
Aku terus menatap wajahnya, hanya untuk memastikan bagaimana ekspresinya saat melihatku dengan jelas seperti ini.
Seperti yang kuduga, Ana benar-benar tidak mengenali siapa diriku yang sebenarnya. Dia terlihat seperti sangat kebingungan.
Akhirnya Aku pun memancingnya
"Apa kabar Ana?" tanyaku sebelum meminum secangkir cappuccino buatannya.
"Baik Pak, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya dengan ragu-ragu. Apa aku terlihat begitu tua hingga dia memanggilku dengan sebutan Bapak, batinku.
"Apa Kau tidak mengenaliku sama sekali?" tanyaku sambil tidak melepaskan pandanganku padanya.
"Apa maksud Bapak?" tanya Ana, lagi-lagi dia memanggilku dengan sebutan bapak. Mungkin menurutnya ini adalah kali pertama pertemuan kami.
"Baik, apa kau masih sanggup membayar hutang orang tuamu?" kataku sambil mendekatkan wajahku padanya.
Aku yakin setelah ini dia akan terkejut mengetahui diriku sebagai orang yang telah memerasnya dan keluarganya.
"Jadi kau adalah Lintah Darat itu?" tanya Ana, dengan ekspresi kaget dan juga marah.
Kemudian dia bangkit dari tempat duduknya tetapi David menahannya agar tetap duduk ditempat.
Di sisi lain, Ana terlihat ketakutan karena bentakan dari Lia yang memintanya untuk tidak bersikap kurang ajar kepadaku.
Entah keberanian apa yang kumiliki, tiba-tiba saja bibir ini mengatakan bahwa Ana adalah calon istriku.
Bagaimana mungkin aku bisa berkata demikian, melihatnya dimarahi oleh Lia dihadapanku membuatku seakan tidak terima.
Pengawalku dengan sigap membawa Lia pergi dari hadapan kami dan menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi antara Aku dan Ana.
Jangan tanyakan bagaimana kondisi Ana saat mendengar pernyataan yang baru saja kuungkapkan.
Tentu saja mata indah itu sedang tegang karena melototiku, dan aku tentu saja sebisa mungkin bersikap biasa saja di hadapannya, melihatnya kesal seperti itu merupakan sebuah mood booster untukku, dan muncul ide gila untuk mengerjainya.
"Apa maumu sebenarnya?" tanya Ana padaku, aku bisa menangkap kekesalan mendalam dalam raut wajah itu.
"Menikahmu" jawabku, aku sengaja ingin melihat tanggapannya. Tentu saja dia semakin kesal kepadaku.
Bahkan dia menganggapku sebagai pria mesum yang ingin membelinya dari Ibunya.
Ana benar-benar menganggapku sebagai seorang pria yang kejam.
Baginya aku hanyalah seorang lintah darat yang sedang berusaha memanfaatkan ketidakberdayaannya dan keluarganya.
Andai saja Ana tau apa saja yang sudah terjadi padaku selama ini hingga membuatku menjadi seperti ini.
Ada rasa sakit di dadaku karena Ana sungguh tidak mengenaliku, dia tidak tau bahwa Aku adalah seseorang yang sangat mengaguminya sejak SMA.
Aku bahkan mulai menyayanginya saat itu tetapi takdir berkata lain, Ana tak pernah membalas perasaanku, bahkan dia tak datang menemuiku saat itu.
Hingga hari itu tiba, hari dimana aku mengetahui bahwa dalang dibalik kematian ayahku adalah Pramuja yaitu ayah kandung Ana.
Seketika perasaan yang telah lama kupendam pelan-pelan terkikis oleh dendam dan amarahku.
Terkadang aku bingung, sebenarnya perasaan seperti apa yang kumuliki pada Ana, di saat jauh darinya aku ingin sekali menyiksanya tetapi disaat aku berhadapan langsung dengannya debaran di hatiku ini masih saja terasa.
Aku meminta David untuk menunjukkan surat perjanjian yang telah kubuat dengan Larissa, Ibu kandung Ana.
Ana meraih map tersebut, dia melihat halaman demi halaman dengan tenang, tak ada ekspresi terkejut sama sekali, Sepertinya Ana sudah mulai terbiasa dengan sikapku yang selalu menyusahkan dirinya dan Ibunya.
Aku menghampiri Ana yang sedang duduk di hadapanku, kulingkarkan lenganku pada tubuhnya dari arah belakang, sebenarnya aku ingin mengerjainya dengan dalih membantunya membukakan lembaran terakhir dari map perjanjian tersebut.
Jantungku berdetak cukup keras saat ini, aku khawatir Ana akan menyadarinya tetapi dia terlihat biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.
Mungkin kami berdua sedang berpura-pura untuk bersikap biasa-biasa saja, aku bisa merasakan Ana sedang menatap wajahku dengan intens dari samping.
Debaran di dada ini semakin tidak terkendali, hingga membuatku ingin segera pergi meninggalkannya. Sungguh tak baik bagi kesehatan jantungku bila terus-menerus seperti ini.
Aku memintanya untuk membaca dua halaman terakhir dalam map tersebut, yang isinya adalah pernyataan persetujuan dari Larissa Ibu kandung Ana untuk menyetujui syarat apa pun yang akan aku ajukan bila terjadi masalah dalam pelunasan pinjaman yang dia lakukan setiap bulannya.
Ana tampak menahan emosinya melihat semua itu, aku yakin pasti hatinya terluka mendengar perkataaku tentang Ibunya yang telah menjualnya padaku.
Tentu saja, itu tidak benar aku hanya mencoba memainkan emosinya saja, meskipun aku pasti akan benar-benar membeli dirinya suatu saat nanti, jika itu diperlukan.
Bukankah akan sangat menyakitkan untuknya bila harus menikah denganku yaitu pria yang sama sekali tidak dicintainya.
Bagaimana denganku? tentu saja dengan senang hati aku akan menikahinya. Lagi pula dia cukup cantik untuk dijadikan sebagai istri. Mengikatnya dalam hubungan tanpa cinta, menjalani hidupnya denganku seumur hidupnya.
Pasti akan menyiksa jiwa dan raganya, inilah tujuan utamaku dalam misi ini, Pramuja akan semakin menderita melihat bagaimana putri kesayangannya harus menjalani hidupnya bersama dengan putera dari musuh bebuyutannya.
Merasa sangat insecure berada di dekatnya, akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari Kafe itu.
"Sampai jumpa lagi Ana" kataku dalam hati. Setelah ini mungkin akan memakan waktu yang cukup lama untuk melihat wajah manis itu lagi.
Aku sedang berencana untuk pergi ke Inggris setelah ini, untuk melihat kondisi mama dan opa di London.
Ada sedikit perasaan tak rela meninggalkan Ana di sini, tetapi tidak mungkin juga jika aku harus membawanya bersamaku ke Inggris.
Tak akan ada masalah bila aku mengajaknya, cukup mengancamnya saja pasti dia akan langsung menyetujui permintaanku.
Yang jadi persoalan adalah bagaimana nanti tanggapan Ibuku jika melihat Ana. Jika saja persoalanku tak sepelik ini, tentu saja Ibuku akan menerima Ana sebagai calon menantunya.
Sayangnya, begitu banyak hal yang harus kusembunyikan dari ibuku tentang Ana untuk sementara waktu ini.
Lagi-lagi aku berusaha menepis segala rasa dendam di hatiku, tetapi melihat keadaan mama dan opa yang sama sekali tidak dalam kondisi aman karena ulah ayah kandung Ana, hal itu lantas memaksaku untuk kembali membakar api dendam yang terkadang mulai padam.
****
Meskipun akhir-akhir ini aku tak pernah melihat Ana secara langsung, tetapi David Asisten pribadi selalu melaporkan kegiatan Ana melalui informan kepercayaannya.
Bahkan aku sering menelepon Ana, hanya untuk sekedar mengingatkan tentang pelunasan hutang kedua orang tuanya.
Tentu saja Ana sangat kesal dengan aksiku itu, beberapa kali dia mengganti nomor teleponnya namun bukan hal yang sulit untukku untuk mendapatkan nomor barunya kembali.