapi bukankah semuanya baik-baik saja?" tanyanya tanpa merasa berdosa.


"Baik-baik saja bagaimana? si cacing itu baru saja mendekati Ana jika kau tau!" ucapku dengan geram.


"Be-benarkah tuan?" tanya David.


"Kau ini benar-benar!" ucapku sambil pergi meninggalkannya.


Aku mencoba mencari Ana lagi. Tetapi tetap tidak berhasil akhirnya aku putuskan untuk turun ke kabinnya. Berharap dia ada di sana.


Sepanjang perjalanan aku sangat kesal membayangkan ketika Ana dengan mudahnya menerima pemberian dari Reza tadi, mengapa dia harus menerimanya.


***


"An, keluar!" ucapku sambil mengetuk pintu kabinnya. Tetapi tak ada jawaban dari dalam.


"Ana!!!" teriakku lagi.


Ceklek..


Pintu terbuka dan Ana keluar dengan wajah yang sama kesalnya denganku. Entah apa yang membuatnya kesal. Seharusnya akulah yang marah padanya. Aku pun masuk ke kabin itu dan menarik tangannya.


"Mana kotak itu?" tanyaku sambil melihat ke sekeliling. Namun seakan tak mendengar ucapanku, Ana tetap saja tak bergeming dan hanya diam menunjukkan rasa kesalnya.


"An, aku bertanya padamu. Jangan diam saja!" Kataku semakin marah. Namun bukannya takut Ana malah semakin diam dan memalingkan wajahnya dariku.


"Ikut aku sekarang!" Ucapku sambil menariknya dan membawa kopernya untuk ke kamarku. Aku tau ini adalah kabin double, sungguh tak baik bila keributan kami disaksikan oleh roommate Ana.


Sepanjang perjalanan ke kamarku tetap saja Ana tak mau bicara padahal aku terus memarahinya, ini membuat perasaanku menjadi tak enak saja.


***


"An, katakan dimana kotaknya?" tanyaku sambil mendudukkannya di tempat tidur.


"Cukup Yoshi! Kotak-kotak terus! .. Kotak apa maksudmu?" tanya Ana. Dia pura-pura tidak tau.


"Kotak dari si cacing pita itu?" tanyaku tanpa menyebut nama Reza.


"Kenapa memangnya?" Tanyanya menantangku.


"An, apakah pantas seorang wanita yang sudah bersuami menerima barang dari pria lain. Apakah pantas ha?" Kataku mulai mengikuti emosiku.


"Aku tidak menerimanya! aku sudah mengembalikannya." Katanya terlihat jujur tapi aku tak percaya.


"Apa katamu? Kau bohong An. Aku melihat kotak biru itu berada di genggamanmu." Kataku, mencoba mengingat-ingat lagi.


"Aku menitipkannya pada Evelyn untuk mengembalikannya pada Reza. Aku tau batasanku Yoshi. Aku tau batasanku! Tidak seperti dirimu!" Kata Ana, saat ini dia terlihat lebih marah dariku.


"Apa maksudmu? Aku pun tau batasanku. Sekarang aku akan memeriksa kopermu!" Ucapku, namun Ana langsung menghentikan langkahku.


"Jangan membuka koper itu! Kau tak akan menemukan kotak dari Reza di sana." Ucap Ana menghalangi langkahku.


"Akan aku buktikan." Jawabku sambil menepis tubuh Ana yang menghalangiku.


"Jangan Yosh, koperku adalah privasiku. Tolong hargai itu." Ucap Ana sambil memegangi koper itu seakan takut aku menyentuhnya.


"Apakah suami istri memiliki privasi satu sama lain. Kau sangat mencurigakan An. Menyingkirlah akan aku buktikan jika benar tak ada kotak itu di sini." Kataku, akhirnya Ana mau menyingkir dan memberikan kopernya padaku.


Setelah kuperiksa ternyata benar kata Ana, tak ada kotak itu di dalam kopernya, aku terus memeriksanya membuka beberapa tumpukan pakaian. Tetap tak kutemukan. Aku menyesal telah menuduh Ana demikian, tetapi jika memang tidak ada apa-apa mengapa wajah itu terlihat sangat khawatir.


Ketika aku hendak menutup koper itu, mataku menangkap sebuah kotak merah yang terselip pada net di dalamnya. Selagi Ana tak melihatku aku pun mengambilnya. Memperhatikan kotak merah berpita emas itu.


Kubuka perlahan..


Deggg...


Sebuah gelang Bali dengan 5 warna tergeletak di dalamnya. Rasanya air mataku ingin keluar begitu melihat benda ini. Rasa sedih dan bahagia begitu beregemuruh di dalam hatiku.


Aku ingat, akulah yang memberikan gelang ini pada Ana sepuluh tahun yang lalu di dalam kelasnya. Aku ingat saat Ana mengatakan "Terimakasih Mas Ikau" kepadaku saat itu.


Aku tak menyangka Ana masih menyimpan benda pemberianku ini, bahkan ia sampai membaawanya kemanapun ia pergi bersama kopernya. Haruskah aku mengakui semuanya padanya sekarang.



Yoshi be like "An, jika memang saat itu kau sama sekali tak memiliki rasa padaku. Mengapa kau masih menyimpan benda pemberianku ini? kenapa An?"


"Aku malas menjawabnya!! Dasar mata keranjang gak bisa lihat yang bening dikit !" Jawab Ana. wkwk


...πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯...


Mau promo Novel Baruku ya Kak, kisahnya masih lanjutan dari Novel ini. Kasih like, favorite, hadiah komen biar aku tau Novelnya pantas untuk dilanjutkan atau tidak.


Thankisss 😘😘😘




Selamat tahun baru 2022 untuk Kak Authors dan Kak Readers semuanya. Semoga di tahun yang baru ini menjadi tahun yang lebih baik untuk kita semua. Menjadikan kita sebagai sahabat, teman dan keluarga di dunia nyata dan dunia khayalan😘😘😘