
Yoshi POV
Flashaback
Dua minggu lebih berlalu, tetapi belum ada tanda-tanda David akan kembali. Sebenarnya dia selalu menawarkan diri untuk segera kembali ke Jakarta meskipun urusannya dengan Dianna di Bali belum selesai.
Akhirnya aku memutuskan untuk memberinya waktu lebih lama lagi, bukan tanpa sebab. Aku tau rasanya mengejar cinta dari seorang gadis yang terus saja menghindar dari kita. Begitu pun dengan David yang sedang mengejar Dianna.
Meeting berjalan lancar hari ini. Dan aku masih berada di kantor, bagiku di kantor atau pun di mansions semuanya sama saja. Sama-sama tidak dapat melihat istriku secara langsung. Akhirnya aku pun mencoba meneleponnya.
Tetapi malah Luna yang mengangkat panggilan video dariku. Luna mengarahkan kameranya pada Ana, kulihat istriku itu sedang makan dengan lahapnya, itu bagus. Bumilku dan baby akan bertambah sehat jika terus seperti ini.
Lalu kutanyakan pada Luna tentang makanan apa yang tengah dimakan kakanya itu dan ternyata itu adalah semacam salad sayur dengan saus kacang di atasnya. Awalnya aku biasa saja tetapi aku ingat pesan dokter yang mengatakan bahwa ibu hamil tidak dianjurkan untuk memakan sayur dan buah mentah.
Aku pun meminta Ana untuk tidak melanjutkan acara makannya, sungguh kupikir ia akan melawan perintahku seperti biasanya tetapi ternyata tidak. Padahal aku sangat merindukan suaranya saat mengomeliku seperti biasa.
Hari berikutnya, seperti biasa kegiatanku hanyalah memeriksa kinerja karyawan, memimpin meeting dan menandatangi beberapa berkas. Aku sangat bosan dengan semua ini. Lalu kucoba untuk menghubungi dokter kandungan yang biasa memantau Ana.
"Halo Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanyaku via telepon.
"Selamat siang Pak Yoshi, keadaan Ibu Ana dan bayinya cukup baik," jawab dokter itu.
"Bukankah ini sudah masuk tanggal kelahiran Dok?" tanyaku sambil memeriksa standing kalender di atas meja.
"Benar Pak Yoshi, kita tunggu sampai satu minggu lagi ya."
"Dok, apa semua akan baik-baik saja?" tanyaku.
"Saya rasa akan baik-baik saja Pak, detak jantung janin dan tekanan darah Ibu Ana semuanya normal, bahkan cairan ketubannya juga masih aman."
"Dok, menjelang kelahiran apakah aman jika kami melakakukan hubungan?" ucapku, sungguh mengapa tiba-tiba otakku mengarah ke sana.
"Ah, tentu aman Pak, justru akan membantu dalam pembukaan jalan lahir, asal harus tetap hati-hati ya pak, perhatikan kondisi Ibu Ana dulu," jawab dokter itu. Sungguh aku lega mendengarnya dan membuatku semakin merindukan Ana saja.
David, kapan kau kembali? gumamku.
"Ada yang perlu ditanyakan lagi Pak?" ucap dokter membuyarkan pikiran liarku.
"Umm tidak ada Dok,"
"Oh iya, tolong selalu pantau keadaan istri saya ya Dok, dan laporkan semuanya pada saya."
"Baik Pak, tiga hari lagi saya akan menemui istri anda," jawab dokter itu dan aku pun menutup teleponnya.
Entah mengapa lagi-lagi ucapan dokter itu terus saja terngiang di telingaku. Dan apa katanya? membuka jalan lahir? Sial, David belum juga kembali. Haruskah aku menghubungi David sekarang dan memintanya untuk segera kembali ke kantor, mengingat ini adalah kesempatan terakhirku untuk 'bersama' dengan istriku, sebelum akhirnya jalan lahir tadi tertutup selama beberapa minggu.
(Astagaa sebanyak 200 kata isinya cuma membahas pikiran Yoshi tentang buka tutup jalan lahir genkk. Heran akutu sama Yoshaiii ๐๐๐)
Tak ingin gila karena pikiranku sendiri, akhirnya aku pun menelepon David.
"Selamat siang tuan," ucap David.
"Siang David,"
"Ada perlu apa tuan?" tanya David.
"Emm, apa kau masih berada di Bali, Dav?" ucapku ragu.
"Masih tuan, sepertinya masih beberapa hari lagi," ucap David.
"Oh begitu ya, kira-kira berapa hari lagi?"
"Mungkin seminggu lagi tuan," ucapnya dengan santai. Astaga mengapa David lama sekali.
"Semoga saat saya kembali nanti, nyonya Ana sudah lahiran ya tuan," kata David. Ya ampun, apa dia benar-benar tidak peka. Bukankah kami sama-sama seorang pria dan juga calon ayah. Apakah David sungguh seorang robot hingga tidak bisa menangkap arah pembicaraanku ini, ah tentu saja David juga mempunyai gairah buktinya dia bisa menghamili Dianna dengan mudah.
"Iya David, do'akan nyonya baik-baik saja ya," ucapku setenang mungkin.
"Tentu tuan, mungkin anda yang tidak baik-baik saja setelah baby lahir. Hehe," ucapnya terkekeh. Sungguh aku merasa David sedang mengerjaiku. Jarang sekali robot ini tertawa seperti ini.
"Ya, David. Lalu bagaimana urusanmu? apakah sudah ada perkembangan?" tanyaku.
"Sudah tuan, saat ini saya sedang bersama Dianna."
"Jadi urusanmu sudah selesai? Lalu mengapa kau belum juga kembali David?" tanyaku heran.
Tanpa menjawab pertanyaanku dia menutup teleponnya, benar-benar aneh. Tidak biasanya David seperti ini. Beberapa menit kemudian, sesorang masuk ke ruanganku.
"Selamat siang tuan muda," ucap David dengan membawa boneka yang sangat besar.
"Eh, kau datang?" ucapku terkejut.
"Tentu tuan, saya tau anda sangat mengharapkan kehadiran saya kembali, bukan?" ucapnya dan tertawa.
"Kau mengerjaiku David? Sejak kapan kau seberani ini ha?" kataku berpura-pura kesal padahal aku sangat ingin bersorak saat ini.
"Saya sangat beruntung memiliki atasan seperti anda tuan, saya sangat berterima kasih pada keluarga Luby. Kepada anda, kepada Tuan Permana dan Nyonya Annelis.
"Dav, jangan berkata seperti itu. Jujur saja, kau sudah kuanggap sebagai kakakku selama ini, lihatlah bahkan kau jauh lebih dewasa dari pada diriku padahal kita hampir tumbuh bersama."
"Kau orang kepercayaan papa Dav, bahkan sejak usiamu masih remaja, kau begitu hebat sejak kecil. Kami bangga memilikimu. Jadi, jangan pernah merasa tidak nyaman akan statusmu."
"Ah tuan, anda membuat saya ingin menangis saja. Oh iya, ini ada bingkisan dari Dian untuk nyonya Ana."
"Apa ini? Boneka? David, yang benar saja. Bagaimana jika anak kami laki-laki?" tanyaku heran.
"Saya sungguh tidak bermaksud lancang tuan, tetapi Dian bilang jika nyonyalah yang menginginkan boneka raksasa ini."
"Benarkah? Jadi Ana yang telah memintanya pada Dian?" ucapku sambil memperhatikan benda raksasa itu.
"Sungguh tuan, sebaiknya tuan bawa saja ya. Dari pada nyonya marah dan tuan gagal untuk membuka jalan lahir. Hihi," ucap David, terkekeh.
"Kau? Kau tau perihal jalan lahir itu?" ucapku, terkejut.
"Tentu tuan, bahkan saya dan Dian juga sering membicarakannya."
"Astaga David, ya sudah aku akan membawa boneka ini kalau begitu," ternyata sebenarnya David diam-diam mesum juga.
"Sebaiknya tuan memesan penerbangan saat ini juga sebelum terlambat dan jalan lahir pun tertutup selama dua bulan,"
"Kau ini!" kataku sambil tertawa dan saat itu juga aku langsung memesan tiket pesawat.
Meskipun mendapat tiket dengan jadwal keberangkatan dini hari, tak masalah asalkan aku tak perlu menunggu seminggu lebih untuk tiba di rumah Ana.
***
Pukul 05.00 aku pun tiba di bandara Juanda. Aku pun memesan taksi online, hingga pukul tujuh pagi aku tiba di tempat tujuan. Seperti dugaanku Ibu, mama, Luna dan bapak sangat terkejut dengan kehadiranku pagi itu.
Dan kukatakan pada mereka untuk tidak memberitahu Ana akan kedatanganku. Aku pun menitipkan boneka jumbo itu di kamar Luna dan seketika kaki ini melangkah ke kamar istriku dengan mengendap.
Sepertinya Ana sedang berada di kamar mandi, awalnya aku ingin langsung menerobos masuk dan mandi bersamanya. Namun kuurungkan niatku bukankah akan lebih menyenangkan jika dia yang menemukanku terlebih dahulu.
Aku pun masuk ke dalam selimut tebal Ana dan beberapa detik kemudian, kudengar langkah kaki Ana mendekat. Semakin mendekat hingga akhirnya kubuka selimut itu untuk mengagetkannya.
"Sayang !" teriakku.
"Ah mas! Kau mengagetkanku!" ucapnya sangat terkejut sambil memegangi handuk yang melingkar di tubuhnya.
Aku meneguk kasar salivaku melihat tubuh indah istriku itu, bagaimana mungkin ibu hamil ini terlihat begitu seksi. Mataku terus tertuju pada dua gundukan di dadanya yang sepertinya mulai membengkak itu. Mungkinkah ini efek dari kehamilan.
Ana pun memelukku dan mengatakan jika dia merindukanku, sungguh pikiranku kembali berkelan saat kedua bukit itu bersentuhan dengan dadaku.
Haruskah aku menerkam gadis cantik yang sangat kurindukan ini sekarang juga?Ah tidak, bisa-bisa Ana yang akan menyerangku lebih dulu.
"Yoshi ini masih pagi ! dasar mesum!" itulah kalimat yang pasti akan keluar dari bibir tipisnya.
Aku pun berusaha menahannya, lagi pula semua orang sedang berada di rumah, aku tidak ingin membuat kebisingan di rumah ini. Terpaksa pembukaan jalan lahir ditunda dulu hingga malam tiba.
Ana tampak sangat kaku saat aku sedang mengeringkan badannya dengan handuk.
"Sayang, aku hanya akan memakaikan bajumu saja, jangan berpikiran aneh-aneh ya. Cepat kemari!" kataku, sebab Ana terus saja menjauhkan dirinya.
"Sungguh Mas? Ini masih pagi jangan macam-macam!" ucapnya, sesuai dengan prediksiku.
"Iya sayang, hanya memakaikan baju saja. Kau ini mesum sekali!" ucapku sambil mencium pipi bersemu merah itu.
"Aku tidak mesum!" ucapnya kesal.
"Kau mesum An!"
"Tidak!" seru Ana bertambah kesal.
"Iya-iya, aku yang mesum. Berikan si mesum ini ciuman selamat pagi!" ucapku sambil memanyunkan bibirku.
Ana pun menciumku saat itu juga, sungguh aku tak bisa mengontrol diri jika terus seperti ini. Ciuman yang lembut dan dalam itu pun berlangsung cukup lama. Aku bisa merasakan jika Ana juga sangat merindukan diriku.
"Lihatlah, sekarang kau yang mesum sayang!" ucapku menghentikan pagutan itu.
"Ah Mas, kau membuatku malu saja!" kata Ana tersipu.
"Tunggu nanti malam ya sayang, aku akan memasang peredam suara dulu, wkwk."
Lanjut besok genkk. Aku mau cari inspirasi dulu ya. Aku ngetik ini tengah malem, berat banget mataku rasanya๐คฃ๐คฃ
Terima kasih untuk dukungannya ya. Baik itu berupa komen, like, hadiah, vote dan rate. Aku senang sekaliii semua itu bagaikan mood booster untukku ๐๐
Selamat berakhir pekan ya ๐ค๐ค
**Boleh follow ig aku ya genk kalau mau lihat Yoshan lebih banyak lagi .
follow ig lady_meilina๐**