My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Kesal



Beberapa hari kemudian saat aku tengah bermain ponsel, kulihat sebuah email masuk. Dan aku pun membacanya. Sebuah undangan dari kapal untuk menghadiri acara pemberian piagam kepada sepuluh orang kru penerima penghargaan Employees of the month atau apresiasi bulanan yang diberikan kapal kepada kru yang berhak menerimanya.


Dan kulihat namaku tertera di urutan nomor tiga. Aku sangat senang. Ternyata komentar tamu pada Guest Service Surveys/GSS atas kinerjaku selama ini benar-benar berpengaruh untukku. Aku akan meminta ijin pada Yoshi setelah ini.


Aku melihat mobil Yoshi datang. Dan aku langsung berlari menghampirinya.


"Yosh, aku ingin bicara.. " Ucapku sambil meraih lengannya, bergelayut manja di sana. Aku ingin Yoshi mengijinkanku untuk pergi.


"Apa sayang? Kau terlihat seperti sedang menginginkan sesuatu." Jawab Yoshi, sepertinya dia dapat menebak apa yang sedang kupikirkan.


"Aku akan mengatakannya di kamar?" Ucapku antusias.


***


"Katakan ada apa sayang?" tanya Yoshi sambil berganti baju, aku pun membantunya melepaskan kemejanya.


"Apa kau tau apa yang aku dapatkan hari ini? Yoshi, aku mendapat award dari kapal." Kataku.


"Bagus sayang. Penghargaan untuk apa?" tanyanya, kini dia hanya memakai handuk bersiap untuk mandi.


"Employee of the month, bolehkah aku menghadirinya?" tanyaku dengan sangat semangat.


"Tidak Ana, kau tak bisa datang kesana." Ucap Yoshi sambil masuk ke ruang shower.


"Tapi Yosh.. " Kataku, namun Yoshi tidak mendengarkan.


Kulihat dia sudah keluar dari kamar mandi.


"Yosh, ijinkan aku pergi." Kataku memelas.


"Aku sedang sangat sibuk akhir-akhir ini sayang. Aku tidak bisa mengantarmu kesana." Ucap Yoshi dengan serius.


"Aku bisa datang kesana sendiri. Kau tidak perlu menemani." Kataku mencoba meyakinkannya.


"Apa maksudmu? Tidak aku tidak ijinkan!" Kata Yoshi, sungguh ini sangat sulit untukku.


"Tapi kenapa? Ayolah Yosh, kumohon." Kataku sambil memeluknya dari belakang.


"Aku tau kau sedang merayuku An, sayangnya aku tetap tidak akan mengijinkanmu." Kata Yoshi, membuatku mulai kesal.


"Apa masalahnya sebenarnya, aku hanya ingin mendapat piagam itu saja. Setelah itu aku akan pulang lagi. Kenapa kau sangat tidak mau mengerti Yoshi!" Kataku sambil melangkahkan kaki keluar dari kamar.


Aku berjalan ke taman di samping mansion. Kulihat bunga-bunga yang mulai bermekaran setelah setiap hari aku menyiraminya. Aku tidak punya kegiatan yang berarti selama ini. Aku sangat bosan hingga membuatku bingung harus berbuat apa.


"Sayang, jangan marah. Aku hanya tidak mau terjadi apa-apa denganmu." Terdengar suara Yoshi yang menyusulku ke taman.


"Aku kesal padamu." Kataku, apa yang dipikirkan olehnya sebenarnya. Aku sudah cukup dewasa untuk dikhawatirkan seperti itu. Aku sangat malas dengannya sekarang.


"Sayang.. " Ucap Yoshi sambil menarik tanganku tapi aku menepisnya.


"Sayang.. jangan keras kepala. Amsterdam itu jauh." Kata Yoshi lagi, masih dengan menggenggam tanganku.


"Aku tidak ingin bicara denganmu." Jawabku. Dia sangat meremehkanku. Seperti baru mengenalku saja, bukankah selama ini aku sering terpontang-panting sendirian karena ulahnya.


"Hey, apa kau benar-benar marah?" Tanya Yoshi sambil memelukku.


"Aku tidak akan pergi. Aku akan menurutimu." Ucapku tanpa membalas pelukannya. Sungguh aku masih sangat kesal.


"Hey, jangan marah.. " Ucapnya, tetapi aku masih tak menanggapinya.


"Aku akan mengijinkanmu pergi sayang. Tetapi dengan satu syarat.. " Kata Yoshi sambil menatap wajahku.


"Apa?" jawabku, bagaikan mendapat secerca harapan.


"Berikan aku satu ciuman." Ucapnya sambil tersenyum.


"Jangan bercanda Yoshi, aku tau kau tak akan mengijinkanku pergi." Jawabku.


"Aku akan mengijinkanmu An. Dengan syarat David akan menemanimu." Kata Yoshi dan akhirnya dia pun mengijinkanku meski dengan terpaksa.


****


Hari itupun tiba. Aku dan David berada di bandara untuk segera boarding. Terlihat Yoshi terus saja berbicara pada David, seperti memberikan pesan-pesan penting. Aku pun berpamitan pada suamiku itu dan berjanji akan mengabarinya setibanya di Amsterdam nanti.


Sepanjang perjalanan aku sangat bahagia akhirnya besok aku akan bertemu dengan teman-temanku lagi. Sementara David yang duduk tak jauh dari tempat dudukku sesekali melihat ke arahku. Sungguh ini membuatku risih pasti Yoshi yang sudah menyuruhnya.


****


Amsterdam, The Netherlands.


Tiba di Pier seperti biasa kulihat Reza datang menghampiri kami karena memang sudah menjadi tugasnya untuk menjemput kru di pelabuhan.


"Selamat pagi Pak David dan Ana." Ucapnya, menyapa kami. Sebelum akhirnya melangkah mengantarkanku dan David.


"Ciee employee of the moooonn.. " Ucap Reza menggodaku. Aku pun membalasnnya.


"Keren kan Za?" tanyaku.


"Karen banget. Gue aja belom pernah tuh dapet begituan An." Jawab Reza sambil tertawa.


"Eh An, selamat ya atas pernikahanmu." Kata Reza, entah mengapa aku merasa ada keterpaksaan dalam kalimat itu.


"Makasih ya Za, " jawabku.


"Lu bahagia An?" tanyanya dengan terbata, sungguh Reza terlihat berbeda dari biasanya.


"Bahagia dong." Ucapku santai.


"Baguslah kalo gitu. Gue balik ke kantor ya kalo ada apa-apa call aja.


Aku pun memasuki kabinku terlihat Kak Anggie sedang istirahat. Dia sangat terkejut melihat kedatanganku dan menanyakan bagaimana hubunganku dengan Yoshi, kami banyak sekali bercerita hingga akhirnya terdengar ketukan pintu.


Kubuka pintu dan..


"Anaaaaa!! " teriak tiga gadis itu dan langsung memelukku.


"An, lu makin cantik aja! " Ucap Dian.


"Ya iyalah, kalo setelah menikah semakin cantik berarti nikahnya sama orang yang tepat." Sahut Evelyn.


"Eyke jadi pengen nikah nih!" Ini suara Jenny.


"Sama siapa woy?" Tanya Evelyn.


"Ama yey mau nggak Eve. Hihi." Jawab Jenny bercanda.


"Dih ogah gue! dasar banci !" Kata Evelyn.


Kami pun terus berbicara tanpa terasa acara pemberian Awards itu pun akan segera dimulai.


Aku dan mereka semua bersiap. Tentu saja dengan pakaian yang sudah kusiapkan sejak kemarin. Gaun putih panjang dengan belahan yang tidak terlalu tinggi, tetapi sangat cantik.


Acara dimulai dan aku lupa untuk mengabari Yoshi. Segera kuperiksa ponselku dan benar ada ratusan panggilan tak terjawab tentu saja atas nama 'penagih hutang', yaitu nomor Yoshi.


Aku meneleponnya dan dia mengangkatnya. Aku siap untuk dimarahi habis-habisan kali ini.


"Dari mana saja? Kenapa baru mengabari ha?" tanyanya dengan wajah datar.


"Maafkan aku Yosh," ucapku, aku tau aku bersalah.


"Aku menyesal telah memberimu izin untuk pergi An." Katanya, sepertinya Yoshi benar-benar marah padaku.


"Yosh, maafkan aku. Aku terlalu sibuk mengobrol dengan teman-temanku." Jawabku membela diri.


"Kau tidak tau aku sangat mengkhawatirkanmu. Sementara David juga tidak bisa kuhubungi." Kata Yoshi masih kesal padaku.


"Ayolah Yoshi sayang, tersenyumlah. Aku sangat menyayangimu." Kataku, aku tak ingin membuatnya semakin kesal.


"Aku memaafkanmu An." Ucapnya kini dia mulai bisa tersenyum. Ini pertama kalinya aku mengatakan bahwa aku menyayanginya.



Lalu kututup telepon dan acara berjalan dengan lancar. Aku mendapat piagam penghargaan dari kapten dan para officer lain. Sungguh aku sangat bahagia.


Reza datang menghampiriku dan mengucapkan selamat padaku.


"Selamat An, lu emang keren!" Ucapnya.


"Makasih Reza." Jawabku


"An, gue punya sesuatu buat lu. Terima ya!" Kata Reza sambil menyodorkan kotak biru bertuliskan Swarovski.


"Za, apaan nih? Aku gak bisa nerima ini." Jawabku menepis kotak itu. Aku tau ini adalah berlian yang di jual di jewellery shop di lantai 3.


"An, terima dong. Ini mahal tau! Anggep aja buat kenangan-kenangan dari gue." Kata Reza, aku pun kaget mendengarnya.


"Tapi kamu mau kemana memangnya Za?" tanyaku penasaran.


"Gue mau resign dari kantor kru, An. Dan apa pun itu kita akan tetep berteman kan? Jadi tolong terima ini." Ucap Reza sebelum akhirnya berlalu meninggalkanku.


"Reza tunggu!" aku ingin mengejarnya dan mengembalikan kotak ini. Tetapi tiba-tiba Evelyn datang dan memberitahuku sesuatu.


"An, lu harus lihat ini." Bisik Eve di telingaku sambil menunjuk ke ponselnya.


"Ada apa Eve?" tanyaku heran.


"Nih coba liat postingan manager Front Desk." Kata Eve sambil menunjukkanku sebuah postingan pada sosmed manager resepsionis itu. Aku tak cukup mengenal wanita itu tetapi aku tau posisinya di kapal ini.


Mataku terasa mau terlepas dari kelopaknya saat mendapati foto seseorang yang sangat kukenal bersama wanita itu.


"Yoshi.. " Kataku dalam hati. Bukankah aku baru saja meneleponnya tadi. Dan bagaimana bisa dia juga berada di sini, di kapal ini tanpa memberitahuku.


Aku meremas kasar piagam yang baru saja kudapatkan dengan geram saat melihat foto dirinya bersama manager resepsionis itu.