
Janeth POV
Seperti biasa playboy hygine itu selalu saja menyusahkan, jika bukan karena uang, aku tak akan mau menjadi asistennya, terlebih tingkahnya yang bossy dan kekanak-kanakan, aku bagaikan seorang pembantu baginya, dua tahun berlalu, kujalani hidupku bersama Shian, dua tahun jugalah yang membuatku harus berjuang demi kesehatan ayahku.
Sejak kepergian ibuku, aku hanya hidup berdua bersama ayahku, Ardiansyah Nakula. Ayahku adalah seorang pengusaha di bidang pengembangan usaha menengah ke bawah, beliau juga seorang manajer sekaligus owner dari perusahaan permodalan serta pelatihan UMKM, namun setelah mengalami penyakit jantung, ia harus selalu memperbanyak istirahat, tak boleh terlalu stress dan menjaga pola hidup sehat.
Perusahaanpun terbengkalai, dan aku juga tak dapat menjalankannya, akhirnya pihak keluaraga ayahku lah yang mengatur semuanya, meskipun aku tak begitu mengenal mereka semua.
Dua tahun terakhir ini, aku telah menjalani pendidikan di salah satu universitas bonafit di kotaku, kabar baiknya, aku masuk ke sana dengan bea siswa, sehingga ayahku tak perlu, repot-repot memikirkan urusan biaya kuliah, meskipun sejujurnya aku tetap membutuhkan biaya untuk keperluan pengerjaan tugas, transportasi dan uang gedung.
Universitas itu memang membebaskan SPP atau biaya semester tetapi tidak untuk uang gedung, jadi mau tidak mau aku harus mencari sampingan termasuk mengelola kedai kopi peninggalan ayahku, atau pun menjadi asisten seorang psikiater yang membuka praktik di rumah, hingga saat ini akulah yang membantu dokter tersebut menangani pasien, dan Shian adalah salah satu pasien itu.
Sejujurnya aku tulus menjadi sahabatnya, namun karena kebutuhan ekonomi yang mendesak, akhirnya kutrima saja uang gaji dari Pak Yoshi, ayah Shian, Ibu Ana pun sangat menerimaku di keluarga itu, tak jarang ia membelikanku baju, peralatan make up atau apapun yang seorang gadis butuhkan, sayangnya aku sangat jarang sekali berdanadan, bukannya tidak ingin, hanya tidak sempat.
Kacamata tebal, rambut panjang ikal, kulit kusam, itulah diriku, meskipun orang bilang, aku cukup manis tetapi aku tak sependapat dengan mereka sebab, kata ‘cantik’ dan ‘manis’ hanya dimiliki mereka yang beruang, sementara aku tak punya cukup uang, bagiku kesehatan ayah dan pendidikan adalah yang utama.
Baiklah, sudah cukup kenalannya ya.
-Janetha Anjani-
Janeth POV End
Janeth tiba di kediaman keluarga Luby. Setelah melapor pada petugas keamanan mansions, gadis bertubuh sintal itupun masuk ke dalam mansions. Beberapa penjaga sudah sangat mengenalnya.
“Aneth.. woy!!”
“Aneth!” terdengar suara memanggilnya, ternyata itu adalah Gweneth, nama mereka hampir sama ya? Iya soalnya author tidak jago membuat nama. Tapi, sudahlah daripada tanpa nama wkwk.
“Hai Gwen, sedang apa di sana?” tanya Janeth saat melihat Gwen berada di semak-semak taman mansions.
“Aku lagi ngumpet!” bisik Gwen, sambil memperhatikan kanan kiri.
“Kenapa gitu?” Janeth memicingkan matanya.
“Aku lagi mau beli es krim pot di depan sana, di ujung jalan sana tuh! Tapi sama mama gak boleh, takut kak Shian pingsen lagi..”
“Apa?” Janeth pun merasa tertarik, bukan tertarik pada es krim pot tetapi, pada penyebab Shian pingsan.
“Jadi, Shian pingsan karena es krim?”
“Iya Neth, kemarin dia pikir aku lagi makan tanah, padahal bukan, itu Cuma es krim tau! Eh malah pingsan,” ucap Gwen.
“Oh gitu, wah bisa jadi bahan buat terapi nih!” Janeth tampak berfikir, kemudian ia masuk ke mansions. Sementara Gwen masih berusaha kabur dari bangunan mewah itu hanya untuk membeli es krim.
****
“Eh Janeth, tumben pagi-pagi sudah datang,” sapa Ana sambil menyiapkan sarapan bersama para maid.
“Iya Bu Ana, saya tadi dari rumah sakit, menjenguk Shian,”
“Oh, jadi baby sudah memberitahumu jika ia dirawat di rumah sakit ya?” tanya Ana.
“Sudah Ibu, dan Shian tidak mau makan, ia ingin makanan dari rumah,” jawab Janeth ikut membantu Ana, menyiapakan sarapan.
“Tapi tante belum masak, hanya ada roti dan beberapa menu lain buatan chef, apa Shian mau?”
“Saya rasa, Shian ingin masakan ibu,” ucap Janeth tidak enak,
“Janeth, kau cantik..” Ana mendekati gadis itu, dan memperhatikannya lekat-lekat.
“Ah, Ibu bisa saja,” Janeth tersipu sambil membetulkan kacamatanya yang benar-benar tebal. Ia memiliki mata minus 5 pada kedua matanya, sehingga lensa yang ia kenakan cukup tebal.
“Janeth, jangan memanggilku Ibu, kau bisa memanggilku mama sama seperti Shian,” Ana tau sejak kecil Janeth telah kehilangan ibunya, ia pun juga belum pernah bertemu dengan orang tua gadis itu, tetapi ia tau jika ayah Janeth sedang dirawat di rumah sakit.
“Jangan Bu, lagipula bukankah mama dan ibu maknanya sama saja,hehe,” lagi-lagi Janeth menghindari permintaan Ana untuk lebih dekat dengannya, Janeth tak pernah ingin memiliki hubungan khusus dengan sesorang atau beberapa orang tertentu, ia tidak ingin mertasakan sakit dan kecewa, bukannya ia menganggap semua orang akan menyakiti dan membuatnya kecewa,
tetapi hanya belum bisa menerima keadaan jika ibunya telah meninggalkannya karena sesuatu yang belum ia ketahui hingga sekarang.
“Kau benar Nak, apa Shian sangat menyusahkanmu?” tanya ibu hamil itu.
“Tidak Bu, Shian memang merepotkan tetapi tak pernah membuat saya kesusahan,”
“Ini sudah menjadi bagian dari tugas saya Bu, ibu sudah menggaji saya untuk ini,” ucap gadis itu jujur.
“Kau sangat apa adanya Nak, seandainya saja Shian tidak sakit, pasti ibu sudah menjodohkanmu dengannya,”
“Ah Ibu, jangan bicara seperti itu, bagaimana jika kita memulai memasak saja?” ucap Janeth mengalihkan pembicraan. Baginya berjodoh dengan Shian, bukanlah suatu masalah tetapi, masalahnya adalah mana mungkin Shian akan menyukainya, dan ia cukup sadar diri siapa dirinya.
“Tetapi, jika Shian menyukaimu, apa kau akan bersedia menerimanya Janeth?” lagi-lagi Ana ingin membahas hal yang membuat gadisn itu inginsegera kabur dari mansion saat itu juga.
Tak berapa lama Yoshi pulang dari kantor, memecah perbincangan di antara dua wanita beda usia itu.
“Sayang, bukankah kau ada jadwal senam hamil hari ini?” ucap pria itu.
“Hai Janeth, apa kabar?” sapa Yoshi saat ia melihat ada Janeth juga di rumahnya.
“Baik Pak Yoshi,” jawab Janeth dengan hormat.
“Janeth, ibu harus pergi ke kelas senam bumil hari ini, apa kau keberatan jika harus memasak untuk Shian?” tanya Ana.
“Umm, tidak masalah Bu, tetapi apa Shian mau memakannya?”
“Pasti mau, ibu tau kau pintar memasak,” ucap Ana kemudian berpamitan pada gadis itu.
“Janeth, bapak titip Shian ya,” kata Yoshi yang juga berpamitan pada Janeth.
Janeth mengangguk patuh, kemudian ia melanjutkan acara memasaknya, ia tidak tau harus memasak apa, namun biasanya jika ayahnya sedang tidak fit,
ia akan membuatkannya sup jagung telur, semacam hidangan pembuka yang berisi jagung, ayam, wortel dan tambahan sayuran yang lain, bumbunya hanya bawng merah, putih, garam, kaldu jamur dan tambahn daun bawang, daun seledri serta larutan tepung maizena sebagai pengental.
Ponsel Janeth berbunyi, dengan nama kontak baby bos.
“Ya, halo Shian.”
“Kau ini pergi ke mansions atau ke kutub selatan ha? Kenapa lama sekali Janetha Janeth!” bentak Shian.
“Iya.. ini sebentar lagi jadi masakannya! Dasar bawel!”
“Pastikan mama yang memasak! Bukan maid!” perintah Shian, lalu menutup teleponya.
“Pastikan mama yang memasak, bukan maid! Memang bukan mamamu yang memasak, bukan juga maid, tetapi aku, Shian!” Janeth bermonolog, sambil menirukan gaya bicara Shian.