My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Kiss mark



Untung saja aku berhasil masuk ke dalam kabin. Jika tidak mereka bertiga akan terus mencecarku dengan ribuan pertanyaan-pertanyaan konyol.


Yang membuatku sebal adalah mengapa Yoshi harus turun ke bawah untuk mengembalikan kunciku yang tertinggal. Dan seperti sengaja ingin menunjukkannya pada teman-temanku bahwa semalam aku tidur di kamarnya.


"An, baru pulang ya?" tanya Kak Anggie kepadaku sambil bercermin menata rambutnya.


"Iya Kak. Hehe." Jawabku sambil meletakkan steletto ke dalam nakas. Aku sangat khawatir jika dia juga menanyakan keberadaanku semalam.


"Semalem tidur di kabin temen ya An habis dari party ?" Tanya Kak Anggie. Sambil menatapku dari pantulan cermin.


Deggg....


Benar saja, pasti ini akan diusut olehnya. Mengingat hubungan kami yang semakin dekat, secara tidak langsung ikatan batin saling mengkhawatirkan satu sama lain pun terbentuk.


"Emm, iya Kak semalam aku tidur di kabin temen." Jawabku.


Dan Kak Anggie masih berdiri menatapku dengan ribuan tanda tanya tersirat dari wajahnya.


Aku pun masuk ke ruang shower. Setelah selesai mandi. Kuraih handuk dan melilitkanya pada tubuhku.


"An, itu apa?" tanya Kak Anggie yang masih berdiri di depan cermin sambil melihatku keluar dari kamar mandi.


"Apa Kak?" tanyaku padanya.


"Itu di punggung kamu bagian atas An," kata Kak Anggie sambil menghampiriku.


Aku masih terdiam tidak mengerti. Tetapi kak Anggie benar-benar memeriksa bagian belakang tubuhku itu.


Kak Anggie memperhatikan punggungku dalam-dalam. Membuatku semakin penasaran.


Terasa sentuhan jarinya menyapu bagian itu.


"Astaga An, siapa yang melakukannya?" Kata Kak Anggie terkejut dan sedikit beteriak.


"Apa sih Kak?" aku jadi panik melihat ekspresi Kak Anggie yang seperti itu.


"Lihat deh di cermin. Awalnya Kakak pikir ini memar karena benturan atau apa. Tetapi ternyata____" Kata kak Anggie menggangtung kalimatnya.


Aku pun melihat punggungku dari cermin. Mataku juga telah dikagetkan oleh ini.


"Ahhh apa ini. Dasar pria mesum!. Dasar bodoh !" umpatku saat melihat sebuah tanda yang terkenal dengan sebutan kissmark itu.


"Dasar bodoh! Dasar Yoshi bodoh! akhhh.. " kataku aku terus mengumpatinya.


Siapa lagi pelakunya. Jika bukan dia. Aku terus saja mengumpatinya dalam hati. Berani-beraninya orang itu melakukan ini padaku.


"Ah Ana bodoh. Aku bodoh!" aku juga mengumpati diriku sendiri dan membayangkan bibir merah itu menyapu kulit punggungku, menghisapnya hingga berwarna merah keunguan seperti itu.


Aku sangat malu.


Dan Kak Anggie tentu saja sedang memasang muka datar sambil melipatkan tangannya. Menunggu klarifikasi dariku. Ekspresinya sama seperti ekspresi Dian, Evelyn dan Jenny saat melihat Yoshi denganku tadi pagi.


"Kak, please ini gak seperti yang kakak bayangkan." Ucapku.


"Benarkah?" Kata Kak Anggie seakan mendeteksi kebohongan dari wajahku.


"Bisakah kita bicara sebentar?" Kata Kak Anggie sambil duduk di bed nya.


"Bisa Kak." Jawabku sambil ikut duduk di bed nya. Perasaanku sangat tidak enak saat ini. Sepertinya Kak Anggie akan membicarakan hal yang serius.


"An, Kakak tau mungkin selama ini kamu hanya menganggapku sebagai teman atau bahkan hanya sebagai teman sekamar yang sama sekali tidak penting untukmu.


Tetapi Kakak sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri. Mengingat kamu yang masih sangat polos dan perlu bimbingan di sini.


Jadi An, please jaga dirimu. Kehidupan di sini memang sangat bebas. Tetapi bukan berarti kita harus terbawa arus. Terlebih kamu ini masih termasuk anak baru. Kamu belum tau 'dunia kapal' yang sebenarnya." Kata Kak Anggie sambil menatap mataku secara intens, menyatakan keseriusannya.


"Kak, jangan bicara seperti itu. Ana juga sudah menganggap Kak Anggie seperti kakakku sendiri." Jawabku, aku tau Kak Anggie sedang mencoba memperingatkanku.


"Baiklah, sekarang coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi semalam? Apa kamu sedang memiliki hubungan dengan seseorang?" Tanya Kak Anggie sangat to the point.


"Kak, please. Ana gak ada hubungan apa pun sama siapapun di kapal ini." Jawabku jujur.


"Lalu apa yang kakak lihat ini An? Dengar, kakak hanya gak mau kamu salah langkah, salah pergaulan. Dan satu lagi, banyak sekali buaya berkulit domba di sini. Kamu harus benar-benar hati-hati ya." Kata kak Anggie penuh penekanan. Benar-benar membuatku semakin terpojok.


"Benar Kak. Percayalah, ini hanya salah paham saja." Kataku, inginku ceritakan padanya tentang kejadian semalam tetapi aku sendiri pun juga masih bingung dengan kejadian itu.


Aku menyesal telah menganggapnya tidak melakukan apapun padaku. Aku harus membalasnya.


Tok


.


Tok


.


Tok


Terdengar suara ketukan pintu. Dan Kak Anggie lah yang membukakannya.


"Selamat pagi, bisa bertemu dengan Nona Ana?" terdengar suara pria dari luar pintu.


"Pagi, iya betul. Saya roommate Ana." Jawab Kak Anggie.


"Ini ada paket untuk Nona Ana dari Tuan Yoshi. " Kata pria itu yang sepertinya adalah David.


"Baik, terima kasih." Jawab Kak Anggie yang masih mematung di depan pintu. Sementara David masuk ke kabin kami dan menyapaku.


"Selamat pagi Nona, ini ada paket untuk Nona Ana." Katanya sambil meletakkan beberapa bucket bunga mawar merah ke dalam kabin hingga membuat kamar ini penuh oleh bunga.


"Terima kasih. " Jawabku. Ya ampun apa lagi ini.


Yoshi benar-benar gila. Apa maksudnya melakukan semua ini. Setelah selesai melakukan tugasnya David pun berpaitan untuk pergi.



Sementara aku masih bingung harus bagaimana. Kabin yang sudah sesak bertambah sesak denga ribuan bunga dari Yoshi. Sejak kapan dia jadi sebaik ini. Kuraih sebuah greeting card yang tertempel pada salah satu bucket yang bertuliskan.


"Roses are red, Lilies are blue. But nothing compares to you."


Sincerely,


Your future husband"


Apa-apaan ini. Aku pun segera membuang kartu ucapan itu ke lantai. Yoshi sangat menyebalkan. Dia pasti sengaja melakukan ini karena telah berbuat tak senonoh kepadaku.


Benar-benar menyebalkan.


Lagi-lagi Kak Anggie memasang muka datar di hadapanku. Menunggu penjelasan tentang semua ini. Hingga akhirnya dia bertanya tentang Yoshi.


"An, Kakak mengenal orang tadi. Kakak tau itu adalah asisten IT manager kan?" Tanya Kak Anggie yang mulai curiga.


"Benar Kak." Jawabku singkat tak berani menatap matanya.


"Jadi kamu memiliki hubungan dengan officer baru itu?" Tanya Kak Anggie.


"Tidak Kak. Kakak salah paham." Tuturku. Entah bagaimana lagi harus menjelaskan pada Kak Anggie.


"An, jujurlah." Kata Kak Anggie lagi.


"Sebenarnya dia orangnya Kak. Dia Yoshi, pria yang akan dijodohkan denganku." Jawabku pelan. Agar Kak Anggie tidak terkejut.


"APA?!!" Kata Kak Anggie tak percaya, tentu saja dia akan sangat terkejut mengetahuinya.


"Benarkah seperti itu An? Kakak baru ingat Yoshi adalah nama yang sering kamu sebut setiap kamu mengigau di malam hari. Ja-jadi dia bekerja di sini juga? " Tanya Kak Anggie dengan antusias.


"Iya Kak. Belum lama ini Dia ikut bekerja di sini juga." Jelasku padanya.


"Kakak sempat berfikir yang tidak-tidak sebelumnya padamu. Maafkan kakak ya. Ternyata pria itu adalah calon suamimu sendiri. Kakak masih gak percaya dengan semua ini. " Kata Kak Anggie penuh penyesalan membuatku merasa tidak enak saja.


"Kak, jangan seperti itu. Ana senang Kakak sangat perduli padaku." Kataku dengan tulus.


"Jadi apa semalam kalian benar-benar melakukannya?" Tanya Kak Anggie. Astaga bisa-bisanya dia bertanya vulgar seperti ini.


"Kak, tolonglah ___." Jawabku. Aku sangat malu dan bingung harus menulai penjelasanku dari mana.


"An, coba ceritakan. Kakak sangat penasaran. Kakak dengar jika IT manager calon suamimu itu sangat tampan dan sixpack Bukankah sangat sulit untukmu untuk mengimbanginya saat 'bermain' dengannya?" Tanya kak Anggie lagi.


Astaga dia benar-benar sudah salah paham. Hanya karena kissmarks yang dicetak oleh Yoshi di punggungku itu. Lihat saja, aku akan membalas Yoshi setelah ini.