
Malam itu akhirnya Yoshi tertidur di pangkuanku, dengan pelan kurebahkan kepalanya pada bantal, aku takut membuatnya terbangun, lalu aku pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kupandangi tubuh polosku pada cermin yang yang terpasang pada dressing table di sebelah shower. Aku tersentak kaget melihat puluhan tanda merah keungunan pada sekujur tubuhku. Ini persis seperti kissmark yang pernah dia berikan pada saat aku mabuk dulu.
Saat itu aku sangat marah padanya, dan berfikir yang tidak-tidak. Padahal hanya ada satu kissmark di punggungku dan itu pun dia lakukan karena dia ingin memberikan pelajaran padaku sebab aku terlalu ceroboh dalam memilih pakaian.
Saat ini mungkin memang belum terjadi sesuatu pada kami berdua tetapi jika orang lain melihat ini pasti mereka akan berfikir betapa hebatnya permainan kami semalam. Sungguh bodoh. Aku yang telah merusak semuanya.
Apa yang bisa kulakukan, semua yang ada di benakku sangat menggangguku saat ini, aku harus meyakinkan hatiku jika semuanya akan baik-baik saja. Mulai sekarang aku akan mencoba percaya pada Yoshi, besok aku akan bicara padanya tentang ini.
Setelah selesai mandi, aku kembali ke tempat tidur. Kulihat Yoshi masih terlelap di sana. Kurebahkan tubuhku di sampingnya. Tanpa sadar mata ini inginkan terus melihat wajahnya. Betapa wajah ini begitu menenangkan saat sedang terlelap.
Aku merasa ini bukan diriku, sejak kapan ada rasa nyaman seperti ini ketika berada di dekatnya. Bukankah selama ini aku selalu saja menghindarinya. Lalu mengapa setelah beberapa hari ini berada di dekatnya membuatku memiliki rasa yang tak dapat kuungkapkan, semacam rasa tak ingin kehilangan.
"Yosh, aku tak tau bagaimana perasaanmu padaku sebenarnya. Apa kau masih mencintai gadis itu?" Ucapku lirih sambil memandangi wajahnya yang masih terlelap.
Alis itu, mata itu dan bibir itu mengapa semuanya terasa sangat familiar. Apakah benar kami pernah bertemu sebelumnya. Tetapi di mana, bukankah Yoshi selama ini menjalani hidupnya di Jakarta.
Aku terus saja membayangkan hal-hal yang akan terjadi setelah ini. Ada rasa takut yang begitu besar. Mengapa Yoshi tidak ingin mengenalkanku pada kedua orang tuanya jika benar dia tidak menyembunyikan sesuatu dariku.
"Yoshi, apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku? Bukankah kita telah menikah? Apa kau benar-benar hanya menganggapku sebagai istri penebus hutang hingga aku tak pantas untuk dikenalkan pada keluargamu?" Ucapku lirih, kali ini tanganku mulai tak bisa terkontrol.
Aku meraih wajah itu, jari-jemari lentikku mulai menyusuri pahatan Tuhan yang sempurna di hadapanku ini. Aku masih sangat penasaran dengan alis dan matanya. Mengapa kedua kombinasi ini sangat tak asing bagiku. Sepertinya aku mulai menyukai bagian dari wajahnya ini.
"An, aku mencintaimu... " Ucap Yoshi dalam tidurnya, sebuah pernyataan yang terang saja membuat hatiku berbunga. Orang bilang, seseorang akan berkata jujur dalam tidurnya.
Baik, aku akan mencoba menanyakan beberapa pertanyaan. Aku tahu ini hal bodoh tetapi siapa tau saja aku bisa mendapatkan petunjuk untuk itu.
"Yoshi, apa kau benar-benar memiliki rasa padaku? Jika itu benar sejak kapan rasa itu mulai ada?" bisikku pada telinganya.
"Sejak dulu An. Percayalah I love you to the moon and back." ucap Yoshi dengan suara agak serak.
"Sejak kapan? Katakan dengan jelas?" Tanyaku lagi.
"Sejak SMA. Sejak pertama kali aku melihatmu." Jawab Yoshi, pernyataan ini membuatku berfikir, mengapa dia sangat tidak jelas. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan, aku akan mengungkapnya. Mungkinkah yang dimaksud olehnya adalah gadis itu. Secepat kilat aku menanyakannya.
"Lalu di mana gadis itu sekarang? dan bagaimana kau bisa tau tentang Mas Ikau?" tanyaku lagi masih dengan berbisik di telinganya.
"Gadis itu......" ucapnya menggantung.
"Ya, Yoshi katakan padaku di manakah dia sekarang?" tanyaku lagi. Aku mulai antusias untuk mendengarkan ucapannya.
"Gadis itu sudah bersama dengan Mas Ikaumu saat ini..... " Ucap Yoshi sambil tersenyum. Astaga perkataannya semakin tidak jelas saja, ini membuatku sangat pusing. Mengapa dia jadi menyangkut pautkan gadis itu dengan Mas Ikau.
"Yosh, bicara yang jelas!" Ucapku sedikit menaikkan intonasiku. Hampir saja aku kehilangan kesabaran karena perkataan Yoshi yang berputar-putar.
"Ana, berhentilah membahas ini. Mari kita mulai saja proses pembuatan cucu untuk Ibu dan Mama.. " Jawabnya, aku melihat tubuhnya mulai menggeliat. Sepertinya dia mulai terganggu dengan aksiku. Akhirnya aku putuskan untuk menyusulnya ke alam mimpi saja.
****
Sinar mentari mulai memasukki ruangan ini, memberikan kehangatan alami untuk tubuhku yang masih tertutupi selimut. Terdengar suara perempuan menyapaku.
"Selamat pagi Nyonya Ana." Ucapnya sambil tersenyum. Aku melihatnya yang sedang berdiri dan menunduk. Seketika kulihat ke arah samping, tidak ada Yoshi di sana. Atau pun di sekeliling ruangan ini.
"Selama pagi, Ni.. Ni luh, benarkah namamu Niluh?" tanyaku ambil melihat nama dadanya.
"Kau masih sangat muda, sepertinya seusia adikku. Panggil saja aku kakak jangan memanggilku dengan sebutan Nyonya," kataku mencoba mengakrabkan diri padanya.
"Ti-tidak Nyonya, saya takut pada Tuan." Jawab Niluh dengan canggung.
"Apa Tuanmu segalak itu? Ngomong-ngomong di mana dia? bukankah ini terlalu pagi untuk berangkat ke kantor?" tanyaku sambil melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 05.30.
"Tuan pergi sejak pukul 04.00 tadi Nyonya, dan meminta saya untuk menunggu Nyonya sampai terbangun untuk sarapan." Jawab Niluh dengan tray besar di tangannya.
"Tapi Tuan pergi kemana? Apa kau tau?" tanyaku, aku sangat penasaran. Dan mengapa Yoshi tidak membangunkanku untuk berpamitan.
"Maaf Nyonya, saya kurang tau. Seingat saya tuan sangat terburu-buru tadi pagi. Tanpa berpesan apa pun kecuali untuk menjaga Nyonya agar tidak meninggalkan mansion." Kata Niluh, aku pun tak bisa berkata apa-apa lagi dan meminta Niluh untuk melanjutkan pekerjaannya.
****
Aku masih saja terdiam, memikirkan kemana perginya Yoshi, apakah dia marah padaku, atau mungkin merasa kecewa dengan sikapku. Ada sedikit perasaan bersalah bersarang di hatiku saat ini, aku terus berfikiran positif mungkin saja Yoshi memang sedang mendapat panggilan mendadak karena urusan bisnis.
Waktu terus berjalan hingga siang hari pun belum ada kabar darinya, setidaknya untuk memberikan pesan singkat kepadaku saja tidak ia lakukan. Aku mulai merasa khawatir.
Kuputuskan untuk keluar kamar dan melihat kondisi di mansion ini, ada 3 lantai dan satu lantai utama. Sementara kamar kami berada di lantai dua. Beberapa kali aku berpapasan pada pelayan dan mereka sangat ramah, beberapa kali menanyakan apa yang bisa mereka lakukan untukku.
Sepertinya Yoshi benar-benar melatih mereka. Aku terus berjalan menyusuri koridor bangunan ini. Hingga sampai di depan ruangan yang pintunya terbuka. Aku pun masuk ke dalam.
Kulihat meja dan kursi yang terbuat dari kayu fancy, lengkap dengan laptop dan beberapa berkas di atas mejanya. Sementara di sudut ruangan terdapat rak besar dengan deretan buku-buku tertata rapi. Bisa kupastikan sepertinya ini adalah ruang kerja Yoshi.
Mataku terus berkelana menyusuri setiap ornamen yang ada di ruangan ini, hingga tanganku tiba di sebuah meja kecil di pojokan. Entah mengapa tanganku ini sangat gatal ingin membuka laci tersebut.
Hingga kuberanikan diri untuk membukanya perlahan. Sesuai dugaanku tak ada yang istimewa, hanya ada satu kotak kardus kecil bertuliskan From Bali with Love. Aku meraih kotak kardus kecil itu, kuperhatikan lagi wujudnya, sepertinya ini dari Bali.
Tetapi mengapa Yoshi menyimpan kotak kosong ini, padahal tak berisi apa-apa. Melihat dari keadaannya yang mulai terkoyak sepertinya kotak ini sudah berusia tahunan.
Sekilas aku teringat akan gelang Bali yang dulu diberikan Mas Ikau untukku, bedanya gelangku itu terbungkus dengan kotak merah beludru dengan hiasan pita emas, sangat cantik. Aku masih menyimpannya di dalam koperku.
Mungkin jika aku memasukkan gelang itu ke dalam kardus ini, akan sangat pas ukurannya. Seperti satu paket oleh-oleh dari Bali. Lamunanku terhenti saat David, asisten Yoshi datang memasukki ruangan ini.
"Selamat siang Nyonya," sapanya dengan santun.
"Siang David, aku tak melihat tuan sejak pagi, kemanakah dia?" tanyaku padanya.
"Tuan mendadak pergi ke Inggris pagi ini Nyonya. Nyonya besar meneleponnya untuk segera ke sana." Ucap David.
Aku cukup terkejut mendengarnya, bagaimanapun aku adalah istri Yoshi sekarang, dan aku berhak tau tentangnya, tentang apa yang sedang terjadi. Namun seolah menutupinya dariku. Hingga Yoshi pergi terburu-buru sebelum aku terbangun dari tidurku.
"Apa kau tau tentang apa yang sedang terjadi?" tanyaku pada David.
"Mohon maaf Nyonya saya kurang tahu, saya mohon undur diri untuk kembali ke kantor. Mengingat saat ini Tuan sedang tidak berada di tempat sehingga saya yang harus menggantikan posisinya untuk sementara waktu." Ucap David dengan sopan sambil melangkah pergi dengan membawa sejumlah dokumen di atas meja.
Padahal aku ingin sekali bertanya tentang kehidupan Yoshi padanya, termasuk tentang kotak kardus kecil ini, apa boleh buat. David sedang sangat sibuk sekarang.
****
Tiga hari berlalu, tetap saja tidak ada kabar dari Yoshi. Aku semakin mengkhawatirkannya, berulang kali kucoba menghubunginya namun tidak ada balasan.
Pikiranku mulai kacau, aku mulai berfikir yang tidak-tidak lagi. Bagaimana jika benar Yoshi akan meninggalkanku setelah semua yang terjadi. Aku sangat panik hingga tak tau lagi harus berbuat apa. Suamiku menghilang entah kemana.