My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Aku membencimu Yoshi



Di sinilah aku sekarang. Pulau dewata, Bali. Pulau dengan sejuta keindahan, setidaknya aku bisa melupakan rasa sakit dah kekecewaanku untuk sementara waktu.


Tak kusangka dia yang kucintai itu ternyata hanyalah seorang pembohong. Pembohong ulung yang sangat ahli. Hingga hatiku tak bisa mendeteksi kebohongannya selama ini.


"Kenapa kau lakukan ini padaku Yoshi? Kenapa?" berulang kali aku menanyakan hal ini pada diriku sendiri. Sungguh aku membencinya. Aku menarik semua perasaan yang mulai tumbuh di hatiku untuknya.



..."Kau telah tinggalkan hati yang terdalam...


...Hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa"...


Flashback on


Hari itu setelah Yoshi berpamitan untuk pergi ke London menemui ibunya, aku masih menghabiskan hariku dengan berbaring di tempat tidur.


Rasanya flu ini semakin menyiksa, namun nyerinya berkurang setelah aku meminum pereda rasa sakit. Sempat terfikir olehku apakah aku terkena virus yang sedang naik daun itu.


Merasa lebih baik, aku pun pergi ke luar kamar. Menyusuri koridor di rumah ini. Saat aku sedang menuruni anak tangga, mataku melihat ruang kerja Yoshi terbuka.


Apakah ada orang di dalam atau Yoshi memang belum berangkat. Akhirnya aku masuk ke ruang kerja itu. Kulihat sekeliling tetapi tak ada seorangpun di sana.


Aku berjalan melihat ke arah jendela, namun tiba-tiba kakiku tersandung kaki meja. Saat itu juga mataku menangkap selembar kertas yang terselip dari dalam laci.


Aku pun membuka laci tersebut untuk memasukkan kertas itu ke dalamnya khawatir bila ini berkas penting milik Yoshi, tak sengaja mataku melihat sebuah foto yang tertempel pada kertas itu.


Aku pun penasaran foto siapakah itu, hingga akhirnya aku menyadari bahwa bukan hanya satu foto tetapi ada berlembar-lembar foto di dalam laci itu. Tanpa pikir panjang segera kulihat semua berkas dan foto yang ada, aku yakin Yoshi tidak akan marah bila aku melihat semua ini.


Deggg..


"Bapak? ini foto Bapak.. " Kataku lirih saat mendapati foto ayahku di sana.


"Ada fotoku saat masih SMA juga..."


"Foto ibu dan Luna juga...." aku terus saja berbicara sendiri.


Aku masih terdiam, sibuk memperhatikan foto-foto ini.


Apa yang dilakukan Yoshi dengan semua foto jadul ini sebenarnya, benarkah kami sudah saling mengenal sejak SMA. Tapi aku tidak yakin, akhirnya kuputuskan untuk memeriksanya kembali.


Ada banyak sekali dokumen, ini seperti sebuah arsip. Dan aku pun mulai membacanya satu per satu. Ada tanda tangan David juga. Oh, ini semacam laporan dari David untuk Yoshi rupanya.


Mataku tertuju pada kalimat 'uji coba pembakaran toko milik keluarga Aditama', seketika mataku pun membulat saat melihat laporan ini. Aku ingat beberapa tahun yang lalu aku sempat mendengar jika toko kami terbakar saat ibuku sedang tertidur di dalamnya.


Rasanya seperti tertusuk ribuan duri, jadi benar seseorang telah sengaja membakar toko itu tanpa perduli dengan nyawa ibuku yang sedang berada di dalam. Dan orang itu adalah Yoshi, dialah penjahat itu, yang sekarang telah menjadi suamiku.


Aku mulai lunglai dan terduduk di lantai dengan tumpukan kertas masih dalam genggamanku. Aku menangis sejadi-jadinya mengetahui fakta ini. Aku pun kembali membaca lembaran berikutnya.


'Pembalasan dendam untuk Pramuja', aku kembali terkejut mendapati informasi ini. Jadi selama ini bapak adalah seorang BIN, astaga saat itu bapak sudah mengatakannya padaku tetapi aku tidak memperdulikannya.


Dan papa Yoshi mengalami kecelakaan akibat tuduhan dari bapakku. Aku tak menyangka, rasanya ini tidak mungkin. Pantas saja selama ini Yoshi sangat tertekan saat kami membahas tentang kematian ayahnya, tentang opa yang sedang koma dan mama yang sempat mengalami depresi berat beberapa tahun yang lalu.


Inilah penyebabnya, ternyata bapakku yang sudah menyebabkan kehancuran di dalam kehidupan Yoshi dan aku tak tau pastinya, aku juga tak tau kebenarannya.


Tetapi, sekarang aku tau bahwa dia hanya menikahiku untuk membalaskan dendamnya. Hanya untuk misi balas dendam, tidak ada cinta ataupun kasih sayang untukku.


Aku kembali menangis, meratapi semuanya. Di sisi lain, orang-orang di sekitarku juga menutupi kebenaran yang ada. Bapak, ibu dan Luna mereka semua tidak pernah memberitahuku tentang semua ini. Tentang bapak yang sebenarnya adalah seorang agen rahasia.


Jika saja saat itu bapak menceritakan semuanya secara jelas, aku pasti akan mencari tahu kebenarannya. Dan tentu saja tidak akan pernah terjadi pernikahan antara diriku dan Yoshi.


Aku tau rasa sakit yang dialami Yoshi selama ini. Tetapi mengapa harus aku yang menanggung semuanya. Bahkan dia juga sudah melaporkan bapak ke pihak berwajib atas pencemaran nama baik, hingga bapakku harus mengalami serangan jantung berkali-kali.


Hingga bapakku harus dicopot dari jabatannya. Mengapa itu semua masih belum cukup untuknya. Dia sangat serakah. Setelah betahun-tahun dia memerasku dengan berpura-pura menjadi rentenir.


Bertahun-tahun dia membuatku berada dalam cengkramannya, membuatku sibuk mencari kerja kesana kemari demi untuk mengembalikan uangnya. Beginikah akhir kisahku.


Sungguh, bodohnya diri ini karena sempat menganggap bahwa Yoshi benar-benar mencintaiku. Tentu saja dia hanya berpura-pura selama ini. Dan bodohnya lagi aku percaya pada tipu dayanya begitu saja.


Aku pun segera bangkit dari lantai dan menghapus air mataku.


"Nyonya, apa anda baik-baik saja?" tanya Niluh sambil membantuku berdiri.


Tanpa menjawabnya aku langsung bergegas ke kamar. Kukemasi barang-barangku dan tak lupa kutinggalkan semua barang dari Yoshi, kartu gold dan kado kalung darinya, semuanya kuletakkan di atas meja berserta ponselku.


Kupandangi kotak merah berisi gelang Bali dari Mas Ikau dulu. "Mas, aku menyesal telah berusaha melupakanmu untuk si penipu Yoshi itu." Gumamku sambil meninggalkan kamar.


***


Aku memesan taksi dan kebingungan harus pergi kemana sebelum akhirnya aku memutuskan untuk ke bandara untuk terbang ke Surabaya.


Di bandara, pikiranku kembali kacau haruskah aku pulang ke rumah sementara ibu dan Luna juga telah membohongiku selama ini, belum lagi jika Yoshi menyusulku ke sana.


Tidak, aku tidak akan pulang. Aku ingin menenangkan diri dan terhindar dari orang-orang yang telah mempermainkan diriku selama ini.


Bughh...


Tiba-tiba tubuhku menabrak seseorang. Kulihat wajah itu. Aku sangat mengenalinya. Bukankah wanita ini adalah teman sekaligus sahabatku sejak SMA dulu, batinku.


"Ana.?! Lu beneran Ana kan??" katanya sambil menatapku lekat-lekat.


"Dev.. Devi... Iya ini aku Ana." Kataku terbata, aku tak percaya dengan apa yang kulihat, setelah bertahun-tahun akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi.


Kamipun berpelukan dan Devi terus saja memberiku banyak pertanyaan. Aku tak dapat menahan air mataku, entah mengapa bertemu dengan Devi, membuatku ingin menumpahkan air mata. Aku butuh sandaran saat ini.


"Dev, tolong bawa aku pergi bersamamu.. " Kataku.


"Kemana An? Ada apa sebenarnya?" tanyanya dengan kebingungan.


"Cepatlah Dev, aku akan menceritakan semuanya padamu nanti." Jawabku.


"Lu kayak lagi dikejar rentenir aja, ngobrol-ngobrol dululah.. Gue kangen sama lu An.. " Ucap Devi, astaga taukah dia jika aku sedang sangat ketakutan saat ini.


"Dev, ayolah. Kita pesan tiket sekarang!" kataku sambil menarik tangannya.


"Iya-iya gue ajak lu pergi tapi berhenti dulu dong meweknya. Banjir nih ntar bandara. Kan lu tau kalo gue gak bisa renang." Kata Devi sambil menghapus air mataku.


"Tapi kita pergi kemana Dev?" tanyaku.


"Ke Bali.. " Jawab Devi sambil membawakan koperku.



Flashback off


Author POV


Di kediaman keluarga Aditama.


Larissa sedang panik memikirkan keberadaan putrinya, Ana. Hingga akhirnya ia menelepon Pramuja, suaminya.


"Pak, bagaimana ini Ana kabur dari rumah Pak.. " Kata Larissa.


"Bu, tenanglah. Ibu pikir bapak akan diam saja?" jawab Pramuja.


"Pak, ibu takut terjadi sesuatu pada anak kita. Bagaimana pun kita sudah menutupi semua ini sejak lama." Jawab wanita yang sedang panik itu.


"Bu, bapak sudah pernah mengatakan ini pada Ana sebelumnya tetapi waktu itu dia sedang sangat sibuk. Hingga mengira bapak hanya berpura-pura." Jawab pria yang sedang berada di markas BIN itu.


"Apa bapak sudah bertemu dengan Yoshi? sebulan yang lalu dia datang ke rumah dan meminta ijin untuk bertemu dengan bapak di rumah sakit" Kata Larissa


"Belum bu. Biarkan saja si bodoh itu dalam kepanikan, dia tak tau bahwa ruang ICU di rumah sakit itu kosong." Ucap pramuja mengingat-ingat bahwa beberapa hari terakhir ini menantunya sibuk mencarinya di rumah sakit dan mengira bahwa dia benar-benar sakit jantung.


"Pak, bagaimana dengan Ana.. " Larissa kembali menangis mengingat satu bulan ini tidak ada kabar dari putri sulungnya.


"Tenang bu, bapak tau dimana Ana sekarang. Biarkan pasangan muda itu menyelesaikan masalahnya. Mereka butuh komunikasi yang baik dalam berumah tangga." Ucap pramuja pada istrinya.


"Sampai kapan drama ini akan berlangsung pak? Sampai kapan bapak akan bersembunyi seperti ini? " tanya Larissa, mengingat bahwa sudah bertahun-tahun suaminya berpura-pura sakit.


"Sampai penjahat yang sesungguhnya keluar bu, inilah prosedurnya ..." Ucap agen rahasia itu sebelum akhirnya menutup sambungan telepon.


***


"Wih.. Ibu ditelepon sama James Bond ya?" tanya bocah remaja yang baru saja keluar kamar dan mengejek ibunya.


"Diam kamu. Ibu pusing memikirkan kakakmu, Luna! " kata Larissa membentak putri keduanya.


"Tenang buk, James Bond kita akan melindungi istri kak Yoshi itu, tenanglah ibuku sayang.. " Ucap gadis yang mulai beranjak dewasa itu.


Author POV end.