
Ana POV
Hari berganti, semua berjalan dengan normal. Sikap Yoshi pun seperti biasanya meskipun terkadang ia terlihat sangat sibuk dan lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor.
Beberapa kali aku bertanya tentang apa yang sedang terjadi, tetapi dia hanya menjawab bahwa sedang ada masalah di kantor. Rasanya aku ingin sekali menanyakan perihal pesan di ponselnya tempo hari, tetapi karena emosi Yoshi yang sedang tidak stabil akhirnya aku memilih untuk menunggu waktu yang tepat.
"Mas, ada masalah apa di kantor?" tanyaku.
"Tidak ada apa-apa sayang, kau tak perlu khawatir, aku sedang mengatasinya," jawabnya dengan mata yang masih sibuk menatap layar laptop.
"Tapi, kau terlihat begitu sibuk akhir-akhir ini. Aku mengkhawatirkanmu Mas."
"Kau bahkan belum makan apa-apa sejak tadi sore." Sejak pulang dari kantor Yoshi hanya sibuk berada di ruang kerjanya, ia hanya bergurau bersama kami sebentar. Lalu kembali ke ruangan itu hingga larut malam seperti ini.
"Aku belum lapar sayang," jawabnya singkat.
"Mas, ceritakan ada masalah apa?" Aku masih saja ingin tau. Sebab suamiku seperti sedang menutupinya dariku.
"Beberapa clients meminta pembaharuan sistem pada software yang telah lama mereka gunakan. Ini terlalu tiba-tiba An, dan mereka hanya memberiku waktu satu minggu."
"Mas, bukankah David bisa membantumu?"
"David, sedang ijin cuti selama satu bulan untuk menyelesaikan masalahnya dengan keluarga Dianna, sayang," jawab Yoshi.
"Mas, aku ingin bertanya. Seseorang mengirimkan pesan ke ponselmu beberapa hari lalu dan mengatakan jika kalian akan pergi ke Bandung, siapa dia Mas?" tanyaku, Yoshi pun segera meraih ponselnya dan memeriksa pesan itu.
Ia tampak berfikir.
"Itu, nomor sekretaris baru itu An,"
"Sekretaris baru?"
"Iya sayang, ia yang akan menggantikan David selama David cuti," ucap Yoshi sambil memasukkan ponsel itu ke sakunya.
"Mas, kau bahkan tidak mengatakan padaku jika dirimu sedang merekrut sekretaris baru,"
Sungguh aku merasa Yoshi tidak terbuka lagi padaku.
"Aku terpaksa menghire gadis itu sayang, karena aku memerlukannya. Kinerjanya cukup bagus dia bisa mengatasi permintaan clients yang akhir-akhir ini membuatku kewalahan."
"Oh sekretaris baru itu seorang gadis rupanya ya? Bagus sekali Mas, kau bahkan menyembunyikan hal sepenting ini dariku. Apa kau sengaja?" tanyaku, ini sudah hampir seminggu dan Yoshi baru mengatakannya sekarang.
Dan tentu saja ia seorang gadis, bukankah dimana-mana sekretaris itu selalu saja wanita. Bodohnya aku.
"An, tolong jangan mempermasalahkan segala hal yang tidak seharusnya menjadi masalah!" ucap Yoshi menaikkan intonasi.
"Apa kau bilang? Ini masalah Mas! ini masalah serius. Suamiku memiliki karyawati baru. Dan kalian berada dalam satu ruangan selama berjam-jam tanpa mengatakan apa pun padaku! Kau pikir aku ini patung?"
"Aku tau pekerjaan sekretaris Mas! Tentu kalian akan banyak menghabiskan waktu bersama, bukan?"
"Dan jika posisinya di kantor adalah untuk menggantikan David, maka ia juga mengambil meja David bukan? Faktanya David dan dirimu berada dalam satu ruangan!"
Yoshi memejamkan matanya menahan amarah, coba lihat apa yang akan ia katakan sekarang. Dia telah menggali lubang kuburnya sendiri.
"An, please jangan membuatku bertambah pusing. Aku sudah cukup pusing dengan urusan pekerjaan," ucapnya.
"Dia hanya sekretaris di kantor, kau tak perlu tahu karena memang itu tidak penting untuk diketahui sayang, bukan karena aku tak mau memberitahumu."
"Katakan, apa dia cantik? Berapa usianya? Apa dia lebih muda dariku?"
"Ayolah An, ini sungguh tidak penting! aku harus melanjutkan pekerjaanku. Bisakah kita membahasnya lain kali saja?"
Sungguh aku sangat ingin menampar wajah Yoshi, tak ada penyesalan sedikitpun yang ditunjukkannya padaku. Padahal ia telah menyembunyikan hal seperti ini dariku selama beberapa hari. Jika saja aku tak bertanya padanya tentu ia tak akan mengatakannya.
Tok
Tok
Tok
Seseorang mengetuk pintu. Dan aku memintanya masuk.
"Tuan, nyonya, maaf ini ada paket dari seseorang untuk tuan," ucap Niluh sambil memberikan tas itu kepada Yoshi.
"Apa itu Niluh?" tanyaku.
"Maaf saya kurang tau Nyonya, penjaga yang telah memberikannya pada saya untuk disampaikan kepada tuan."
"Niluh, kau bisa keluar sekarang," pinta Yoshi. Masih terdapat raut kekesalan pada wajah tampannya.
Yoshi membuka bingkisan itu dan aku pun melihatnya. Sebuah kain terlipat yang terbungkus plastik bening dikeluarkannya dari dalam, Yoshi tampak gugup saat membaca pesan yang tertulis pada kertas.
Segera kuraih kertas itu dari tangannya dan akhirnya darahku kembali mendidih.
...Pak Ricko, maaf telah mengganggu istirahat anda. Saya mengembalikan jas anda dengan ribuan ucapan terimakasih....
...Sarah...
"Apa yang akan kau katakan Mas?!"
"Apa ini? Kenapa setelan jasmu bisa berada di tangannya? Apa kalian benar-benar telah menghabiskan 'waktu bersama'?"
"Kau sungguh keterlaluan Mas! sejak kapan ini terjadi?"
Aku terus mengejarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di otakku. Ribuan praduga seorang istri yang melihat pakaian suaminya ada di tangan wanita lain.
Yoshi terlihat bingung, ia seperti ingin menjelaskan sesuatu, tetapi bingung bagaimana harus mengawalinya. Sungguh, jika memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengapa ia bisa segugup itu.
"Sayang, ini tidak seperti yang kau pikirkan," ucapnya.
"Lalu? apa yang sedang kau pikirkan? gadis itukah? Bahkan ia memanggilmu dengan sebutan Mas Ricko!"
"Kau berikan panggilan khusus itu untuknya juga? Apa kalian sudah benar-benar sedekat itu?"
"Bukankah hanya aku dan teman-teman di SMA yang selalu memanggimu dengan nama itu?"
"Sekarang apa yang bisa kau katakan?"
Tanpa sadar, air mata ini mengalir dengan sendirinya. Aku tak bisa menahan kesedihan dan kekecewaan ini. Yoshi sungguh telah menyembunyikan hal ini dariku. Dan membiarkanku dengan kesimpulanku sendiri.
Aku terus mengingat nama itu. Ya, dia bernama Sarah, seperti tidak asing bagiku dan membuatku penasaran tetapi, aku lebih merasakan rasa sakit ini dibanding rasa ingin tahuku.
"Sayang, kau salah paham. Jas itu kupinjamkan padanya karena saat itu di Bandung sedang turun hujan," jelas Yoshi.
"Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku akan percaya begitu saja Mas?"
"Lalu setelah hujan deras kemarin apa yang kalian lakukan?"
"Pantas saja sepulang dari Bandung kemarin, kau sangat acak-acakan! apa Sarahmu itu membuatmu kewalahan?"
"Cukup An! jangan membawa-bawa Sarah dalam masalah kita!" ucap Yoshi membentakku.
"Bagaimana mungkin tidak membawanya dalam pertengkaran ini, jika dialah sumber keributan kita!"
"Mas, apa dia menarik? Lihatlah kau begitu membelanya!"
"Ana cukup! aku tidak melakukan apa-apa dengannya. Tolong jangan membahas hal konyol ini!" Yoshi kembali terbakar emosi.
"Kenapa ha? Apa dia menggodamu selama beberapa hari ini?"
"Apa dia sangat seksi? Dasar wanita penggoda! " ucapku sambil menangis. Aku sangat kesal pada Yoshi, ia sama sekali tidak ingin menjelaskan apapun padaku.
"An, please! biarkan aku mengurus pekerjaanku dulu. Setelah ini kita bisa bicara kembali."
Ia menghela nafas panjang tanpa berani menatap wajahku. Lihat saja, jika dia masih tidak mau menjelaskan semuanya, maka aku yang akan mencari tahu sendiri.
Malam itu aku meninggalkannya sendiri di ruang kerjanya, dan aku kembali ke kamar tidur bersama baby, mata ini terpejam tetapi tidak dengan hati dan pikiranku.
Sungguh jika esok pagi akan terjadi peperangan, maka kupastikan akulah yang akan menjadi pemenangnya. Hingga larut malam pun Yoshi belum juga kembali ke kamar.
Dia masih saja sibuk di ruang kerjanya. Sebenarnya aku tak tega melihatnya sesibuk itu. Tetapi apa yang sudah dia lakukan padaku benar-benar menyakiti hatiku apa pun alasannya.
Aku pun membuatkannya secangkir kopi, lihatlah bagaimana pun seorang suami bertingkah, istrinya selalu saja berusaha melayaninya meski dengan kekesalan sekalipun.
"Mas, ini kopimu.. "
(kopi sianida ya An? wkwk 🤣🤣)
"Terimakasih sayang, tidurlah kau sudah lelah setelah seharian mengurus baby," ucap Yoshi.
"Dan kau lelah memikirkan Sarah?" tanyaku geram.
Yoshi menahan kepalan tangannya saat mendengar perkataan yang terlontar dari bibirku. Lalu dia meminum secangkir kopi itu dengan pelan.
(Mati lu Yosh kena racun wkwk)
"Mas, aku ingin kita selesaikan masalah ini sekarang juga!"
"Sayang, please. Aku sedang tidak ingin ribut denganmu, percayalah aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan wanita lain selain dirimu!"
"Jika kau sudah tidak percaya lagi padaku. Aku menyerah.. "
Entah kenapa, ucapan terakhirnya itu terasa menyesakkan dadaku. Apa dia benar-benar telah jatuh cinta lagi, ataukah ada masalah lain yang sedang ia hadapi. Aku sungguh tersiksa dengan semua praduga ini.
Aku tak mampu lagi berkata, hanya air mata yang mampu mewakili segala rasa yang ada, sementara Yoshi masih terdiam, terpaku tanpa mau menatapku.
"Mas, apapun yang kau lakukan, aku hanya minta satu darimu."
"Pikirkan Shian... "
Aku pun pergi dari ruangan itu tanpa mendengarkan kalimat apa yang akan ia sampaikan. Aku lelah, dia bukan lagi Yoshiku yang biasanya.