
"Mama! mama di sini?" tanyaku pada wanita yang telah berdiri samping pintu. Astaga, nenek tua ini benar-benar tidak tau sopan santun. Kenapa tidak mengetuk pintunya dulu, mengganggu saja, batinku.
"Yosh, cepat menyingkir. Aku mau pakai baju." Kata Ana, mendorong tubuhku yang sejak tadi mengungkungnya.
"Yoshi, dimana braku? Dan apa ini, kemana semua kancing bajuku?" Ana, kebingungan mencari bra yang sudah kubuang entah kemana.
Sementara mama masih sibuk memperhatikan tingkah Ana yang kebingungan sambil memakai selimut untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Aku sangat ingin tertawa melihat ini, tetapi aku menahannya.
"Sayang, kau mencari ini?" ucap mama sambil memungut bra yang ternyata terlempar di dekat kaki mama karena ulahku. Ana pun meraih pembungkus itu sambil menunduk tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada mama. Raut wajah merahnya seakan sudah menjelaskan betapa malunya dirinya.
Membuatku gemas saja, tanpa menunggu lama Ana pun pergi ke ruang ganti tentu saja masih dengan selimut tebal yang masih melekat di tubuhnya.
"Kau ini, dasar! Kenapa tidak mengunci pintunya ha? Mama kan jadi menganggu adegan panas kalian!" kata Mama sambil menghujaniku dengan pukulan.
"Mama yang salah! Kenapa datang tidak bilang-bilang ha?"
"Tadinya Mama ingin memberi kalian kejutan, tetapi sekarang malah mama yang terkejut duluan, dasar kau ini!!" lagi-lagi mama memukuliku.
"Katakan! sudah berapa ronde Yoshi?" bisik Mama tak ingin Ana mendengar obrolan kami.
"Berapa ronde bagaimana maksud mama? Baru juga pemanasan, mama sudah datang mengganggu." Ucapku kesal.
"Oh astaga, haha!"
"Ma, asal mama tau saja, Yoshi sudah menahan diri sejak empat bulan yang lalu sejak pertama kali Yoshi mengetahui kehamilan Ana. Dan hari ini saat tiba saatnya, mama malah datang dan mengacaukannya." Ucapku sambil merebahkan tubuhku di kasur.
"Benarkah sayang? Oh sungguh malang sekali nasibmu Nak," Mama memelukku sekaligus mengejekku.
"Apa mama datang sendiri ke mari?"
"Ya, opa sudah lebih baik sehingga Mama menitipkannya pada para penjaga dan dokter."
"Bagus ma, Yoshi ingin opa segera pulih seperti dulu lagi." Ucapku teringat masa-masa saat masih bersama opa.
"Yoshi, bagaimana kabar Pramuja, apa kau sudah meminta maaf?"
"Belum ma, pihak rumah sakit tidak mengijinkanku untuk menemui Pram."
"Dengar, apapun yang terjadi nanti. Entah Pram akan memaafkanmu atau tidak, kau harus tetap mempertahankan Ana. Bagaimana pun caranya." Kata mama dengan serius.
"Baik ma, tentu saja Yoshi akan mempertahankan Ana, meskipun ayahnya membawanya ke kutub utara sekalipun. Yoshi akan mengejarnya dan membawa istri dan anakku kembali ke tengah-tengah keluarga kita." Kataku, berusaha meyakinkan mama.
"Bagus Yosh, ya sudah mama tunggu di luar ya. Silahkan lanjutkan lagi kegiatan penting tadi." Ucap mama sambil mengedipkan sebelah mata.
"Ingat! hati-hati, jangan sampai cucu mama terganggu!"
"Tenang Ma, sudah mama cepat keluar, tunggu di kamar tamu ya!" ucapku sambil menutup pintu.
"Dasar anak tidak tau diri!"ucap mama dari luar, kesal karena aku telah mengusirnya.
***
"Yoshi, mana Mama?" tanya Ana sudah dengan pakaian rapi. Padahal dia mengenakan dress yang cukup tertutup tetapi kenapa aku tetap saja tergoda.
"Mama sedang istirahat di kamar tamu sayang." Jawabku masih dengan berbaring di tempat tidur.
"Yosh, aku akan menemani mama."
"Eh mau kemana? Kita harus menyelesaikan sesuatu yang tadi tertunda sayang," Ucapku meraih tubuhnya dari belakang.
"Yoshi, ada mama ah! Hentikan ini!" ucap Ana melepaskan diri dariku lalu berjalan menuju pintu.
"Yosh, pintunya dikunci?" Tanya Ana sambil menatapku.
"Ya sayang, ambil kuncinya kalau bisa!" kataku, menunjukkan kunci yang saat ini berada dalam genggamanku. Sesuai rencana, Ana berlari untuk mengambilnya dari tanganku.
Namun ia tak tau jika serigala ini tengah sengaja memancingnya, seketika kutangkap tubuh indah yang mulai berisi itu. Dan mendekapnya dengan erat sebelum akhirnya menindihnya dengan pelan di tempat tidur.
"Yosh, ada mama. Aku sudah cukup malu untuk hari ini." Ucap Ana lirih.
"Kenapa harus malu sayang, mama mengerti semuanya, jadi kau tidak perlu malu." Bisikku, mulai menghujaninya dengan ciuman.
"Yoshi, aku ingin bertemu mama."
"Nanti sayang, mama juga sedang istirahat sekarang."
"Benarkah?" tanya Ana masih meragukanku sementara tanganku sudah mulai melucuti pakaiannya.
"Yoshi, pelan-pelan.. " Ucap Ana lirih.
"Tentu sayang," bisikku pada telinganya, aku pun melnjutkan aksiku.
"Yoshi, itu suara Mama!!" ucap Ana terkejut.
"Iya sayang," aku pun terkejut tetapi aku juga kesal.
"Yosh, cepat turun ke bawah, aku takut Mama kenapa-kenapa." Ucap Ana panik dan lansung terbangun dari kukunganku.
Astaga, apa lagi ini. Ada apa dengan nenek tua itu sebenarnya. Kenapa tega sekali padaku. Aku pun mengikuti Ana dan membentulkan bajuku yang sudah acak-acakan.
"Yosh, mana kuncinya?"
"Iya sayang," aku pun membukakan pintu untuknya dengan kesal.
"Ayolah, cepat lihat Mama," Kata Ana sambil menuruni anak tangga.
Kulihat mama sedang duduk di ruang tengah dengan tablet di tangannya. Astaga, benar saja mama hanya ingin mengerjaiku. Padahal aku sempat khawatir saat mendengar teriakannya tadi.
"Ma, mama kenapa?" tanya Ana sambil memeriksa seluruh tubuh Mama.
"Ma, ada apa? Kan Yoshi sudah bilang istirahat saja di kamar kenapa malah masih di sini?" tanyaku kesal, tetapi mama malah tertawa.
"Maafkan mama Yosh, mama tidak bermakasud mengganggu kalian, mama hanya terlampau senang." Ucap mama tanpa penyesalan sedikitpun.
"Ma, kenapa mama berteriak tadi? Ana sangat khawatir terjadi sesuatu pada mama." Kata Ana, sungguh dia sama sekali tidak sadar jika mama hanya ingin mengerjainya saja.
"Maaf sayang, mama tadi tidak sengaja berteriak saat melihat baju-baju bayi lucu ini." Ucapnya sambil menunjukkan gambar perlengkapan bayi di tebletnya.
"Astaga mama !" ucapku, menuntut keadilan pada mama atas pengakuan tidak pentingnya itu.
"Hehe, maaf sayang. Mama hanya terlalu senang dan tak sabar ingin membeli baju-baju lucu ini untuk cucu kesayangan."
"Sehingga membuat mama berteriak memanggilmu dan menunjukkan semua ini."
Aku mengacak rambutku kasar, bisa-bisanya mama berlebihan seperti ini. Ana juga terlihat sangat tertarik dengan hal itu dan ikut duduk bersama mama untuk melihat-lihat pakaian bayi, jika seperti ini sudah jelas tidak akan ada kelanjutan dari kegiatan panas tadi.
"Yosh, aku temenin mama ya." Ucap Ana sambil tersenyum.
"Iya sudah sayang," aku pun ikut duduk bersama mereka. Sambil menunggu juniorku yang sejak tadi bangun untuk tertidur lagi.
Mama terus saja melirikku dan sesekali tersenyum, sungguh menyebalkan. Mereka tampak sangat serasi saat sedang bersama seperti ini.
Aku tak menyangka bahwa gadis yang kuincar sejak SMA itu, kini berada di rumahku, menjadi istriku dan menjadi menantu kesayangan mama. Sugguh aku tak akan melepaskannya meskipun aku harus berperang dengan Pram.
"Sayang, bagaimana hasil pemeriksaan kemarin?" tanya mama.
"Hasilnya bagus ma, meskipun awalnya sempat terjadi kontraksi dini." Jawab Ana dan mama terlihat sangat terkejut.
"Apa?! kontraksi dini? Itu sangat berbahaya sayang. Bisa menyebabkan keguguran." Ucap mama sambil mengelus perut Ana yang mulai membuncit itu.
"Iya ma, tetapi semuanya sudah baik-baik saja sekarang." Kata Ana,
"Yosh, bagaimana kau ini ha? kenapa tidak menjaga istrimu dengan baik!" astaga setelah melupakan kejahilannya sekarang mama malah memarahiku.
"Ma, Yoshi minta maaf. Yoshi salah, tapi jangan khawatir karena cucu mama sekarang sudah baik-baik saja. Tidak ada kontraksi dan tidak ada rembesan air ketuban lagi." Ucapku mencoba menjelaskan pada mama.
"Apa katamu? ada rembesan juga?"
"I-iya ma," ucapku lirih.
"Astaga Yoshi! kenapa kau ini sangat ceroboh jadi suami ha?"
"Ma, tenanglah. Sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Debay dan mamanya sudah sehat. Jika tidak percaya mama bisa periksa hasil check up kemarin."
"Pasti mama akan memeriksanya, tetapi untuk saat ini Ana harus sangat berhati-hati dan dijauhkan darimu dulu."
"Apa maksud mama?" tanyaku tak mengerti.
"Ya, nanti malam Ana akan tidur bersama mama."
"Apa?!! Ma, yang benar saja bagaimana mungkin Yoshi harus tidur terpisah dengan Ana. Dia itu istriku ma." Ya ampun nenek ini benar-benar keterlaluan.
"Ya, mama akan melindungi cucu dan mantu mama dari serigala sepertimu."
"Ma, please. Jangan mengacaukan segalanya. Semuanya sudah baik-baik saja sekarang. Tidak perlu khawatir lagi ma. Bahkan dokter sudah mengijinkannya."
"Tidak, kau pikir mama tidak tau, permainanmu di ranjang itu sangat kasar Yosh,"
"Ma, jangan salah paham." Astaga aku tidak tau harus mengatakan apa lagi pada mama sekarang.
Sementara Ana hanya tersenyum-senyum sejak tadi menyaksikan obrolanku dengan mama. Sungguh aku akan menculiknya nanti malam saat penyihir tua ini sudah terlelap.