My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Apa Aku Hamil?



"A-apa? Hamil?" Tanyaku kepada Yoshi, yang dijawabnya hanya dengan anggukan saja. Raut wajah itu sangat datar. Entah menunjukkan keseriusan atau kemarahan atau apa aku tak tahu.


"Tidak mungkin ! Kau pasti berbohong!" teriakku memenuhi ruangan pavilion rumah sakit tersebut.


"Jaga kesehatanmu An," ucap Yoshi masih dengan raut wajah yang sama.


"Apa kau gila? Siapa yang hamil ha?" aku masih saja tak percaya. Namun setelah kuingat-ingat lagi bukankah bulan ini aku belum mengalami menstruasi. Tapi bukankah keterlambatan mens itu disebabkan karena banyak faktor. Ya ampun, apa yang sebenarnya terjadi.


"Ana, bukankah menstruasimu tidak teratur akhir-akhir ini?" tanya Yoshi. Bagaimana dia bisa tahu tentang hal ini, batinku.


"Kau tau itu?" tanyaku padanya.


"Tentu saja, jika dihitung dari terakhir kita melakukannya sangat wajar bila sejak bulan kemarin kau belum mengalami menstruasi." Ucap Yoshi, astaga pria ini benar-benar membuatku gila. Apa katanya? Terakhir kita melakukannya, melakukan apa maksudnya.


"Bicara yang jelas Yoshi." Kataku membentaknya.


"Bukankah malam itu sudah kukatakan maafku padamu An." Ucapnya masih dengan teka-teki.


"Maaf apa? Bicara yang jelas atau aku akan menghajarmu!" kataku. Aku akan benar-benar membunuhnya jika dia masih saja seperti ini.


"Malam saat kau mabuk sekaligus malam kekhilafanku." Katanya sambil merangkup wajahnya menunjukkan penyesalan. Ya ampun, Yoshi seperti tidak sedang berpura-pura.


"Be-benarkah telah terjadi sesuatu di malam itu Yosh?" tanyaku terbata. Aku masih tak percaya pada Yoshi sebab selama ini dia jago sekali berbohong.


"Maafkan aku An... " Katnya lirih. Sungguh kali ini aku tak dapat mendeteksi kebohongannya sama sekali ditambah wajahnya yang sedari tadi tidak berani menatapku dan tangannya yang sibuk memainkan tanganku.


****


Aku masih saja mematung terbaring di kasur. Aku harus bertemu dengan dokter dan menanyakan apa yang sebenarnya kualami, sebab percuma saja jika aku tetap bertanya pada Yoshi.


Tak lama kemudian, Ibu dan Luna masuk ke ruangan ini.


"Mbak, gimana keadaannya? Mana yang sakit?" Tanya Luna sangat antusias. Tetapi belum sempat aku menjawabnya. Ibu sudah menghampiriku dan menata barang bawaannya di meja.


"An, ibu tadi ijin sama dokter buat bawain kamu bubur. Dimakan ya, kalian berdua harus sehat." Kata ibuku, aku masih memikirkan kata 'kalian berdua' yang diucapkan olehnya. Benarkah aku sedang hamil saat ini, apakah yang dimaksud ibu dengan kalian berdua adalah aku dan bayiku, kataku dalam hati.


Sementara Yoshi sedang sibuk menonton televisi tanpa menoleh ke arah kami.


"Buk, apa Ana hamil?" tanyaku pada ibu, terpaksa kutanyakan semuanya saat ini juga daripada aku mati penasaran.


"A-apa?" Ibuku malah berganti bertanya. Sial, ini sangat mencurigakan. Sementara Yoshi masih saja sibuk dengan acara di televisi.


"Buk, apa kata dokter? Benarkah Ana hamil?" Ucapku lagi, memperjelas keadaan. Inginku menampar diriku sendiri saat ini.


"Tapi dokter bilang, kau hanya mengalami kenaikan asam lambung An, seharian ini dari pagi hingga malam tak ada makanan yang masuk ke perutmu. Maka dari itu asam lambungmu naik dan menyebabkan mual yang hebat dan juga pusing di kepalamu itu disebabkan karena menstruasi yang tidak teratur." Jelas ibuku detail.


Jangan tanyakan lagi bagaimana ekspresiku saat ini. Aku meremas kasar sprei putih rumah sakit ini membayangkan sprei ini adalah wajah Yoshi.


Aku yakin saat ini dia sedang berusaha keras menahan tawanya di ujung sana. Dan dengan bodohnya aku percaya begitu saja padanya. Sementara ibu juga sudah mendengar pertanyaan konyolku barusan.


"Tapi tadi ibu bilang 'kalian berdua' harus sehat, maksudnya apa buk?" tanyaku masih saja penasaran.


"Ya, tentu saja kamu dan Nak Yoshi yang harus sehat, memangnya siapa lagi?" ucapan ibuku, astaga kenapa aku tak berfikir ke arah sana.


"Oh iya Buk." Jawabku singkat. Sementara kulihat Luna dan Yoshi saling berpandangan dan menahan tawa. Oh sekarang aku baru tau, ternyata mereka berdua telah bekerja sama untuk mengerjaiku.


"An, sekarang kamu sudah jadi seorang istri, bersikaplah yang baik pada suamimu ya, sejak tadi dia juga belum makan apapun, karena menunggumu tersadar. Ibu dengar kamu juga pernah seperti ini ya waktu di kapal kemarin, untung Nak Yoshi ada bersamamu di sana. Ibu benar-benar bersyukur untuk itu.Perihal hamil, Ibu tau mungkin kamu ingin segera memiliki momongan, sabar ya An. Kan menikahnya baru hari ini, malam pertama aja belum kan. Sebenarnya ibu juga ingin segera menimang cucu.Tapi ibu sabar kok. Hehe," kata ibuku, aku benar-benar malu sekarang.


Seakrab inikah Yoshi dan ibuku, hingga Yoshi juga menceritakan peristiwa mabukku itu, semoga saja ibu tidak tahu bahwa saat itu aku muntah-muntah karena minum red wine.


"Ehem... " Terdengar suara deheman, tentu saja si brengsek itu yang sedang berdeham.


"Oh ya sudah kalau begitu, ibu pamit pulang dulu ya. Ibu harus melihat kondisi Bapak dan mengabarkan bahwa acara hari ini berjalan dengan lancar." Kata Ibu sambil berpamitan pada menantu kesayangannya juga.


"Tentu Ibu, do'akan agar cucu Ibu segera diproses ya." Ucap Yoshi dengan jahil.


"Pasti Nak," balas ibuku sambil tertawa. Lihatlah mereka semua sangat kompak dan bahagia. Apakah hanya aku di sini yang tidak berbahagia.


"Eh Mbak, cepat makan buburmu karena setelah itu Mbak yang akan dimakan sama Kakak ipar. Haha." Kata Luna, sejak kapan anak ini sejahil ini, batinku.


"Dasar bocil !" ucapku sambil mencubit lesung pipinya yang menggemaskan.


Ibu dan Luna pun keluar kamar, meninggalkan aku dan Yoshi sendirian.


Bugggh....


Kulemparkan bantal ke arah Yoshi. Dia pun kaget dan tertawa terbahak-bahak. Jika tak ingat ada infus yang terpasang di tanganku, sudah pasti aku menghampirinya dan menghabisinya saat ini juga.


"Ampun sayang! " pekik Yoshi menghindari seranganku.


"Aku akan membunuhmu!" kataku, aku sangat kesal padanya.


"Jangan, nanti kalau aku mati, siapa yang akan menjagamu dan anak kita." Ucapnya masih saja seperti itu.


"Masih saja ya! Masih saja seperti itu!" Dengusku kesal.


"Sudah An, ayo kita makan." Katanya dengan entengnya dan melupakan apa yang telah dilakukannya padaku beberapa waktu lalu.


"Enak saja, masalah kita belum selesai." Kataku.


"Masalah apa? masalah kehamilanmu? tenang An, aku pasti akan menghamilimu secepatnya." Katanya sambil sibuk membuka bungkusan bubur dari ibu.


"Kenapa kau sangat menyebalkan ha? Kau selalu saja membuatku kesal, kenapa?" ucapku, entah mengapa kekesalan ini membuatku hingga meneteskan air mata.


"Hey, kenapa menangis. Terharu karena akhirnya Yoshi berhasil mendapatkan Ana?wkwk." Katanya sambil duduk di kasurku dengan bubur di tangannya.


"Dasar!" Ucapku sambil mencubit perut berototnya. Dia pun memekik kegelian dan mencubit pipiku dengan gemas.


"Buka mulutmu." Kata Yoshi sambil mengarahkan sendok ke mulutku.


"Aku bisa makan sendiri." Jawabku sambil meraih sendok dari tangannya.


"Sudah, menurut saja An, dimanja sama suami kok protes." Ucapnya, aku pun menurutinya hingga bubur itu habis.


"Apa kau mau aku suapi juga?" Tanyaku, entah mengapa aku merasa ingin membalas perhatian Yoshi.


"Oh manisnya istriku." Ucap Yoshi sambil mencium keningku. Aku menyesal telah memberinya tawaran baru saja.


"Jadi mau disuapi apa tidak?" Tanyaku menahan hawa panas di pipiku karena ciuman itu.


"Tidak sayang. Kau masih sangat lemah saat ini. Aku bisa makan sendiri. Apa kau keberatan jika aku makan di luar?" Tanyanya, aku merasa Yoshi mengkhawatirkan kondisiku dan ini sangat membuatku bahagia.


"Tidak apa Yosh, pergilah aku sudah jauh lebih baik saat ini." Kataku.


"Bagus, aku tidak akan lama sayang." Kata Yoshi.


Dan...


Cupp...


Sebuah kecupan singkat mendarat di bibirku. Aku masih terpaku terdiam, sementara setelah berhasil mencuri satu ciuman Yoshi langsung pergi keluar kamar tanpa melihat reaksiku yang tak dapat kuungkapkan ini.


Hawa panas di kedua pipiku mulai terasa lagi, ingin marah tetapi dia berhak atas diriku,


Ya Tuhan tolong kuatkan aku untuk tetap tersadar.