My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
FINAL END - Mengejarmu hingga ke ujung dunia



Ana POV


Siang itu juga aku langsung terbang ke Ushuaia, kota dengan julukan ujung dunia bagian selatan. Dia adalah tempat terakhir yang memiliki penduduk paling selatan jika kita melihatnya pada peta.


Akhirnya aku akan mendapatkan gelang itu kembali, aku sangat panik saat mendapati gelang bali bersejarah dari Yoshi itu tertinggal di kapal. Entah bagaimana diriku bisa seceroboh itu.


Mungkin saja tanpa sengaja kotak merah berisi gelang pancawarna itu terjatuh saat aku sedang mengambil gaunku dari dalam koper untuk persiapan malam Gala waktu itu.


Mas, maaf aku tidak meminta izin darimu, aku harus mengambil gelang itu kembali, aku takut membuatmu kecewa jika kau tau bahwa benda yang kau berikan padaku sepuluh tahun yang lalu itu hilang


Kini aku berada di dalam kabin pesawat. Aku mengejar kapal itu ke Argentina, MS Eurodam tengah berlayar menuju peraian Ushuaia saat ini. Jika hanya mengandalkan jasa pengiriman untuk mengirimkan paket ke Indonesia pasti. akan memakan waktu yang lama.


Mengingat mobilitas di wilayah Ushuaia itu sangat terbatas. Dari pada gelangku hilang lebih baik aku menyusuinya saja. Aku masih ingat, di ruang gantilah terakhir kali koperku terbuka.


Ah semoga steward menemukannya dan memberikannya pada resepsionis.


Setelah satu hari lebih perjalanan, aku pun sampai di kapal itu lagi, teman-temanku ku pun menyambutku dengan suka cita, lalu memberikan gelang itu padaku.


"Ah kalian manis sekali, terima kasih ya telah menemukan jantung hatiku ini," ucapku terharu.


"Cyinn laki yey mana? Astoge lu balik kesini cuma buat ngambil beginian doang?" Jenny menertawakanku.


"An, lu mau sign in lagi atau gimana?" Evelyn menanyakan apa yang harus kulakukan setelah ini.


"Oh nggak Eve, aku mau langsung balik ke Indo ya. Yoshi pasti panik, ponselku juga tertinggal di rumah,"


"Ya ampun An, mana ada penerbangan dadakan di tempat seperti ini. Apa kau lupa jika kota ini berada di area kutub Selatan?" Everyn kembali menyadarkanku.


"Ya sudahlah, biarkan aku mencari opsi lain Eve, jika Yoshi mengirim pesan pada kalian, beri tahu saja jika aku sedang dalam perjalanan pulang!"


Aku pun kembali ke luar dari area Pier, menuju kantor imigrasi atau apapun yang bisa mengantarkanku untuk pulang hari itu juga. Sebenarnya berada di kapal jauh lebih aman, tetapi aku tidak tenang jika hanya berdiam diri di sana.



Setelah berjalan dan melihat-lihat keadaan di kota itu, tanpa sadar kakiku membawaku ke sebuah gift shop yang menjual marchandise khas kota ini.


Mata wanita memang selalu tertarik saat melihat sesuatu yang cantik, seperti pernak-pernik khas Ushuaia yang sangat menarik dan aku pun membeli beberapa item menggunakan peso Argentina.


Untung saja, aku membawa kamus digital, sebab mereka tidak menggunakan bahasa inggris, melainkan Spanish. Saat itu juga kuputuskan untuk mencari penginapan. Mengingat hari sudah mulai gelap.


Ana POV End


***


Yoshi POV


An, dimana dirimu sayang?


Saat ini aku sedang berada di bandara menuju Ushuaia Argentina, tempat kapal kami kemarin kini bersandar, setelah mendapat informasi dari Jenny dan Evelyn saat itu juga aku bergegas mengejar Ana ke kutub selatan, Antartica.


Sungguh sulit dipercaya, wanita itu benar-benar membuatku mengejarnya hingga ke ujung dunia. Sepuluh tahunku habis untuk mengejar gadis ini padahal dia juga mencintaiku tetapi mengapa takdir seakan terus menerus mempermainkan kisah kami.


Satu hari lebih tiga belas jam, kulalui di dalam pesawat. Demi mengejar istriku yang entah sedang apa saat ini. Aku pun tiba di area pier atau pelabuhan.


Namun, saat itu juga kapal itu tengah bersiap untuk kembali berlayar dan sedang melakukan sailaway. Aku berlari sekuat tenagaku untuk mengejar gangway sebelum benar-benar tertutup.


Dari atas kapal, tepatnya di balcony para tamu sedang menyorakkiku seakan diriku ini menghibur mereka, padahal aku sedang mengejar istriku yang mungkin saja masih berada di dalam sana.


Sebuah panggilan datang dari Jenny.


"Ya, halo Jenny! dimana Ana? Nyalakan tombol emergency dan katakan pada captain jika aku tertinggal!"


"Apa chief? tentu tidak bisa begitu! Ini kapal bukan angkot chief!!"


Astaga, Jenny sangat menyebalkan. Kini aku terduduk di area luar pier. Aku lelah, dan kapal sudah mulai menjauh.


"Chief, Ana sedang dalam perjalanan pulang sejak kemarin," ucap Jenny yang membuat telingaku memanas.


"Jen!! Jenny!!"


Sial, banci kaleng itu sudah memutus sambungan telepon. Padahal aku ingin bertanya pesawat apa dan sejak pukul berapa Ana kembali ke Indonesia


What the heck! Sungguh kuingin berkata kasar.


Saat diriku sedang dalam perjalanan menyusulnya tempat antah berantah ini, saat itu juga Ana sedang dalam perjalanan pulang ke Indonesia.


Astagaa, para pinguin yang sedang berjalan di tumpukkan bongkahan es itu seakan sedang menari-nari melihat diriku yang menyedihkan ini. Mereka meliuk-liukan tubuh gimbulnya mengikuti ke irama kaki mungil mereka.


Aku pun bangkit dan mencari taksi menuju kantor imigrasi terdekat. Namun dalam perjalanan perutku terasa lapar, aku pun membeli makanan di area cafeteria.


Astaga, mereka tidak menerima mata uang US. Dan saat aku bertanya dimana letak penukaran uang asing, merekapun tak mengerti bahasa inggris.


Oh Neptunus, apa yang harus kulakukan sekarang? Bawalah aku kembali ke dunia air saja karena daratan telah begitu kejam padaku.


Aku pun terduduk di kursi taman, hingga terasa sebuah tangan menyentuh pundakku. Aroma parfum ini begitu tak asing, white rose dan vanilla.


"Mas, apa yang kau lakukan disini ha? Bukannya malah menjaga anak-anak di rumah?"


"Malah menyusulku kemari?"


Tanganku mengepal menahan amarah yang membuncah. Mengapa satu tahun terakhir ini, istriku sangat mengujiku.


Kupandangi wajah yang tidak kulihat selama empat hari itu, mata cantiknya menatapku dengan bulu lentik yang naik turun. Segera kupeluk tubuh ramping istriku itu.


"Akhirnya kumenemukanmu Ana!"


Entah sudah berapa kali kalimat itu terucap selama sepuluh tahun ini. Sebab setiap kali Ana menghilang, aku selalu saja berhasil menemukannya.


"Ana, kenapa kau pergi kemari tanpa memberitahuku?"


"Mas, aku sedang mengambil ini.. "


Ana menunjukkan sebuah kotak berpita emas yang kuberikan padanya sepuluh tahun yang lalu, di dalam kelasnya saat jam istirahat.


"Kenapa sayang? Biarkan saja barang sampah ini hilang, mengapa kau harus repot-repot mengejarnya hingga ke ujung dunia ha?"


"Mas, gelang ini selalu kubawa dalam keperku, karena aku ingin mencarimu kemanapun kakiku melangkah," ucap Ana dengan butiran bening membasahi pipi mulusnya.


Aku menghapus air mata itu.


"Dengar, dan ternyata seseorang yang kau cari selama ini juga tengah mengikutimu kemanapun kakimu melangkah, sayang."


"I love you to the end of the world and back Lanthana Aditama."


(Aku mencintaimu sejauh perjalanan ke ujung dunia hingga kembali lagi ke titik awal, Lanthana Aditama)


"I love you to the bottom of the deep blue sea and back Yoshi Aricko Luby."


(Dan aku juga mencintaimu sejauh perjalanan ke dasar laut terdalam hingga kembali lagi ke permukaan air, Yoshi Aricko Luby)


...THE END...


Terimakasih ya genkk! aku sangat bahagia bisa menulis kisah ini hingga ending. Terimakasih atas dukungan teman-teman semua baik sesama author atau reader semuanya sama saja.


Mohon maaf ya jika selama ini ada kata-kata Author yang tidak berkenan di hati teman-teman. Semoga sehat selalu genkku dimanapun kalian berada 🤗🤗🤗


I love you to the end of the chapters and back genkkk sayangg


Sincerely


Lady Meilina 💖