
Yoshi POV
Hari itu teman-teman Ana mengambil foto kami dengan berbagai gaya, berlatar bagian depan kapal itu. Tetapi, ada yang mengharukan di sini, Dianna teman Ana tidak ikut bersama kami sebab ia sedang hamil tua.
My robotic David, tidak mau kalah dariku. Anak pertama mereka perempuan, dan yang kedua sepertinya laki-laki. Berulang kali asisten kakuku itu mengejekku saat anak keduaku lahir.
Dan sekarang tiba gilirannya, aku akan membalasnya, berbagai kota dan negara telah kami kunjungi sesuai dengan itinerary yang tercantum, hingga tak terasa liburan ini hampir usai.
***
Satu bulan berlalu dengan sangat cepat, ini adalah cruise terakhir kami di kapal ini. Dan Warnemunde, Germany merupakan port terakhir atau tempat sandar terakhir untuk kami sebelum terbang ke Indonesia.
Hari ini kami akan disembarking dari besi terapung penuh kenangan antara gadis penghutang dan rentenir tampan yang kini telah bersatu.
Aku dan Ana bergandengan tangan menyusuri suasana kota di pinggiran sungai itu, ini bukanlah pusat kotanya, melainkan lebih seperti daerah pedesaan dengan segala sesuatunya yang berbau klasik tentang negara Jerman. Dengan aliran sungai menghiasi wilayah bersuhu sejuk itu.
"Sayang, apa kau senang dengan liburan kita?" tanyaku, dan Ana tersenyum sambil merebahkan kepalanya di pundakku.
"Sangat senang Mas, tetapi aku masih ingin pergi ke Ushuaia," ucap Ana sambil memanyunkan bibirnya. Jika saja ini bukan tempat umum, sudah pasti kalian tau apa yang akan kulakukan pada bibir yang sering mengataiku rentenir mesuum itu.
"Astaga sayang, itu sangat jauh. Untuk apa kau ingin pergi ke ujung dunia jika duniamu saja berada di hadapanmu, hm?" Ana mengeratkan genggaman tangannya pada tanganku.
"Kau benar Mas Ikau, aku telah mendapatkan duniaku. Semoga bukan hanya di dunia ini saja kita dan keluarga ini akan bersama tetapi hingga di akhir hayat nanti menuju keabadian yang hakiki," perkataan Ana itu terasa menggetarkan dadaku.
"Kau benar sayang. Hey, lihatlah apa kau ingin membeli lekker?" Aku menawarkan Ana untuk membeli kue yang biasa kita jumpai di rumah.
"Tidak Mas, aku ingin ke jembatan itu!" ucapnya antusias.
"Kau ingin memasangkan gembok pada jembatan? lalu membuang kuncinya ke dasar sungai? agar hubungan kita langgeng? Ah, itu mitos sayang!"
"Itu hanya akal-akalan penjual gembok saja agar dagangannya laris, haha."
Ana tetap saja memaksa untuk membeli benda ikonik di jembatan itu.
"Ayolahh Mas, terakhir kali aku kemari, aku telah menuliskan nama Mas Ikau, pada gembok itu," rengek Ana.
"Lalu? Bukankah itu bagus?"
"Bukan, itu tidak bagus. Aku memang telah menulis kata ich liebe dich Ikau, (Aku mencintaimu Ikau) pada satu sisi gembok itu."
"Dan aku juga menulis ich hasse dich Yoshi (Aku membencimu Yoshi) pada sisi lainnya.
Lalu kubuang kunci itu sejauh mungkin agar tak satupun orang bisa menemukannya untuk membuka gembokku."
"APA?! Bagaimana bisa begitu?!"
Seketika kutatap wajah tak berdosa itu. Dia mengatakan hal itu dengan santainya, tetapi entah mengapa responku sangat lebay.
"An, cepat perbaiki tulisanmu. Hah, ternyata hal itulah yang membuat kita terus saja berdebat selama ini!" Aku tidak habis pikir mengapa Ana terkadang harus melakukan hal bodoh.
Ana tertawa terbahak melihat ekspresiku.
"Mas, sudahlah. Tak apa, itu hanya mitos," Dia semakin mengeraskan tertawanya saat melihatku panik memperhatikan satu persatu gembok yang tergantung pada rails jembatan itu.
"Mas, jangan gila. Matamu bisa keluar dari kelopaknya jika kau harus memperhatikan satu persatu dari jutaan gembok ini!" Ana masih saja mengejekku.
"Kau benar-benar ya! Mengapa kau harus menuliskan Yoshi juga di sana, ha?"
"Bukankah aku telah menulis i love you Ikau juga?"
"Lagipula salahmu sendiri tidak mengaku dari awal tentang dirimu yang sebenarnya!"
"Biarkan saja, tulisan itu seperti itu Aku akan tetap mencintaimu Mas, entah kau Ikau atau Yoshi, bagiku kalian sama saja, biarkan saja tulisannya membenci dan mencintai satu orang dalam waktu yang bersamaan," Ana terus saja meyakinkan tentang hal itu.
Tetapi, sepertinya aku mulai percaya pada mitos.
"Tidak An, itu akan menjadi hal yang rancu dan membuat takdir kebingungan," ucapku.
"Kita akan terus bertengkar jika kau tak menghapus salah satunya!"
Akhirnya tak ingin membuat pikiranku kacau, aku pun membeli gembok lagi dan menuliskan namaku dengan Ana.
...Yoshi Ana love Readers and all the Noveltoon fams😜...
...ich Liebe dich Guys💖...
Segera kukaitkan gembok itu dan menguncinya rapat-rapat, lalu kubuang kuncinya ke sungai agar kunci itu berkarat dan menjadi rusak sehingga tak ada yang mampu membuka gembok ini.
(Seperti halnya hubungan di antara kita semua genkk! yang terkunci dan terpatri di dalam hati, meski tidak saling menampakkan diri lagi😫🤗)
(Gambar Warmemunde in real. Satu tahun kemudian, gembok cintanya udah gak ada dan dihilangkan karena rails/pegangan jembatan itu ambruk akibat kelebihan muatan genk, tapi tidak dengan rasaku pada kalian semua ottor dan reader ksygn🤧😫)
***
Tiba di Indonesia keesokan harinya. Ana segera membereskan barang-barang dan segala peralatan baby yang masih belum tertata rapi. Dia adalah istri yang cekatan, dan tidak pernah percaya pada kinerja nanny.
Dia tampak sibuk sekali, bahkan saat malam tiba pun ia masih saja sibuk dengan barang-barang kami, aku pun memintanya untuk beristirahat saja.
"Sayang, sejak pagi. Kau sangat sibuk. Apa yang sedang kau lakukan sebenarnya ha?"
Ana masih tidak menjawab petanyaanku. Aku pun menghampirinya.
"Mommy, sedang apa? Sejak tadi aku bertanya padamu," kataku sambil melihat apa yang sedang ia kerjakan.
"Mas, aku sedang mencari sesuatu. Sepertinya tertinggal di kapal," Ana terlihat gelisah hingga keringat mulai membasahi dahinya.
"Sayang, apa yang tertinggal? Apa itu penting?" Aku mulai penasaran. Mengapa Ana begitu panik mencari benda itu.
"Iya Mas, sangat penting. Sudahlah, aku akan mencarinya besok pagi saja," ucap Ana mulai kelelahan.
Dia sudah sangat lelah tidak mungkin aku membuatnya semakin bertambah lelah, bukan? Akhirnya aku pun tertidur, meskipun masih ada sesuatu di bawah sana yang terasa mengganjal dan mengganggu.
(Sudahlah, sabar dulu Jun kek kunci lagi nyariin gemboknya aja, kubuang kuncimu ke sungai mau? 😝)
Keesokan paginya, aku berangkat ke kantor seperti biasa, sementara Ana masih dengan raut wajah tak biasa. Beberapa kali aku menanyakan ada masalah apa, tetapi dia tidak mau menjawabnya.
"Mas, aku hanya sedang mencari sesuatu di koperku. Aku akan mencoba menelepon pihak front desk di kapal, untuk memeriksanya," ucap Ana.
"Ya sudah, aku berangkat kerja dulu ya sayang. I love you," dia mencium tanganku dan aku pun mencium keningnya, dan sedikit kecupan pada bibirnya. Hehe.
***
Sore harinya, sepulang dari kantor kulihat mama dan para nanny sedang sibuk mendiamkan Shian dan Shiana, aku pun bergegas ke kamar untuk menemui istriku.
"Sayang, little menangis. Mungkin dia haus, apa kau sedang mandi?" Kulihat ruang shower itu masih kering tak ada tanda-tanda bakas guyuran air.
"Ma, dimana Ana?" aku menuruni anak tangga dan mencari keberadaan istriku.
"Yosh, Ana pergi dari tadi siang..."
"Kemana Ma?"
"Ke ujung dunia, "
"Apa? apa maksud mama ha?" aku masih tak mengerti dengan perkataan ibuku.
"Ana minta izin pada mama untuk pergi ke Argentina hari ini."
Aku menelan ludahku kasar, apa-apaan ini.
"Ana seperti sedang kebingungan mencari sesuatu, lalu sebuah telepon datang dan mama tidak tau apa yang terjadi. Saat itu juga Ana pergi ke bandara."
"Kau tau, Ana bahkan meninggalkan ponselnya... "
Astaga, kekacauan apa lagi ini An, apa kau akan terus saja berlari dariku? bahkan di saat kisah ini akan berakhir dengan happy ending?
Aku bersumpah akan menghancurkan Author tengik itu jika dia masih saja memperumit kisah kami!