
Pagi pun tiba.
Huh, kuhela nafas panjang. Aku harus bisa meluluhkan hati Pram hari ini, bagaimana pun caranya. Jika harus berperang pun aku siap, enak saja dia ingin mengujiku. Bukankah aku ini lebih berhak atas Ana karena aku adalah suaminya.
Tapi, lebih baik aku turuti saja kemauan Pram. Karena aku menghormatinya. Dan sialnya mama juga tidak mau mengangkat teleponku. Entah sengaja atau apa tetapi aku merasa sedang dikerjai oleh mereka semua.
Aku pun mandi dan bersiap, lalu berangkat ke rumah mertuaku itu. Dalam perjalanan aku teringat pesan Ana, bukankah ia memintaku untuk membelikan rujak petis untuk bapak.
Benarkah ini? Ah, rasanya ini salah. Tetapi tidak ada salahnya jika kucoba. Akhirnya aku pergi ke area sekolah kami dulu. Kulihat ada beberapa penjual rujak di sana. Dan aku bingung harus memilih yang mana, sebab Ana tidak mengatakan detail penjualnya.
Aku terlalu pusing memikirkan ini, kenapa aku tak mencoba untuk menghubungi Ana, jika teleponku tak diangkat bukankah pesan text akan dibacanya.
Akhirnya aku pun mengirim pesan untuk Ana.
Sayang, temui aku di Jembatan Baru. Jembatan baru ya jangan salah lagi seperti dulu, ingat Jembatan Baru bukan biru.
Love you.
Mas Ikau❤
****
Author POV
Di kediaman keluarga Pramuja. Seorang ibu hamil cantik sedang bermain ponsel, beberapa kali dia memeriksa ponselnya, tetapi sepertinya koneksi internet sedang sangat buruk di tempat itu. Sehingga ia harus menonaktifkan data internet.
"Mbak Ana, lagi nungguin telepon dari Kak Yoshi ya?" tanya Luna, adiknya yang jahil.
"Iya nih, kasian dia Lun. Sampai jam segini belum datang juga." Jawab Ana.
"Bapak sih pake ngerjain Kak Yosh segala," ucap Luna mengasihani kakak iparnya itu.
Tiba-tiba ponsel Ana bergetar dan dibukanya pesan itu. Dalam sekejap mata indahnya berkaca-kaca saat menatap sebuah pesan dari suaminya yang memintanya untuk datang ke Jembatan baru, mengenang saat dulu Yoshi memintanya datang ke sana namun mereka tidak bertemu karena Ana salah tempat. Hingga perasaan keduanya pun belum terungkapkan saat itu.
"Lun Kak Yoshi mengirim pesan SMS," ucap Ana girang.
"Wah, apa katanya Kak? Udah nemu rujaknya belom?" tanya Luna penasaran.
"Gak tau Lun, tapi dia minta kakak untuk datang ke Jembatan baru. Seperti dulu Lun! seperti saat kami masih SMA!!" Ana pun semakin girang hingga melompat-lompat.
"Aahh! Mbak, cepetan dateng kesana! Nostalgia!" Luna pun ikut melompat kegirangan.
"Ada apa itu? Kok pada lompat-lompat. An, kamu itu lagi hamil loh!" ucap Pramuja saat melihat kedua putrinya seperti sedang merencanakan sesuatu.
"Eh, bapak. Gak ada apa-apa kok. Hehe," ucap Ana.
"Iya nih James Bond, kepo banget dah! Mau ngopi nggak James?" celetuk Luna sambil menghampiri ayahnya dan menawarinya kopi.
"Eh mbak, cepetan siap-siap ketemu Mas Ikaumu, aku akan mengurus James Bond tengik itu!" bisik Luna sambil mengedipkan matanya.
***
Ana pun pergi bersiap, entah mengapa perasaan deg-degan itu muncul kembali. Padahal ia hanya akan menemui suaminya sendiri di tempat itu bukanlah seseorang yang sangat ia taksir seperti dulu.
"Ayo An, jangan gugup. Mas Ikau sudah menjadi suamimu sekarang. Bahkan benihnya pun sedang berkembang di rahimmu. Mengapa kau harus segugup ini?" Ana terus bermonolog untuk mengurai kegugupannya.
Dia pun memilih baju, sebenarnya ia ingin mengenakan dress putih yang juga ia kenakan dulu, tetapi tentu saja itu sudah tidak muat untuk tubuhnya yang kini mengembang dan berbadan dua.
Ana pun keluar kamar dengan mengendap, dilihatnya ayahnya dan Luna sedang meminum kopi bersama, lalu ibunya dan ibu mertuanya sedang sibuk di dapur.
Ini kesempatan emas, ia pun langsung menuju ke pintu keluar, hingga tibalah ia di pinggir jalan raya. Seorang sopir taksi pun menghampirinya.
"Selamat pagi nyonya Ana," ucap sopir itu.
"Selamat pagi Pak, tetapi saya belum memesan taksi," jawab Ana ragu.
"Tuan Yoshi yang memesan saya untuk menjemput nyonya. Mohon masuk ke mobil," jawab pria itu sambil membukakan pintu mobilnya.
"Ah, baiklah."
Ana pun masuk ke mobil taksi itu dengan tersenyum-senyum sendiri membayangkan jika ia sedang kembali ke masa lalu. Seandainya saja saat itu Mas Ikaunya memesankan taksi untuknya seperti ini tentu saja mereka akan bertemu. Dan mungkin akan berpacaran setelahnya.
"Ah, aku terlalu banyak berhalusinasi. Haha" gumam Ana sambil melihat ke arah jendela. Dalam lima belas menit, ia pun sampai di jembatan baru dengan aman.
Author POV End
***
Ana POV
Aku pun tiba di jembatan baru dan sopir itu mengantarku ke suatu tempat. Tempat yang sangat indah sepertinya Yoshi sengaja mempersiapkan semua ini untukku.
"Nyonya, silahkan duduk. Saya ijin undur diri dulu," ucap sopir itu dan meninggalkanku.
Aku pun menghela nafas panjang dan melihat sekeliling, tetapi Yoshi belum nampak juga. Hingga tiba-tiba seseorang memberikan sekuntum bunga di hadapanku. Aku pun menatap wajahnya.
"Mas..." Aku memanggilnya.
Tanpa menjawabku dia pun duduk di hadapanku dan berkata.
"Mas Ikau, aku juga menyukaimu. Kau adalah kakak kelas paling tampan di sekolah," ucapku mengikuti aktingnya, ini sangat lucu. Tetapi entah mengapa aku ingin tertawa.
"Kau hanya menyukaiku An? tidak cinta?" ucapnya sambil memanyunkan bibirnya. Aku sangat gemas melihat itu.
"Aku menyayangimu Mas,"
"Hanya sayang? tidak cinta?"
"Astaga, aku sangat mencintaimu Mas," ucapku sambil meraih dan menggenggam tangannya.
"Jadi kita bisa berpacaran sekarang?" Dia tertawa menggodaku.
"Aktingmu sangat bagus Mas,"
"An, aku tidak akting, aku sungguh-sungguh akan melamarmu setelah ini."
"Omong kosong, sudah menikahi, sudah menghamili baru melamar. Kau ini!" dengusku kesal.
"Haha, setidaknya baby adalah pionku untuk tetap bersamamu meskipun bapak tidak merestui hubungan kita," ucap Yoshi.
"Mas, jangan konyol. Tentu saja bapak merestui kita,"
"Tetapi kenapa dia memintaku untuk kembali melamarmu?" tanya Yoshi dengan wajah serius.
"Dia hanya mengerjaimu saja, jika kau tau Mas."
"Benarkah?" tanyanya.
"Benar!"
"Dasar mertua tengik!" ucap Yoshi lirih tetapi aku bisa mendengarnya.
"Mas, kau ini! awas saja jika bapak dengar!"
"Sayang, apa kau tau? aku sangat ketakutan kemarin. Dia bahkan terlihat sangat garang, tetapi sekarang lihatlah dia hanya ingin mengerjaiku saja," ucap Yoshi kesal.
"Mas Ikau, sudahlah! Kau merusak momen romantis kita saat ini."
"Ha iya, maaf sayang. Mau makan apa?" tanyanya sambil menunjuk makanan yang sejak tadi dipersiapkan olehnya.
"Mau melihatmu saja, aku tidak ingin makan Mas," ucapku menggodanya.
"An, jika kau hanya ingin membuatku tersipu malu, kau tidak akan berhasil. Sudah makan dulu, berikan baby asupan ini sudah pukul sembilan waktunya sarapan," ucap Yoshi dengan wajah datarnya.
"Mas, aku sungguh hanya ingin menikmati momen ini dan tidak ingin makan," jawabku jujur.
"Kenapa memangnya? apa ini sangat romantis menurutmu, ini biasa saja sayang. Aku bisa membuatkan yang lebih indah dari ini jika kau mau."
"Bukan begitu Mas, aku hanya ingin bernostalgia saja."
"Terserah padamu An silahkan bernostalgia atau apapun itu, tetapi biarkan aku menyuapimu," ucap Yoshi sambil memberikanku suapan pertama. Aku pun membuka mulutku.
"Terimakasih Mas Yoshi, sudah menjadi suami dan calon ayah yang baik untukku." Tanpa sengaja mulutku mengucapkan kalimat itu dan Yoshi pun hanya tersenyum.
"Apapun untukmu cantik," jawabnya.
Kami terus saja mengobrol sambil ia tetap menyuapiku makanan, sungguh aku sangat bahagia hari ini. Setelah itu kami pun memutuskan untuk pulang.
Di dalam taksi, tiba-tiba sang sopir menyapa kami.
"Mbak sama Mas, apa kabar?" ucapnya.
"Baik Pak, bapak mengenal kami?" tanya Yoshi.
"Ehmm saya tukang becak yang dulu Mas kasih uang 500rb dulu untuk menjemput mbak ini di sekolah saat hujan deras," ucapnya.
"Oh benarkah Pak? Astaga saya lupa." Kata Yoshi dan aku pun juga terkejut.
"Bukankah terakhir kali kita bertemu bapak masih jadi tukang ojek online bukan?" tanyaku mengingat-ingat.
"Benar Mbak Lanthana, sekarang saya pindah menjadi sopir taksi. Wah, ternyata kalian benar-benar bejodoh. Selamat ya Mbak dan Mas."
"Terimakasih pak, sekarang saya tau jika penolong saya waktu itu adalah benar-benar pria ini," ucapku sambil melirik ke arah Yoshi
"Sayang, bukankah sudah kukatakan?"ucap Yoshi kesal.
Kami tiba di rumah. Dan kulihat bapak, ibu, mama dan Luna tengah menunggu di halaman depan sambil membawa kue ulang tahun. Aku pun bingung, ulang tahun siapakah ini.
"Mas, siapa yang ulang tahun?" bisikku pada telinga Yoshi sambil berjalan menuju halaman rumah.
"Bagus sekali sayang, kau bahkan tidak tau jika ini hari ulang tahun suamimu," ucapnya tanpa melihatku.
"Ah? Apa ? Ja-jadi ini ulang tahunmu Mas? Aku lupa astaga, maafkan aku," ucapku dengan sangat menyesal.
"Tidak perlu minta maaf, berikan hadiahku nanti malam," ucapnya sambil menggenggam erat tanganku.
Ana POV End