My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Yoshi POV - London, Heathrow



Bandar Udara Heathrow, 9 A.M atau pukul sembilan pagi waktu setempat, kami tiba di London, setelah melewati imigrasi aku dan opa langsung bergegas ke Rumah Sakit tempat Papa di rawat.


Mobil jemputan dan para penjaga sudah menunggu di luar Bandara dan membawa kami ke St.Thomas Hospital tempat papa dirawat.


Sesampainya di Rumah Sakit kami langsung menuju ke ruang ICU tempat papa berbaring lemah, kulihat Mama sedang menunggu di ruang tunggu tak jauh dari ruang ICU itu, kondisi papa sangat memprihatinkan, sehingga memerlukan penanganan khusus akibat kecelakaan yang dialaminya.


Selama berada di dalam ruang ICU, papa akan dipantau selama 24 jam oleh dokter spesialis, dokter jaga, dan perawat yang sudah kompeten. Untuk memantau kondisi papa secara lebih detail. Papa akan terhubung dengan berbagai peralatan medis melalui selang atau kabel.


Hatiku sangat sakit melihat papa terbaring di dalam sana, orang yang selama ini selalu memaksakan kehendaknya kepadaku, oang yang selalu meninggikan suaranya kepadaku saat ini terbaring tak berdaya, citra pemimpin diktator sama sekali tidak terlihat ada pada dirinya lagi.


Yang lebih menyakitkan adalah melihat opa dan mama yang terduduk lesu tak berdaya, akhirnya aku meminta mama dan opa untuk pulang kembali ke apartemen mengingat kondisi mereka yang tidak terlalu fit saat ini.


Awalnya mereka menolaknya tetapi akhirnya bersedia karena aku yang memaksa, mama yang sudah sangat kelelahan membuat wajahnya terlihat pucat, aura cantik dan lemah lembut yang melekat pada dirinya seketika menghilang entah kemana.


****


Satu jam berlalu setelah opa dan mama pergi, Dokter keluar dari ruang ICU, aura diwajahnya sangat mengkhawatirkan menunjukkan adanya kabar duka yang akan ia sampaikan kepadaku.


"*G*ood morning, are you the family's member of Mr. Permana Luby?" tanya dokter bertubuh besar dan berambut blonde tersebut.


Jujur saja perasaanku sangat tidak tenang saat ini, tetapi aku berusaha untuk menepis segalanya.


Aku pun menjawab pertanyaannya dalam bahasa Indonesia.


"Benar Doc, bagaimana kondisi papa saya saat ini? tanyaku dengan antusias, dia nampak sangat berat menjawab pertanyaanku.


"Kami sudah mengusahakan yang terbaik namun Bapak Permana baru saja mengalami gagal nafas yang menyebabkan nyawanya tak dapat tertolong." Jawab Dokter itu sambil berlalu meninggalkanku. Akhirnya hal yang paling aku takutkan terjadi juga.


"Ap-apa Dok? Dok tolong ulangi lagi." Aku benar-benar shock saat ini, aku berharap telingaku membohongiku.


"Kami akan segera mengurus jenazah Bapak Permana," kata perawat di belakang dokter sambil menepuk pundakku untuk menguatkanku.


"Tunggu Dok, tunggu selamatkan Papa!! " kataku sambil mengejar Dokter tersebut namun perawat menghentikan langkahku.


"Apa kalian tidak bisa melakukan sesuatu untuk Ayahku? Bukankah Rumah Sakit ini termasuk Rumah Sakit yang terbaik di Inggris?" Kataku kepada perawat yang sedang menenangkan diriku.


"Tenanglah, kami sudah melakukan yang terbaik tetapi apa yang bisa kami lakukan jika Tuhan sudah berkendak." Kata perawat tersebut dengan wajah pilu seperti sangat mengerti kondisiku saat ini sebelum akhirnya dia pergi meninggalkanku sendiri.


Seketika tubuhku langsung merosot ke lantai, aku tak dapat menopang tubuhku sendiri, aku pun pergi ke ruang ICU.


Ini seperti mimpi melihat tubuh papa terbujur kaku di sana, alat bantu yang sebelumnya terpasang kini tak satu pun yang tertinggal di tubuhnya, menandakan Papa sudah benar-benar pergi meninggalkan aku, mama dan opa.


"Paaa.. Papa.. Bangun! Jangan tinggalin Yoshi Pa!!" kataku sambil menggoyang-goyangkan tubuh tak bernyawa papa berharap agar papa bisa bangun lagi.


Berulang kali aku melakukan hal itu sebelum seorang perawat membawa jenazah papa ke ruang jenazah.


***


"Yoshi !!! hhuuuuu.. huu!" suara mama dari kejauhan. Aku belum memberi kabar tentang kepergian papa tetapi pihak Rumah Sakit telah menelepon mama terlebih dulu.


Isak tangis memenuhi ruangan ICU, aku memeluk mama dengan erat, mencoba menguatkannya.


Aku tau mama sangat terpukul dengan kejadian ini, kku pun juga, tetapi aku harus lebih kuat dari mama.


Sejenak kemudian, aku merasa ada yang aneh, dimanakah opa? Aku takut terjadi sesuatu pada opa.


"Ma, di mana Opa?" tanyaku kepada mama yang masih berada di pelukanku.


"Opa masih dalam perjalanan ke sini. Tadi mama berangkat lebih dulu menggunakan taksi sebab Opa masih sibuk berada di ruang kerja Papa." Kata mama dengan suara paraunya.


Sebenarnya aku sangat mengkhawatirkan keadaan opa, mengingat usianya yang semakin tua.


***


Beberapa detik kemudian, seorang petugas resepsionis mendatangi kami.


"Selamat pagi, dengan Ibu Marcella Luby? Kami ingin memberitahukan bahwa Bapak Darmawan Luby baru saja mengalami kecelakaan tunggal dan saat ini sedang dirawat di UGD. " Kata petugas tersebut. Seketika aku tak dapat berkata apa-apa.


Dan mama yang berada di pelukanku lemas hingga akhirnya jatuh pingsan.


"Pengawal!! Pengawal!!! tolong kalian urus Mama, aku akan melihat kondisi Opa." Teriakku sambil melepas pelukan Ibuku.


Kuserahkan Ibuku kepada pengawal dan Asisten pribadi kami, David.


Sepanjang perjalanan ke ICU aku terus memikirkan opa.


Bagaimana ini bisa terjadi, mengapa dua musibah ini menyerangku secara bersamaan.


Bagaimana aku bisa menghadapi ini semua? Aku terus menyalakan Tuhan untuk keadaan yang menimpaku kali ini.


***


Sampai di ruang UGD, kulihat opa terbaring di sana dengan bantuan oksigen dan dengan luka di kepalanya, astaga opa bagaimana ini bisa terjadi.Hatiku sangat hancur melihat pemandangan ini.


"Tuan, kami mendapat laporan bahwa Tuan besar sebelum mengalami kecelakaan telah mengemudi dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya menabrak pembatas jalan," kata David yang menyusulku ke ruang UGD.


"Tapi bagaimana bisa Supir kita seceroboh itu ha?" tanyaku pada David, aku sangat geram dengan supir itu, berani-beraninya dia membahayakan nyawa kakekku.


"Bukan supir kita tuan, tetapi Kakek anda sendirilah yang memutuskan untuk mengemudi sendiri tadi." Kata David mencoba menjelaskan.


"A-apa??" Aku masih tak percaya dengan perkataan David, bagaimana mungkin seorang kakek-kakek mengendari mobil dengan kecepatan tinggi seperti itu.


Astaga opa, kenapa opa melakukan ini, aku masih tak percaya. Tetapi David berusaha meyakinkanku.


"Benar Tuan, Tuan besar memaksa untuk menyetir sendiri hari ini dan akhirnya kami mengikutinya dari belakang," kata David.


Aku pun mempercayainya, aku tau jika opa adalah orang yang tak bisa dibantah jika sudah berkendak dan sifat itu menurun ke ayahku dan juga pada diriku sendiri, tetapi yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kakek tua ini harus mengebut, apakah dia pikir dirinya itu pembalap Formula One


"Yang benar saja Opa, ingat umurmu sekarang." kataku sambil menghampiri tubuhnya yang tergolek lemah.


Sementara Dokter datang dan memutuskan untuk membawa opa ke ruang ICU agar mendapat perawatan yang intensif.