
Yoshi POV
"Mas, baby belum pulangkah?" tanya Ana sambil berlari dari tempat tidur hingga lupa jika ia belum mengenakan apa pun setelah kegiatan penting kami dua jam yang lalu.
Aku merasa tidak bertenaga sama sekali. Padahal biasanya akulah yang memimpin permainan. Tetapi kali ini tidak, Ana benar-benar membuatku kewalahan.
Tak kusangka, ia mengalami kemajuan yang pesat. Dia pun keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan wajah yang berseri. Padahal biasanya dirikulah yang seperti itu.
"Mas, belum bangun?" tanyanya.
"Belum sayang, belum bangun lagi nih."
"Ha? Bangun lagi?" tanyanya kebingungan.
"Iya, entar nunggu bangun lagi kalau mau lagi," jawabku menggodanya.
"Ah Mas! aku serius. Ayo bangunlah, katamu kita akan pergi jalan-jalan?" Ana menarik tanganku tetapi malah dirinya sendiri yang terjatuh dan menindihku.
"Jadi benar kau masih ingin lagi?" Entah kenapa aku suka sekali mengerjainya.
"Mas ayolah bangun! Jangan memberiku harapan palsu!" Ana mulai merengek, tentu saja membuatku tidak tega untuk membatalkan rencana kami, meskipun badanku terasa remuk redam saat ini.
"Sayang, kau terlihat sangat segar. Berbeda denganku. Tubuhku lelah sekali rasanya," ucapku pada Ana.
"Ah benarkah? Bukankah biasanya kaulah yang selalu tampak segar setelah bermain?"
"Aku tidak tau An, rasa pegal-pegal menjalar di sekujur tubuhku,"
(Rasain Yosh, kek gitu rasanya remuk redam karena anu! 🤧🤧)
"Aku juga tidak tau kenapa saat ini badanku tidak lemas sama sekali, padahal biasanya akulah yang terkapar di tempat tidur karena ulahmu Mas," ucap Ana.
"Apa seburuk ini rasanya? Bahkan untuk berjalan saja, kakiku masih lemas dan ngilu. Kau apakan diriku An?"
"Haha, kenapa jadi menyalahkanku Mas?"
"Aku lemas sayang, seperti habis kerja rodi,"
"Ah, kau lebay sekali. Biasanya dirimu tidak selemah ini," jawab Ana.
"Yang, sungguh ini menyiksaku."
"Rasakan Mas, sudah istirahatlah dulu. Seperti habis diperkosa saja. Sangat lebay!" ucap Ana mengejekku.
"Ya, kaulah pemerkosa itu!"
"Dih, tadi yang minta duluan siapa? Sudahlah, aku akan mempersiapkan baby dulu. Setelah ini kita berangkat!" ucapnya sambil berlalu.
Dasar Sugar Mommy tidak bertanggung jawab. Teganya meninggalkanku yang kelelahan karena melayaninya ini tanpa membayar sepeserpun.
Kataku dalam hati menahan tawa.
Aku pun memunguti pakaianku yang entah kenapa bisa terlempar di sembarang tempat. Astaga, inikah yang dirasakan Ana selama ini. Pantas saja ia selalu kembali tidur.
Kelelahan ini semakin berkelanjutan bahkan setelah aku mandi sekalipun, mama menghampiriku ke kamar dan mengatakan jika Ana dan Shian sudah menunggu.
"Yosh, cepatlah! anak istrimu sudah menunggu sejak tadi."
"Iya Ma," jawabku sambil membetulkan kemejaku.
"Yosh, kenapa? kau terlihat sangat loyo!" ucap mama.
"Yoshi lelah Ma, tanyakan saja pada menantu mama itu," jawabku.
"Ada apa dengan Ana?"
"Tanya saja padanya Ma, kenapa dia menjadi liar sekarang. Apa mama yang telah mengajarinya?" tanyaku bercanda..
"Apa? Ana liar? maksudnya?" Astaga, tumben sekali mamaku tidak konek tentang hal seperti ini.
"Sudahlah Ma, Yoshi malas membahasnya."
"Eh, tetapi Ana terlihat lebih cerah dan berseri dari pada biasanya," kata mama.
"Sepertinya keadaan sudah berbalik sekarang Ma," ucapku.
"Yosh, kau sangat tidak jelas. Apa maksudmu?" mama terus saja bertanya tetapi aku tidak menjawabnya sebab Ana telah menungguku untuk segera berangkat.
***
Di sinilah kami sekarang. Dunia anak-anak, sebuah pusat tempat bermain balita lengkap dengan segala keperluan anak-anak dan bayi.
Kulihat istriku sedang membawa anak kami bermain. Meskipun baby masih berumur enam bulan tetapi perkembangan motoriknya cukup pesat.
"Mas, kau terlihat lesu dan tak bersemangat. Apa kita pulang saja?" tanya Ana.
"Jangan sayang, aku tidak apa-apa," ucapku tak ingin membuatnya khawatir. Sebab ini merupakan momen langka untuk mereka.
"Baiklah, aku akan mengajak Shian ke area baby spa dulu ya Mas, setelah ini kita pulang."
Aku pun mengangguk. Sungguh Ana sangat bahagia hari ini. Aku memang tidak pernah mengizinkannya keluar mansion tanpa diriku. Beberapa menit kemudian Ana kembali dengan belanjaan di tangannya.
Dengan si gendut yang berada di gendongannya. Beberapa pasang mata menatap istriku, memperhatikan istriku dengan detail.
Untung saja kau membawa Shian bersamamu An, jika tidak, mungkin mata pria itu semakin merajalela karena mengira dirimu masih single. Jika saja badanku sedang fit, saat ini juga aku sudah menghajar mereka.
"Mas, pulang yuk!" ucap Ana.
"Iya sayang, berikan baby padaku. Kau pasti sangat lelah bukan?"
"Jangan Mas, kau sedang tidak sehat. Biarkan aku yang menggendongnya."
"Dan kau sangat lemah tidak bertenaga hari ini, Mas!" balas Ana mengejekku.
"Awas kau An!"
Ana pun tertawa dan mengajakku untuk membeli minuman ion, sebagai pengganti cairan tubuhku yang hilang. Dia membeli beberapa obat juga untuk daya tahan tubuhku. Ana sangat mengerti keadaanku berbanding terbalik dengan sikapku kepadanya. Aku sering membuatnya kesal dan sedih meskipun aku tak bermaksud seperti itu.
***
Keesokan harinya, tubuhku sudah jauh lebih baik. Setidaknya rasa pegal dan remuk redam itu menghilang tetapi pusing di kepalaku masih tetap ada. Tapi aku mengabaikannya sebab hari ini sedang ada kunjungan rutin di perusahaan.
Ana mengirim pesan pada ponselku.
...My Sunshine : Mas, bagaimana keadaanmu?...
...Aku : Jauh lebih baik sayang....
...My Sunshine : Jika belum membaik kita periksa ke dokter hari ini ya....
...Aku : Iya sayang. Semua ini karena ulahmu! Kau terlalu kasar!"...
...My Sunshine : Terimakasih sugar babyku. servismu sangat memuaskan 💋...
...Aku : Dasar sugar mommy!...
...My Sunshine :😘😘😘...
Aku tersenyum melihat balasan darinya. Sungguh dia selalu bisa mencairkan suasana. Meski dalam kekesalan sekalipun tetap saja Ana selalu dapat menghiburku.
Hari semakin siang tetapi rasa pusing di kepalaku semakin menjadi-jadi. Bukan hanya itu, kini perutku pun juga bergejolak. Aku memuntahkan segalanya yang ada di perutku.
Astaga, ini tak baik. Mungkinkah aku mengalami keracunan. David datang ke ruanganku dan menanyakan keadaanku.
"Tuan, anda sangat pucat."
"Dav, perutku mual sekali. Bisakah kau membelikan anti mual?" pintaku pada asisten pribadiku itu.
"Tuan, apa tidak sebaiknya kita ke dokter saja. Saya takut penyakit gerd anda kambuh," ucap David mengkhswatirkan diriku.
"Tidak usah David, biar dokter saja yang datang ke mari."
"Baik tuan, saya akan menelepon dokter sekarang juga."
Setengah jam kemudian dokter pun datang.
"Selamat siang Pak Yoshi," sapa dokter keluarga kami tersebut.
"Pagi Dok," jawabku lemas. Aku mulai kehilangan keseimbangan.
"Pak Yoshi, apa keluhan anda?"
"Saya pusing dan mual Dok, sepertinya asam lambung saya naik," ucapku.
"Biarkan saya memeriksanya dulu ya Pak," ucap dokter itu sambil mengeluarkan beberapa alat medis dari tasnya.
Dan dia pun mulai memeriksaku. Melihat tekanan darah dan detak jantungku.
"Pak, detak jantung dan tensi darah anda normal. Coba saya lihat lidah anda."
Aku pun menjulurkan lidahku dan dia memeriksanya dengan detil. Cukup lama ia memperhatikan rongga mulutku.
"Pak, semuanya normal. Dan sepertinya asam lambung anda juga normal," ucap dokrer itu dengan yakin.
"Benarkah Dok? Lalu saya ini kenapa? Sejak kemarin tubuh saya lemas dan tidak bertenaga. Rasanya ingin terus bermalas-malasan di tempat tidur."
Dokter pun mengernyitkan dahinya, terlihat heran dengan perkataanku.
"Apa anda juga mengalami mood swings?"
"Semacam perubahan mood maksud anda?" tanyaku.
"Iya tuan, merasa lebih sensitif dari biasanya."
"Iya Dok, saya mudah sekali merasa khawatir akhir-akhir ini," jawabku jujur.
"Mual muntah baru hari ini?" tanya dokter itu lagi.
"Benar Dok,"
"Pak, bagaimana keadaan istri anda saat ini?" tanya dokter itu lagi dan entah kenapa malah menanyakan Ana padahal akulah yang sedang sakit.
"Istri saya baik-baik saja Dok,"
"Tidak berbeda dari biasanya? nafsu makan atau bentuk tubuhnya?" Astaga kenapa dia malah menanyakan Ana.
"Dia lebih bersemangat dan lebih segar dari biasanya Dok!"
"Pak, apa anda tau kapan terakhir ibu Ana mendapat tamu bulanannya? Saya khawatir ibu Ana sedang mengandung," ucap dokter itu. Seketika membuatku tersentak.
"Apa Dok???"
"Benar pak, kasus seperti ini sering terjadi pada pria tertentu saat istrinya tengah hamil," jelas dokter itu. Dan ya aku ingat, aku tau ini.
"Maksud anda saya sedang mengalami kehamilan simpatik???"
"Sepertinya demikian Pak Yoshi."
Degggggg