My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Mimpiku dan Mimpimu



"Mas Ikau, kau terlihat semakin kurus. Aku tak suka ini," kata Ana sambil menguructkan bibirnya.


"An, benarkah ini kau?" tanyaku sambil merangkup kedua pipi chubbynya.


"Tentu saja,ini aku. Aku yang sejak dulu mencintaimu." Jawab Ana sambil memegang kedua tanganku yang masih mengelus pipi mulusnya .


"Tapi bagaimana kau bisa ada di sini? An, aku juga mencintaimu jika kau tau?" Kataku masih tak percaya dengan apa yang kulihat ini.


"Mas, bebaskan aku dari Dia, please, " ucap Ana sambil memelukku. Ya Tuhan, sadarkah Ana dengan apa yang dia lakukan ini.


"Dia siapa? siapa yang berani melukaimu?" tanyaku sambil membalas pelukannya.



Ana terlihat sangat segar, wajahnya berseri bak bidadari, topi bonnet yang dipakainya sangat menampakkan kharismanya.


Kami duduk di sebuah bangku di mana banyak bunga tulip bermekaran. Ini sangat cantik sama cantiknya seperti wanita yang saat ini dalam pelukanku.


"Dia Mas, Rentenir itu. Tolong bebaskan aku dari cengkramannya. Tolong cari aku Mas, aku menunggumu di sini." Kata Ana sambil terisak.


Ada nyeri di dada, pasti Rentenir yang dimaksud olehnya adalah aku sendiri, tapi hati ini bahagia mendengar dia juga mencintaiku. Maksudku mencintai wujudku sebagai Ikau.


Aku terus memeluknya, jika saja waktu bisa berhenti. Aku ingin menghentikan waktu selamanya agar saat Indah ini tidak berakhir.


"Ana, ada di mana kita sekarang?" tanyaku sambil melepaskan pelukanku. Namun tiba-tiba wajah Ana berubah menjadi wajah Papa.


Aku sangat terkejut.


"Papa, benarkah ini Papa? Di mana Ana? " tanyaku. Wajah papa juga sangat berseri sama seperti Ana, bahkan papa terlihat seperti seumuran denganku.


"Ricko, tolong jaga Mama dan Opa ya Nak. Maafkan Papa. Papa telah memberimu beban berat selama ini." Kata Papa sambil mengusap kepalaku.


"Pa, Ricko sangat merindukan Papa. Ricko lemah tanpa Papa di sini " jawabku mulai tak dapat mengotrol emosi.


"Ricko, ikuti kata hatimu, jangan sampai salah langkah. Tangkap penjahat itu dan jangan merugikan orang yang tak bersalah." Kata Papa sambil menepuk pundakku.


Seketika terlintas bayangan masa kecilku bersamanya dahulu. Masa di mana Papa bermain denganku dan bercanda gurau dengan mama dan opa.


"Pa, katakan apa yang sebenarnya terjadi.. ______" tanyaku pada papa namun tiba-tiba


Kringggg kriiinggg krinnggggg suara Jam weaker membangunkanku.


Ternyata ini hanya mimpi.


Astaga mimpi ini begitu nyata. Aku melihat Ana menyatakan perasaannya padaku. Yang benar saja. Tentu saja dia tak mungkin menyukaiku.


Baik itu diriku sebagai Ikau atau diriku sebagai Ricko, apalagi diriku sebagai Yoshi itu sangat tidak mungkin.


Tapi harus kuakui di dalam mimpiku dia sangat nyata bahkan rasa rinduku sedikit terobati. Dia dikelilingi oleh bunga tulip yang berwarna-warni, dengan salju putih yang menyelimuti wilayah itu.


Benar-benar seperti sedang berada di Belanda.


Tapi, aku juga teringat akan kata-kata papa dalam mimpiku itu.


"Jangan menghukum orang yang tak bersalah,"


ya, begitulah kata papa. Tentu saja yang papa maksud di sini adalah Ana.


Papa benar, tidak seharusnya aku menghukum Ana, karena perbuatan ayahnya. Tetapi bagaimana bila ayah Ana juga tak bersalah dalam kasus ini.


Dan jika bukan ayah Ana yang bersalah berarti papa lah yang bersalah. Sial, teka-teki ini sangat menyebalkan.


Belum lagi mama yang terus memaksaku agar segera menikah, sementara satu-satunya wanita yang ingin kunikahi itu masih menghilang entah kemana. Sekalinya bertemu malah hanya mimpi.


Dari pada menjadi gila. Lebih baik aku mempersiapkan diri untuk pergi ke Belanda saja, untuk melakukan survey lapangan dengan perusahaan asing itu.


_______________________________________________


Sementara itu di Cabin B046.


Kamar di mana Ana tinggal selama tiga bulan ini bekerja di Kapal Pesiar berhomeport di Amsterdam Belanda itu.


"Mas Ikau, akhirnya kau datang juga ? mengapa lama sekali Mas?" tanyaku padanya. Aku tak percaya ini benar-benar Mas Ikauku.


"Apa maksudmu? Mengapa berkata seperti itu? " Tanya Mas Ikau dengan wajah heran sambil mengernyitkan keningnya.


"Apa maksudmu Mas? Dulu kau menghilang begitu saja bahkan sebelum aku sempat menyatakan perasaanku padamu." Kataku kesal sambil memeluk tubuhnya.


"Hey, aku tidak pernah menghilang darimu jika kau tau." Jawab Mas Ikau sambil membalas pelukanku. Ah Ini seperti mimpi saja.


"Tapi, di mana dirimu selama ini jika memang kau tak pernah menghilang?" tanyaku masih dengan memeluk erat tubuh sixpact itu.


Ah sejak kapan tubuh Mas Ikau se-kekar ini, seingatku dia dulu kurus tetapi proporsional. Sepertinya banyak yang telah berubah darinya selama bertahun-tahun ini.


"Aku di sini An, aku ada di dekatmu dan tak pernah sedikitpun menjauh darimu. Apa kau masih tidak mengenaliku juga?" Tanyanya. Entah apa maksud pertanyaannya itu.


"Apa maksudmu Mas?" tanyaku sambil melepaskan pelukanku. Aku ingin berlama-lama menatap wajah tampan itu. Yaitu wajah yang sangat kurindukan selama ini.


Mas Ikau pun juga melepaskan pelukannya dan memandangku sambil mencium tanganku. Ah ini sangat romantis, seperti sedang berpacaran di antara bunga-bunga tulip yang diselimuti salju putih.



Sama seperti saat aku pertama kali tiba di Amsterdam kemarin.


"Aku menemukanmu Lanthana," suara Mas Ikau tiba-tiba berubah menjadi dingin. Dan wajahnya pun berubah.


Berubah menjadi Yoshi si brengsek itu. Tetapi wajah itu kenapa bisa seperti itu. Aku sangat bingung. Sebentar-sebentar wajahnya berubah menjadi Yoshi dan sebentar-sebentar wajah itu pun berubah lagi menjadi wajah Mas Ikau.


Kenapa lama-lama wajah mereka semakin mirip. Apa yang salah dengan mataku sebenarnya. Seperti mengatakan bahwa mereka itu adalah satu orang yang sama,


Ini sangat membuatku pusing. Hingga aku berteriak.


"Tidaaaakkkkk . Cukup. Cukup. Berhentii! "


Aku terus berteriak. Aku ingin segera tersadar. Aku semakin sesak nafas, mengingat kedua wajah itu, bagaimana mungkin Mas Ikau dan Yoshi memiliki kemiripan hampir 99% seperti itu.


Aku yakin, ini pasti karena aku terlalu sering melihat Yoshi hingga membuatku terus mengingat wajahnya menggantikan wajah Mas Ikau yang hampir hilang dari ingatanku.


Dan yang lebih seram lagi adalah. Yoshi mengatakan bahwa Dia telah menemukanku. Mungkinkah ini suatu firasat.


Tidak, itu tidak mungkin. Aku bahkan belum mengaktifkan ponselku sejak beberapa bulan yang lalu.


Jadi itu tak mungkin baginya untuk bisa menemukanku.


Di sisi lain, aku ingin segera menelepon orang rumah untuk mengabarkan keadaanku di sini. Aku ingin tau bagaimana keadaan bapak.


Dan aku juga rindu pada ibu dan Luna, sebenarnya aku takut untuk menelepon Ibu tetapi bagaimanapun juga pasti beliau khawatir dengan keadaanku mengingat terakhir kali aku hanya memberikan selembar kertas memo sebagai pesan terakhir untuk ibu.


Tetapi bagaimana bila ibu akan mengungkit-ungkit masalah perjodohan itu lagi. Tentu saja ibu pasti akan mengingakanku akan hal itu sebab saat ini ibu sudah benar-benar ada di pihak Yoshi.


Mengingat nama itu kembali membuatku berteriak lagi


"Tidakkk, aku tidak ingin menikah denganmu !!" Kataku masih dengan mata terpejam.


"An, Ana. Kamu mengigau ya?" Kata Kak Anggie. Dia adalah roommate ku atau teman sekamarku sejak pertama kali aku join di kapal ini.


"Eh iya Kak . Maaf ya aku ganggu tidur kakak ya?" Jawabku sambil membuka korden tempat tidurku untuk melihatnya.


"Ah nggak kok. Kamu ini sering banget mengigau loh An." Kata perempuan cantik yang sedang menonton Film di TV itu.


"Ah masak sih Kak?" tanyaku lagi, jadi selama ini Kak Anggi sering mendengarku berteriak dalam mimpi, ah memalukan saja.


"Iya An, kamu sering menyebut nama Yosh dalam mimpimu, apakah Dia adalah pria yang kau sukai sejak SMA itu? " tanyanya sambil melirikku dan tersenyum.


"Oh tentu saja bukan kak." Jawabku dengan spontan. Aku ingat bahwa semalam aku memang banyak bercerita tentang kisah hidupku padanya setelah kami off duty.


"Lalu Yosh itu siapa An? Apakah itu pria yang akan dijodohkan denganmu itu? " tanyanya lagi. Astaga Kak Anggi masih ingat saja.


Untung saja Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Satu jam lagi kami harus bersiap-siap untuk briefing sebelum on duty jadi aku tak perlu repot-repot untuk melanjutkan perbincangan tak berguna ini.