My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Keributan



Hari semakin siang, sementara aku dan teman-temanku ini masih saja sibuk bercengkrama.


"Eh An, laki lu gimana sih maennya?" tanya Dian sambil tersenyum jail.


"Main apa maksudnya?" tanyaku.


"Main itu lah, haha. Masa gak tau? iya gak Eve?" ucap Dian dan memberikan kode kepada Eve.


"Iya nih, sampe biru-biru begini loh An,"


"Cyin, eyke ampe ngiler ngebayangin gimana pas si Chief mencetak noda-noda itu wkwk." Jeni ikut berkomentar. Aku pun tak mampu menjawab sambil berusaha menutupi tanda-tanda di sekujur tubuhku ni.


"Kalian ini bikin Ana malu aja, kasian tau!" Celetuk Reza, membelaku.


"Gue sih lebih kasian lagi sama elu Za, haha." Kata Dian, entah mengapa dia hobi sekali mengejek Reza hari ini.


"Udahlah Za, dari pada rahasia lu dibongkar dan diacak-acak sama Dian, mending lu diem deh, panas kuping gue tau!" Sahut Evelyn.


"Dengerin tuh kata Eve, dari pada lu gue mampusin di depan Ana!" lagi-lagi aku dibuat penasaran oleh Dian.


Sementara Reza, hanya terdiam dan memutar mata dan malas tanpa menganggapi perkataan Dianna.


"Cyin eyke laper!" Kata Jenny.


"Si banci ini gak tau diri emang!" Eve melempar bantal ke wajah Jenny.


"Eh Jen, aduh maaf ya. Aku sampek lupa nawarin makan loh!" ucapku sambil memanggil chef.


"Widih, keren. Berasa di kru mess ini mah, ngeliat Chef di rumah ini." Kata Reza, tertawa.


"Bule udik emang lu Za, liat chef aja kagum, liat Ana kagum juga. Haha." Dian kembali menggoda Reza.


"Dian montok, sekali lagi lu ngomong gitu gue kempesin bok*ng lu!" Ucap Reza kesal.


"Udah deh, kalian ini ribut terus. Jodoh baru tau rasa ntar!" ucap Eve.


"Dih, gue sama Dian? Bisa mati berdiri gue, kecapean anu!" Kata Reza memalingkan wajahnya dari Dian


"Maksud lu apa Za?" gertak Dian pada Reza tetapi Reza tetap saja diam.


"Maksud lu apa gue tanya, Reza?!" Kini Dian mulai emosi.


"Gak ada!" jawab Reza ketus.


"Za, maksud lu apa ngomong gitu?" kali ini Dian menarik kerah baju Reza.


"Lu yang mulai Di, gue udah sabar dari tadi. Tapi lu tetep aja mancing-mancing. Semua orang punya privasi Di! dan lu harus tau itu!" Kata Reza, dengan penuh penekanan sepertinya dia juga tersulut emosi saat ini.


"Gue cuma bercanda tadi Za? Tapi, lu malah bilang kayak gitu ke gue, lu pikir gue itu cewek apaan ha? bilang aja lu mau ngatain gue mani*c kan? Jahat lu Za, gue gak kayak gitu!" Dian mulai menggebu-gebu.


"Makanya jaga perasaan orang lain dong Di, buat lu mungkin tadi cuma becanda, tapi buat gue?" Reza tak mau mengalah sama sekali.


"Aduh, bukannya tadi pada bercandaan, kenapa jadi ribut gini sih?" ucapku melerai mereka.


Sungguh sejak pagi kepalaku sudah pusing dengan keributan Yoshi dan mama, sekarang pun Dian dan Reza ribut juga dan aku tak tau apa masalahnya.


Akhirnya Evelyn memutuskan untuk membawa Dian ke ruang tengah sedangkan aku membawa Reza ke halaman depan. Jangan tanyakan dimana Jenny, seperti biasa dia sedang menggoda chef seperti di kapal kemarin sambil mengisi perut tanpa tau bahwa peperangan antar temannya telah berlangsung.


Kami pun duduk di bangku taman. Reza sama sekali tidak berkata apa-apa, akhirnya aku yang memulainya.


"Reza, kamu kenapa sebenarnya?" tanyaku.


"Pusing gue An," jawabnya tanpa melihat ke arahku.


"Pusing kenapa? cerita aja Za,"


"Pusing mikirin haluan hidup gue An," jawabnya masih dengan tatapan lurus ke depan.


"Memangnya haluan hidupmu kenapa Za?" tanyaku.


"An, apa lu bener-bener bahagia sekarang?" tanyanya, kini mata biru kecoklatan itu mulai menatapku.


"Iya dong, bahagia. Kenapa Za?"


"Gak apa-apa sih An, cuma kepo aja, haha!" Ucap Reza sambil tertawa tetapi aku bisa melihat ada yang berbeda pada tawaya, bahkan sejak baru datang tadi, Reza terlihat berbeda dari terakhir kali aku melihatnya dulu.


"Oiya Za, aku minta maaf ya, waktu itu aku gak bisa balikin kotak dari kamu secara langsung jadi aku menitipkannya pada Eve."


"Gak apa An, santai. Gue tau laki lu gak suka sama gue." Ucapnya serius, sambil membetulkan kerah bajunya, sementara kulihat ada luka sayatan pada pergelangan tangan itu.


"Za, itu tangan kamu kenapa? Jangan bilang kamu habis coba bunuh diri?" tanyaku sambil memperhatikan luka itu.


"Bunuh diri gimana? Ngawur lu An?" ucapnya membantah.


"Haha, aku sempet mikir kalo kamu beneran jadi sad boy gara-gara patah hati kayak yang dibilang Dian."


"Reza mana pernah sakit hati An, lu kan tau gue cowok paling populer di kapal kemarin. Haha!"


"Dasar sombong!" ucapku.


Reza POV


Seandainya aja lu tau An, kalo dulu gue beneran mau coba bunuh diri pas tau lu mau nikah sama si Officer Yoshi itu. Gue sakit An, sakit!


Tapi, sekarang gue sadar, Yoshi adalah orang yang tepat untuk lu. Semoga lu bahagia selalu Ana, cintaku yang hilang bahkan sebelum berhasil kumiliki.


Semoga akan ada Ana lain yang akan Tuhan kirimkan di hidupku, menggantikan dirimu.


Reza POV End


"Za, kok bengong? ayuk makan, ini udah siang loh!" ucapku sambil mengajaknya masuk ke rumah.


"Eh, iya An, ayo udah laper juga gue."


Di ruang makan.


Suasana masih sangat canggung dan kaku. Tidak ada obrolan sama sekali antara Dian dan Reza.


"Males gue sama Reza," kata Dian masih kesal.


"Za, kamu minta maaf duluan gih!" ucapku.


"Ogah!" ucap Reza.


"Gue juga ogah minta maaf sama lu!" balas Dian.


Astaga, sampai kapan keributan ini akan terus berlangsung. Sementara kulihat Yoshi masuk ke mansion dan berlari menuju ke ruang kerjanya.


Aku pun meminta ijin pada teman-temanku untuk pergi mengikuti Yoshi.


"Mas, sudah pulang?" tanyaku.


"Sudah sayang, tapi setelah ini aku harus kembali lagi ke kantor." Jawabnya sambil membawa beberapa item, seperti laptop, hard disk juga flash disk dan masih banyak item lainnya yang ia siapkan.


"Apa terjadi sesuatu di kantor?"


"Ya, sayang. Ada masalah penting di kantor, aku pergi dulu ya bumilku." Ucapnya sambil mengecup bibirku.


"Mas, mama mengajakku pergi berbelanja nanti sore. Apa aku boleh pergi?" tanyaku pada Yoshi yang sedang menuju ke arah pintu.


"Sayang, jangan dulu ya. Aku yang akan mengantarmu besok."


"Tapi aku juga sedang ingin melihat-lihat keperluan bayi." Ucapku sedikit merengek.


"Besok saja ya sayang atau mungkin lusa, kita bisa berbelanja keperluan untuk kelahiran baby." Yoshi berusaha membujukku.


"Tapi, aku pengennya hari ini mas, aku bisa pergi sama mama dan teman-temanku kok." Ucapku merengek lagi.


"Mama sayang, papa tidak ingin terjadi sesuatu padamu jika kau pergi tanpa Papa. Nurut ya, mama dan baby nurut ya!" Ucapnya menggodaku sambil mencium pipi dan perutku.


Dia pun pergi tanpa mendengarkan jawabanku.


"An, laki lu balik kerja lagi?" tanya Dian.


"Iya nih." Ucapku singkat.


"An, katanya lagi mau cari perlengkapan baby. Jadi nggak? Gue ikut dong." Ucap Evelyn.


"Jadi Eve, tapi masalahnya Yoshi gak ngasih aku buat pergi."


"Oh gitu, ya udah bilang aja kalo lu pergi sama gue, pasti dikasih kok."


"Ya udah deh, aku bilang ibu mertua dulu." Ucapku sambil menuju ke kamar mama,


Beliaupun memberiku ijin untuk pergi. Sore harinya aku, Eve, Jenny, Dian dan Reza pergi bersama menuju pusat perbelanjaan.


"Kita kayak anak TK lagi tour, tau nggak guys?"


Ucap Evelyn.


"Iya nih rombongan TK pertiwi wkwk," sahut Dian terkekeh.


"Siapa yang jadi emak gurunya?" tanya Reza.


"Jenny dong!!!" ucap kami bersamaan.


"Dih selalu aja eyke yang jadi bulan-bulanan kalian, sebel deh!" Ucap Jenny mengibaskan rambutnya yang sekarang mulai tumbuh.


Kami berjalan menuju pusat perlengkapan bayi bersama. Hingga tiba-tiba seseorang menarik lenganku.


"Bukankah sudah kubilang jangan keluar rumah sendiri!" ucapnya.


"Mas di sini?" jawabku menatap Yoshi yang ternyata sedang bersama Celine di tempat ini juga.


"An, kenapa kau selalu keras kepala ha?" dia terlihat sangat marah. Sementara aku masih mematung melihatnya bersama Celine dengan beberapa bungkus barang belanjaan.


"Dan apa yang kau lakukan bersama Celine di sini?" tanyaku sambil mendorongnya.


"An, jangan mengalihkan pembicaraan. Ayo pulang!" jawab Yoshi, menarik kasar tanganku.


"Bro, jangan kasar dong!" Kata Reza, menepis tangan Yoshi dari lenganku.


"Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang!" Kata Yoshi.


"An, lu pulang sama gue aja ya." Ucap Reza sambil menarik tanganku. Namun tiba-tiba..


Bughh..


Yoshi memukul wajah Reza hingga membuatnya jatuh tersungkur. Namun bukannya membalasnya, Reza malah tersenyum sinis


"An, apa bener lu bahagia hidup sama manusia kasar seperti ini?" Tanya Reza sambil mengelap bercak darah pada sudut bibirnya.


Bughh


Yoshi kembali memukulnya. Aku tidak tahan melihat semua ini.


"Apa kau bilang? coba ulangi!" Kata Yoshi semakin penuh amarah.


"Cukup Yoshi! Cukup! " kataku dan aku mencoba menghalanginya yang kembali ingin memberikan pukulan pada Reza.



Dasar Yoshi lelaki kasar! wkwk



Reza ganteng juga ya kalo lagi gini wkwk. Yuk kak mampir ke novelku I LOVE YOU CAPT!! buat liat kisah si Eza seyeeng ini.



Reza said "An, apa kau benar-benar bahagia bersama si mesum dan kasar ini?" 🤧🤧😂