My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Apa yang terjadi semalam?



Aku masih berusaha untuk membuka mataku tetapi cahaya mentari pagi dari jendela kamar ini begitu menyilaukan mata sehingga aku masih harus mengernyitkan kedua mataku.


Tapi, sejak kapan kabinku mempunyai jendela. Lantai B adalah lantai kedua terbawah dari sekian banyak lantai di kapal ini. Bahkan jika kabin kami mempunyai jendela maka yang terlihat hanyalah gelapnya air laut karena memang letaknya sudah di bawah permukaan air.


"Sudah sadar? atau mau disadarkan?" terdengar suara pria yang ada di hadapanku.


Dalam pengelihatanku yang masih buram, dia memakai seragam putih dan celana navy. Dengan berbagai atribut pada seragam itu. Sempat terfikir olehku bahwa dia adalah Reza tetapi, setrip putih keemasan di pundaknya itu membuatku ragu.



Sejak kapan Reza memiliki tiga setrip, bukankah jabatannya yang masih sebagai asisten crew officer hanya memiliki satu setrip. Bahkan mungkin hanya setengah.


Kemudian aku mulai melihat ke sekeliling ruangan ini, aku yakin ini bukan kabinku. Ornamen klasik berbahan kuningan dan furniture fancy yang dimiliki ruangan ini seperti milik kamar penthouse.


Degg


Ya, ini kamar Penthouse. Ini kamar Yoshi. Bahkan sejak tadi dia berada di hadapanku. Seketika aku terbangun dari tidurku. Dan kulihat dia terduduk di kursi sofa sambil menyilangkan kakinya.


"Bagaimana aku bisa berada di sini?" Tanyaku padanya. Yang dibalasnya dengan tatapan mesum ke arah tubuhku yang masih tertutup selimut.


Seketika kulihat tubuhku dan kulepaskan selimut itu. Aku merasa lega, gaun yang kupakai semalam masih melekat di tubuhku.


"Apa kau lupa dengan apa yang terjadi semalam?" tanya Yoshi sambil tersenyum.


"Memangnya apa yang terjadi tadi malam?" tanyaku padanya. Aku benar-benar tidak ingat. Seingatku semalam aku berada di party bersama triple temanku itu.


"Haruskah aku mengatakannya?" kata Yoshi masih dalam posisi yang sama.


"Cepat katakan siapa yang membawaku ke mari?" Jawabku, aku sangat penasaran bagaimana bisa aku tertidur di kamar lintah air ini.


"Coba ingat-ingat lagi apa yang sudah kau lakukan padaku semalam?" Tanya Yoshi lagi. Membuatku kesal saja, memangnya apa yang sudah kulakukan padanya.


"Jangan berbelit-belit, katakan saja apa yang terjadi?" ucapku semakin penasaran.


"Kau sangat agresif semalam. Membuatku tidak bisa melawan." Katanya sambil meminum secangkir kopi di tangannya. Tetapi aku bisa melihat tawa di balik cangkir itu. Sepertinya dia sedang menahan tawanya sendiri.


"Apa maksudmu ha?" kataku semakin bertanya-tanya. Apakah semalam terjadinya sesuatu di antara kami berdua.


Ah tidak mungkin, bahkan gaunku saja masih terlihat sama seperti terakhir kali kumelihatnya. Kuperiksa lagi bagian tubuhku yang lain. Tetapi tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.


Pasti Yoshi sengaja mengerjaiku hanya untuk mengacaukan pikiranku saja.


"Sudah kubilang, kau membuatku kewalahan semalam." Jawabnya masih dengan kalimat yang menggantung. Membuatku mulai khawatir, jangan-jangan memang terjadi sesuatu semalam.


"Kewalahan bagaimana?" Tanyaku spontan.


"Sangat sulit untuk dijelaskan, dan aku malu untuk menceritakannya." Jawab Yoshi masih terlihat senyuman yang berusaha ia tahan.


"Kau bohong! Kau pembohong Yoshi! Aku tak mungkin berbuat seperti itu." Ucapku sambil beranjak dari tempat tidur ternyaman ini.


"Apa yang bisa kukatakan Ana? Jika Kau tak percaya tanyakan saja pada David." Jawabnya dengan memasang muka polos, betapa itu sangat menyebalkan.


"Kau mengada-ada Yoshi, aku tau itu." Jawabku.


"Bahkan kau melingkarkan tangan halusmu ini di leherku, aku sudah berusaha melepasnya tetapi apa boleh buat, sepertinya kau sangat menginginkanku." Katanya ambil berdiri dari kursi dan berjalan ke arahku.


Astaga aku baru sadar Yoshi terlihat seribu kali lebih tampan dari biasanya dengan mengenakan seragam officer itu. Sayangnya aku masih belum tertarik padanya.


"Apa perlu kita ulangi saja kejadian tadi malam agar kau bisa mengingat semuanya?" katanya semakin mendekat kepadaku.


"Apa maksudmu? Dan bagaimana bisa kau menjadi seorang kru sekarang?" tanyaku tanpa basa basi aku sangat penasaran bagaimana itu bisa terjadi.


"Aku tidak bisa melupakan kejadian semalam An, " katanya sambil mengelus rambutku yang segera kutepis.


"Aku tanya padamu, bagaimana bisa kau bekerja di sini sekarang? Apa uangmu masih kurang? Bahkan setelah kau memerasku. " Tanyaku padanya, aku heran untuk apa dia melakukan semua ini.


"Ke marilah, aku akan memberitahumu sesuatu sayang." Katanya sambil menggandengku untuk duduk di kasur bersamanya.


"Jangan panggil aku Sayang. Aku bukan sayangmu! " Jawabku sambil menepis tangannya dari pundakku.


"Lihatlah dirimu, bahkan setelah kejadian semalam kau masih belum bisa menerimaku?" Tanyanya sambil menatapku. Sebenarnya aku tau tatapan itu mengarah ke belahan dress yang memperlihatkan pahaku.


"Dasar mesum! Cepat katakan apa yang ingin kau katakan, aku harus segera kembali ke kabinku sekarang juga." Jawabku sambil menutupi pahaku dengan selimut.


"Aku sengaja bekerja di sini untuk menjagamu sayang, lagi pula David cukup bisa di andalkan untuk mewakiliku di perusahaan." Jawabnya. Yang sepertinya tidak ada kebohongan di dalamnya.


"Bukankah seorang lelaki memang harus bekerja keras untuk membahagikan gadis yang dicintainya?" Jawabnya. Membuatku sedikit terkejut. Jadi selama ini dia memiliki seseorang di hidupnya.


"Aku tak percaya jika kau mempunyai seorang gadis. Kupikir hidupmu sangat hampa hingga kau sibuk mengejar-ngejar diriku untuk menikah denganmu." Kataku. Jujur aku sangat penasaran dengan bagaimana tanggapannya.


"Ya. Tentu saja aku punya. Bahkan aku sudah menyukainya sejak duduk di bangku SMA." Jelasnya, sepertinya dia berkata dengan jujur dan itu membuatku jadi ingin mendengar ceritanya.


Ini sangat lucu. Bagaimana bisa aku begitu kepo dengan hidupnya.


"Benarkah? Lalu di mana gadis itu sekarang? Kenapa kau tak bersamanya saja? " tanyaku lagi.


"Tidak. Aku lebih memilihmu, kau lebih menggoda darinya." Jawab Yoshi, lagi-lagi otak mesumnya beraksi.


"Dasar mesum. Aku menyesal telah mendengar ceritamu dengan seksama." Dengusku kesal. Ini adalah kali pertama kami seakur ini.


"Dengarkan aku, apa kau masih tak mengingatku An? " tanya Yoshi.


"Apa maksudmu, bagaimana aku bisa melupakanmu. Kau adalah lintah air yang selalu menggangguku. Bagaimana mungkin aku melupakan itu, " Kataku dengan jujur.


Dia nampak ingin mengatakan sesuatu tetapi terhenti karena jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi dan aku harus segera kembali ke kabinku.


"Aku harus kembali ke kabin." Kataku sambil mengambil steletto yang tergetak di sudut ruangan.


"Aku akan mengantarmu! " Jawab Yoshi. Apa yang dia pikirkan sebenarnya. Bagaimana bila kru lain melihatku berjalan bersamanya, bukankah itu akan menjadi bahan pergunjingan untuk mereka.


"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri." Kataku sambil keluar dari stateroom mewah itu.


Dalam perjalanan menyusuri koridor, aku masih bertanya-tanya bagaimana bisa aku berada di kamar Yoshi. Seingatku kepalaku sangat pusing semalam gara-gara minuman Jenny.


Dan setelah itu aku tak tau apa yang terjadi selanjutnya.


***


Tiba di lantai B.


Aku melihat Jenny, Evelyn dan Dian sedang mengobrol di depan kabinku. Ya ampun pasti mereka akan memberiku begitu banyak pertanyaan.


"Anaa. Ya ampun akhirnya lu balik juga." Kata Dian menghampiriku.


"Cyinn yey ke mana aja! Eyke hampir digorok sama duo macan ini. Gegara yey ilang. " Ucap Jenny sambil memelukku.


"Aku kira kamu di culik An. Ya Tuhan." Ucap Evelyn lemas.


"Lu nyasar ke mana sih An semalem, kita panik tau nggak. Hampir aja kita lapor ke kapten kalo lu hilang." Ucap Dian, astaga itu sangat berlebihan sekali.


Aku masih belum berkata apa-apa. Dan bingung mau berkata apa, bagaimana jika mereka tau kalau semalam aku tidur di kamar IT manager yang kemarin mereka bicarakan itu.


Tiba-tiba seseorang datang menghampiri kami. Dan berkata,


"Sayang, kunci kabinmu tertinggal di kamarku. " Kata pria berseragam officer itu, sambil tersenyum dan memberikan benda pipih berbentuk kartu itu ke arahku.


Tanpa memperdulikan teman-temanku yang saat itu juga menyaksikan adegan itu dengan ekspresi yang tak bisa digambarkan.


Aku pun meraih kunci tersebut sambil melihat Yoshi pergi menjauh dari kami berempat. Astaga bagaimana bisa dia berkata sepertinya itu di depan teman-temanku.


Aku pun berbalik menatap tiga gadis itu, astaga apa yang akan dipikirkan oleh mereka tentangku sekarang.


"Gue mimpi gak sih barusan? Itu IT manager yang hot itu kan? " Ucap Dian.


"Nggak, lu gak mimpi Di. Kayaknya gue yang mimpi barusan. Ya betul itu Dewa Yunani gue. " Ucap Evelyn.


"Cyinnn... Mata eyke balik nggak bisa kedip lagi nih. Gimana dong! " Ucap Jenny.


"Dan Do'i memanggil Ana dengan kata sayang? " kata Dian sambil menatapku.


"Dan Do'i balikin kuci kabin Ana yang ketinggalan di kabinnya. Mata gue siwer gak sih? " sahut Evelyn dengan mulut menganganya.


Aku masih mematung. Rasanya aku ingin kabur dari kapal ini sekarang juga untuk menghindari mereka bertiga.


"An, lu mau jelasin ke kita tentang yang barusan itu, atau kita yang cari tau sendiri? " Tanya Dian menyelidik.


Ya ampun mereka bertiga seperti sedang mengintrogasi seorang tersangka kasus pembuhunan saja.


"Ini gak seperti yang kalian lihat kok, aku bisa jelaskan semuanya. " Kataku sambil menghindari tatapan maut mereka.