
Sesampainya di Rumah, kupandangi hasil fotoku bersama Ana tadi siang. Sama sekali tak kusangka jika aku akan mendapatkan fotonya dengan sangat mudah.
Segera kucetak foto tersebut menjadi dua, satu kusimpan di dompetku dan yang lain akan kuberikan pada Ana jika waktunya sudah tepat nanti.
Liburan kali ini benar-benar membosankan, apalagi yang bisa kulakukan. Mengingat setelah ini aku akan naik ke kelas XII dan harus bersiap untuk Ujian Nasional.
Beberapa kali ayah dan ibuku menelepon memastikan keadaanku dan memintaku untuk bersiap melanjutkan ke perguruan tinggi di luar negeri.
Ada sedikit perasan sedih di hati mengingat aku tidak akan bisa bertemu dengan Ana lagi setelah ini. Berulang kali kucoba untuk dapat bertemu dengannya agar aku bisa mengungkapkan perasaanku padanya tetapi selalu gagal , nyali ini teramat ciut untuk menyatakan rasa.
***
Liburan panjang berakhir dan aku kembali masuk sekolah. Hari demi hari kulalui dengan bosan sebab sejak naik ke kelas XII aku jarang sekali bertemu dengan Ana karena aku harus mengikuti bimbel untuk persiapan Ujian Nasional.
Ingin kumenemuinya tetapi seakan waktu tak pernah berpihak kepadaku. Kadang kulihat dia dari kejauhan, dan aku sadar akan satu hal Ana terlihat sangat cantik sekarang.
Dia tak lagi mengenakan kacamata lucunya itu dan rambutnya pun terurai indah, betapa itu membuatku sangat takut. Takut bila ada anak lain yang akan mendekatinya.
Sebenarnya aku lebih suka Ana yang dulu dibanding yang sekarang, tetapi apa boleh buat semakin dewasanya dia, akan semakin berubah juga penampilannya. Lihatlah gadisku yang dulu imut dan lucu sekarang telah menjadi gadis dewasa yang cantik.
Aku tak bisa membiarkan ini terjadi. Secepat mungkin aku harus menyatakan perasaanku, perihal bagaimana tanggapannya nanti aku tak peduli. Aku harus segera menyelesaikan semua ini sebelum orang lain merebut Ana dariku.
***
Beberapa bulan berlalu, Sekolah akan mengadakan study tour ke Bali. Seluruh kelas X, XI, XII dapat ikut serta. Aku memang berencana untuk ikut namun kubatalkan sebab Ana juga tidak mengikutinya .
Kulihat Ana melambaikan tangannya pada Devi yang berada dalam bus bersiap untuk berangkat tour.
Aku bisa merasakan betapa Ana juga ingin mengikuti tour itu tetapi mungkin karena masalah biaya ia tak dapat ikut serta. Aku sempat berfikir untuk membiayai administrasi Ana agar bisa mengikuti tour itu.
Namun aku mengurungkan niatku. Sebab Ana pasti curiga bila aku melakukan itu, aku tak ingin membuatnya merasa direndahkan karena status sosialku.
Akhirnya aku putuskan untuk membelikan dia oleh-oleh dari Bali, sebuah gelang yang disebut dengan gelang pancawarna.
Aku menyuruh pengawalku untuk pergi ke Bali saat itu juga untuk membeli hadiah tersebut.
"David, pergilah ke Bali sekarang juga." Kataku kepada Asisten kepercayaan ayahku.
"Maaf kalau boleh tau untuk apa Tuan?" tanyanya heran, jelas saja dia heran tak ada angin dan hujan tiba-tiba aku menyuruhnya pergi ke Bali.
"Carikan aku gelang pancawarna sekarang juga." Perintahku kepada David.
"Tetapi untuk apa Tuan?" tanyanya lagi. Tak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya kepadanya bisa-bisa dia melaporkanku kepada ayahku.
"Cepat belikan saja mengapa kau ini terlalu banyak bertanya! " jawabku sedikit membentaknya.
"Baiiklah Tuan muda, sesuai perintah Anda Tuan." Kata David sambil melangkah keluar kamar kulihat dia menelepon seseorang pasti itu untuk pemesanan tiket ke Bali.
***
Setelah beberapa jam menunggu akhirnya David kembali dengan membawa bungkusan kotak kecil.
"Maaf Tuan, telah membuat anda menunggu terlalu lama, ini pesanan Tuan," katanya sambil menyerahkan kotak kardus berisi gelang yang kumau.
"Kenapa bungkusnya hanya kardus seperti ini? "tanyaku, aku benar-benar emosi dibuatnya, gelang ini hanya terbungkus dengan kardus bertuliskan *Fro*m Bali With Love yang tidak ada nilai estetikanya sama sekali
"Memangnya harus dengan bungkus yang seperti apa Tuan?" tanya David dengan raut wajah bingung.
"Cepat cari kotak yang indah, terserah kau mau cari di mana." Perintahku.
"Baik Tuan, sesuai perintah Tuan." Jawab David sebelum pergi meninggalkan kamarku.
***
"Tuan, apakah kotak ini bernilai estetik?" tanya David.
"Cukup cantik, dari mana Kau mendapatkannya?" tanyaku sambil meraih kotak tersebut.
"Dari Toko perrhiasan Tuan, bahkan pita emas ini adalah emas asli 24 karat." Kata David, bahkan tempat gelangnya saja lebih mahal dari pada isinya.
"Kerja bagus. Kau boleh pergi." Kataku sambil mengamati kotak itu.
***
Keesokan harinya ketika jam istirahat tiba, aku bergegas ke kelas Ana. Jujur saja ini cukup menegangkan tetapi mau bagaimana lagi perasaanku padanya sudah terlalu lama kupendam.
Kulihat dia sedang duduk sendirian di bangkunya.
"Hai Ana, sedang apa?" tanyaku kepadanya. Seperti biasa dia terlihat sangat gugup dan tak berani menatapku. Apakah memang sekurang menarik inikah diriku hingga Ana tak mau melihatku sedikitpun.
"Iya Mas Ikau, ada apa ya?" begitulah kira-kira jawabannya. Ini untuk pertama kalinya dia memanggil namaku. Sungguh sangat indah kudengar. Hai Ana, Mas Ikaumu datang. Begitulah kira-kira yang ingin kuungkapkan padanya saat ini.
Akhirnya kuputusan untuk menyerahkan Kotak berisi gelang tersebut kepadanya.
Lagi-lagi Ana tak menatap wajahku sedikit pun apakah dia malu atau karena apa aku tak tau.
Setelah kuserahkan kotak berisi gelang itu kepadanya, dia hanya terdiam tidak menunjukkan ekspresi apa pun terhadap pemberianku itu.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Baru beberapa langkah dari kelasnya, dia memanggilku dan mengucapakan
"Mas Ikau, terima kasih ya." Kata Ana sambil tersenyum menatapku dari kejauhan.
Lagi-lagi senyum itulah yang membuat duniaku teralihkan selama beberapa detik.
Aku melanjutkan langkahku menuju kelasku. Dalam hatiku berkata bagaimana caranya mengungkapkan rasa ini padanya. Haruskah aku meminta nomor whatsappnya.
Tetapi bukankah itu tidak benar, bagaimana jika dia tidak menganggapku serius, aku mencoba berfikir lagi mencari cara yang tepat.
****
Aku terlalu sibuk untuk persiapan menghadapi ujian. Bahkan orang tuaku yang jarang sekali menghubungiku, akhir-akhir ini begitu sering menelepon, hanya untuk memastikan bahwa aku sudah siap untuk menghadapi Ujian Nasional atau belum.
Ibuku berpesan agar aku segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke London setelah ujian nasional, demi meneruskan pendidikanku di sana.
***
Ujian Nasional pun berlalu. Kini aku sudah jarang sekali masuk sekolah, kami hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan saja.
Ana semakin jauh dari pandanganku. Sementara aku yang bodoh ini masih belum bisa menyatakan perasaanku padanya.
Sebuah notif pesan masuk dari Dion,
"*B*ro, gimana udah menyatakan rasa belom?" tanya Dion, dia sangat mengerti kondisiku. Aku sudah menceritakan segalanya kepadanya.
"Belum Di" jawabku. Aku masih ragu memikirkan langkah apa yang akan kuambil setelah ini.
"*B*uruan Bro, keburu Ana diambil orang, gue denger Adi, teman sekelasnya juga suka sama dia." Kata Dion entah ini serius atau tidak, tapi aku cukup terbakar mendengarnya.
"*Y*ang benar Di? menurutmu aku harus apa sekarang?" jawabku pada Dion, aku benar-benar bingung saat ini.
"*Y*a cepetan tembak lah, ntar keduluan orang mampus Kau!" kata Dion semakin membuatku frustasi.
"Baiklah Ana, besok di hari terakhir masuk sekolah aku akan menyatakan perasaanku yang sangat menyiksaku ini padamu," kataku dalam hati.