My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Mari Berlatih



"Lunas!" Kataku kepada Yoshi dengan menunjukkan bukti transferan dari aplikasi m*ndiri mobile. Namun dia hanya melirik layar ponselku itu saja tanpa mengatakan apa pun.


"Yoshi, aku sudah melunasi semuanya, apa tanggapanmu?" kataku lagi dengan tetap berdiri di depan meja kerjanya sementara dia masih saja sibuk dengan layar komputernya.


"Duduklah dulu," katanya, memintaku untuk duduk. Aku pikir dia akan terkejut dengan aksiku hari ini tetapi tidak. Dia sangat tenang seperti telah mengetahui semuanya.


"Tidak, aku masih harus on duty." Kataku dengan tegas.


"Tenanglah An, jangan terburu-buru seperti itu. " Ucapnya masih saja setenang itu.


"Aku tidak ingin menunggu, cepatlah berikan surat perjanjian itu padaku." Ucapku berkaitan tentang surat perjanjian yang telah ditandatangani oleh ibu lima tahun yang lalu.


"Sayang, tenang dan duduklah. Aku perlu menjelaskan sesuatu padamu." Katanya mulai mengalihkan pandangannya kepadaku yang sejak tadi terfokus pada komputernya.


Tidak ada rasa kesal di mata itu, bahkan terlihat sangat biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa. Mungkin dia juga sangat bahagia karena telah menerima uangnya kembali.


"Jangan panggil aku sayang lagi. Ini terakhir kalinya aku memperingatkan dirimu. Tidak akan ada pernikahan, tidak akan ada lagi perjanjian konyol antara dirimu dan diriku lagi. Semuanya sudah selesai!" Kataku dengan kemantapan.


"Apa kau yakin tidak ingin menikah denganku?" Tanyanya.


"Ya, tentu saja." Ucapku dengan tegas.


"Yakin tidak akan menyesal? Aku khawatir setelah ini kau akan memohon untuk menjadi istriku." Ucapnya sambil tersenyum.


"Tidak akan!" ucapku kesal.


"Jika itu sampai terjadi aku akan menciumu An, " Kata Yoshi masih saja ber


"Tidak akan! Aku yang akan menciumu jika sampai itu terjadi." Ucapku, entah mengapa aku sangat yakin dengan ucapanku itu.


"Baik, akan kupegangang janjimu itu." Kata Yoshi.


"Sudah cukup. Sekarang berikan surat itu padaku." Kataku, aku ingin sekali segera keluar dari ruangan ini.


"Baiklah sayang, sesuai permintaanmu." Katanya sambil membuka laci mejanya dan mengambil map coklat kemudian memberikannya padaku.


Kuraih map itu dan membukanya, aku memeriksa setiap tulisan dari kertas itu khawatir jika Yoshi akan melakukan kecurangan.


Namun setelah kuteliti dengan benar, ternyata tak ada keanehan apa pun. Ini kertas yang sama. Yaitu surat perjanjian dengan tulisan asli tangan ibuku. Aku bersorak dalam hati. Akhirnya aku terbebas dari lintah penghisap ini.


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Tanya Yoshi.


"Bukan urusanmu. Kenapa? Mau mengadakan acara perpisahan denganku?" Kataku dengan bangga. Dan dia hanya tersenyum menanggapi pernyataanku.


"Aku takut kau akan merindukan Yoshimu ini An?"ucapnya dengan bangga juga. Aku heran apa yang sebenarnya dipikirkan olehnya saat ini. Mengapa dia sama sekali tidak kesal, mengingat rencana yang sejak dulu dia susun untuk menikahiku itu gagal seperti ini.


Aku yakin, selama ini memang dia hanya menggertakku saja, tetap saja uang yang menjadi alasan utama untuknya. Bahkan aku sempat berfikir bahwa dia benar-benar menginginkan diriku.Ternyata aku salah.


"Tidak akan. Menikah saja dengan gadis pujaanmu itu, mungkin saat ini dia juga sedang merindukanmu." Ucapku sambil mengingat-ingat foto di dompet Yoshi saat itu.


"Apa kau ingin aku menikahinya?" Tanyanya dengan mata yang terus menatap mataku.


"Mengapa tidak? Bukankah kau sangat mencintainya sejak dulu." Ucapku tanpa ragu.


"Ya. Aku sangat mencintainya. Sangat-sangat mencintainya." Ucapnya dengan penuh penekanan.


"Ya sudah. Menikah saja dengannya karena sekarang kau sudah melepaskanku. Jadi kau bisa mengejarnya dan memilikinya setelah ini." Kataku dengan mantap. Sebenarnya ada rasa aneh di hatiku seriap kali aku mengingat bahwa Yoshi memiliki gadis idaman di hatinya.


"Tenang An, setelah ini dia akan menjadi milikku seutuhnya. Itu pasti." Ucapnya masih dengan mata yang menatap mataku. Bahkan aku bisa melihat bayangan wajahku dari bola mata hitamnya. Seolah-olah gadis yang dimaksudnya itu adalah diriku.


Dasar aneh. Jika memang memiliki target lain mengapa selama ini dia harus sibuk memgejar-ngejar diriku.


Tanpa pikir panjang. Aku pun segera keluar dari kantor Yoshi menuju ke kabinku, tentu saja dengan map kemenangan di tanganku. Setelah ini aku harus menelepon Ibu untuk memberitahukan tentang kemenangan ini.


****


Tiba di kabin, waktu menunjukkan pukul 10 malam. Sepertinya di rumah saat ini sedang pagi hari. Aku pun men-dial nomor ibuku.


Tersambung...


Tut..


Tut..


Tidak diangkat, kucoba sekali lagi dan tidak angkat lagi. Akhirnya aku mencoba menelepon ke nomor Luna.


Tersambung...


Tut..


Tut..


Tut..


"Ya, halo Mbak.. " Terdengar suara adikku dari seberang sana.


"Hai Sayang. Lun, kenapa nomor Ibu tidak bisa dihubungi?" tanyaku pada Luna.


"Bisa kok Mbak, mungkin Ibuk sedang sibuk mengurus Bapak." Ucap Luna, yang entah mengapa suaranya agak lemas tidak seperti biasanya.


"Bapak kenapa An?" Tanyaku mulai khawatir dengan keadaannya.


"Bapak sempat kambuh lagi kemarin Mbak. Jadi Ibuk membawanya ke Rumah sakit lagi." Ucap Luna.


"APAA?!" ucapku kaget. Tapi kenapa Ibu tidak memberitahuku tentang ini.


"Mbak, jangan khawatir. Bapak sudah membaik sekarang. Tetapi masih dalam prngawasan intensif." Kata Luna, aku sedikit lega mendengarnya.


"Iya Lun, maaf ya Mbak jarang sekali menghubungi rumah. Mbak masih takut tentang perjodohan itu." Kataku dengan jujur mengingat Ibu sangat menyukai Yoshi sekarang.


"Mbak, kenapa tidak ingin menikah dengannya? Bahkan Kakak itu juga yang telah menolong Ibu kemarin, bahkan menolong Luna juga." Ucap Luna masih dengan suara paraunya.


"Apa maksudmu Lun?" tanyaku tak mengerti.


"Kak Yoshi sudah membantu biaya pengobatan Luna dan Bapak, Mbak. " Ucap Adikku pelan. Tentu saja aku terkejut mendengarnya.


"Memang Luna kenapa? Luna sakit apa? " tanyaku dengan nada tinggi sangat mengkhawatirkan keadaan Luna.


"Luna habis operasi usus buntu Mbak, dua minggu yang lalu dan semua biayanya ditanggung sama Kak Yoshi." Kata Luna, astaga adikku sakit dan aku sama sekali tidak tau.


"APA?! Kamu habis operasi?" tanyaku.


"Iya Mbak. Sekarang sudah dalam masa pemulihan kok. Mbak tenang aja. Maaf ya Mbak, kemarin gara-gara lihat Luna kesakitan sampai pingsan, Bapak jadi kambuh penyakit jantungnya. Ibu sengaja tidak memberitahu Mbak, soalnya takut Mbak Ana jadi khawatir." Ucap Luna dengan menangis.


"Ya ampun Lun, Mbak gak menyalahkan kamu kok. Jadi benar Kak Yoshi yang sudah menolong kalian kemarin?" tanyaku lagi, tidak heran jika akhir-akhir ini dia dan ibuku sering berbicara di telepon, ternyata Yoshi memang sedang membantu keluargaku.


Ada sedikit perasaan tenang di hati. Mungkinkah Yoshi sudah berubah. Aku tak tahu tetapi aku harus berterimakasih kepadanya.


"Eh mbak tapi, kayaknya kemarin itu Ibuk kayak menandatangani surat gitu deh, ya mirip Surat perjanjian yang kayak dulu itu." Jawab Luna, seketika pikiranku langsung tertuju pads Yoshi.


Aku yakin pasti dia telah melakukan sesuatu lagi terhadap Ibuku. Ya, itu pasti. Lagi-lagi dia telah memanfaatkan kelemahan kami. Pantas saja, tadi dia terlihat sangat tenang dan membebaskanku begitu saja.


Ternyata Yoshi memiliki rencana lain. Aku harus menemuinya sekarang sebelum semuanya terlambat. Setelah kututup telepon Luna, aku pun bergegas untuk ke kantor Yoshi lagi.


****


Tiba di kantor Yoshi, tidak ada orang di ruangan itu. Kulirik jam tanganku, sudah pukul 11 malam, tentu saja dia sudah off saat ini. Haruskah aku ke kamarnya malam-malam begini.


Tetapi mau bagaimana lagi, aku harus menemuinya saat ini juga untuk memastikan rasa penasaran dan kekhawatiranku.


Tiba di lantai tujuh, di depan kamar VVIP miliknya. Setelah mengetuk pintu. David keluar dari kamar itu dan mengatakan padaku,


"Silahkan masuk Nona, Tuan sudah menunggu." Ucap David sambil membukakan pintu dan berpamitan untuk pergi. Mendengar kata-katanya membuatku gugup. Aku merasa Yoshi sedang merencanakan sesuatu padaku. Aku pun masuk kamar yang berinterior fancy tersebut.


"Masuk Sayang." Terdengar suara Yoshi dari dalam. Dia sedang duduk di atas bed, kasur nyaman yang pernah kutiduri juga saat itu.


"Duduklah mari berlatih." Ucapnya sambil menepuk-nepuk bed itu.


"Apa maksudmu?" Jawabku masih tetap berada di dekat pintu.


"Berlatih menjadi suami istri. Memangnya apa lagi? " Jawabnya dengan senyuman mengembang.


"Bukankah kau sudah membatalkannya?" tanyaku. Perasaanku benar-benar tidak enak saat ini.


"Membatalkan apa? Kapan? Ayolah cepat kemari. Tiga hari lagi kita akan menikah. Mari berlatih." Ucapnya dengan senyuman yang semakin mengembang menghiasi wajah tampannya.